H.U.R.T

H.U.R.T
Dia Setia



Tidak bisa melakukan perlawanan, Lexi pun mengalah. Kembali duduk untuk menikmati sarapannya. Satu muffin ia lahap dalam dua kali gigitan, pun dengan susu ia teguk sampai tandas tidak bersisa. Steve hampir saja berdecak kagum melihat cara Lexi menikmati sarapannya tanpa ada manis-manisnya. Tapi harus Steve akui, Lexi terlihat sangat menggemaskan.


"Apakah kau kehilangan fungsi gigimu?"


Lexi mengusap mulut dengan menggunakan punggung tangan. Menatap Steve dengan sorot kesal. Masih benar-benar jengkel dengan sikap pria itu yang menurutnya sangat lancang.


"Kau menelan tanpa mengunyah, itulah yang kulihat."


"Itu karena aku ingin buru-buru pergi dari rumahmu." Lexi memalingkan wajah ke arah luar jendela. Perasaannya tenang dan damai melihat lemon yang sepertinya sudah siap panen. Ia suka aromanya. Nyata dan segar.


"Kurasa Brian perlu memeriksa matanya."


Lexi menoleh cepat ke arahnya. Mengernyit bingung mendengar pernyataan pria itu.


"Kau sangat cantik. Bukan sedikit cantik."


Deg!


Sial! Kenapa aku selalu bereaksi setiap dia memujiku. Aku memang cantik. Lalu kenapa aku harus berlebihan seperti ini?


Tanpa sadar Lexi memegang kedua pipinya. Rasa panas menjalar kulit wajahnya. Steven yang melihat hal itu mengulumm senyum.


"Apakah begini caramu merayu wanita?"


"Jika ini disebut merayu, artinya kau wanita pertama yang kurayu." Steve menarik kursi, duduk di hadapan Lexi. Meletakkan cangkir kopi yang ia pegang sejak tadi. Lexi memperhatikan jemari panjang pria itu terlihat besar di sisi cangkir kopi tersebut. Bersih dan kekar.


"Apa aku harus tersanjung?" Pertanyaan Lexi jelas melecehkan. Wah! Respon yang bagus Lexi. Walau hatimu meletup-letup tidak karuan, kau masih bisa bersikap tenang. Lexi memberikan pujian kepada dirinya.


Sekilas senyum yang terlihat di sudut bibir Steven tampak angkuh, dan terlepas dari segala usahanya untuk melawan Steve, Lexi mendapati diri menatapi lekuk sensual bibir pria itu. Lexi buru-buru mengalihkan tatapannya begitu merasakan reaksi tubuhnya yang berbeda. Dan saat ia mengangkat kepala, manik mereka beradu. Lexi merasakan lidahnya terjepit diantara langit-langit mulutnya hingga bibirnya tidak kuasa mengeluarkan suara. Dalam waktu yang sangat singkat itu, Lexi sadar jika pria di hadapannya itu tahu apa yang sedang dirasakannya.


Ya, Steve tahu jantung Lexi berpacu dan sekujur tubuh gadis itu seolah berubah menjadi rangkaian listrik. Steve tahu, efek yang ditimbulkannya terhadap Lexi. Mulai dari percikan hingga getaran di perut gadis itu. Efek yang sama dengan yang ditimbulkannya terhadap wanita-wanita lain. Bedanya, Lexi berusaha menahan diri sedangkan wanita di luar sana melakukan segala upaya murahan untuk menggodanya.


"Terlalu dini untuk membuatmu merasa tersanjung, Ms. Willson." Suara dingin dan tajam itu menyadarkan Lexi dari keterbekuannya.


Lexi terkesiap mendengar sambutan yang penuh percaya diri itu. Ya, jika menelisik profil Steve, memangnya apa yang membuat pria itu tidak percaya diri. Mapan, kaya, berkharisma, tampan.... Sstt.... Apa aku baru saja mengatakannya tampan? Tidak! Oh, Lexi, tangannya bahkan terlihat sangat kokoh dan seksii. Lexi mengerang mendengar suara hatinya yang lagi dan lagi tidak bisa ia kontrol.


"Kurasa pertemuan ini bukan untuk membicarakan ketertarikan fisik." Lexi mengibaskan sebelah tangan di wajahnya. Tindakan yang salah, yang justru menunjukkan jika ia memang sedang terpengaruh dengan Steve.


"Kau seolah mengakui jika sedang tertarik kepadaku, Ms.Willson."


"Astaga!" Lexi berdiri, melotot kesal. "Pria sepertimu, bukan tipeku, Mr. Dixton Ivarez. Aku sudah memiliki kekasih. Tidak mungkin aku mengkhianatinya. Dia jauh lebih sempurna darimu."


"Terakhir kali kau menyebut jika Brian adalah kekasihmu."


"Itu karena aku tidak ingin mencemari nama kekasihku yang sama denganmu!"


Steven menyorotnya dengan tatapan geli. "Mencemari?" Steve penasaran, bagaimana tanggapan Lexi saat mengetahui jika Steve yang ia puja sedang duduk sekarang di hadapannya.


"Aku tidak tahu kenapa aku harus membicarakan ini denganmu. Dengar, Dixton Ivarez, aku tidak tahu apa maksudmu mengatakan kepada media bahwa kau lah yang mencuri desainku. Awalnya, aku ingin meminta maaf kepadamu dengan tulus, namun melihat tindakanmu, sepertinya kau melakukannya karena niat terselubung."


"Ah, apakah begitu kentara?" Reaksi Steve benar-benar membuat Lexi naik darah. Tidak ada penyangkalan, pria itu justru membenarkan.


"Kupikir aku mengagumkan."


"Terima kasih untuk sarapanmu juga kemurahan hatimu membersihkan namaku." Lexi tidak benar-benar tulus mengucapkannya. Ia hanya ingin cepat-cepat pergi dari sana. Mulai merasa gerah dan tidak aman. Ia juga tidak suka membayangkan keluarganya mengkhawatirkan dirinya.


Steve menganggukkan kepala sembari tersenyum manis. Senyuman yang hampir membuat Lexi kembali membeku.


"Tidak usah sungkan menerima kebaikanku."


"Kupastikan ini terakhir kali aku menerima kebaikanmu, Mr.Ivarez. Ah, aku lupa menyampaikan satu hal. Terima kasih juga atas surat cintamu yang penuh dengan ancaman ini." Lexi merogoh sakunya, mengambil secarik kertas, meletakkannya di atas meja. "Trikmu sangat murahan, Ivarez."


"Trik murahan yang kau sebut, nyatanya bisa membuatmu tertekan." Steve memandangi kertas tersebut dengan datar. "Kau sangat mudah dipengaruhi." cetusnya dengan nada melecehkan.


"Tunjukkan jalan keluarnya!" sengit Lexi dengan nada memaksa.


"Tentu saja." Steve beranjak. Berjalan menuju pantry. Ada lift di sana yang akan mengantar mereka ke rumah utama. Steve menekan tombol, mempersilakan Lexi masuk. Setelah Lexi masuk, Steve mengambil posisi tepat di belakang Lexi. Merapatkan tubuh mereka. Hidungnya menyentuh rambut wanita itu. Lexi bereaksi, hampir melompat menjauh. Namun, Steve dengan segera menahan kedua lengan gadis itu agar tetap di tempat.


"Lifnya akan melaju kencang," Steve melontarkan alasan konyol. Lexi akhirnya hanya bisa diam. Jemarinya bertaut, meremass satu sama lain. Ia takut tapi ia juga tergoda. Ini bukan pertama kalinya, ia merasakan Steve seolah sedang mengambil kesempatan kepadanya.


"Ja-jarak kita sepertinya terlalu dekat."


"Kenapa?" Suara Steve begitu sensual, membuat bulu Lexi meremang.


"Kekasihku tidak akan menyukai ada bau pria lain di tubuhku?" Lexi meringis menyadari kehaluannya yang semakin menjadi-jadi. Yang benar saja! Andai Steve hidup, mungkin dia juga tidak peduli denganku. Hatinya bermonolog. Menyedihkan. Lexi menarik napas panjang, rasa sesak yang selalu menyerang setiap dirinya mengingat Steve.


"Lalu bagaimana jika dia yang berselingkuh?"


"Dia tidak akan pernah berselingkuh. Dia orang yang sangat setia."


"Bagaimana kau sangat yakin dengan itu?" Entah bagaimana ceritanya kini keduanya sudah saling berhadapan. Kedua tangan Steven mencakup kedua pipinya. Memaksa Lexi menatapnya.


"Hatiku yang berkata."


"Bagaimana jika hatimu salah?" Hidung mereka bersentuhan. Napas saling bersahutan.


"Tidak mungkin."


"Bagaimana kau tahu?" Steve memiringkan kepala, jarak bibir keduanya sangat tipis. Lexi bahkan sudah memejamkan mata.


"Karena dia tidak pernah menoleh kepadaku bahkan hingga ia tiada. Di hatinya, hanya ada satu nama wanita. Dan itu bukan aku."


Steve seolah tersengat aliran listrik. Menarik cepat kedua tangannya dari wajah Lexi, mundur menjauh dari Lexi hingga tubuhnya terpojok.


Ting.


Lift terbuka. Steve masih mematung, sedangkan Lexi sudah melangkah keluar.


"Aku akan melupakan kelancanganmu tadi, Mr. Ivarez. Tolong untuk selanjutnya, berhati-hatilah saat menyentuhku karena aku sedikit bodoh menilai pria. Aku bisa menyalah artikan sikapmu itu." Lexi pun melangkah pergi, mencoba terlihat tegar meski kakinya sebenarnya sudah kehilangan kekuatannya.