
Halo. Bagaimana sampai bab ini? Pusing? Astaga, baru kali ini tokoh utama banyak yang mengutuk. Kasihan sekali kau, Steve! Aku berasa seperti Steve😌. Tapi meski demikian, saya ucapkan terima kasih kepada pembaca yang masih tetap setia untuk membaca dan menunggu UP meski di tengah gempuran esmosi jiwa terhadap si tokoh utama. Dari awalkan sudah saya katakan, ini cerita akan penuh dengan plottwist. Dibandingkan CINTA YANG MENDEBARKAN, percayalah, menulis karya Lexi-Steven lebih sulit, genk. Pembaca HURT sesungguhnya sangat sedikit, membuat mood penulis down sebenarnya. Tapi, karena saya mencintai Steven, saat menulisnya mempunyai kepuasaan tersendiri dan antusias pembaca yang bijian juga sangat membuat saya terharu. Semoga karya ini bisa saya selesaikan di sini. Entah itu SAD atau HAPPY. Saya harap semuanya menikmati karya ini seperti saya menikmati setiap goresan kata yang saya tuliskan. Akhir kata, sehat selalu semuanya❤💚
.
.
"Mari menghentikan permainan ini, Olivia Phillyda."
Olivia terperanjat, wanita itu bahkan sampai mundur beberapa langkah. Wajahnya pucat pasi, kepanikan terlihat jelas.
Steve menyingkap selimut yang menutupi tubuhnya. Mengabaikan wajah Olivia yang ketakutan, ia berjalan santai, memungut celananya lalu mengenakannya tanpa melepaskan tatapannya dari Olivia yang selama ini berlindung di balik nama Oleshia.
"Semuanya mulai tidak menarik saat kau berusaha mencelakai Lexi dengan mobil sialan itu."
Perlahan, Steve mengikis jarak diantara mereka. Olivia mundur dua langkah begitu Steve maju selangkah.
Kekehan malas tergelincir dari mulut pria itu. "Ada batasan yang bisa kutolerir, Oliv."
Olivia tidak bisa mundur lagi. Wanita itu terpojok. Steve juga mengunci pergerakan wanita itu dengan tubuhnya. Jemarinya mengusap wajah Olivia, perlahan turun ke leher wanta itu. Belaian lembut di leher jenjang Olivia membuat tubuh wanita itu gemetar.
"Akh!"
Belaian itu berubah menjadi sebuah cekikan.
"Aku tidak peduli kau ingin membalaskan dendammu seperti apa. Aku juga tidak peduli kau ingin melenyapkan siapa. Entah itu para pria yang sedang memperkosamu atau siapa pun yang menurutmu layak bertanggungjawab. Tapi jangan pernah menyentuh Lexi. Apakah menakuti-nakutinya selama ini tidak cukup bagimu hingga membuat jiwanya terguncang?"
"Le.... Le-paskan aku."
Steve mengangguk, pun ia melepaskan tangannya dari leher Olivia. Pria itu kemudian mengambil tisu, membersihkan telapak tangannya seolah ia baru saja menyentuh benda yang menjijikkan. Tindakannya itu jelas melukai hati Olivia. Hei, mereka bahkan sudah berbagi ranjang selama hitungan tahun.
"Jangan mengusik bisnis masing-masing, Olivia. Fokuslah pada bisnismu dan aku juga akan fokus pada tujuanku."
"Keparat!"
Olivia mendesis sinis. Tatapannya menghunus tajam penuh permusuhan. Tidak ada lagi tatapan memuja yang biasa ia persembahkan kepada Steve.
"Sejak kapan kau mengetahuinya?"
Sungguh Olivia tidak menyangka bahwa Steve mengetahui dramanya. Ia dan Oleshia memang kembar seiras. Tidak ada perbedaan sama sekali dari rupa mau pun bentuk tubuh mereka. Semuanya sama persis. Hanya tanda lahir di balik telinga yang menjadi pembeda keduanya dan Olivia yakin jika Steve atau siapa pun tidak pernah melihat tanda tersebut. Tanda yang sangat samar.
"Sejak awal." Steve memutar tubuhnya, ia duduk kembali di atas ranjang. "Sejak aku melihatmu di kerajaan Madrid bersama kekasihmu, Arthur Cony."
Olivia semakin dibuat tersentak. Sebanyak apa yang sudah diketahui Steven. Bagaimana bisa?
"Pergilah!" usir Steve sembari mengayunkan sebelah tangannya dengan nada malas seolah ia sedang mengusir nyamuk penghisap darah.
Sadar bahwa dirinya sudah tidak memiliki wajah lagi, Olivia pun segera angkat kaki membawa perasaan yang berkecamuk di hatinya. Tanda tanya, malu, marah, kecewa dan juga merasa bodoh berbaur jadi satu. Sebanyak apa yang sudah diketahui Steve tentang dirinya? Ini di luar dugaannya. Meluapkan amarahnya, Olivia dengan sengaja membanting pintu kamar hotel.
Steve bergeming selama beberapa menit. Otaknya mencoba mengingat, mencerna apa yang terjadi tadi malam. Bagaimana bisa mereka berakhir di atas ranjang?
Aku lah yang akan mengelabuinya.
Hanya kalimat itu yang terekam oleh memorinya. Sisanya, ia tidak ingat apa-apa. Tidak biasanya Steve melupakan apa pun yang terjadi meski sedang dalam keadaan mabuk.
Sekeras apa pun Steve mencoba menggali memorinya, tetap saja ia tidak berhasil mengingat apa-apa. Pusing di kepalanya semakin bertambah. Ia memutuskan untuk pergi mandi sebelum menjenguk Lexi.
___
Steve memandang dua sejoli yang sedang bersenda gurau. Entah apa yang dikatakan Harry kepada kepada Lexi hingga membuat gadis itu terbahak hingga memegangi perutnya. Dulu, Steve juga pernah menyaksikan hal serupa saat Lexi menyambangi kerajaan dan Steve sedang melakukan tugas utamanya membunuh salah seorang menteri. Steve masih ingat berapa dollar tips yang diberikan Lexi kepadanya saat dirinya membuat minuman untuk gadis itu.
Steve turun dari mobil. Kedatangannya kemari adalah untuk memastikan apakah Lexi sudah melihat vidio dewasa yang dilakoni dirinya dan Olivia. Sebelum menuju kemari, ia sudah menghubungi ayahnya agar membawa ibunya pergi. Belum waktunya ia menunjukkan wujudnya di hadapan ibunya. Jika ibunya sudah melihat dirinya, ia yakin Lexi juga akan mengetahui kenyataan bahwa dirinya masih hidup.
"Harinya sangat cerah."
Lexi dan Harry menoleh ke arahnya. Harry terlihat terkejut dengan kahadirannya, sementara Lexi hanya memasang wajah datar. Artinya, Lexi sudah melihat adegan tersebut.
"Mr. Ivarez, kau di sini?" Harry berdiri menyambutnya. Sikap ramah pangeran itu berbanding terbalik dengan sikap Lexi yang dengan segera memalingkan wajah.
"Kau datang sendiri? Duduklah. Lexi, dia adalah temanku juga sahabat Isabel. Dan Mr. Ivarez ini adalah penjudi yang hebat. Dia mengalahkanku juga saudaramu, Darren."
"Dia memang hebat dalam segala hal." Lexi bergumam, masih dengan air wajah tenang tidak terbaca.
"Kau mengenalnya? Ah, ya, kau juga yang menyelamatkan Lexi pada hari itu. Astaga, aku tidak sempat menyapamu malam itu karena terlalu terkejut dengan apa yang terjadi."
"Aku ingin berbicara denganmu."
Lexi mengangkat kepala, menatap pria itu. Harry terlihat bingung dengan suasana yang mendadak suram.
"Berbicaralah. Tidak ada yang melarangmu." Lexi menyahut ketus dan dengan segera memalingkan wajah.
"Hanya berdua."
"Antara aku dan Harry tidak ada rahasia. Jadi, jika ada yang ingin kau katakan, Mr. Ivarez, katakan di sini. Di hadapannya."