
Lexi termangu di dalam kamar. Sudah sejak lima belas menit yang lalu Steve pergi meninggalkannya begitu saja. Pria itu pergi tanpa mengucapkan sepatah kata dan di sini lah Lexi, di kamarnya dengan kebimbangan yang menyerangnya. Tangannya menggenggam ponsel dengan erat. Ia berbohong tentang sudah membuka video tersebut. Hanya saja, ia bisa melihat jika pria yang membelakangi kamera adalah punggung pria itu.
Lexi mengenali punggung Steve meski hanya melihatnya beberapa kali. Karena tahu bahwa isi video itu adalah tentang Steve, Lexi tidak berani memutarnya, takut melukai hatinya karena sadar bahwa Steve sudah berhasil menyentuh relung hatinya. Lexi tidak ingin cari penyakit dengan menonton video hanya karena rasa penasarannya. Kondisi hatinya patut ia jaga. Siapa lagi yang akan menjaga ketenangan hati, jika bukan diri sendiri.
Lexi menganggukkan kepala, seakan sudah mendapatkan keputusan di dalam diamnya tadi. Jemarinya menyalakan ponsel dan dengan lancar segera mendelete video tersebut.
"Rasa penasaran tidak akan membunuhku. Lagi pula, mata suciku tidak ingin terkontaminasi." Ia melemparkan ponselnya ke ranjang lalu merebahkan tubuhnya di sana. Tatapannya menerawang jauh. Sikap Steve selalu membuatnya bertanya-tanya. Setelah pernyataan cinta di toilet, kini pria itu menunjukkan kecemburuannya yang membuat Lexi takut juga senang. Terdengar konyol memang, tapi entah kenapa ia bisa merasakan ketakutan yang terpancar di manik pria itu.
Lexi merasa jika reaksi yang ditunjukkan pria itu adalah perasaan nyata, bukan sebuah trik untuk mengelabui atau menakutinya. Atau Steve yang terlalu ahli bermain peran. Lalu kenapa pria itu pergi begitu saja tanpa mengucapkan satu kata pun. Segala sesuatu tentang Steve, selalu menyisakan tanya di benaknya.
Lexi menarik bajunya, mencium aroma Steve yang tertinggal di sana. Hatinya bergetar dan darahnya berdesir hebat. Lexi bahkan bisa merasakan perutnya melilit, Steve seolah masih mendekapnya dengan erat. Sensasinya masih terasa nyata membuat tubuh Lexi terbakar.
"Dia tikus bajiingan yang murahan, Lexi! Stop memikirkannya!" Ia memberi perintah kepada dirinya sendiri. Perintah yang sia-sia, karena bayangan wajah Steve yang sedang marah justru sangat menawan menurutnya.
"Gila! Ini benar-benar gila!" Lexi menendang udara dan berguling-guling di atas ranjang. "Dia menghipnotisku! Dasar, pria arogan menyebalkan!"
___
"Mom,"
Daphne tersentak. Ia kenal suara ini. Meski terdengar lebih serak dan berat, ia tetap mengenali siapa pemilik suara ini. Putra semata wayangnya yang sudah ia anggap tiada selama hampir 13 tahun. Meski sudah mendengar dari suaminya bahwa putra mereka masih hidup, tetap saja ia merasakan tubuhnya gemetar, jantungnya berdegup tidak karuan saat mendengar suara Steven yang ia yakini kini sedang berdiri di belakangnya. Rasanya ingin cepat-cepat berbalik, tapi mendadak Daphne merasa tubuhnya membeku. Ia tidak punya kekuatan hanya untuk sekedar menolehkan kepala.
Suaminya mengusap punggung tangannya, memberi dukungan.
"Mom."
Ah! Betapa Daphne merindukan panggilan ini. Sulit rasanya percaya bahwa cerita mengharukan ini benar terjadi dalam hidup mereka.
Sentuhan di kedua bahunya membuat ia tersentak. Astaga! Daphne bisa merasakan bahwa putranya bukan remaja yang memiliki tangan kurus tidak bertenaga. Daphne merasakan kehangatan menjalar ke seluruh tubuhnya tatkala tangan kokoh putranya itu memijat lembut kedua pundaknya. Dulu, Steve sering melakukannya setelah Daphne pulang membantu suaminya untuk panen anggur milik keluarga Trey.
"Aku merindukanmu."
Hatinya meringis pilu mendengar lirihan sang putra. Ya, rindu mereka tidak memiliki arti apa-apa dibanding rindu yang dipendam oleh putra mereka. Daphne dan suaminya sudah menerima dengan ikhlas bahwa putra mereka sudah tiada. Tapi berbeda dengan Steve, ia merindu tapi harus menahan diri untuk bertemu.
Kecupan di pucuk kepala Daphne membuat pertahanan wanita itu runtuh, ia berdiri dan berbalik. Betapa terkejutnya ia melihat sosok Steven yang berdiri menjulang tinggi. Di mana putranya yang kurus kerontang juga kaca mata tebal yang biasanya bertengger di hidung Steve? Dimana mata cekung yang lebam karena kurang makan juga tidur? Tidak ada rambut yang berantakan, tidak ada pula kaos usang yang mulai kendor.
Sosok di hadapannya begitu berbeda, tapi ia tahu jika yang di hadapannya memang putranya. Anak laki-laki yang ia lahirkan dari rahimnya puluhan tahun silam.
Banyak hal yang ingin Daphne katakan, tapi tidak satu pun yang bisa ia ungkapkan. Lidahnya mendadak kelu dan setiap kata yang ingin dilontarkan tertahan di tenggorokannya.
Kedua tangannya terulur dalam keadaan gemetar. Menyentuh kedua pipi Steven, turun ke bahu yang begitu lebar lalu ke otot lengan yang begitu kokoh dan terakhir, Daphne menggenggam tangan yang begitu besar di dalam genggamannya.
Daphne menatap kagum tangan putranya, terselip juga kesedihan di dalamnya. Bagaimana Steve hidup selama ini? Terakhir, ia dan Lexi melihat Steve di penjara. Sosok putranya itu tidak ubahnya seekor capung yang menyedihkan.
"Kau tumbuh dengan baik dan benar," ada rasa bersalah yang begitu besar. Kenapa mereka terlalu bodoh mempercayai bahwa putra mereka memang mati terbakar.
"Ya. Aku tumbuh dengan baik, Mom." Tapi tidak benar, imbuhnya dalam hati.
"Mau sampai kapan kau menatapku tanpa ingin memelukku, Mom?"
Daphne tersentak, pun ia mendongak dan melihat putranya tersenyum kepadanya.
"Aku merindukanmu, Mom. Sangat merindukanmu. Sudahi keterkejutanmu dan segera peluk aku."
Daphne mengangguk cepat sembari menjatuhkan dirinya ke dalam pelukan Steve. Tangisnya kembali pecah. Kebahagiaan menyelimuti hatinya, tapi ada secuil kesedihan yang terselip di dalamnya. Berapa banyak penderitaan yang dilalui putranya selama ini? Sungguh ia tidak berani untuk mempertanyakannya.
"Ini sungguh dirimu, Steve? Sungguh putraku?"
"Aku akan terluka jika kau tidak mengenaliku, Mom."
"Kau begitu berbeda."
"Aku masih sama. Masih Steven yang dulu, Mom. Putramu, putra kesayanganmu."
Daphne menganggukkan kepala di dalam pelukan putranya. "Kau tumbuh dengan sangat baik. Sangat tampan."
"Aku mewarisinya darimu juga suamimu."
"Kau juga lebih pintar bermain kata juga banyak bicara."
"Itu karena aku terlalu merindukanmu, Mom."
"Di mana kau selama ini?"
"Spain. Makanannya sudah datang. Ayo duduklah."
Terima kasih pada pramusaji restoran yang datang tepat waktu. Steve tidak tahu harus menjawab apa jika ibunya mulai bertanya apa saja yang sudah ia lakukan selama ini di Spain. Tidak ada anak yang ingin menceritakan keburukannya kepada ibunya, benar tidak?
Steve mengendurkan pelukannya, tangannya mengusap air mata ibunya lalu ia kembali memberikan kecupan hangat di kening ibunya. "Duduklah," pintanya seraya menarik kursi untuk ibunya. Pun ia kemudian duduk di samping ibunya.
"Lexi selalu mengunjungi makam yang ia duga sebagai tempat peristirahatan terakhirmu. Kapan kau menemuinya dan memberitahu jika kau masih hidup, Nak?"