
"Kau tidak harus mengantarku pulang." Lexi menghembuskan napas panjang melihat pagar besi yang menjulang tinggi. Kehadiran Steve di rumahnya akan mempertegas kebohongannya. Ia akan meminta maaf kepada keluarganya akan kebohongannya tersebut, tapi tidak dengan membawa langsung subjek yang menjadi dalang di balik kebohongan itu.
"Aku tidak ingin terlihat seperti pria brengsek."
"Masalahnya kau memang pria brengsek, Ivarez. Aku akan turun, kau pergi lah."
Pengusiran yang dilakukan Lexi tiada berarti. Pagar itu terbuka lebar, mempersilakan limousine pria itu masuk tanpa hambatan.
"Kau mengusirku, tapi sepertinya keluargamu sangat menyambut kedatanganku." Darren terlihat sedang memandikan seekor singa. Steve bisa menebak jika singa itu adalah Layla. Tangguh dan sangar. Pax Willson terlihat sedang menikmati kopi bersama sang istri. Beberapa kru pengaman Willson juga terlihat siaga di beberapa titik.
"Habislah kau. Layla tidak suka orang asing." Lexi kembali manarik napas panjang. Tidak berani membayangkan apa yang akan terjadi. Membawa masuk pria yang pernah menodongkan senjata kepada keluarganya. Seakan itu tidak cukup, ia kembali bergidik ngeri membayangkan reaksi keluarganya jika tahu ia bermalam di rumah pria tersebut.
"Aku tidak akan bertanggung jawab jika taring juga cakaran Layla melukaimu. Ingat, kau yang memaksa untuk mengantarku pulang. Haiis, kenapa Darren harus mengajak Layla bermain sepagi ini?" gadis itu menggerutu sembari membuka pintu mobil.
Melihat kehadiran mereka, Darren menghentikan aktivitasnya bermain dengan Layla. Pria itu menyeka keringatnya yang menetes dari dahinya.
"Darren," Lexi melambaikan tangan dengan senyum canggung di wajahnya yang cantik. Senyum yang justru membuatnya terlihat aneh. "Hai."
"Kau sudah pulang?" Darren bertanya tidak acuh, matanya melirik ke limousine, menunggu si pemilik mobil turun.
"Tidak. Aku masih di angkasa, terbang tinggi melintasi nirwana."
Jawaban konyol Lexi tersebut mengalihkan perhatian Darren.
"Kau baik-baik saja?"
"Ya. Kau bisa melihatnya."
Darren melirik dengan satu gerakan cepat. Memastikan jika ucapan Lexi benar adanya. Darren berjalan mendekat, Layla mengekor dengan patuh. Singa itu mengaum, membuat Lexi berjengkit kaget.
"Kenapa dia mengaum?!"
"Dia lapar." Darren mengetuk jendela karena Steve tak kunjung turun. Steve menurunkan jendela kaca. "Tidak sopan jika datang bertamu tapi tidak menyapa."
Steve berdehem, matanya melirik ke arah singa yang meneteskan air liurnya. Sepertinya singa itu memang sedang lapar.
"Aku yang memintanya pulang, Darren. Omong-omong, bukankah Layla sedang lapar, beri dia makan agar tidak berkicau."
"Layla sedang memandangi makanannya," ucapan Darren membuat Lexi membeliak kaget. Tidak mungkin jika Darren berniat menjadikan Steven santapan Layla.
Mendengar ucapan Darren, Steve berdecak angkuh. Pun ia segera turun dari mobil, Darren kemudian berseru.
"Go, Layla."
"Darren!" Lexi melengkingkan suara seraya menarik lengan saudaranya. Darren seakan tuli. Matanya menyorot datar pada Steve yang beradu pandang dengan Layla. Keduanya terlihat seperti petarung yang sedang menyusun ancang-ancang, dari sudut mana kira-kira mereka harus menyerang.
Layla mengaum.
"Layla, tidak!" Lexi berniat menghampiri keduanya, mencegah pertarungan terjadi. Namun, tangan kekar saudaranya menghalangi niatnya tersebut.
Melihat geraman singa tersebut, Steve mundur, sialnya singa itu justru maju.
"Sepertinya saudaramu benar-benar ingin menjadikanku potongan daging segar untuk makanan Layla."
GGRRR...
Layla kembali menggeram, seperti tidak menyukai saat Steve menyebut namanya.
Steve berlari mengelilingi halaman, melompat, menghindar ketika Layla menyalakkan mulut bersiap menyantap kakinya.
Steve kembali melompat ke atas tembok ketika singa itu tidak ada hentinya mengincarnya.
"Layla, STOP!!" Lexi terus saja berteriak, meminta singa itu berhenti. Gadis itu benar-benar panik.
"Argh!" Steve meringis ketika kakinya tidak mendarat dengan sukses. Ia terkilir, membuatnya jatuh terduduk di atas tanah.
"Sial!!" ia mengumpat kasar saat ia mengangkat kepala dan singa itu kini menatapnya dengan manik berbinar seolah ia sudah siap santap. Steve merangkak mundur dengan posisi duduk karena kakinya sedang bermasalah. Melihat hal itu, Darren tersenyum penuh kemenangan.
"Arrgghh!" Steve mengerang ketika singa itu berhasil menggigit lengannya. Dengan sisa-sia kekuatannya, Steve melayangkan tinju ke wajah Layla. Perlawanannya itu justru membuat Layla semakin marah dan ganas.
"Darren, hentikan Layla. Kau bisa membuat pria itu mati."
"Itulah tujuannya. Layla sedang lapar," sahutnya tanpa beban sama sekali.
"Oh Tuhan, apa kau gila?"
"Dia pantas mendapatkannya!" mimik Darren masih saja datar. Bibirnya akan berkedut jika Layla berhasil menyerang Steve. Pakaian pria itu sudah berantakan, beberapa cakaran berhasil Layla hadiahkan pada Steve.
Bup!
Satu tembakan menancap di leher singa tersebut. Sebuah bius yang berhasil membuat Layla tumbang. Darren berdecak kesal, ia belum puas menyaksikan kekacauan pria itu. Darren memiringkan kepala, mencari sosok yang merusak kebahagiaannya.
"Dad!" protes pria itu. Ternyata penembak yang menumbangkan Layla adalah ayahnya sendiri.
"Cukup," ucap ayahnya dengan tenang. Perlahan, Pax mendekati Steve dan mengulurkan tangan, berniat membantu pria itu berdiri.
Steve menerima uluran tangan tersebut dengan tangan yang berlumuran darah. "Aku tidak tahu jika begini lah cara Willson menyambut seorang tamu."
"Layla sangat sensitif dengan orang asing."
"Sensitif? Yang kulihat, singa itu sengaja dibuat kelaparan," tandas Steve dengan sengit.
"Dan kau selamat dari santapannya," Pax tergelak, menatap geli melihat luka yang didapatkan Steven.
"Haruskah aku berterima kasih?" sarkas Steve dengan senyuman miring yang tergelincir dari sudut bibirnya.
"Masuklah, seseorang akan mengobati lukamu." Pax tidak menanggapi ucapan pria itu.
"Di mana Lexi?" Steve memendarkan pandangan dan tidak menemukan gadis itu ada di sana lagi. Apakah dia tidak peduli aku masih hidup atau sudah mati? Pikirnya.
"Merajuk."
"Merajuk?"
"Ya, karena mengabaikan perintahnya untuk menghentikan Layla." Darren ikut bergabung dengan mereka. "Jauhi Lexi," pungkasnya terus terang.
Steve melengkungkan alisnya dengan sinis, "Kenapa aku harus menjauhinya?"
"Karena kau sudah memiliki kekasih, Keparat!" Darren mencengkram kerah baju pria itu. Ia tidak bisa tinggal diam jika menyangkut kebahagian Lexi. Dan ia punya firasat jika pria itu akan memberikan luka baru pada adiknya. "Hanya karena Lexi terlihat lugu, bukan berarti kau berhak barmain-main dengannya."
"Wuaah, aku merasa tersanjung kau mengetahui secuil kehidupan pribadiku, Willson. Jadi kau memata-mataiku?" Steve memandang Darren dari balik bulu matanya yang lebat dan lentik. Terlihat tajam dan menghunus.
"Kau akan terkejut jika tahu bahwa aku mengetahui lebih dari yang kau duga, Ivarez. Ah, ataukah aku harus memanggilmu, Steven Percy?!"