
Empat bulan kemudian.
"Atas kesaksian beberapa pihak, atas bukti yang sudah dikumpulkan. Dengan ini, dinyatakan bahwa Steven Percy tidak bersalah dan dibebaskan dari tuntutan hukum," sebelum mengetuk palu, Hakim yang mulia berdiri menatap Steve yang duduk di bangku tersangka. Pun semua yang hadir di sana ikut berdiri.
"Saya sebagai Hakim, mewakili permintaan maaf atas kesalahan persidangan beberapa tahun lalu yang membuat namamu tercoreng dan merenggut kebebasanmu. Dengan ini pengadilan dan pemerintah akan memberikan kompensasi yang merupakan ganti rugi." Hakim itu menundukkan kepala sedikit sebagai penghormatan, mengakhiri permintaan maafnya. Semua para hadirin juga melakukan hal yang sama. Palu pun diketuk beberapa kali.
Steve berdiri dari bangku tersangka. Ia menghampiri ayah ibunya, menemukan keharuan dan kelegaan di wajah keduanya. Daphne langsung menjatuhkan diri ke dalam pelukan putranya. Steve mendekap wanita itu dengan erat, memberikan kecupan berulang kali di pucuk kepala ibunya.
Ibunya mengurai pelukan mereka karena sang suami juga ingin memberikan selamat.
"Sekarang, seluruh dunia tahu bahwa putraku bukan seorang penjahat. Sekarang, kau mendapatkan identitasmu kembali, Son." Ayahnya merangkul dan menepuk-nepuk punggungnya.
Bukan hanya kedua orang tuanya yang hadir di sana menyaksikan kebebasan dan pembersihan namanya. Ada Willson di sana, Harry, Roxi, dan juga Beth.
"Aku bangga padamu," Pax mengulurkan tangan yang disambut Steve dengan ekspresi datar. Sejak persidangan, wajahnya memang minim ekspresi seolah pembebasan ini tidak berarti apa-apa padanya. Dan ya, ini memang tidak berarti apa-apa padanya. Banyak hal yang sudah hilang darinya dan tidak akan kembali meski namanya sudah bersih.
"Aku minta maaf atas semua derita yang kau tanggung selama ini," Pax berkata dengan raut sedih.
"Kau tampak lima kali lipat lebih tua hanya dalam waktu empat bulan." Steve menarik tangannya dari genggaman Pax dan melangkah meninggalkan persidangan.
Pria itu melajukan mobilnya menuju penjara. Brian, Fread dan Dean dimasukkan ke dalam sel yang sama. Luka yang dialami Dean belum sembuh sepenuhnya, tapi hukuman tetap harus berjalan. Di dalam sel itu bukan hanya ada mereka bertiga, tapi ada Riston dan beberapa napi lainnya.
Ya, akhirnya Riston berhasil diamankan Darren saat menyerang Arthur di markas Devils.
Para bedebah itu memang tidak ditempatkan di penjara isolasi seperti yang dialami Steve, makanan yang mereka dapatkan juga masih layak. Hanya saja mereka di tempatkan di penjara tahanan khusus yang tidak boleh keluar dan bersosialisasi dengan tahanan lainnya.
"Ayo, lakukan dengan benar, gunakan mulutmu dengan baik."
Steve menyaksikan kegiatan menjijikkan itu dengan mimik tenang tidak terbaca. Brian dan dua konconya sedang melayani birahi Riston dan tahanan lainnya hanya demi beberapa isap narkoba.
Apa yang dialami Steve dulu, kini dialami para bedebah itu. Steve melangkah mendekati jeruji, aktifitas itu sontak berhenti saat Brian menangkap sosoknya. Brian yang sedang bersimpuh di hadapan Riston dengan posisi mulut yang menjijikkan, maniknya membeliak, terkejut melihat Steve yang menatap datar ke arah mereka. Malu dan marah. Sangat menyedihkan kondisi mereka. Tapi Steve sudah pernah melalui itu semua.
Fread dan Dean langsung menghampirinya. memohon agar dibebaskan. Steve menjauh saat tangan kedua pria itu hendak menyentuhnya.
"Bajiingan brengsek! Kau puas melihat kami seperti ini? Kau bahagia?" Brian memaki, menatapnya penuh dengan kebencian. Steve hanya bergeming tidak menunjukkan reaksi apa-apa. Tanpa mengatakan apa pun, ia berbalik dan meninggalkan sel tersebut. Masih terdengar laungan Brian melontarkan makian dan kutukan kepadanya.
"Habisi Riston," ia memberi perintah kepada sipir yang mendampinginya.
Setelah berada di luar penjara, Steve langsung memuntahkan isi perutnya, dan selanjutnya ia kehilangan tenaga di kakinya yang membuat ia meluruh ke lantai. Jantungnya berdegup tidak karuan, peluh membasahi keningnya. Trauma itu belum hilang sama sekali meski namanya sudah bersih.
Butuh waktu beberapa saat bagi Steve untuk bisa kembali berdiri. Masih ada beberapa tempat yang harus ia datangi. Pun ia segera melajukan mobilnya.
Ia menuju rumah panti yang dikhususkan untuk wanita-wanita yang mengalami depresi, putus asa, gangguan mental dan sebagainya. Olivia dan Lily Oswald ada di sana.
Berbeda dengan Olivia, Lily Oswald kini menjadi salah satu perawat di sana. Dialah yang lebih sering mengurus Olivia.
Melihat kehadiran Steve, Lily langsung menghampirinya sambil tersenyum.
"Kau datang?"
Steve mengangguk seraya melirikkan mata ke arah Olivia yang sedang menikmati cemilannya.
"Bagaimana keadaannya?"
"Selalu ada perubahan. Dia sudah bisa tertawa saat keluarganya datang mengunjungi. Dia juga sudah mau berbicara dengan ibunya walau hanya sepatah dua kata."
Steve menganggukkan kepala. Karena mengalami gangguan mental, Olivia terbebas dari semua tuntutan hukum. Sama seperti Steve, keluarga Olivia juga mendapatkan kompensasi dari pemerintah atas ketidakadilan yang mereka alami.
"Kau terlihat lebih baik."
Lily memperhatikan penampilan Steve yang terlihat normal. Dua bulan bulan lalu, saat Steve datang berkunjung penampilan pria itu sangat kacau. Rambut panjang tidak terurus, begitu pun dengan cambang lebat yang menutupi separuh wajah tampannya. Tubuhnya kering krontang seperti seorang pesakit yang depresi.
"Aku menghadiri persidangan," sahutnya ringkas.
Lily menganggukkan kepala. Wanita itu tidak tahu bagaimana cara mengungkapkan betapa ia sangat berterima kasih kepada Steve. Pria itu menculiknya dari penjara, Lily hampir depresi saat dibawa Steve ke panti ini. Steve mengunjunginya berulang kali. Pria itu juga menyelamatkan kedua orang tua Lily dari jeratan Mr. Milles yang saat itu akan membakar keduanya. Kini, ayah dan ibunya juga sudah bersih dari aktifitas pemuja sekte sesat.
Lily tahu jika Steve tidak akan melakukan sebanyak ini padanya jika dirinya bukanlah sahabat bagi Lexi. Mengingat Lexi, Lily merasakan hatinya tercubit sakit. Kini Lexi sudah tidak ada lagi.
"Aku merindukannya. Oh, Steve, maafkan aku." Lily buru-buru menyeka air matanya begitu melihat mimik Steve berubah.
"Aku hanya menyesal tidak bisa mengucapkan kata maaf juga terima kasih kepadanya di hari terakhirnya. Aku bukan teman yang baik, tetapi Lexi adalah sahabat yang baik dan tulus. Dia pasti sudah bahagia di surga."
Steve hanya terdiam, sesekali pria itu menundukkan kepala menyembunyikan perasaannya.
"Aku juga berterima kasih kepadamu, Steve. Berkatmu, aku bisa hidup dengan baik dan bisa menebus kesalahanku pada Olivia."
Mereka berdua menatap Olivia yang masih terlihat tenang menikmati cemilannya.
"Aku pergi. Untuk waktu yang lama, aku mungkin tidak bisa datang."
Lily mengangguk, jika dirinya saja merasakan kesedihan luar biasa dengan kehilangan Lexi, Lily tidak bisa membayangkan seperti apa sakit yang dirasakan oleh Steve saat ini.
Steve menatap Olivia sekali lagi sebelum benar-benar pergi meninggalkan tempat tersebut. Lily melambaikan tangan begitu Steve melajukan mobil.
Lily menarik napas panjang, ia mendongak menatap langit. "Lexi, betapa pria itu sangat mencintaimu."