
base™Samy, Bab ini saya persembahkan untukmu dan juga base-base lainnya🌽
BTW, izin promosi ya Genk! Mampir ke cerita Gavin Helli dengan judul MY NAUGHTY FIANCE.
.
.
"Dad..." Lexi merengek manja sambil memeluk tubuh ayahnya dari belakang. Kemana pun ayahnya pergi, ia menempel dan mengekor. Tidak melepas pelukannya sama sekali sejak Steve keluar dari rumah mereka. "Dad..."
"Hmmm," Pax memasuki kandang Layla, memeriksa kondisi singa tersebut meski sudah ada dokter yang memeriksanya.
"Aku punya cerita."
"Daddy akan mendengarkan."
"Jadi, kemarin pagi aku memasak untuk Lily. Gadis itu sedang marah kepadaku. Aku berniat membujuknya dengan memasak makanan kesukaannya."
"Oh gadis yang malang. Dia semakin marah kepadamu?" Ayahnya menimpali seraya mengusap kepala Layla lalu kemudian keluar kembali. Terpaksa Pax memperlambat langkahnya karena putrinya yang menempel di punggungnya.
"Hais, kau menghina masakanku, Dad."
"Masakanmu memang seburuk itu, Sweety."
Mendengar jawaban ayahnya, Lexi menghadiahi satu gigitan kecil di punggung ayahnya.
"Lily tidak ada."
"Thanks God. Gadis itu selamat."
"Dad!" kali ini Lexi memukul pundak ayahnya. "Aku mengatakan jika Isla tidak ada di penjara. Dia dipindahkan."
"Kenapa bisa?"
"Aku tidak tahu. Untuk itulah aku mengatakannya kepadamu agar kau mencarinya."
"Itu di luar kuasa kami, Honey. Jadi, bagaimana malammu? Tidurmu nyenyak?"
Lexi berdehem sembari mempererat pelukannya. "Nah, ceritanya akan kulanjutkan. Setelah aku tidak menemukan Lily, aku justru bertemu dengannya."
"Dengannya?"
"Hmm, dengan pemuda itu."
"Pemuda yang mana?" Pax memasuki ruang kerja, di sana sudah ada putranya sedang sibuk dengan komputer miliknya. Melihat kehadiran Pax dan Lexi, Darren menghentikan pekerjaannya. Menukik alis melihat kelakukan adiknya yang sedang mengaku salah.
"Ya, pemuda yang itu!"
"Pemuda yang mana? Dude, kau tahu siapa pemuda yang adikmu maksud?"
"Mungkin pria yang sama dengan pria yang hampir menjadi santapan Layla, Dad."
"Kau menyebalkan, Darren! Sangat menjengkelkan! Tadi itu keterlaluan."
"Dia belum mati." Darren menutup laptop di hadapannya.
"Astaga, Dad, kau dengar itu? Putramu berniat membunuhnya!"
"Abaikan apa yang dikatakan saudaramu, lanjutkan ceritamu. Dan bisakah kau melepaskan pelukanmu, Lexi?"
"Tidak, sebelum aku menyelesaikan ceritaku!"
"Baiklah," Pax terpaksa berdiri, mengikuti kemauan putrinya.
"Aku bertemu dengannya di penjara..."
"Kenapa dia ada di penjara, dia kriminal?" Darren menimpali. Lexi mendelik kesal, tidak suka jika saudaranya itu ikut menimbrung pembicaraannya dengan ayahnya.
"Dia mengatakan jika dia belum makan lalu mengajakku berken... Hmm, maksudku..."
"Berkencan. Kau ingin mengatakan berkencan, bukan?" lagi dan lagi Darren menyela dan ikut campur. "Jika ingin mengakui kesalahan, lakukan dengan benar. Jangan menciptakan kebohongan lainnya."
"Katakan itu pada dirimu!" sarkas Lexi masih dengan tatapan kesal. "Jadi, dia tiba-tiba mengajakku ber-ber-berkencan, Dad." Ucapnya dengan nada pelan, seakan ia sedang berbisik.
"Lalu?" Pax mengusap tangan putrinya yang melingkar di perutnya. Sentuhan yang seolah mengisyaratkan bahwa tidak ada yang salah dengan berkencan. Pax ingin putrinya terbuka. Mereka sedang berbagi cerita, bukan di ruang sidang yang harus menghakimi terduga.
"Yang sudah tidak dibuka untuk umum, Lexi." Darren memperbaiki kalimat Lexi yang terdengar janggal di telinganya. Tidak berpenghuni, ia justru mengingat rumah kosong yang ada di kediaman Brian Milles yang disebut pria itu sebagai rumah hantu.
"Dad, bisakah kau mengusirnya dari sini!"
"Darren, pergilah." Detik itu juga Pax memenuhi permintaan putrinya. Lexi tersenyum penuh kemenangan. Dan untuk membuat Darren jengkel, ia sengaja meleletkan lidahnya kepada saudaranya itu. Darren segera beranjak dari kursi kebesaran ayahnya, mematuhi perintah ayahnya dan menuruti kemauan adiknya.
"Dia menikmati masakanku sampai habis. Sepertinya dia sangat kelaparan." Lexi melanjutkan ceritanya setelah pintu tertutup. Meninggalkan dirinya dan ayahnya di sana.
"Ouh... Sepertinya dia memang sangat kelaparan, Honey."
"Ya, itulah yang kukatakan Dad. Dia mengalami diare, seperti yang dialami Darren saat kami masih sekolah dulu. Aku datang ke rumahnya untuk mengantar obat. Aku merasa bersalah, karena sengaja atau tidak, akulah penyebab dia menderita sakit perut. Tidak ada orang di sana. Dia harus diawasi sepanjang malam. Jika tidak, dia bisa mengalami dehidrasi. Aku hanya memenuhi tanggung jawabku, Dad. Maafkan aku. Tidak seharusnya aku berbohong."
Hening sejenak.
Lexi memberi waktu kepada ayahnya untuk mencerna apa yang ia katakan baru saja.
Pax melepaskan pelukan tangan Lexi dari perutnya, kemudian ia memutar tubuh agar berhadapan langsung dengan putrinya.
"Kau menyukainya?"
"Hah?" manik Lexi membeliak lebar. Bukan itu respon yang diharapkannya keluar dari mulut sang ayah. "Ti-tidak, tidak, aku tidak menyukainya."
"Bagus."
"Hah?"
"Bagus jika kau tidak menyukainya."
"Aku tidak boleh menyukainya?" Lexi justru melayangkan pertanyaan bodoh. Terang saja ayahnya dibuat bingung mendengar pertanyaan tersebut.
"Pertanyaan apa ini, Sayang? Kau baru saja mengatakan jika kau tidak menyukainya."
"Ya, sesaat tadi aku memang tidak menyukainya. Besok atau lusa, aku tidak tahu." Lexi tidak nyaman dengan penekanan ayahnya yang seolah menekankan agar Lexi tidak seharusnya menyukai Steve.
"Kalau begitu mari kita membahasnya jika perasaanmu berubah, esok atau pun lusa." Pax tersenyum hangat, diusapnya kepala putri kesayangannya itu dengan lembut. "Kali ini kau dimaafkan. Jangan diulangi."
___
Darren menuruni anak tangga, melihat jam dinding begitu matanya menangkap Austin yang baru masuk melalui pintu utama. Seperti biasa, wajah adiknya itu selalu segar, bersemangat dan tidak ada beban.
"Kau sudah pulang?"
"Kau melihatku di sini, tentu saja aku sudah pulang. Di mana Dad, Mom, dan Seksiih?" Austin mendaratkan bokong di sofa.
"Kau menang?" Darren menghampirinya. Mengabaikan pertanyaan Austin.
"Aku tidak bermain tadi malam."
"Lalu kenapa wajahmu seolah mengisyaratkan bahwa kau baru saja memenangkan lotre dalam jumlah besar."
"Aku berkencan."
"Apa yang istimewa dengan kencan kali ini? Aku justru akan heran jika kau tidak pergi berkencan walau hanya satu hari."
Austin tergelak mendengar sarkasme saudaranya itu. "Harusnya kau mengikutiku jejakku, Dude. Wanita adalah anugerah. Kita harus memanjakan dan menyenangkan mereka."
"Yang kulihat, kau selalu membawa mereka ke atas ranjang."
Tawa Austin meledak. Darren ahlinya dalam menyindir.
"Kencan tadi malam berbeda. Untuk pertama kalinya aku melewatkannya tanpa ada adegan ranjang. Wanita ini berbeda." Austin berdecak, "Cantik, anggun, dan sedikit sangar."
"Seingatku, tipe-mu adalah yang seksiih, bahenol dan menggoda."
"Ouuh, saudaraku ternyata tahu apa itu yang disebut dengan bahenol. Katakan, jika kau juga tidak bisa hidup tanpa wanita."
"Privasiku tidak untuk kuumbar, Kawan." Darren segera beranjak. Meladeni kekonyolan Austin tidak akan ada habisnya.
"Aku bukan orang lain."
"Tidak ada yang menyebutmu orang lain. Dan berbicara tentang berkencan. Lexi juga sedang berkencan. Steven Dixton Ivarez, pria itu sepertinya sangat tertarik dengan Lexi kita."
Austin tergelak, "Lexi kita memang semengagumkan itu." Keduanya kompak menarik napas panjang.