
"Kita kedatangan tamu, Jordan?" Pertanyaan Steve seringan kapas. Ia melenggang santai memasuki rumah. Tidak terkejut dengan kehadiran tamu yang tidak diundang atau bahkan tidak berniat untuk ia undang sama sekali.
"Pesan seperangkat furniture begitu tamu kita pergi." Steve melewati tamunya begitu saja. Tidak ada sapaan walau hanya sekedar basa basi. Pria itu berhenti di dasar tangga. "Saat aku turun untuk makan malam, aku harap semua perabotannya sudah berganti. Sterilkan semuanya."
"Baik, Sir." Jordan mengangguk mantap.
Sungguh Steve tidak sudi barang-barang miliknya bersentuhan dengan orang-orang munafik berbau najis.
"Jauhi Lexi!"
Steve yang baru hendak menaiki anak tangga pertama, mengurungkan niat. Terhenti begitu mendengar perintah dua kata dari sang tamu. Ia berbalik, berhadapan langsung dengan wajah tamunya. Sebelah alisnya melengkung seolah ia sedang bingung menerjemahkan dua kata tersebut. Untuk sesaat keduanya saling beradu tatap.
"Kau kekasihnya?" ia bertanya dengan nada juga mimik yang kelewat tenang.
Brian tidak menjawab. Ia memang tergila-gila pada Lexi, tapi akibat ulahnya di ajang fashion bulan lalu membuatnya tidak berani menunjukkan wajah di hadapan wanita itu. Lexi bahkan mengabaikan panggilannya dan para pria Willson juga memberikan peringatan secara tegas.
"Jika kedatanganmu hanya untuk mengatakan hal unfaedah, kurasa sudah waktunya kau angkat kaki dari rumahku."
"Cih! Sombong sekali kau. Meski kau mengenakan setelan mahal, memiliki kekuasaan. Tidak lantas hal tersebut bisa menghilangkan siapa kau sebenarnya. Topeng yang kau gunakan tidak akan benar-benar bisa melindungi dari masa lalu yang begitu menjijikkan, Steven Percy."
Steve tidak terkejut jika pada akhirnya identitasnya terbongkar. Tenang dan masih terkendali. Ia tidak ingin menunjukkan secuil emosi pun di hadapan para musuhnya. Bagaimana Brian tahu siapa dia sebenarnya, bukanlah hal yang sulit bagi Steve untuk menebaknya. Ada pengkhianat di sisinya. Ia tahu itu dan yang ia lakukan adalah memeliharanya. Sejauh mana pengkhianat itu beraksi. Cara terbaik mengawasi musuh adalah dengan memeliharanya, bertingkah bodoh seolah tidak menyadari apa-apa.
"Bagaimana, Percy? Penjara pasti membuatmu enggan menatap wajahmu sendiri." Brian menyunggingkan senyum sinis. "Dari yang kudengar kau sangat bermusuhan dengan cermin? Kau melihat pemuda culun yang sedang memuaskan nafsu para pria bejat menjijikkan? Dari yang kulihat, mulutmu ahli bermain-main dengan organ vital mereka," sarkas Brian dengan ekspresi yang menyebalkan.
Dengan wajah minta ditinju, Brian mendekati Steve. Sebuah ponsel ada di dalam genggaman pria itu. Vidio menjijikkan Steve ada di sana. Semua penderitaannya terekam jelas. Mulai dari penyiksaan hingga saat ia terpaksa menjadi budak sekss.
"Sepertinya filmku memberi hiburan yang sangat menarik bagimu." Ingin rasanya ia menyeret pria itu ke ruang isolasi dan langsung mengeksekusi lidahhnya. Amarahnya mendidih. Ia sangat murka. Aib menjijikkan yang berusaha untuk ia lupakan. Sial! Tangannya gemetar, jantungnya berdegup tidak karuan. Brian menyentilnya dengan senjata yang paling membuatnya muak. Meski demikian, ia tetap mempertahankan raut wajahnya setenang mungkin. Terima kasih untuk pengendalian diri yang sudah ia pelajari selama ini. Tangannya yang gemetar ia sembunyikan ke dalam saku, tidak akan ia biarkan musuhnya berhasil menekannya juga mengetahui kelemahannya. Sesungguhnya mental sudah terguncang begitu Brian menyebut penjara.
"Sangat menarik sehingga ingin rasanya aku muntah. Ini sangat menjijikkan, Kawan. Bagaimana rasanya memuaskan para pria bejat yang tidak mandi selama bertahun-tahun?"
"Kudengar Ibu Negara sedang dirawat di rumah sakit jiwa. Bagaimana kondisinya?"
"Bajiingan! Bagaimana..."
"Bukan hanya bermain gila dengan banyak wanita jalaang, ayahmu juga memiliki hubungan dengan sindikat *******. Apa kau terlibat di dalamnya? Ck! Aku seperti wanita yang suka bergosip." Steve berkelakar dengan mimik serius. Tidak ada secuil lelucon yang terlihat di wajahnya. "Berhenti menggonggong dan enyahlah dari rumahku!"
____
"Kudengar kau ketahuan?" Beth melenggang santai masuk ke dalam kamar. Steve tidak melirik sedikit pun ke arahnya. Pria itu memang selalu datang secara tiba-tiba dan menghilang secara tiba-tiba juga. "Bagaimana rencanamu selanjutnya? Kedokmu sudah terbuka."
"Mengetahui jika aku adalah Steven Percy adalah poin pentingnya."
"Yeah, kau benar. Biarkan mereka bersiap menghadapi mimpi buruk."
"Bagaimana keadaan Vincent Trey. Kau sudah memindahkannya?"
"Sesuai perintahmu. Dia aman. Aku hanya tinggal menunggu perintah darimu kapan akan dieksekusi."
Steve tidak menimpali lagi, fokusnya kembali kepada pekerjaannya. Jemarinya menari-nari cepat di atas keyboard laptopnya membuat Beth penasaran apa yang sedang dilakukan pria itu.
"Ouh, kau mulai melakukan penyerangan dengan meretas sistem keamanan pemerintah," Beth berdecak kagum. "Tentang ritual dan juga kerjasama dengan ******* itu benar?" Beth membaca beberapa kerja sama kerjasama negara dengan beberapa negara lain. Kerjasama yang hanya menguntungkan para petinggi. "Apa yang akan kau lakukan dengan ini?"
"Mengirimnya ke media." Dengan satu kali klik, perjanjian rahasia itu tersebar. Mr. President memiliki hubungan yang sangat erat dengan para ******* yang berambisi menguasai negara demi kepentingan mereka.
"Wow! Lalu apa ini? Kediaman Willson? Kau juga meretas keamanan mereka?"
Steve tidak menjawab. Meski ia sudah mengetahui jawaban apa yang sedang ia cari. Ia perlu memastikannya sendiri. Tangannya bergulir cepat, memeriksa CCTV di hari ulang tahun Lexi yang bertepatan dengan tanggal kematian Isla Ginevra. Dari kabar yang ia terima, CCTV mendadak mati (Ingat yang ono yang genk yang lagi viral dan keknya mulai redupš¤£š¤£). Hanya ada satu CCTV yang menyala dan Steven memperhatikannya dengan seksama. Terlihat Isla yang sedang memperbaiki dandannya sambil berbincang dengan seseorang di telepon. Saat ia berbalik, berniat meninggalkan kamar mandi, tubuh wanita itu terjatuh seperti sedang menabrak seseorang. Wanita itu mendongak lalu tiba-tiba maniknya membeliak kaget. Isla berteriak, lalu secara tiba-tiba wanita itu diam, kemudian mengangguk. Isla berdiri, berjalan keluar dari jangkauan CCTV beberapa saat kemudian, ia muncul dan melakukan aksi brutal sebelum menghabisi nyawanya sendiri.
"Ada seseorang tapi tidak terlihat."
"Terlihat. Di layar ponsel yang ada di dalam genggaman wanita itu." Steve menipiskan bibir, tersenyum melihat siluet bayangan tersebut. "Pertanyaan yang sama, bagaimana bisa dia menangani semuanya dengan mudah dan bersih?"