
"Roxi akan datang." Beth melaporkan.
"Hmm," Steve hanya bergumam.
"Misi terakhir akan selesai. Kau sudah memiliki bukti yang memberatkan Milles? Siaran yang dilakukan Olivia sedikit membantu. Ada serangan pembuka sebelum kita memberi serangan susulan."
Steve menunjuk dokumen yang ada di hadapannya menggunakan dagu. Beth melengkungkan alis sebelum mengambil dokumen tersebut. Ia membaca perlahan dan seksama, lalu kemudian berdecak tidak menyangka.
"Kau selalu bekerja di luar ekspektasi, Dude. Jadi selama ini tim kampanye Presiden berkolusi dengan pihak Rusia selama masa pemilihan dan ini terus berlanjut dalam kampanye yang sedang dilakukan Brian."
Dari dulu, Rusia memang selalu terobsesi untuk menguasai AS, tepatnya menaklukkan negara tersebut. Ayah Alena, selaku tentara di negara tersebut menentang hal tersebut. Memilih mengkhianati negaranya dan menemui Pax Willson, hingga akhirnya pria itu mati.
Lalu Gerald Deville, selaku ayah biologis Lexi, menjadikan alasan tersebut untuk membalaskan dendam kepada keluarga Willson. Pada kenyataannya, pria itu adalah seorang pria yang sangat ambisius untuk menghancurkan AS dengan mengkambinghitamkan Willson hanya karena kemarahannya kepada keluarga tersebut dikarenakan ayah dan ibunya dibunuh oleh ayah dari Pax Willson, dan Pax sendiri merebut Alena darinya. Kemarahannya semakin menjadi, dendamnya semakin berkabut. Sayang, rencananya berantakan. Pax berhasil mengagalkan semuanya.
Kematian Gerald Deville, ternyata bukan akhir dari keserakahan Rusia. Sejarah seolah sedang terulang.
Rusia memanfaatkan Presiden yang haus akan kekuasaan sebelum akhirnya mereka mengambil alih negara sepunuhnya. Yang menjadi pertanyaannya, siapa dalang di balik hal tersebut?
Steve kembali memberikan dokumen lain, catatan rekening bank milik sang president.
"Ini akan mempermudah pekerjaan FBI. Darimana kau mendapatkannya."
"Catatan bank dan informasi tentang bisnis ilegal Milles, Austin yang memberikannya."
"Wow! Adik ipar yang sangat pengertian. Bagaimana dia mendapatkannya?"
Steve mengidikkan bahu. Ia memang tidak tahu dan Austin tidak memberikannya secara langsung, melainkan mengirimkannya.
"Tapi tunggu dulu, bagaimana Austin tahu kau sedang dalam misi ini?"
"Dia bagian dari DragonBlack. Ini lelucon yang menggelikan. Aku akan membunuh Roxi begitu ia menunjukkan wajahnya di sini."
"Apa maksudmu?" Beth mengerutkan keningnya. Ia memang tidak mengerti. Bagaimana bisa Austin merupakan bagian dari mereka dan tidak pernah terlihat.
"Roxi sialan itu tidak lain adalah anak buah dari Pax Willson." Steve berdecak malas. Hidupnya benar-benar seperti lelucon.
Mengetahui kenyataan tersebut bukan berarti kemarahannya terhadap Pax berkurang. Justru semakin menjadi.
Astaga, ia malu mengingat bagaimana Pax membantunya melenyapkan menteri dalam tugas pertamanya.
"What? Boss kita? Itukah alasannya kau tidak jadi membalaskan dendammu?"
"Jangan memperjelas status kita, Beth!"
Steve menggertakkan giginya. Kenyataan itu benar-benar membuatnya kesal. Namun, bukan itu alasannya saat mengurungkan niat untuk membalaskan dendamnya kepada Pax Willson. Jauh sebelum ia mengetahui hal itu, ia sudah mengurungkan niat tersebut hanya karena tidak ingin mengambil resiko kehilangan senyum seorang Lexi.
Steve baru mengetahui bahwa Willson ada hubungannya dengan Roxi beberapa bulan lalu saat tanpa sengaja melihat pemantik yang digunakan Austin. Pemantik yang sama dengan miliknya. Bukan sembarang orang yang memiliki pemantik dengan desain naga buatannya sendiri.
Misinya kali ini juga diselingi aksi balas dendamnya. Membongkar kebusukan pemerintah.
_____
Brian mengemudikan mobilnya menuju gudang uang mereka sebelum badan investigasi menyadari keberadaan gudang tersebut.
"Aku akan selamat, tidak ada yang boleh menangkapku." Ia bermonolog sembari menepikan mobilnya. Ia sudah menghubungi seseorang untuk membuatkan identitas baru baginya, menyiapkan visa juga paspor. Ia akan selamat. Brian yakin itu. Pria itu benar-benar tidak peduli dengan nasib yang menimpa ayahnya. Bahkan jika kebusukan ini tidak terbongkar, ia sudah berniat untuk menyingkirkan ayahnya sendiri.
Brian melangkah cepat menuju gudang, mengeluarkan kunci yang berhasil ia curi dari ayahnya.
Duuarrr!
Gedung itu tiba-tiba meledak. Brian bahkan sampai terlempar. Uang berhamburan ke udara. Terbakar tidak berdaya hingga melayang menjadi serpihan debu.
Darren yang tidak jauh dari sana memberi isyarat agar anak buahnya segera menangkap Brian.
Sedangkan Presiden sendiri, mau tidak mau harus menjalani penyelidikan dari Biro Investigasi Federal.
Bukan hanya kediaman Presiden, rumah pribadi dari pengacara mereka juga tidak luput dari penyelidikan. Fread Brown juga terjebak di sana. Sejumlah dokumen yang memberatkan Presiden ditemukan. Penyelidikan juga dilakukan terkait dengan dugaan keterlibatan Rusia pada kampanye Pilpers yang dilakukan sebelumnya juga pada kampanye yang sedang dilakukan Brian.
Catatan bank sudah ada pada penyidik. Catatan buruknya semakin bertambah tatkala para penyidik juga menemukan bukti keterlibatan sang presiden dengan para terorismee domestik dalam membantai beberapa aktivis wanita yang beberapa saat lalu mencoba membuka kedok mereka tentang perdagangan manusia di bawah umur. Keanggotaannya yang merupakan kelompok dari sekte pemuja setan tidak membuat situasinya membaik, justru sebaliknya.
"Ini penghinaan!" Mr. President melayangkan protes dengan berang. Tidak ada surat resmi, kediamannya dan beberapa resortnya digeledah begitu saja. Sialnya, beberapa dokumen rahasianya yang memang berniat mengancam keselamatan nasional berhasil ditemukan. Namun, ia tetap berusah mengelak, mengatakan dirinya dijebak.
Di tengah penggeledahan, beberapa helikopter terdengar di udara, disusul dengan serangan secara membabi buta. Terjadi aksi saling menyerang antara para agen FBI yang jumlahnya tidak terlalu banyak dengan kelompok yang diduga teroriss.
Mr. Milles memanfaatkan kesempatan tersebut untuk melarikan diri. Semuanya berantakan.
"Apa yang terjadi?" Arthur muncul dan membuka pintu mobil untuk Mr. Milles. "Kenapa bisa seperti ini?"
"Jangan tanyakan itu lagi. Sebaiknya kita ke gedung kepresidenan, mengaktifkan rudal dan meluluhkantahkan negara ini."
"Tidak bisa. Gedung kepresidenan juga sudah dijaga ketat. Sudah menduga apa yang akan terjadi. Apakah pemindaiannya hanya melalui sidik jari presiden?"
"Bisa melalui sandi."
"Berikan sandinya. Aku yang akan melakukannya. Kau harus selamat, Mr. Milles. Aku sudah mengatur seseorang untuk menjemputmu. Misi ini harus segera diselesaikan. Kita harus bergerak cepat."
Mr. Milles tampak ragu, tapi Arthur terus saja mendesak dan meyakinkan jika ini demi keselamatannya.
"Aku percaya padamu. Kau sudah mengabdi cukup lama padaku. Kita akan bertemu di Rusia setelah misi ini selesai." Pun ia menyebutkan sandi untuk mengaktifkan rudal tersebut.
Setelah melalui perjalanan selama 30 menit, Arthur menepikan mobilnya di sebuah lapangan.
Mr. Milles memindai sekitarnya. Tidak ada tanda-tanda seseorang akan datang. Saat ia berbalik menghadap Arthur hendak bertanya, moncong pistol sudah berada di dahi pria itu.
"Tugasmu sudah selesai, Mr. Milles. Kau tidak berguna sama sekali."
Slup!
Tanpa ampun, Arthur menembak pria itu. Arthur Cony, warga Rusia yang juga merupakan rekan dari Gerald Deville. Misi yang sempat gagal, ia lanjutkan kembali. Obsesinya sama besarnya dengan Gerald. Bahkan lebih mengerikan. Ia ingin menguasai dunia di tangannya. Untuk itulah ia membutuhkan Olivia.