
"Jadi di mana kau menyembunyikan Vincent Trey?"
Setelah Steve menolak mengakui bahwa dirinya adalah orang di balik terbobolnya sistem keamanan negara, para petugas kepolisian yang bekerjasama dengan FBI, mempertanyakan keberadaan Vincent. Steve membuat semuanya semakin rumit. Kata kerjasama yang pria itu katakan di rumahnya nyatanya tidak ia realisasikan dengan benar. Jawabannya singkat padat dan jelas. Aku tidak merasa melakukannya. Hanya itu.
"Vincent Trey?" Ia mengalihkan tatapannya dari ponsel. Tidak menghormati para polisi itu sama sekali, Steve menjawab pertanyaan sambil memainkan ponsel. "Pertanyaan apa lagi ini? Ada apa dengan Vincent Trey?"
"Hentikan drama ini, Mr. Ivarez. Vincent Trey menghilang jelas ada hubungannya denganmu. Kau datang kemari beberapa saat sebelum dia menghilang."
"Kapan dia menghilang?"
Polisi menunjukkan rekaman CCTV yang memperlihatkan Steve keluar dari ruang penyidik. Entah sudah berapa kali ia masuk ke dalam ruangan ini.
"Ruang penyidik. Aku keluar dari sana. Bagaimana bisa aku difitnah atas menghilangnya Vincent Trey. Ada apa dengan keamanan kepolisian ini. Kenapa kinerja kalian payah sekali." Alih-alih mendapat jawaban, para polisi tersebut justru mendapat cemoohan.
"Kau membuatnya semakin rumit dan runyam, Mr. Ivarez..."
"Artinya kinerja kalian perlu diperbaiki." Ia menyela dengan santai.
"Jangan salahkan kami jika menetapkanmu sebagai tersangka. Kau tidak menunjukkan iktikad baik sama sekali."
"Ucapanmu tidak bermutu, Kawan. Ini membosankan." Steve tertawa mengejek. Tidak gentar sama sekali dengan tatapan tajam para pria di hadapannya.
Mengabaikan tatapan para petugas kepolisian tersebut, ia kembali memeriksa ponselnya. Dahinya mengerut melihat titik lokasi di ponselnya berhenti di tempat yang menurutnya tidak wajar. Rumah sakit. Kenapa Lexi ada di rumah sakit? Steve berniat menghubungi Beth, tapi pria itu sudah terlebih dahulu mengirimnya pesan yang memberitahu bahwa Lexi memang sedang berada di rumah sakit karena mengalami kecelakaan.
Steve berdiri terburu-buru hingga membuat kursi yang ia duduki jatuh. "Jika ada pertanyaan yang perlu kujawab, silakan hubungi pengacaraku dan jika aku ditetapkan sebagai tersangka. Berikan bukti yang akurat juga surat penangkapan resmi." Selesai mengatakan hal tersebut, ia melangkah pergi.
"Mr. Ivarez, kau tidak bisa pergi begitu saja! Kau..."
"Tentu saja bisa." Pun ia menarik pintu dan melenggang pergi. Beberapa petugas mencoba menahannya. Tanpa sungkan, ia melayangkan tinju juga ancaman yang membuat para petugas tersebut mundur teratur.
Steve melajukan mobil dengan kecepatan tinggi menuju rumah sakit. Beth sudah mengirimkan lokasi juga nomor kamarnya.
Sampai di rumah sakit, Steve melompat turun dari mobil. Melempar kuncinya pada petugas keamanan agar memarkirkan mobilnya dengan benar. Ia berlari di setiap lorong rumah sakit, mengabaikan tatapan kagum para wanita yang ada di sana. Steve memasuki lift dan menekan angka yang menjadi lantai tujuannya.
"Bagaimana bisa kau mengalami kecelakaan? Katakan di mana yang sakit dan ada berapa banyak luka? Oh, jidatmu,- sial!"
Lexi jelas terkejut dengan kehadiran Steve yang menyelonong masuk tanpa permisi, tanpa mengetok apalagi tanpa ucapan salam. Ia justru melayangkan rentetan pertanyaan dengan wajah yang diselimuti ketakutan juga kekhawatiran.
"Kenapa kau ada di sini?"
"Apa yang dikatakan dokter? Apa semuanya sudah diperiksa dengan benar? Apakah ada luka dalam? Ini pasti sakit sekali." Tangannya terulur menyentuh memar di dahi Lexi. "Selain jidat, bagian tubuhmu yang mana lagi yang mendapatkan luka? Tangan?" Ia memeriksa kedua tangan gadis itu. "Lecet? Astaga. Bagaimana dengan kakimu?" Pun ia kembali melakukan hal yang sama. Memeriksa kedua kaki Lexi. Aman. Tidak ada luka. "Bagian perut? Punggung? Bahu?" Dengan bodohnya ia berusaha menyingkap baju gadis itu. Tepukan keras di tangannya membuatnya menghentikan aksinya tersebut.
"Jangan mengambil kesempatan dalam kesempitan, Ivarez! Apa yang kau lakukan di sini?"
Steve menghembuskan napas lega. Ia terduduk lesu sambil menggenggam tangan Lexi. Memberikan kecupan berulang kali di sana. Lexi jelas saja terenyuh melihat perlakuan manis juga kekhawatiran nyata yang tampak di wajah pria itu.
"Kau seperti hampir mati."
Steve mengangguk, "Kau penyebabnya."
"Aku tidak tahu. Aku tidak menyadarinya."
"Aku mau."
"Mau?" Steve mengernyit bingung.
"Aku bersedia menjadi kekasihmu."
Steve mengerjap. Apa yang dikatakan Lexi? Apakah benturan di kepala gadis itu membuat cara kerja otaknya mulai bermasalah? Pikir Steve. Atau justru telinganya yang bermasalah?
"Menjadi apa?" Suaranya mendadak waswas dan juga harap-harap cemas.
"Aku menerimamu. Menerima perasaanmu. Jadilah kekasihku."
Senyum mengembang di wajah Steve. Pria itu langsung membawa Lexi ke dalam pelukannya. Ia banjiri wajah gadis itu dengan kecupan bertubi-tubi.
"Aku tidak tahu apakah harus bersedih atau bahagia atas kecelakaan yang menimpamu ini. Ini kejutan yang luar biasa. Oh, Lexi!!" Didekapnya gadis itu semakin erat. "Tapi tunggu dulu." Steve mengurai pelukan mereka. Tatapannya kembali waspada. "Kau sadar dengan apa yang kau katakan?" penting baginya untuk memastikan.
"Tentu saja."
"Bagaimana dengan kekasih hantumu? Kau sudah melupakannya?"
"Aku akan belajar melupakannya dan mari mengunjunginya bersama-sama untuk meminta restu."
Steve terbatuk. Bagaimana ceritanya ia mengunjungi kuburan bertuliskan namanya di atas nisan. Ia bertanya-tanya, siapakah yang lebih malang diantara dirinya atau jasad yang ada di kuburan tersebut. Doa ditujukan kepadanya yang sesungguhnya masih hidup sementara jasad tersebut, ditangisi oleh orang yang bukan keluarganya.
"Ya. Mari kita melakukannya." Meski enggan, tapi tidak mungkin juga ia menolak permintaan gadis itu, kekasihnya. Steve kembali tersenyum saat hatinya membisikkan nama kekasih. "Terima kasih." Jemarinya mengusap lembut pipi Lexi. Entah siapa yang memulai, bibir keduanya kini menempel satu sama lain. Baik Steve maupun Lexi tidak menyadari kehadiran orang lain.
"Oh Tuhan..." Pekikan Alena membuat keduanya kompak menarik diri. Steve berbalik, berniat untuk meminta maaf. Namun ternyata bukan hanya calon ibu mertuanya yang ada di sana, tetapi juga Oleshia dengan tangan kiri yang sedang diperban, menatapnya dengan nanar dan penuh luka.
"Oleshia yang menyelamatkanku. Aku tidak tahu apa yang akan terjadi denganku jika tidak ada dia di sana. Kau pasti sudah mengenalnya. Dia salah satu modelmu, bukan?"
"Ya," jawabnya singkat.
"Apa ini Steve?!" Oleshia melangkah masuk. "Kau mengkhianatiku?" Wajah Oleshia diselimuti kekecewaan luar biasa. Maniknya mulai merah akan tangisan melihat tangan keduanya saling bertaut.
"Mengkhianati?" Lexi terlihat bingung. Ia menatap Steve dan Oleshia silih berganti.
"Ya, kau baru saja berciuman dengan kekasihku, Ms. Willson!"
Wajah Lexi mendadak pucat pasi. Ia menarik tangannya dari genggaman pria itu. Steve melihat bagaimana tautan tangan mereka terlepas satu sama lain.
"A-apa maksudmu? Di-dia kekasihmu?"
"Ya, dan kau merayunya, mencoba merebutnya dariku!"