H.U.R.T

H.U.R.T
Pria Pelit



"Aku akan memasukkan mobilmu ke garasi."


"Mengembalikannya ke garasi tidak akan membuatnya kembali suci. Dia sudah tercemari. Biarkan saja."


"Suci? Tercemari? Aku tidak menodainya, sungguh. Kau bisa memeriksanya. Aku juga mengemudi di bawah kecepatan rata-rata." Untuk yang satu ini, Isabell berbohong. Ia justru mengemudi terkesan ugal-ugalan.


"Oh ya?!" Darren akhirnya menoleh.


"Semuanya masih lengkap. Tidak lecet sama sekali."


"Dia akan membunuhmu kalau membuatnya lecet walau hanya seupil," Austin berbisik di telinga Isabell dan bulu leher Isabell jingkrak-jingkrak seketika.


"Jangan berbisik di telingaku, Aus."


"Mengapa?"


"Aku merasakan aura mistis." Isabell berdehem saat melihat Darren bergerak.


Pria itu beranjak dari tempatnya, menghapus jarak diantara mereka, lalu mengambil kunci dari tangan Isabell. Tanpa berkata apa-apa Darren segera menuju ke luar.


"Kau belum mengambil barang-barangmu," Austin mengingatkan.


Isabell pun segera menyusul Darren.


"Maafkan ketidaksopananku," Isabell berkata begitu ia berhasil menyusul Darren dan berdiri di hadapan pria itu di samping mobil.


"Kau menyusulku untuk meminta maaf?"


Isabell menganggukkan kepala, "Dan aku perlu mengambil barang-barangku di dalam. Tolong kau buka atapnya," pinta gadis itu dengan tersenyum kaku hingga memperlihatkan pagar giginya.


Tanpa berkomentar, Darren membuka mobil, ia langsung disuguhi kantong-kantong belanja yang lumayan banyak.


"Aku tidak tahu kalau kau sangat suka berbelanja."


"Kurasa semua wanita suka berbelanja. Permisi," Isabell memberi isyarat agar Darren meminggirkan tubuh supaya ia bisa mengambil barang-barangnya dengan leluasa.


"Kukira kau berbeda."


Seketika tangan Isabell yang memindahkan barang-barangnya terhenti. Ia berbalik, berhadapan kembali dengan Darren.


"Berbeda? Maksudmu karena penampilanku seperti ini jadi aku tidak boleh belanja? Wanita sepertiku tidak pantas membelanjakan semua ini."


Meski Darren bingung dengan respon yang diucapkan Isabell, wajah pria itu tetap tenang memandangnya, tidak ada mimik kebingungan sama sekali.


"Kukira kau juga bukan pria yang memandang wanita dari fisik dan penampilan."


"Aku memang seperti itu," sahut Darren tanpa bernada dan terkesan malas-malasan.


"Kau melucu? Kau hampir membuatku menangis?"


"Melucu? Aku tidak tertawa sama sekali. Lalu, kenapa melucu kau sandingkan dengan menangis? Terdengar sangat aneh."


"Aneh? Bukankah aku memang sudah sangat aneh di matamu," sarkas Isabell, mendelik dari balik kaca matanya.


"Keanehan kombinasi kalimatmu yang kumaksud, bukan dirimu."


"Kalimat yang keluar dari mulutku termasuk bagian dari diriku."


"Kukira kau sangat pendiam. Ternyata sangat pembantah." Darren memalingkan wajah dari gadis itu, menatap kantong-kantongan belanja milik gadis itu kembali.


"Apa lagi yang ingin kau katakan? Gadis sepertiku tidak boleh membantah?!"


"Aku tidak mengatakan seperti itu."


"Tapi kata-katamu menjurus ke sana!" Isabell menatap Darren dengan kesal. Isabell benar-benar emosi.


"Siapa yang bilang?"


"Kau tidak mendengar aku baru saja mengatakannya!"


Jika Darren mengatakan bahwa pria itu sepertinya salah menilai Isabell si gadis aneh, Isabell juga mengatakan hal serupa di dalam benaknya. Selama ini ia mengira Darren adalah pria paling kaku di dunia, paling minim ekspresi. Jika kebanyakan wanita di luar sana menganggap Steven Percy adalah pria paling pelit dengan ekspresi, Isabell menyarankan mereka untuk bertemu dengan Darren agar Steve tidak mendapat fitnah tersebut.


"Itukan persepsimu."


"Karena kata-katamu memang mengandung makna seperti itu."


"Makna seperti apa?"


"Aku gadis aneh yang tidak boleh membantah, tidak boleh banyak bicara dan tidak boleh seperti wanita-wanita cantik di luar sana. Tapi kukatakan padamu, Darren Willson, kau tidak berhak menilaiku dengan pola pikirmu yang sempit itu dan aku tidak membutuhkan pendapatmu tentang diriku. Jika kau risih dengan keberadaanku di sini, kau tinggal menutup matamu." Hampir saja ia mengatakan akan keluar dari rumah ini. Tapi jika ia keluar dari rumah ini, artinya ia harus kembali ke Istana. Ia tidak mau kembali ke sana.


"Hanya karena aku meminjam mobilmu sebentar kau malah meluapkan kekesalanmu dengan kata-kata yang sangat menjengkelkan! Hei, aku hanya meminjam mobilmu. Bukan untuk mencurinya. Karena seorang gadis aneh menaiki mobil barumu, kau mengatakan mobil sialan ini tidak suci lagi. Kau tinggal mensucikannya kembali dengan kembang sejuta rupa untuk menghilangkan noda dan najisnya. Dasar pria pelit! Pelit dalam segala hal." Napas Isabell memburu, rentetan kalimat itu ia paparkan tanpa titik koma, meluncur mulus dengan cepat.


"Silakan kau angkat barang-barangmu. Omonganmu semakin melantur kemana-mana."


Dan emosi Isabell kembali menyerbu.


"Aku juga akan mengangkatnya! Kau pikir barang-barangku sudi berlama-lama di dalam mobilmu yang suci, hah?" Isabell mengembuskan napas hingga poni yang menutupi keningnya terangkat. "Aku akan mengeluarkannya dengan segera! Memangnya sesuci apa mobilnya ini. Tercemari, ternoda, astaga! Sejak kapan gadis berkaca mata dan berpagar gigi menjadi objek yang bisa menyebarkan kotoran."


"Jika kau mempunyai sesuatu hal yang ingin kau katakan, jangan menggerutu di depanku. Kau bisa langsung mengatakannya. Atau setidaknya lakukan di belakangku agar aku tidak bisa mendengarnya."


"Abaikan Isabell. Abaikan bisikan menjengkelkan itu. Kesehatan mentalmu lebih utama."


"Aku bisa mendengarmu."


"Artinya dia tidak tuli."


"Kau meledekku?"


"Oh Tuhan, apa aku terdengar seperti sedang meledeknya?"


"Kau menyebutku tuli?"


"Aku mendengar keributan." Austin berseru dari teras rumah. Menginterupsi perdebatan itu. "Apa kalian bertengkar?"


"Gadis ini sepertinya sedang PMS,"


"Oh, dia sudah datang bulan rupanya." Austin menimpali seraya tertawa kecil. Pun ia menghampiri keduanya.


Mendengar respon Austin, Isabell semakin dibuat geram. Dua pria membahas masa periodenya. Dan ia menyalahkan Darren sepenuhnya. Untuk meluapkan kekesalannya tersebut, Isebell dengan sengaja menginjak kaki Darren. Bukannya puas dengan tindakannya tersebut. Isabell justru merasa kesal karena Darren tidak menunjukkan reaksi apa-apa meski Isabell sudah yakin bahwa ia sudah menggunakan tenaga dalam untuk melukai kaki pria itu. Hei, Darren tidak menggunakan sepatu sama sekali, tetapi sendal rumah. Sementara Isabell mengenakan sepatu dengan tumit yang tidak terlalu runcing tapi cukup ampuh jika digunakan sebagai senjata.


"Ternyata bukan hanya tidak punya hati, tetapi juga tidak punya rasa. Bukan hanya pelit tetapi juga mati rasa." Isabelle mulai memunguti barang-barangnya.


"Berikan kepadaku, aku akan membawanya ke dalam kamarmu," Austin menawarkan bantuan begitu pria itu bergabung dengan keduanya.


Isabell pun menyerahkan beberapa kantongan kepada Austin.


"Jangan menyentuh barang-barangku!" Isabell berseru saat tangan Darren mengambil satu paper bag. Isabell merebutnya dengan kasar hingga kantongan tersebut rusak dan mengeluarkan isinya yang ternyata merupakan dalaman dari berbagai corak.


"Aarggghhh!!!" Isabell mendorong Darren agar menjauh dari benda-benda tersebut. "Pelit, mati rasa, menjengkelkan dan ternyata sangat mesum. Menjauh dari barang-barangku, pengintip!" Isabell berjongkok memunguti dalaman-nya.


Darren masuk ke dalam mobil, alih-alih memasukkan mobilnya ke garasi, pria itu justru pergi keluar rumah.


"Menyebalkan!" Isabell menggerutu.


"Dimana Darren?"


Austin muncul tepat saat Isabell memungut benda terakhir. Gadis itu mendekap barang-barangnya dengan sepenuh hati. Cukup Darren yang sudah mengintip barang sensitif miliknya, ia tidak ingin Austin juga melihatnya.


"Pergi."


"Kemana?"


"Mana kutahu."


"Dia membuatmu kesal?"


"Dia sangat menjengkelkan."


Austin tertawa. "Seumur hidupku, baru kau wanita yang menyebutnya menjengkelkan."


"Aku hanya tanpa sengaja memakai mobilnya, bukan untuk mencurinya."


"Darren memang tidak suka jika ada orang yang menyentuh barang-barangnya tanpa permisi. Tapi meski begitu, dia tidak akan menunjukkan kejengkelannya. Apakah dia sungguh menunjukkan kekesalannya kepadamu?"


"Tidak. Wajahnya lempeng seperti si kuning yang berenang di sungai. Tenang, santai."


"Euuyy... seorang putri ternyata sangat menjijikkan. Kau membuatku terkejut."


"Maafkan aku. Saudaramu benar-benar sangat menyebalkan. Omong-omong kau sudah makan malam?"


"Tidak. Bagaimana denganmu?"


"Aku sudah makan."


"Hmm, temani aku kalau begitu. Warna favoritku adalah hitam dan merah."


Isabell mengernyit bingung. Apa hubungan makan malam dengan warna favorit? Dia hanya akan menemani Austin makan di ruang makan, bukan ke restoran bintang lima yang mengharuskannya mengenakan dress yang sesuai. Lantas, ada apa dengan warna merah dan hitam.


Seolah mengetahui kebingungan Isabell, Austin mengarahkan mata ke benda yang ada di dalam dekapan Isabell.


"AUSTIN!!!"