H.U.R.T

H.U.R.T
SweetHeart



"Kau membereskan semuanya dalam waktu singkat." Roxi menatap kagum pada seekor harimau yang mencabik-cabik tubuh Sareno, menikmati daging pria itu tanpa ampun. Roxi memiringkan kepala, melihat seringaian puas terukir di wajah Steve yang sangat memukau.


"Tidak akan ada celah untuk membuatmu kecewa," Steve mengangkat gelas kristal miliknya yang berisi anggur merah. Penfolds Grange Hermitage, wine yang satu ini berasal dari Australia dan menjadi salah satu anggur merah termahal didunia. Steve mendapatkan wine mahal itu pada acara lelang seharga 38.420 dollar AS untuk satu botolnya.


"Bersulang." Roxi mendentingkan gelas mereka. "Kau terlihat sangat mengagumkan." Puji Roxi dengan tulus. Steve memang tampil sangat bersinar malam ini. Pria tampan itu mengenakan stelan casual berwarna putih.


"Oleshia berulang tahun," Steve mengalihkan tatapannya kembali pada Juliet, harimau jantan yang sedang menikmati makan malamnya. "Kuharap daging si bajingan Sareno tidak membuat pertumbuhan bayiku terkontaminasi."


Roxi terkekeh renyah mendengar lelucon bernada sarkas yang dilontarkan Steven. Ditatapnya pria yang menjadi murid, rekan serta sahabatnya itu. Masih tidak menyangka jika pemuda kering yang dulu ia selamatkan kini bertransformasi menjadi pria yang jauh lebih tangguh dibandingkan dirinya. Ada kebanggaan juga kekhawatiran sendiri di benaknya. Selama delapan tahun, ia belum pernah melihat pria itu tertawa. Bahkan saat ini, saat Steve melontarkan lelucon. Atau hanya Roxi yang menganggap perkataan Steve sebuah lelucon?


"Juliet terpantau sangat menikmatinya. Jadi hadiah apa yang kau siapkan untuk kekasihmu? Berlian? Mobil? Liburan mewah? Villa atau..."


"Seribu tangkai bunga mawar," menyela ucapan Roxi lalu menegak minumannya hingga tandas.


"Kau kehabisan uang?" Roxi terlalu berekspektasi tinggi terhadap rekannya itu. Selama ini ia mengira jika Steve adalah pria yang royal.


"Sia sudah memiliki segalanya, dia tidak butuh sesuatu yang mahal. Yang ia butuhkan adalah sesuatu yang manis."


"Manis sekali. Oouh, aku cemburu."


"Ck!"


Roxi tergelak, Steve juga tidak bisa diajak bergurau. Sikap dan tindakan pria itu selalu serius. Baik sedang menghadapi musuh atau sedang menjalani hidup sehari-hari. Baginya ini sedikit meresahkan. Roxi khawatir jika Steve lupa bagaimana caranya tersenyum. Saat bibir anak didiknya itu terangkat, hanya seringaian sinis yang terlihat. Berbeda dengan Roxi yang sedikit mengkhawatirkan kondisi Steve, jutaan wanita di luar sana justru menganggap hal tersebut sebagai daya tarik yang luar biasa. Semakin misterius semakin menggiurkan. Begitu lah istilah yang sering ia dengar dari mulut para wanita yang tergila-gila pada Steve.


"Baiklah, aku tidak ingin mengganggu waktumu." Roxi mengeluarkan sesuatu dari balik jasnya dan menyerahkannya kepada Steven.


Steve menerima benda itu dengan satu alis yang menukik tajam. "Tiket keliling dunia?"


Roxi mengangguk, "Nikmati kebebasanmu."


"Kebebasanku terjadi saat aku benar-benar menyelesaikan semuanya." Ucapnya penuh arti. Meski demikian Steve tetap memasukkan tiket tersebut ke dalam balik jasnya. "Thanks."


🥂


Steve memarkirkan mobil di parkiran khusus yang disediakan untuknya. Seseorang berlari untuk menyambut dan membuka pintu untuknya.


"Selamat malam Mr. Ivarez."


Steve hanya menganggukkan kepala singkat dan samar. Melangkah dengan santai, namun terlihat sangat berkelas. Setiap orang yang melintas di hadapannya spontan berhenti, memberi jalan dan juga hormat kepadanya. Pintu kaca dibuka untuknya. Door Hotel. Dua kata itu menyambutnya begitu kakinya memasuki lobi. Door Hotel salah satu bisnis yang ia geluti dan sangat sukses.


Selama satu bulan terakhir ini, Door Hotel sengaja dikosongkan, ditutup untuk sementara demi untuk perayaan ulang tahun sang kekasih, Oleshia Phillyda. Di luar hotel dan sepanjang lobi dipenuhi dengan ucapan yang ditujukan kepada Oleshia.


Pertemuan Steve dengan Oleshia sungguh tidak terduga. Saat Steve menjalankan misi pertamanya melenyapkan Augusto di Istana kerajaan Madrid, mereka tanpa sengaja berpapasan. Bertemu dengan orang yang dikenal di negara asing merupakan suatu kebahagiaan sendiri. Sejak hari itu, Steve dan Shia sering menghabiskan waktu bersama. Steve menyaksikan bagaimana perjuangan Oleshia untuk menjadi seorang model. Sebaliknya, Oleshia menjadi saksi betapa banyak luka fisik yang diderita Steve untuk bisa sampai di puncak kejayaan. Keduanya saling menguatkan, mendukung satu sama lain hingga hari ini. Partner in crime, istilah yang pantas disematkan kepada mereka.


Steve memasuki ballroom hotel, ruangan luas itu kini menjelma menjadi ruangan yang begitu sangat glamour. Dipenuhi pernak pernik pesta yang didekor sesuai keinginan Oleshia. Musik menggema, sebagian tamu memilih menari dengan bebas dan sebagainya memilih berdansa dengan pasangannya meski lagu yang dimainkan tidak sesuai.


Tidak ada media di sana. Baik Steve atau pun Oleshia memang tidak suka jika kehidupan pribadi mereka diliput.


"Apa yang diberikan Steve kepadamu? Sungguh aku sangat penasaran." celetukan salah satu rekan model Oleshia terdengar. Steve berhenti, menunggu jawaban sang kekasih. Oleshia tampil sangat cantik seperti biasanya. Terlihat bak putri dongeng yang sangat anggun.


"Jangan katakan Steve memberikan buket bunga lagi." Timpal model lainnya. Enam tahun menjalin kasih, Steve memang selalu memberikan bunga. Dan kali ini, bunga yang ia berikan tidak tanggung-tanggung. 1000 tangkai! Bukan berarti Steve tidak pernah memberikan hadiah mewah. Steve adalah kekasih yang sangat royal. Hanya saja untuk momen tertentu, pria itu selalu memberikan hadiah sederhana.


"Yeah, Steve memberikan hadiah yang sama. Satu truk mawar!" Wajah Oleshia berbinar, maniknya berkilat memancarkan kebahagiaan. Steve juga melihat kedua pipi putih nan mulus itu merona merah. "Steve selalu bertingkah gila di balik sikapnya yang manis." Oleshia selalu membanggakan Steve di depan teman-temannya. Cara yang sengaja dilakukan wanita itu untuk menegaskan bahwa Steve adalah miliknya. Oleshia sangat sadar bahwa banyak dari rekannya yang menginginkan juga menggilai kekasih tampannya tersebut.


"Tidak ada berlian?"


"Kedua puluh jariku sudah penuh dengan berlian pemberiannya. Aku tidak membutuhkannya lagi." Olehsia menjawab ringan dengan senyum yang senantiasa mengembang di wajahnya. Semakin mempertegas keanggunan wanita itu. Jika Steve adalah godaan bagi para wanita maka Olehsia adalah fantasi bagi para pria. Banyak pria dari kalangan berbeda berlomba untuk merebut perhatian model cantik tersebut. "Oh, priaku sudah datang!" Oleshia meninggalkan kerumunannya, berjalan anggun menghampiri Steve. Kedua manik mereka saling bertaut. Hingga tidak ada jarak yang tersisa, Oleshia menjatuhkan diri ke dalam pelukan Steve. Steve merengkuhnya, kemudian mengurai pelukan mereka, mengangkat dagu Oleshia. Bibir wanita itu terbuka sedikit, mengisyaratkan godaan yang begitu manis. Tidak menunggu lama, Steve menyatukan kedua bibir mereka.


"Happy birthday, sweetheart! May you shine brighter than yesterday!"


Oleshia semakin melebarkan senyum. Pun bibir keduanya kembali saling menempel.