H.U.R.T

H.U.R.T
Eksekusi



"Aku melakukan ini hanya untuk memberi pelajaran pada mereka! Pada mereka yang sudah menodaiku, pada mereka yang juga menodai Oleshia bahkan membunuhnya. Lantas apa yang bisa kau lakukan untuk membela keluargamu? Kau hanya bisa diam dan pasrah seperti orang dunguu! Dan setelah aku mengadili semuanya dengan caraku, kau justru memalingkan wajah dariku, Ayah."


Olivia benar-benar marah, benar-benar kecewa dengan jalan hidup yang digariskan kepadanya. Ia hanya ingin keadilan diterapkan. Tapi tidak ada keadilan bagi rakyat kecil seperti mereka. Orang-orang berkuasa mengatur sedemikian rupa agar nama mereka tetap bersih. Dengan kekuasaan yang mereka miliki, semuanya dibungkam dan selanjutnya mereka bisa melanjutkan hidup dengan tenang seperti tidak terjadi sesuatu.


Mereka menutup mata atas tindakan tidak manusiawi yang dilakukan anak-anak mereka. Mereka tidak peduli dengan nyawa seseorang yang sudah melayang bahkan mereka menutup mata padanya, pada Olivia yang hampir gila mengetahui kenyataan bahwa Oleshia, saudari kembarnya mengalami hal yang lebih buruk dari yang ia alami. Olivia menyalahkan dirinya atas kemtian Oleshia. Andai saya ia pergi malam itu ke acara promnight, Oleshia tidak akan nekad pergi menggantikannya. Para bedabah itu menganggap Oleshia adalah dirinya sehingga memperkosanya kembali.


Olivia hampir gila dengan keadaan mereka. Olivia marah saat ibunya menerima uang duka dari para penguasa keparat itu. Dia pikir, ibunya begitu menyayangi Oleshia. Namun, yang terlihat tidak seperti itu.


Awalnya, Ibunya memaki, memarahi Olivia dengan berbagai rentetan kalimat yang sangat buruk, bahkan tidak segan untuk memukulnya. Olivia disalahkan atas musibah yang menimpa Oleshia.


Olivia hanya bisa diam karena jauh di dalam lubuk hatinya, ia juga menyalahkan dirinya. Di tengah keterpurukannya kehilangan Oleshia, di tengah usahanya mengembalikan mentalnya setelah dilecehkan secara bergilir, di tengah amaranya yang berkobar tapi tidak bisa diluapkan, Arthur datang menawarkan sandaran. Keduanya bertemu tanpa sengaja.


Satu minggu setelah kematian Oleshia, ibunya mulai tenang setelah mendapatkan cukup banyak uang. Nyawa Oleshia ternyata hanya sejumlah uang yang diterima ibunya.


"Kau bukan putriku. Kau adalah monster yang tega melakukan hal mengerikan bahkan pada ibumu sendiri."


"Ibu?" Olivia tertawa sumbang. "Ibu? Apa kau baru saja mengatakan ibu, Ayah? Istri jahannammu itu menerima uang dari para bedebah yang sudah menodai dan membunuh putrimu."


Pantaskan wanita itu Olivia sebut dengan Ibu. Kemarahan wanita itu ternyata bukan karena kehilangan Oleshia. Tapi karena kehilangan asetnya. Ya, Oleshia sebelumnya sudah dimasukkan dalam suatu agensi, yang kelak diyakini ibunya sebagai sumber uangnya.


"Aku memberinya pelajaran agar ia tahu kesalahannya apa, Ayah." Suaranya melembut. "Dia berselingkuh darimu hanya karena kau tidak bisa memberikan hidup yang layak untuknya. Dia menelantarkan Alea, dan berniat menjual putrimu, Oleshia. Dia memandangku sebelah mata hanya karena aku dianggap tidak berguna. Katakan padaku, Ayah, dimana dari tindakannya yang mencerminkan seorang ibu?"


"Bukan berarti kau juga harus menghukumnya dengan ilmu sihirmu."


Olivia tersenyum getir, "Apakah aku memang seorang monster di matamu, Ayah?" Ia bertanya dengan nada getir.


"Apakah kau tahu apa yang kualami sehari sebelum mayat Oleshia ditemukan? Aku diperkosa. Bukan hanya oleh satu orang. Mereka melakukannya secara bergiliran. Mereka sangat kejam. Dan mereka melakukan hal serupa kepada Oleshia. Apakah kau atau wanita yang kau sebut ibuku pernah bertanya apa yang sudah kualami, apa yang sudah kami alami. Bagaimana hariku? Apakah sangat berat? Kau dan dia tidak bertanya, Ayah. Kemiskinan yang kita alami justru menciptakan jarak yang begitu jauh diantara kita. Kau hanya memaksaku belajar dan belajar agar tetap mendapatkan beasiswa. Aku dihina dikucilkan dan diremehkan. Aku dibully, mentalku dihajar hingga babak belur. Aku hanya bisa diam karena demi menyenangkanmu. Mungkin dengan cara seperti itu aku bisa sukses dan mengangkat derajat keluarga ini. Inilah yang aku yakini. Pernahkah kalian menanyakan perasaanku?"


Steve adalah penguatnya. Menemukan seseorang yang bernasib sama membuatnya merasa tidak terlalu buruk. Steve selalu memberinya semangat, membuat perasaannya tenang dan damai. Baginya, Steve adalah pria terbaik. Alasan kenapa ia marah kepada Lexi karena menganggap Lexi adalah ancaman besar baginya untuk mendapatkan Steve.


"Apa pun yang terjadi, tidak seharusnya kau menjadi seperti ini." Ucap Mr. Phyllida dengan nada berat.


Ia merasa bukan suami dan ayah yang baik. Seperti yang dikatakan Olivia, ia hanya bisa diam menyaksikan semuanya. Memangnya apa yang bisa ia lakukan saat lawan mereka adalah petinggi negara. Ia menyayangkan tindakan istrinya, tapi ia lebih menyesal melihat jalan yang dipilih Olivia.


"Aku tidak akan seperti ini jika kau mampu melindungi keluargamu, Ayah. Aku tidak akan semarah ini jika istrimu tidak menerima uang suap dan memberatkan Steven dalam hukuman penjara!" Olivia pun beranjak dari sana dengan suasana hati yang buruk. Ia butuh hiburan dan tujuannya adalah kebun belakang rumah.


Olivia berjalan cepat diterangi lampu senter. Kemudian ia berjongkok di depan sebuah besi persegi yang seperti tertanam di tanah, menarik pengungkit plat besi hingga terbuka yang menampilkan sebuah tangga. Olivia pun masuk dan menutup pintunya kembali.


Ruangan bawah tanah, peninggalan nenek buyut dari ayahnya. Ruangan yang digunakan untuk mengeksekusi para pemuja iblis yang mulai berkhianat. Bau anyir langsung tercium begitu ia sampai di pertengahan anak tangga. Ruangan itu pengap dan menyesakkan. Olivia menelusuri lorong, becek dan kotor. Dindingnya penuh dengan tulisan permintaan tolong, huruf yang ditulus dengan darah dan sudah kering dimakan zaman.


Di ruangan tersebut juga terdapat sebuah simbol segitiga dengan mata terbuka. Simbol pemuja iblis. Olivia terus melangkahkan kakinya melewati kursi besi lengkap dengan plat besi melengkung pada bagian lengan juga kakinya. Kursi listrik yang biasa digunakan untuk menyiksa para pengkhianat. Tali-tali melingkar, menggantung di langit-langit ruangan. Olivia sampai pada tujuannya. Beberapa pintu kamar ada di hadapannya.


Ia mendorong pintu tersebut. Ruangan yang dipenuhi dengan sarang laba-laba tebal. Hewan pengerat beranak pinak dengan suara cicitan yang saling bersahutan.


"Bunuh saja aku!"


Amukan yang tidak memiliki tenaga terdengar dari sudut ruangan. Ibunya sendiri diikat dengan rantai. Di samping wanita itu ada Joanna yang terus melukai dirinya dengan puntung rokok. Joanna adalah rekan Lily dan Isla saat membully-nya dulu. Ia mengurung wanita itu bersama ibunya di sana.


Mengabaikan makian ibunya, Olivia melangkah ke sudut lainnya. Mangsa yang baru ia tangkap. Dean Jacob dan juga Vincent Trey. Ya, ia berhasil mendapatkan Vincent kembali berkat bantuan Sam sebelum pria itu mati.


"Bagaimana kabarmu, Dean? Katakan, apa yang harus kau lakukan dengan kemaluanmu? Aku sungguh penasaran."


Dean gemetar ketakutan hingga ia terkencing-kencing di celana.


"Menjijikkan!" Olivia mengambil botol kosong dan memukulkannya ke wajah Dean. "Berlututlah layaknya anjing dan jilaat air senimu itu, bajiingan!!"