H.U.R.T

H.U.R.T
Obrolan Pagi



Giveaway untuk masing-masing... pemenang, caranya👇



Pembaca dengan komentar teraktif di karya Hurt dan My Naughty Fiance.


Pembaca dengan pemberi gift teratas di karya HURt dan My Naughty Fiance


Hadiah Giveaway berupa:


~Buku


~Pulsa


~Merchandise menarik


Giveaway akan ditutup pada akhir November dan diumumkan pada awal Desember.


Yuk semangat tinggalkan komentar dan Gift kalian di Hurt dan My Naughty Fiance


.


.


.



Kapan Steve benar-benar merasakan tidur. Tidur yang sebenar-benarnya. Ia sendiri bahkan lupa. Dulu, setiap ia memejamkan mata, wajah Riston dan teman-temannya akan mendatanginya di dalam mimpi, menyeringai dengan cara menjijikkan.


Mimpi itu masih sering menghantui, tapi mimpi tentang kecelakan yang ia dan Lexi alami lah yang lebih sering muncul akhir-akhir ini. Ketakutan yang ia rasakan benar-benar sangat mengerikan.


Hari ini merupakan kejutan. Saat ia membuka mata, sinar matahari masuk ke dalam kamar melalui celah jendela.


Steve duduk, melihat sisi tempat tidur yang ditempati Zenia sudah kosong. Tangannya terulur mengusap bantal yang meninggalkan beberapa helai rambut Zenia di sana, bukti nyata bahwa mereka memang menghabiskan malam bersama.


Steve melipat kedua bibirnya, menahan senyumannya.


Ponselnya berdering nyaring, membuatnya berjengit sambil melontarkan kalimat umpatan.


Alisnya melengkung melihat nama yang tertera di layar ponsel.


Steve menjawab tanpa semangat, "Hai."


"Sudah bangun?" Terdengar jawaban yang juga terdengar malas.


"Jika aku belum bangun, menurutmu siapa yang sedang berbicara denganmu, Pax?"


Astaga, Steve masih menyimpan dendam pada pria setengah baya itu. Menyebut nama Pax tanpa embel-embel atau pun merasa canggung.


"Tidurmu nyenyak?"


"Tidak pernah senyenyak hari ini."


"Terjadi hal bagus?"


"Setelah apa yang terjadi, apa menurutmu masih ada hal bagus dalam hidupku?"


Terdengar tarikan napas panjang dari seberang telepon atas jawaban sinis yang diberikannya. Steve tidak merasa bersalah sama sekali


"Kau dimana?"


"Di kamarku," sahutnya lempeng dan apa adanya.


"Apa yang kau lakukan?"


"Nongkrong-nongkrong saja."


"Bersama?"


"Sendiri."


"Kemarin aku pergi ke pedesaan. Hari ini Harry akan melakukan hal yang sama."


"Apa yang kau temukan?"


"Jika aku menemukan sesuatu, Harry tidak mungkin pergi hari ini."


"Hmm."


"Menurutmu, apa putriku masih hidup?"


"Kenapa bertanya kepadaku? Aku bukan cenayang."


"Kau sudah melupakannya?"


"Apa urusanmu?"


"Dia putriku."


"Lalu?"


Pax menggeram, berbicara dengan Steve selalu berhasil membuatnya naik darah. Ketenangan Steve membuat pria itu sulit ditebak.


"Temanmu mengantar 499 sampanye dan aku menolaknya."


"Sayang sekali. Aku menghamburkan lumayan banyak uang untuk minuman sialan itu."


"Wajahmu menyebalkan, tidak enak dilihat. Apa waktumu sangat senggang, Pax?"


"Kau pikir aku akan menghungimu jika aku tidak merasa bosan."


"Kalau begitu akhiri panggilan ini. Ini sangat canggung sekali."


"Aku tidak mendengar kau merasa canggung sama sekali."


"Aku hanya mencoba bersikap sopan. Sepertinya berhasil."


"Kenapa harus bersikap sopan? Putriku sudah tidak ada. Apa pentingnya untukmu bersikap sopan."


"Apa hubungannya dengannya?"


"Jadi kau hanya nongkrong-nongkrong di kamarmu?"


"Itulah yang kukatakan tadi."


"Apa ada hal menarik di kamarmu?"


"Aku hanya memandangi rumput yang mulai tumbuh," bohongnya.


"Hm. Aku dan istriku akan ke Spain. Alena sangat merindukan putri kami. Mungkin bertemu dengan Isabel bisa mengobati kerinduannya."


"Nikmati perjalananmu. Dan sekarang aku harus mengakhiri panggilan ini karena aku harus pergi."


"Kenapa buru-buru sekali. Bukankah kau cuma mengamati rumput?"


"Aku perlu kencing."


Steve mematikan ponsel, melemparnya begitu saja lalu berjalan menuju toilet. Setidak ia tidak berbohong tentang dirinya yang ingin kencing. Steve membasuh wajahnya dengan air dingin sebelum turun ke bawah untuk mencari Zenia. Apakah gadis itu masih ada di rumahnya atau sudah pulang. Ia berharap Zenia masih ada di rumahnya.


Harapannya terkabul, Zenia sedang berada di dapur. Terlihat bingung.


"Kau lapar?"


Gadis itu refleks menoleh. Di tangannya terdapat dua butir telur.


"Ingin makan telur?"


Zenia mengangguk, "Aku bingung cara memasaknya. Maksudku, aku tidak melihat ada teflon, spatula.


"Aku akan memasaknya untukmu." Steve mengambil telur dari tangan Zenia, menatap gadis itu sesaat.


"Bagaimana tidurmu?" Steve bertanya sambil mengocok telur, kemudian menuangkannya ke dalam teflon yang sudah dipanaskan.


"Nyenyak."


"Benarkah?"


"Ya. Aku baru bangun saat matahari sudah bersinar terang."


"Baguslah kalau begitu. Soal tadi malam..."


"Jangan minta maaf," Zenia menyela dengan cepat. Wajahnya bersemu merah. Bagaimana Steve menyentuh dan menciumnya masih terbayang jelas dalam ingatannya. Zenia bahkan masih bisa merasakan tangan Steve menjelajah di wajahnya. "Aku akan merasa terlihat sangat buruk jika kau melakukan itu."


"Yang ingin kukatakan adalah tentang aku yang sedang bermimpi buruk, tapi sepertinya kau memikirkan hal yang lain," Steve menggigit pipi dalamnya, menahan agar ia tidak tertawa. Wajah Zenia tidak ubahnya seperti kepiting rebus. Merah menyala.


"Eh?"


"Aku tidak ingin ada yang tahu tentang apa yang kualami. Tapi omong-omong, bagaimana kau tahu aku memimpikan hal yang sama?"


"Aku hanya menebak. Aku juga sering mengalami mimpi yang sama. Hanya saja kondisiku tidak semengerikan dirimu hingga sampai bermandikan keringat."


"Kau mengalami mimpi buruk?" Steve terlihat sangat penasaran.


"Ya, bisa dikatakan begitu. Tapi sepertinya mimpimu lebih buruk. Anehnya, tadi malam aku tidak bermimpi. Sebagai gantinya aku mendengarmu menjerit. Apa yang terjadi dengannya?"


"Dengannya?" Steve mengerutkan dahi. Apakah dia mengigau, menyebut nama seseorang? Steve berharap dia tidak melakukannya. Namun, jawaban Zenia membuatnya tersentak. Jantungnya bertalu-talu tidak karuan.


"Lexi. Kau berteriak menyebut nama Lexi. Siapa dia? Wanita? Adikmu atau..."


"Sarapan selesai. Siapkan piringnya. Aku akan membakar beberapa sosis."


Steve mengganti topik. Jelas sekali ia sedang menghindar. Ya, ia memang sengaja menghindar. Tentang Lexi bukan sesuatu yang ingin ia bahas saat ini entah dengan siapa pun.


"Aku akan pulang setelah sarapan. Zetta mengatakan beberapa temannya akan datang hari ini. Mungkin mereka akan datang ke rumah. Aku harus menyambutnya."


"Teman?" Radar pria itu langsung aktif, menandakan ada ancaman. "Zetta tidak mengatakan bahwa ia mengundang beberapa teman."


"Apakah Zetta harus melapor padamu tentang semuanya?"


Steve tidak tahu apakah Zenia sedang menyindir atau memang benar benar-benar sedang bertanya.


"Makanlah." Lagi, Steve mengganti topik.


Zenia dengan patuh menikmati sarapannya tanpa bertanya kembali meski ia sangat penasaran. Terkadang ia merasa Zetta dan Steve memiliki hubungan yang sangat dekat. Di lain sisi, ia juga sadar jika Zetta memang gadis yang sangat mudah bergaul dengan siapa saja.


"Omong-omong," Steve bertanya di tengah kunyahannya. Zenia mengangkat kepala, menatap Steve, menunggu pria itu melanjutkan ucapannya.


"Ehm, omong-omong, temannya pria atau wanita?"


"Kurasa pria dan wanita. Zetta mengatakan beberapa temannya lebih oke darimu."


Steve mencengkram erat sendoknya dan hampir membuatnya patah. Ia mengatupkan bibirnya rapat-rapat agar tidak mengeluarkan umpatan kasar.