H.U.R.T

H.U.R.T
Hulk Vs Thanos



"Kau tidak membawa utangmu?"


Pax menegur Steve saat pemuda itu melintas di hadapannya dan berpura-pura tidak menoleh ke arahnya. Pemuda kurang akhlak memang!


Steve menoleh dengan gerakan angkuh yang sengaja dibuat-buat membuat Pax mendengus geli.


"Kau berbicara kepadaku, Pax Willson?"


"Dia kira aku temannya bermain kelereng," Pax bergumam kemudian membisikkan sesuatu ke telinga istrinya agar meninggalkan mereka.


Pun Alena dengan patuh pergi dengan segera. Kebetulan sekali Lexi juga akan mengganti pakaiannya dengan yang lebih santai. Gaun dengan ekor panjang akan sedikit menyulitkan saat acara dansa nanti.


"Kemana Lexi dan Mrs. Willson?" Steve bertanya saat ekor matanya melihat ibu dan anak itu menaiki anak tangga.


"Mengganti pakaian. Acara dansa akan dimulai."


"Hmm."


"Aku tidak melihat Mr. dan Mrs. Percy."


"Aku mengirim mereka ke belahan dunia lain. Jika kau merindukan mereka, surel mereka tidak berubah sama sekali."


"Aku akan menghubungi mereka nanti."


Steve sudah tidak menimpali. Perbincangan selesai. Tapi tidak satu pun dari pria itu yang beranjak pergi. Keduanya saling menatap dengan mimik tidak terbaca.


Menurut pandangan Pax, Steve terlalu tenang untuk ukuran pria yang sedang patah hati. Pax pernah berada di dalam posisi yang dirasakan Steven saat ini. Dan rasanya minta ampun. Pax memilih untuk kehilangan ingatan daripada menanggung sakitnya.


Ia seolah melihat dirinya sendiri. Hanya saja, Steve lebih gila darinya. Pria itu tidak pernah menyerahkan akhir ceritanya di tangan semesta setelah penderitaan yang dialaminya. Pax sangat yakin dengan itu. Hanya saja, ia tidak bisa menebak apa rencana pria itu.


Tadinya, ia sudah siap dengan kemungkinan jika mempelai wanita akan menghilang atau mempelai pria yang tiba-tiba cedera. Namun, tidak ada satupun dari tebakannya itu terjadi. Bahkan saat Harry dan Lexi mengucap sumpah, Pax lebih tertarik melirik ke arah Steve. Nyatanya, pria itu mengabaikan apa yang terjadi. Benar-benar pria yang sulit untuk ditebak. Pax tidak tahan lagi dengan praduga-praduga yang bersileweran di otaknya.


"Jadi apa yang kau rencanakan?" Ia bertanya tanpa tedeng aling-aling.


Steve menukik sebelah alisnya, "Rencana?"


"Tidak usah melakoni pria patah hati yang mendadak bijak, Buddy."


"Aku tidak mengerti maksudmu, Pax Willson."


"Ya, jelas kau mengerti."


"Tidak semua orang sepicik engkau."


"Hmm," Pax mengangguk jumawa. "Kau benar, tapi kau bukan orang yang tidak termasuk dalam golongan orang yang tidak picik."


"Ciih!" Steve mendengus dengan bibir menyungging sinis. "Kau menyamakan aku dengan dirimu."


Pax mengidikkan bahu.


Steve mengusap dagunya yang mulai ditumbuhi cambang-cambang halus. Terlihat ia sedang berpikir keras. Lagi dan lagi ia hanya berlakon.


"Untuk beberapa saat aku berpikir ingin menjadi Hulk."


"Kenapa Hulk. Kenapa bukan Iron Man?"


"Apakah itu penting?" Steve mendesis sinis.


"Aku merasa jika Iron Man lebih cocok untukmu."


"Sama cocoknya dengan dirimu yang menyerupai Thanos."


Hampir saja tawa Pax meledak. Steve benar-benar sepenuh hati membenci dirinya. Dan apa yang mereka bicarakan saat ini di tengah situasi genting ini.


"Apa yang kau rencanakan, anak muda?"


"Andai aku memiliki rencana, apa kau kira aku mau berbagi denganmu?"


Pax benar-benar tidak bisa menebak isi pikiran pemuda di hadapannya ini. Ia sangat yakin dengan instingnya jika Steve sudah menyiapkan rencana saat membiarkan Lexi membuat pilihan. Rencana seperti apa yang sedang disiapkan Steve sampai ia menahan diri membiarkan wanita yang dicintainya mengikrarkan sumpah janji suci. Tentunya bukan rencana yang main-main.


Duuarr!!!


Semua terkejut. Termasuk Pax dan Steven. Perhatian semuanya teralihkan oleh suara ledakan yang memang tidak terlalu besar.


"Ini rencanamu?" Pax melayangkan tudingan.


"Meledakkan kembang api? Ini masih terlalu siang untuk bermain kembang api. Lagi pula memeriahkan pernikahan wanita yang kucintai tidak ada dalam daftar rencanaku."


"Itu bukan kembang api," Pax melangkah cepat untuk melihat ke luar. Steve mengekor dari belakang. Benar saja, di luar sana terjadi keributan. Aksi saling tembak terjadi antara para pengawal dengan beberapa pria dengan penutup kepala.


"Teroriss?" Keduanya bergumam.


"Lexi," kedua kembali memekik dan berlari menuju lantai kamar.


"Oh, Sial!!" Lagi dan lagi keduanya berseru dengan kompak saat peluru secara membabi buta menyerang mereka. Steve terpaksa berlindung karena tidak memiliki senjata apa pun.


Para tamu undangan mulai berlarian, jeritan kepanikan terdengar. Beberapa bahkan sudah tergeletak tidak bernyawa akibat peluru yang ditembakkan tidak tentu arah. Keadaan semakin tidak kondusif saat para wartawan yang tadi meliput acara sakral itu berubah haluan meliput kekisruhan ini. Sepertinya mansion ini sudah dikepung.


Pax dan Steve saling melempar tatapan. Ingin rasanya Steve mengeluarkan makian kepada pria itu karena senjatanya yang diambil oleh salah satu pengawal Willson saat melewati jalur pemeriksaan.


Pax mengeluarkan pistol dari balik jasnya. Di ruangan itu ada setidaknya lima pria bertopeng. Butuh setidaknya lima peluru untuk menumbangkan para teroriss tersebut, itu juga jika tembakannya tepat sasaran.


Pax memeriksa amunisinya yang ternyata hanya tersisa dua peluru.


Tidak ada pilihan, ia harus memanfaatkan pelurunya sebaik mungkin. Pax menembak meja tempat Steve berlindung, membuat pria itu mengumpat secara spontan.


Perhatian teroriss teralihkan, dengan langkah cepat teroriss itu mendekat untuk memeriksa. Steve sudah siap untuk mendorong meja saat Pax kembali menembakkan pelurunya tepat ke jantung teroriss itu hingga tumbang dalam sekejap.


Tidak menyia-nyiakan kesempatan tersebut, Steve berguling dari tempat persembunyiannya dan mengambil senjata pria itu. Dengan gesit Steve melayangkan tembakan saat rekan teroriss itu menyerang dalam jarak dekat.


Dua dari lima teroriss berhasil mereka tumbangkan. Steve segera berdiri dan Pax pun keluar dari persembunyiaannya.


Tiga teroriss yang tersisa, menyerang mereka. Steve menembak tanpa berhenti, ia terus maju.


Bukh!


Ia berhasil memukul hidung salah satunya. Merebut senjata dan memberikannya kepada Pax. Mereka sama-sama membidik target. Steve menembak di wajah dan Pax kembali menembak di jantung.


Kelima teroriss tewas dalam waktu singkat.


"Aku akan memeriksa Lexi,"


Pax mengangguk. Namun sebelum Steve berhasil menaiki anak tangga. Seseorang dari lantai atas datang menghalanginya.


"Kita dikepung. Mereka sengaja membuat kita kewalahan," Pax berasumsi begitu puluhan orang kembali menyerang mereka.


Steve membenarkan apa yang dikatakan Pax. Artinya mereka sudah diperhatikan sejak tadi.


"Apa masalahmu dengan mereka?" sempat-sempatnya Steve bertanya di tengah serangan yang mereka dapatkan.


Door!!


Pax menembak pria yang berniat menyerang Steve dari belakang.


"The Devils, teroriss di bawah kepemimpinan Gerald Deville. Seorang yang akan menjadi pemimpin harus keturunan langsung dari Deville. Begitulah aturan yang tertulis. Meski pemimpin mereka sudah lenyap, aturan tersebut tetap berjalan. Mereka sangat mengidolakan Gerald, menganggap pria itu pahlawan. Kematian membuat anak-anak didiknya berang dan akan terus melanjutkan misi pria itu. Mereka harus memiliki pemimpin. Anggota mereka masih tersebar dimana-mana. Darren dan Lexi adalah garis keturunan yang tersisa."


Steve mulai mengerti kenapa Willson selalu bertentangan dengan pemerintah. Mereka diduga penyebab kekisruhan ini, menolak untuk memberikan Lexi dan Darren kepada teroriss yang selalu melancarkan ancaman.


"Darren tidak cukup bodoh untuk dikelabui," Steve bergumam. "Artinya mereka membutuhkan Lexi untuk dinikahi. Jangan katakan jika asumsiku ini benar, Pax Willson!"


"Alasan kenapa aku ingin pendamping Lexi lebih kuat dari Willson, Son. Sayang, kau sudah menyerah."