
"Aku kembali ke St. Nelda's Island." Lexi mengumumkan begitu mobil berhenti di pekarangan rumah Steve. Rumah yang dulu didatangi Lexi saat pria itu menderita sakit perut karena memaksa menikmati makanannya.
Mengingat itu semua, Lexi merutuki dirinya yang tidak bisa mengenali Stevennya hanya karena Steve berpenampilan wow dan tidak mengenakan kaca mata. Dia gadis yang mengaku sangat mencintai Steven, tapi terkecoh hanya karena penampilan yang berubah. Tapi, Lexi tidak bisa disalahkan sepenuhnya, otaknya didoktrin bahwa Steve memang sudah meninggal. Tidak mungkin orang yang sudah mati bisa hidup kembali, itulah yang ia tekankan di hatinya saat menemukan kesamaan antara si culun Steven dan si menawan Steve yang memang benar merupakan orang yang sama.
"Mengejarku?" Steve bertanya sambil menguluum senyum. Selama ini dia yang berjuang, banyak yang sudah ia korbankan dan pertaruhkan, tapi Steve seakan tidak menyadari hal itu. Mengetahui bahwa Lexi datang menemuinya, baginya itu sudah merupakan suatu perjuangan yang sangat besar. Ia terharu, bahagia, hatinya bergetar dan ia bersemu. Astaga, ia merasakan sesuatu saat wanita idamannya berbalik arah untuk mengejar dirinya. Baginya itu pencapaian luar biasa, pembuktian bahwa dia memang layak. Bukankah selama ini dia menantikan kelayakan itu dan Lexi benar-benar memberikan juga membuktikan bahwa seorang Steven Percy memang benar-benar layak untuk seorang Lexi Stevani Willson, bahwa seorang Steven yang culun yang memiliki cerita masa kelam yang menyedihkan juga layak diperjuangkan.
Berlebihan, Steve terlalu berlebihan menilai usaha Lexi yang mencoba datang menemuinya ke St. Nelda's Island. Tapi paham orang berbeda-beda, bukan? Bagi Steve usaha Lexi adalah pembenaran bahwa seorang Steven yang mempunyai begitu banyak kecacatan layak bahagia. Dan Lexi adalah sumber kebahagiaannya.
"Ya, memangnya apa lagi yang akan kulakukan di sana? Bertemu Malvyn dan kawan-kawannya?"
"Aturan pertama dalam hubungan ini, dilarang menyebut nama pria lain dengan lidahmu. Jika hal itu terulang kembali, kupastikan kau tidak akan bisa bernapas dan memohon ampun, Lexi Stevani Willson."
"Uwuu... Aku merinding," Lexi mengerling nakal. Ucapan dan reaksi tubuh yang bertolak belakang.
Steve mendengus geli, "Sepertinya tindakan amoral kita di pantai membuatmu sedikit liar, Kekasihku."
"Aku tidak akan menyangkalnya. Katakan padaku, bagaimana caramu membuatku tidak bernapas? Apakah lebih gila daripada waktu itu? Aku lupa caranya bernapas hingga memohon-mohon kepadamu."
"Astaga! Jual mahallah sedikit, Gadisku!"
"Itu perkara sulit jika menyangkut dirimu."
"Itu pujian yang manis," Steve menarik Lexi ke dalam rangkulannya, menunduk untuk menggesekkan hidung mereka. "Aku bahagia, sangat bahagia. Kau mendengar jantungku meletup-letup?"
"Kukira itu jantungku," Lexi menarik tangan Steve dan meletakkannya di jantungnya. "Kau bisa merasakannya?"
Steve mengangguk, kedua telinganya merah karena tersipu. Hanya Lexi yang mampu memberikan reaksi demikian.
"Kita sama gilanya," ujar Steve dan secara tiba-tiba Lexi sudah ada di dalam gendongannya. Terang saja Lexi memekik kaget.
"Ini salah satu fantasimu? Menggendong kekasihmu ala bridal?"
"Ya. Harusnya aku melakukannya hingga ke kamar dan melemparmu ke ranjang. Tapi aku harus menahan diri. Kita memiliki banyak waktu. Katakan, apa yang akan kita lakukan? Kita hanya berdua di sini. Tidak ada gangguan."
"Kemana semua pengawal juga pelayanmu."
"Aku tidak membutuhkan mereka di sini. Aku hanya ingin ada kau dan aku."
"Astaga! Aku menyukainya, Steven! Omong-omong, kemana kau selama satu bulan ini?" Lexi mengulurkan tangan untuk membuka pintu karena kedua tangan prianya itu sedang sibuk menopang tubuhnya.
"Aku? Menyibukkan diri untuk mempertahankan kewarasan."
"Berhasil?"
"Tidak. Aku hampir gila."
"Karena merindukanmu?"
"Karena membayangkanmu bersama Harry."
"Dia pergi ke Spain. Pulang-pulang dia membawa wanita hamil yang ternyata adalah Odelle. Seingatku, aku tidak pernah sebahagia itu menyambut kehamilan seseorang."
"Bagiku Odelle penyelamat."
Steve tidak tahu harus menanggapi bagaimana. Lexi belum mengetahui jika Odelle adalah Zenia. Wanita yang ia ajak bersekongkol untuk merayu Harry. Sedikit picik memang, tapi apa hendak dikata, ia bisa gila jika tidak bersama Lexi dan Lexi akan selamanya bersikap penuh kepura-puraan seolah dia bahagia dan semuanya baik-baik saja. Steve ingin Lexi merasakan kebahagiaan nyata.
"Jadi, kau di Spain selama satu bulan terakhir ini?"
Steve mendaratkan bokongnya di sofa tanpa melepaskan Lexi dari kuasanya. Posisinya, kini Lexi berada di atas pangkuannya.
"Tidak. Sehari setelah kau pergi, aku dan Beth terbang ke London bertemu dengan rekan bisnis yang menawarkan kerja sama. Dia memiliki seorang model yang sangat cantik. Dia mengatakannya seperti itu."
Tangan Lexi yang tadinya melingkar manis di belakang leher Steve, perlahan mengendur. Lexi menarik kedua tangannya, memainkan jemarinya di atas pangkuan. Lexi tidak mengatakan apa-apa, tapi maniknya mengunci iris tajam memabukkan miliki Steve.
"Dan saat aku menemuinya dan bertemu langsung..." Steve sengaja menjeda ucapannya untuk melihat reaksi Lexi. Gadis itu masih bergeming, tapi bola matanya bergerak ke sana kemari.
"Model itu memang cantik, sangat manis." Steve bergerak gesit menahan Lexi tetap di pangkuannya saat kekasih pujaan hatinya itu bergerak ingin melompat dari atas pangkuannya.
"Tidak bisa dikatakan model sebenarnya. Gadis itu seorang atlit kriket. Kebetulan, perusahaan sedang memproduksi seragam tersebut. Aku belum menemukan model yang pas."
"Atlit, cantik, manis. Sepertinya sangat menarik." Lexi memalingkan wajah, menolak menatap wajah Steve.
"Hmm, kecantikannya sangat natural. Tidak banyak polesan, mengingatkanku pada seseorang." Steve menarik dagu Lexi agar wajah mereka kembali bertatapan. "Gadis itu mengingatkanku padamu, jadi tidak ada alasan bagiku untuk menolak kerja sama itu. Kudengar Darren mengenalnya, dan sepertinya kau juga mengenalnya. Mereka diundang ke pesta perayaan pernikahan ayah dan ibumu. Tapi akulah yang muncul dan disebut penyusup oleh saudaramu, Darren."
Lexi mengerutkan kening sembari memutar memorinya. Siapa atlit kriket yang mereka kenal.
"Grace? Grace O'Neila Vasquez?"
Steve mengangguk membenarkan, "Apakah kau sedang cemburu?"
"Tidak!"
"Oh ya? Sangat menyenangkan bisa membuatmu cemburu. Tapi ada satu hal yang harus kau ketahui, Lexi. Tidak akan ada wanita yang bisa menarik perhatianku."
"Pembohong!"
"Aku bersumpah, aku berkata jujur."
"Tidak usah bersumpah. Kau bahkan sudah tidak perjaka! Ya ampun, aku tidak ingin membahasnya." Lexi menggelengkan kepala dengan kuat. Ia tidak ingin mengingat Olivia, ia akan melupakan semuanya.
"Ya, jangan membahas segala sesuatu yang dapat merusak momen ini. Kau ingin kuberitahu satu rahasia?"
"Beritahulah, aku akan menyimpan rahasiamu."
"Wanita yang kau sebut Odelle adalah Zenia yang sesungguhnya."
Lexi tidak mengerti. Otaknya tidak mampu mencerna maksup pernyataan prianya itu.
"Zenia Odelle Nolan. Putri tertua Ros dan Peter Nolan. Saudari Zetta dan Amor. Wanita yang kuminta untuk merayu mantan suamimu."
Manik Lexi membeliak kaget dan sebelum Lexi membuka mulutnya merespon pengakuan tersebut, Steve sudah membungkamny dengan mulutnya.