H.U.R.T

H.U.R.T
Bagaimana Caranya?



"Akhirnya sampai juga!" Lexi berseru kegirangan. "Ayah, Ibu, ayo kita masuk!" Ia menarik tangan kedua suami istri Percy. Ya, Lexi pergi berlibur bersama orang tua angkatnya. Tempat yang mereka pilih, tepatnya yang Lexi pilih adalah pantai Virginia. Lexi memutuskan tetap berada di negaranya. Tetap ingin berpijak di bawah langit yang sama dengan kekasih hantunya. Astaga, konyol sekali. Terkutuklah kau, Steve!


"Ayah, bukankah kau sangat suka memancing. Di sini kau bisa memancing sepuasnya. Ibu tidak akan mengganggu waktumu karena kami juga akan sibuk berjemur, berselancar dan naik perahu. Tapi, untuk sekarang, ayo kita istirahat. Aku lelah sekali. Kamar ada di lantai dua. Ayah dan Ibu, pilihlah kamar yang membuat kalian merasa nyaman. Nikmati momen ini dan anggap saja kalian sedang berbulan madu. Aku akan tidak akan mengganggu."


Suami istri Percy tertawa mendengar pernyataan Lexi yang sengaja menggoda mereka. "Bagaimana luka di jidatmu?" Tanya Mrs. Percy. Jemarinya menyentuh benjolan yang mulai kempes, hanya memarnya yang masih terlihat biru. "Ibu masih bingung, kenapa kau bisa melintasi jalan sebelum lampu merah menyala. Ibu tidak bisa membayangkan jika terjadi sesuatu yang buruk denganmu."


"Aku tidak tahu. Tapi begitulah musibah, selalu datang tiba-tiba. Bukan begitu, Ayah?" Lexi menyenggol lengan Mr. Percy. Sama seperti Mrs. Percy, pria itu juga tampak khawatir. Bagi keduanya, Lexi sudah mereka anggap seperti putri kandung mereka. Lexi adalah pelipur lara mereka.


"Kau selalu bersikap bijak. Tapi ingat, kau harus selalu berhati-hati. Banyak yang akan terluka jika kau terluka. Ayah perhatikan, sepanjang jalan kau juga terlihat murung. Apa kau memiliki masalah?"


Lexi menggeleng, malu rasanya mengakui jika ia baru saja patah hati. Ia belum berbagi kisah dengan orang tua angkatnya tersebut. Prihal ada Steven lain, masih ia rahasiakan keberadaannya dari mereka.


"Tidak, Ayah. Aku tidak memiliki masalah. Aku hanya bersedih karena harus meninggalkan putramu. Kita meninggalkannya untuk waktu yang tidak ditentukan. Aku takut dia kesepian dan..."


"Dia lah yang meninggalkan kita, Nak. Relakan, ikhlaskan dan lupakan dia."


Lexi tersentak mendengar jawaban tidak terduga dari Mr. Percy. Pernyataan itu seakan menamparnya dengan keras.


"A-Ayah..."


"Sampai kapan kau terbelenggu oleh perasaan yang tidak akan pernah terbalas. Di usiamu yang sekarang, sudah seharusnya kau menikah dengan pria yang mencintaimu dan memiliki anak-anak yang lucu. Mr dan Mrs. Willson juga pasti menginginkan hal yang serupa dengan yang kami inginkan. Kami ingin melihatmu bahagia. Selagi kami hidup, kami juga ingin menyaksikan cucu-cucu kami lahir dan berkembang. Steve tidak akan hidup. Lepaskan semua perasaanmu terhadapnya. Lupakan dia, Nak."


Wajah Lexi tampak muram dan sedih. "Ayah, bagaimana kau bisa berkata seperti itu? Apa kau sudah melupakan Steve? Apa di hatimu Steve tidak hidup lagi? Kau sudah tidak merindukannya?" Tanpa sadar air matanya meluruh. "Aku ingin melakukan seperti yang kau katakan, Ayah. Tapi di sini..." Lexi memegang dadaanya. "Dia masih hidup. Selamanya akan selalu hidup. Setiap saat aku selalu merindukannya. Aku juga tidak tahu sihir apa yang sudah diberikannya kepadaku. Saat dia masih ada, dia selalu menjauh dariku bahkan menolakku berulang kali. Harusnya yang kulakukan adalah membencinya. Tapi yang terjadi, aku justru semakin menggebu-gebu. Itulah hati, itulah cinta. Selalu gila dan tidak terkontrol. Dan setelah dia pergi untuk selamanya, dia telah membawa serta hampir seluruh hatiku. Jika kau meminta aku melupakannya, sungguh aku sangat ingin melakukannya. Tapi yang kutemukan, aku tidak mampu, Ayah," ia tersenyum penuh kegetiran. "Orang bijak mengatakan bahwa ia tidak tahu apa dan kapan tepatnya ia jatuh cinta pada seseorang, tapi ia tahu kapan harus berhenti mencintai orang tersebut. Sayangnya, aku bukan orang bijak, Ayah. Aku hanya gadis lemah yang diperbudak oleh rasa yang begitu besar terhadap putramu," lirihnya dengan nada pilu. "Andai aku tahu cara membebaskan diri, percayalah, Ayah, aku akan menempuh cara itu."


"Aku akan ke kamar untuk beristirahat. Kita akan bertemu saat makan malam." Ia berjalan gontai menaiki anak tangga.


"Apa yang kau katakan?!" Bentak Daphne begitu Lexi sudah tidak terlihat lagi. "Kau membuatnya bersedih!" Ia memukul lengan suaminya dengan kesal. "Jika kau menyadari bahwa ia sedang murung dan bersedih, yang harus kira lakukan adalah menghiburnya. Bukan menambah beban kesedihannya. Membahas almarhum putra kita hanya akan membuat suasana hatinya semakin memburuk."


"Aku hanya ingin yang terbaik untuknya. Sampai kapan ia dibayang-bayangi Steven dan mengurusi semua kebutuhan kita. Sudah saatnya Lexi memikirkan kebahagiaannya. Aku mersa tidak enak hati pada Mr. dan Mrs.Willson. Mereka pasti ingin Lexi segera menikah. Tidakkah kau melihat bahwa sudah banyak lamaran yang datang kepadanya dari orang-orang hebat. Andai Steven masih hidup, tentu aku akan sangat merasa bangga dan tersanjung jika hati dan pandangan Lexi hanya tertaut pada Steven. Tapi lihatlah kenyataannya, Daphne! Steve sudah tiada. Kita sudah tua, hidup kita tidak akan lama lagi. Begitu juga Mr. dan Mrs. Willson. Jika Lexi terus menyendiri, aku tidak berani membayangkan akan sesepi apa hidupnya kelak. Siapa yang akan menjaga dan melindunginya. Ia terlalu peduli kepada orang-orang di sekitarnya sehingga ia lupa bagaimana cara menikmati hidupnya sendiri."


Apa yang dikatakan suaminya benar adanya. Tapi tidak seharusnya Givano berkata sefrontal itu. Lexi memiliki hati yang lembut tapi rapuh dan sensitif.


"Kita hanya bisa mendoakan yang terbaik untuknya. Rencana Tuhan pasti lebih indah dari harapan kita." Daphne mengusap lengan suaminya sebelum beranjak pergi. "Aku harap saat makan malam, kau tidak membahasnya lagi. Lexi juga akan bersikap seolah tidak pernah ada pembahasan ini. Jadi kuharap, kita menikmati liburan ini dengan aman dan damai."


"Maafkan aku. Aku merusak liburan ini di menit-menit awal." Givano tampak menyesal. Niat baiknya justru membuat Lexi tersinggung.


Daphne hanya mendesaah. Pun ia segera beranjak, menaiki anak tangga. Apa lagi yang bisa ia lakukan? Semuanya sudah terlanjur.


Tanpa sepengetahuan mereka, ada Steve yang mendengar perbincangan mereka. Pria itu mendengar semuanya. Termasuk apa yang dikatakan Lexi. Harusnya ini tidak akan mengejutkan baginya mengingat betapa Lexi sangat memujanya. Tapi, faktanya ia tetap saja terkejut, bahkan terguncang. Entah bagaimana reaksi Lexi saat mengetahui kenyataan bahwa yang ia anggap sudah mati ternyata masih hidup dan dalam keadaan sehat, tidak kurang apa pun. Sialnya, pria itu adalah pria yang sama dengan yang membuat hatinya kembali terluka.


"Siapa di sana?"


Steve terkejut mendengar suara ayahnya. Pun ia segera beranjak sebelum ayahnya melihat keberadaannya.