H.U.R.T

H.U.R.T
Tujuh



aku di buat penasaran dengan pertanyaan Revan yang terdengar seperti bukan pertanyaan bagi ku, aku mencoba mengingat barangkali aku pernah bertemu dengan nya di jalan, atau mungkin Revan pernah membantuku dan semacam nya, tapi ingatan ku buntu sampai akhir nya aku menyerah dan berusaha tidak memikirkan nya lagi.


jam demi jam berlalu, pelajaranpun berakhir ketika bel istirahat berbunyi, sepanjang jam pelajaran terasa kurang nyaman bagi ku sekarang, selain karna belum terbiasa ada orang yang duduk di tempat duduk yang sudah lama kosong, ada juga beberapa pasang mata yang diam diam menatap Revan dari kejauhan, membuat ku seperti di awasi, meski itu bertuju pada Revan tapi tetap saja rasa nya mereka smua seperti melihat ke arah ku.


" kamu udah lupa sama aku ri??? "


mataku sontak terbelalak mendengar suara yang sangat dekat dengan telingaku, meskipun itu suara pelan tapi membuatku terkejut setengah mati.


Revan hanya tersenyum saat aku menoleh kearah nya sambil menjauhkan wajahku dari wajah Revan yang hanya berjarak satu jengkal saja.


" emng nya kita saling kenal ???? "


belum sempat Revan menjawab, Alfin memanggil namaku dengan lantang sambil berjalan ke arahku dan Revan.


mata Alfin dan Revan saling bertemu, untuk sesaat keduanya hanya saling memandang tanpa terucap apapun, lalu Alfin menepuk pundak Revan perlahan sambil tertawa, dan di balas Revan dengan senyuman.


" ko kamu di sini Van???? wah seru nih.....kapan pindah ???? "


" ini baru hari pertama "


kedua nya terlihat sangat akrab, sampai sampai keduanya sama sama mengabaikan ku yang masih cengok memikirkan kenapa Revan mengenalku layak nya teman akrab.


" kamu udh tau Yuri ???? "


" hmmm.... "


Revan mengangguk sambil melihat ke arah ku.


" dia pacar ku, jadi jangan macem macem ok !!! "


" oooh.....aku duduk tepat di belakang nya, jadi aku bisa bantu kamu jagain dia di kelas "


" iiiiiiiih......apaan sih kalian, emng nya aku barang titipan apa ??? "


dengan salah tingkah aku berjalan melewati mereka berdua, menyusul tari yang sudah terlebih dulu ke kantin.


aku berjalan sedikit cepat dan langsung duduk di samping tari begitu menemukan nya duduk di salah satu bangku kantin dengan makanan di depan nya.


" Revan itu syapa sih???? "


" murid baru !!! "


" Iyah aku tau, maksud ku ko dia bisa tau nama ku "


tari hanya melirik ke arahku dan menunjuk nametag seragam ku menggunakan mata nya, melihat itu refleks aku menoleh ke tempat di mana nametag ku terpasang.


" tapi dia tuh seolah olah udah kenal aku lama loh tar "


" emng knp ???? "


" dia tadi bilang, aku masih inget dia apa ngg "


" temen masa kecil kamu kali "


mendengar jawaban tari tiba tiba ingatan ku seperti kembali ke masa lalu, saat aku masih bersekolah di taman kanak kanak.


aku yang selalu telat di jemput oleh bunda selalu menunggu bunda di taman bermain sendirian, saat itu hujan lebat dan kilat saling bersautan dengan Guntur, aku yang ketakutan mulai bersembunyi di bawah meja kelas ku, badan ku gemetar dan aku hampir menangis.


meski sudah ada beberapa guru yang berusaha menenangkan ku, aku tetap merasa ketakutan.


aku mulai menangis saat listrik mati dan saat itu lah Revan yang memang satu sekolah dengan ku menghampiri dan ikut berjongkok di bawah meja.


aku dan Revan memang satu sekolah hanya saja kita berbeda kelas, saat itu ibu Revan juga belum menjemput nya jadi dia masih berada di sekolah bersamaku.


Revan kecil memberikan tangan nya untuk aku genggam, dengan lembut dia merangkulku dengan tangan satu nya dan menyenderkan kepalaku di bahu nya.


saat itu tubuh Revan sedikit lebih berisi, pipi nya pun terlihat bulat penuh, bibir nya yang tebal juga membuat nya terlihat manis sekaligus lucu.


" jangan takut, Guntur sama kilat itu jauuuuuuuh banget "


badan ku masih gemetar ketakutan, tapi aku bisa dengan jelas mendengarkan kata kata yang di ucapkan Revan saat itu.


" kata ibuku, kalau kamu taku gelap tutup saja mata mu, pasti kamu akan melihat cahaya "


dengan polos aku menuruti Revan untuk menutup mata, dan ternyata memang benar, aku merasa yang aku lihat itu sebuah cahaya.


sayang nya pertemanan aku dan Revan hanya satu tahun ajah, karna Revan ibu nya menikah lagi, jadi dia harus pindah mengikuti keluarga baru nya.


aku tersenyum saat ingatan ku tentang Revan kembali, dadaku sedikit berdenyut merasakan kehangatan seperti saat dulu setiap kali Revan memeluk ku atau menggandengku di taman bermain.


" heh.....senyum sendiri "


tari menepuk pundak ku perlahan karna melihatku yang tiba tiba senyam senyum sendiri.


" aku udah inget sekarang "


" apa "


aku mengabaikan pertanyaan tadi dan langsung menoleh ke arah Revan dan Alfin yang juga sudah mulai berada di kantin, kedua nya saling tertawa dan bercerita, tampak nya mereka juga teman masa lalu, maka nya mereka terlihat akrab.


aku ngg mau cari tahu sih tentang kedekatan mereka, yang jelas itu menyenangkan melihat pacar bisa berteman akrab dengan teman masa kecilku yang sangat berharga.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


ka Bara baru saja sampai di rumah ka Yugi, dengan beberapa makanan yang sengaja dia bawa untuk di makan ka Yugi.


" jangan terlalu keras, kamu juga harus makan gi "


" hmmmmm "


ka Yugi masih fokus dengan layar komputernya, dengan mengerutkan keningnya ka Yugi beberapa kali mengulang bait bait musik yang baru selsai dia buat.


" jadi ke kantor hari ini ???? "


" aku mungkin ke kantor nanti sore, siang ini aku ada janji "


" waaah, janji sama cewe ya ??? "


" Iyah, aku janji jemput Yuri di sekolah nya hari ini "


" adik mu ???? "


" hmmmm....... "


" btw, adik mu kelas 3 SMA kan ???? "


" Iyah..... "


" adik ku juga sekarang kelas 3 SMA, hari ini hari pertama nya dia masuk sekolah, kalau di pikir pikir aku kasian sama adik ku, dia harus beradaptasi lagi dengan orang orang baru setiap kali kita pindah "


" jadi abis ini kalian pindah kemana ??? "


" seperti nya kita menetap di sini sekarang, apa kamu keberatan ???? "


" bagus lah, jadi aku ngg perlu nyari tempat kerja baru lagi "


" hahahaha "


ka Bara tertawa mendengar jawaban ka Yugi yang terdengar sedikit savage, untung nya ka Bara sudah paham betul karakter ka Yugi, jadi dia hanya menanggapi nya dengan tertawa.


" btw, apa karyawan magang toko kue mu masih ada ???? "


" ngg ada karyawan magang di sana "


" masa sih???? "


" iyah, aku udah tanya bunda, dia ngg Nerima karyawan magang di toko mana pun "


" tapi masa Iyah dia kerja pake seragam sekolah "


ka Yugi menoleh ke arah ka bara sambil mengerutkan dahi nya, ka Yugi memang ngg pernah tau kalau aku sering membantu tari di toko bunda.


" salah liat kali "


" tapi kalau di pikir pikir muka nya juga ngg asing "


ka Yugi tidak mempedulikan ka bara kali ini, dia mengambil handuk dan pergi ke kamar mandi untuk bersiap menjemput ku di sekolah.