H.U.R.T

H.U.R.T
sebelas



bunda kembali ke hotel setelah selsai dari pengadilan, bunda terduduk lesu di atas sofa putih yang membelakangi tempat tidur. air mata bunda sedikit demi sedikit mulai membasahi pipi nya yang tampak lebih tirus dari biasa nya.


ingatan nya kembali pada beberapa tahun yang lalu, saat tanteu Riska yang baru saja kembali dari luar negri mendatangi bunda, saat itu tanteu Riska baru saja menyelesaikan kuliah nya.


tanteu Riska merengek pada bunda meminta bantuan untuk di Carikan sebuah pekerjaan untuk nya, awal nya bunda yang bekerja sebagai staf di salah satu TV swasta berniat mengajak tanteu Riska untuk bekerja bersama bunda, tapi berhubung tempat bunda bekerja adalah pesaing perusahaan tv swasta tempat ayah menanam saham nya jadi bunda di minta ayah untuk berhenti bekerja, sebagai ganti nya ayah menawarkan tanteu Riska untuk bekerja di kantor ayah.


saat itu tidak terpikirkan oleh bunda bahwa adik nya sendiri akan merusak impian nya bersama orang yang dia cintai, bunda hanya merasa bersyukur karna ayah mau menjadikan tanteu Riska sebagai bagian dari perusahaan nya.


ternyata kedekatan tanteu Riska dan ayah justru malah menjadi bumerang di antara ayah dan bunda.


bunda mengusap kasar kedua pipi nya, mencoba menguatkan hati nya dan bertekad untuk tidak lagi menyesali apapun. bunda meraih ponsel yang sudah berbunyi beberapa selama bunda menangis.


" hallo "


" ndah, kamu di hotel kan ???? bagaimana sidang nya tadi "


suara laki laki di sebrang telpon bunda, ya laki laki yang selama ini menguatkan bunda untuk menghadapi situasi ini, dan dia juga yang membuat bunda berani mengambil keputusan untuk menceraikan ayah.


" Iyah mas, ini saya di hotel, rasa nya capee banget "


" sabar ya ndah, setelah ini selsai kamu bisa mulai menata hidup kamu lagi yang baru "


bunda tersenyum, dan melanjutkan mengobrol dengan laki laki yang baru saja menelpon nya.


laki laki ini adalah om Redy, dia adalah Kaka kelas bunda saat masih di SMA, om Redy sempat memendam perasaan nya untuk bunda selama puluhan tahun.


saat itu om Redy lulus SMA dan melanjutkan kuliah ke luar negri, sedangkan bunda hanya berkuliah di Bandung, sampai bunda menikah om Redy dan bunda belum pernah bertemu lagi, dan selama itu pula om Redy dengan setia menyimpan perasaan nya pada bunda.


om Redy belum pernah menikah meski usia nya kini sudah tidak muda lagi, semua itu hanya karna keyakinan om Redy untuk bisa mendapatkan cinta bunda suatu saat nanti.


dan takdir kembali mempertemukan om Redy dan bunda di saat keadaan bunda sedang terpuruk, ini seperti kebetulan yang aneh tapi nyata ada nya.


hingga akhir nya bunda merasa nyaman dengan kehadiran om Redy dan mulai berbagi cerita apapun yang sudah terasa menumpuk di pikiran bunda.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


malam ini ka Yugi menemani ku di rumah, meskipun dia tetap sibuk dengan pekerjaan nya tapi aku cukup senang, aku tidak beranjak sedikitpun dari tempat ka Yugi bekerja.


kaki ku pun sedikit membaik setelah tukang urut mengurut kaki ku tadi sore.


" ka, aku seneng Kaka di rumah "


" hmmm "


" oh Iyah, Kaka pergi kemana sih kemarin??? Kaka tidur di mana ??? ko ngg bilang sama tari juga, biasa nya Kaka suka cerita sama tari "


" suuuuuuttts "


" aku khawatirin Kaka "


" bisa ngg kamu diem ajah, Kaka harus konsentrasi "


" kenapa sih aku tuh cuma boleh diem sama nurut doank, kan aku juga punya rasa pengen tau "


" ............... "


" aku juga udah bisa di ajak bertukar pikiran ko "


" kalau kamu masih bawel, Kaka ngg bakalan izinin kamu di sini lagi "


aku mengambil earphone dan memasangkan nya, dengan perasaan kesal aku mulai menyalakan musik dan membaringkan tubuh ku di sofa.


terkadang aku memang senang di perlakukan seperti anak kecil, yang di perhatikan dan di manja, tapi hati kecil ku tidak memungkiri kalau aku juga ingin di perlakukan seperti layak nya orang dewasa


ka Yugi menghampiriku dan memakaikan selimut, menutupi tubuhku yang meringkuk agar tak kedinginan.


jam sudah menunjukkan pukul 1 dini hari, ka Yugi meregangkan tubuh nya dan berbaring di karpet bawah sofa tempatku berbaring, ka Yugi berbaring membelakangi ku tanpa selimut ataupun bantal untuk menyangga kepala nya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


hari ini aku tidak berangkat ke sekolah seperti biasa nya, alasan nya karna kaki ku masih terasa sakit untuk berjalan, aku membuka mataku dan menatap ka Yugi yang masih terlelap tidur tepat di hadapan ku.


terlihat lelah di wajah ka Yugi, entah dia lelah dengan pekerjaan nya yang harus memikirkan lagi lagu baru untuk dia produksi atau mungkin dia lelah dengan kehidupan yang sedang dia jalani.


tiba tiba suara alarm berbunyi cukup kencang, membuyarkan tatapanku pada ka Yugi dan juga membangunkan tidur ka Yugi tentu nya.


ka Yugi segera membuka kedua mata nya dan mengusap wajah nya kasar, lalu beberapa saat kemudian ka Yugi pergi ke kamar nya untuk mandi tanpa menyapaku atau menoleh sedikitpun ke arah ku yang masih fokus melihat nya meninggalkan ruangan ini.


" hiiis dasar cowo dingin "


aku membalik kan tubuhku mencoba untuk memejamkan kembali kedua mataku.


ka Yugi keluar dari kamar nya dalam keadaan sudah wangi dan bersih, dia kembali masuk untuk merapihkan semua peralatan kerja nya ke dalam tas yang biasa dia bawa.


" ka Yugi mau pergi ???? "


aku bertanya tanpa berbalik untuk melihat ke arah ka Yugi yang masih terlihat sibuk dengan semua barang nya.


" hmmmm "


" kemana ??? "


" kerja "


" aku ngg masuk sekolah "


" Iyah, Kaka sudah menelpon guru mu "


mendengar jawaban ka Yugi sontak aku berbalik dan mulai terduduk.


" ka Yugi yang telpon sekolah ??? "


" hmmm "


" berarti ka Yugi ngg bilang bunda atau ayah ???? kalau aku sakit "


" udah "


" terus kenapa ka Yugi yang telpon sekolah "


" telpon bunda dan ayah mati "


ka Yugi menghentikan pekerjaan nya dan menghampiriku, dia duduk di sampingku dan meraih tangan ku yang terkepal menahan marah.


" dengarkan Kaka, apapun yang terjadi dengan orang tua kita, kita tetap harus hidup dengan baik "


" ............ "


" inget, apapun yang terjadi jangan sampai mempengaruhi masa depan kita ok "


aku hanya mengangguk meski tak merasa yakin, setelah selsai berbicara dengan ku ka Yugi segera menyelesaikan pekerjaan nya.


" Kaka harus pergi sekarang, ada orang yang harus Kaka temui pagi ini, kamu baik baik di rumah "


tanpa mendapat jawaban apapun ka Yugi akhir nya pergi, sedangkan aku masih terduduk dengan perasaan kecewa, marah dan kesal bercampur aduk menjadi satu.