H.U.R.T

H.U.R.T
Tidak Sabar!



"Oh, Lexi," Daphne menghadiahi menantu yang sudah ia anggap seperti putri sendiri dengan begitu banyak kecupan. Harapan dan doa banyak orang terkabul dengan bersatunya Steve dan Lexi, termasuk suami istri Percy. Tidak ada yang mereka inginkan sebagai pendamping Steve selain Lexi karena mereka tahu kedua insan itu memiliki rasa yang sama besarnya.


"Ibu, aku sangat merindukanmu!" Lexi memekik kegirangan. Ini pertemuan pertama mereka sejak Lexi memutuskan melepaskan perasaannya terhadap Steve.


"Dan di sinilah Ibu menyaksikan hari bahagia ini. Sungguh ibu sangat terharu, Sayang. Tidak sabar untuk melihat kau dan Steven memberikan kami cucu-cucu yang menggemaskan."


"Oh, Ibu... Aku dan putramu akan berusaha dan bekerja keras sepanjang hari, sepanjang malam. Semoga saja dalam 10 bulan ini kami berhasil mewujudkan inginmu dan ayah, ingin Mom dan Dad dan ingin semuanya. Aku ingin anak yang banyak yang mirip dengan putramu. Aku tidak puas hanya dengan satu Percy di rumah kami."


Daphne dan yang mendengarnya tertawa mendengar pernyataan Lexi yang jujur apa adanya. Lexi benar-benar terlihat lebih hidup bersama Steve.


"Aku tidak akan mendengar pengeluhan apa pun begitu kita beraksi," Steve berbisik di telinga sang istri. "Sepanjang hari, sepanjang malam. Ingat, kau yang mengatakannya."


"Kita lihat siapa yang akan menyerah!" Lexi berjinjit, memberikan kecupan manis di bibir suaminya.


Steve serakah, tidak akan puas hanya dengan sebuah kecupan. Ia meraih tengkuk Lexi, menahannya agar tetap di sana. Pun ia memperdalam ciuman mereka hingga tidak menyadari eraangan orang-orang di sekitar mereka.


"Tahanlah beberapa jam lagi, banyak dari para tamu undangan yang ingin memberikan ucapan selamat kepada kalian," suara Austin akhirnya berhasil mengembalikan kesadaran sepasang suami istri yang sedang dimabuk asmara tersebut.


Dengan enggan, Steve melepaskan tautan bibir mereka. "Sangat basah," Ujarnya sembari membersihkan bibir sang istri.


Austin berdecak malas, tindakan dan kata-kata yang keluar dari Steve dan Lexi benar-benar memancingnya kekesalannya.


"Rasamu manis."


Nah, ingin rasanya Austin melayangkan bogeman kepada iparnya itu karena sudah membuat saudari tersayangnya berubah menjadi nakal.


"Banyak wanita yang sudag kucium, kucecap, atau entah apa lah namanya. Tidak ada rasa manis sama sekali, Lexi. Dan tidak ada penelitian yang membuktikan bahwa saliva seseorang memiliki rasa manis. Astaga, mendadak aku merasa mual."


Steve dan Lexi menoleh ke arahnya, kening keduanya mengernyit bingung.


"Tidak ada saliva yang manis!" Austin kembali menegaskan.


"Kau hanya tidak merasakan bibir Steve," Lexi pun membersihkan jejak lipstiknya yang tertinggal di bibir suaminya itu.


"Apa kau memintaku mencicipi suamimu?"


"Enak saja!" Lexi melotot tajam. "Pergilah temani Isabell, jangan mengganggu momenku dan juga suamiku."


Austin memendarkan pandangannya, tidak butuh waktu lama untuk menemukan sosok Isabell. Gadis itu sedang berbincang dengan Odelle, wanita yang sudah dinikahi Harry tiga minggu lalu.


Isabell mengenakan dress panjang yang menutupi seluruh tubunnya, kaca mata tebal masih senantiasa bertengger di hidungnya.


"Pagar gigi seperti apa yang ia kenakan kali ini?"


"Pagar, pagar, pagar. Pagarmu gundulmu, Aus! Itu kawat gigi. Ajaklah dia berdansa."


"Bisa-bisa aku menginjak gaunnya. Astaga, apa yang dia kenakan? Aku merasa kostummu dan kostumnya sedang tertukar."


Lexi memukul lengan saudaranya tersebut. Austin memang tipikal pria yang selalu mengungkapkan apa yang ia lihat secara jujur, tidak peduli apakah objek yang ia nilai tersinggung atau tidak.


Seperti yang dikatakan Steve, Isabell bukanlah tipe Austin, baik dari sikap, sifat, dan penampilan. Tapi, apa pun bisa berubah. Akankah hal itu berlaku pada Austin?


"Cara berpakaiannya sangat konvensional."


"Kau ingin menyebutnya kuno hanya karena berpakaian tertutup?!"


Austin hanya mengidikkan bahu menanggapi pertanyaan saudarinya yang merujuk ke arah tudingan. Tapi, di mata Austin, Isabell memang sangat kuno. Cara berpakaian yang tidak lazim menurut Austin di era modern seperti ini.


Apakah cara berpakaian Isabell yang serba tertutup adalah tuntutan dari Istana, seperti adat atau kebiasaan? Austin rasa, tidak ada alasan seperti itu di Istana. Seingatnya, keluarga Harry, para kakak iparnya berpakaian mengikuti zaman.


"Isabell hanya melindungi tubuhnya yang indah dari tatapan liar para pria brengsekk sepertimu."


"Yang namanya pria brengseek tidak peduli dengan pakaian yang dikenakan, tidak peduli dengan semuanya. Yang ia pedulikan, objeknya harus berlutut di bawahnya. Isabell sangat manis, jika ia tidak ingin orang-orang memandangnya aneh, ia harus berani merubah dirinya. Jika yang ia lakukan adalah aturan dari Istana, saat ini ia sedang tidak ada di Istana, ia bebas melakukan apa pun."


"Jangan merusaknya, Austin! Jangan memaksakan kehendakmu padanya. Jika Isabell ingin berubah, biarkan dia melakukannya sendiri."


"Aku tidak melakukan apa pun. Asataga, kenapa kau selalu berburuk sangka padaku?"


Austin berdecak, "Selamat untuk pernikahan kalian," segera ia berlalu pergi, meninggalkan pengantin baru itu.


"Kapan acara ini selesai?" Lexi bertanya pada Steve yang menuntunnya untuk duduk.


Pria itu lalu bersimpuh di bawah kakinya, mengangkat kaki gadis itu ke lututnya setelah melepaskan stiletto yang dikenakan, kemudian ia memberi pijatan di betis juga pergelangan kaki sang istri.


"Entahlah, para tamu undangan tidak ada habisnya. Apakah ayahmu mengundang seluruh warga masyarakat dari pelosok A hingga ke pelosok Z."


"Apakah kita bisa meninggalkan acara ini?"


Steve mendongak, sebelah alisnya menukik ke atas. "Kau lelah?"


"Ini memang melelahkan. Tapi, bukan itu alasannya," Lexi terkikik geli sembari menggerakkan kakinya di atas paha suaminya.


Melihat senyum istrinya yang penuh arti dan tindakan nakal Lexi yang berani, Steve pun ikut tergelak. Ampun, dari tadi ia sudah menahan diri mati-matian untuk tidak membawa Lexi kabur setelah ikrar terucap. Mengetahu jika Lexi juga merasakan kegilaan yang sama, sepertinya tidak ada alasan baginya untuk menahan diri dengan berpura-pura sebagai pengantin yang ramah tamah.


"Apa ini?" tanya Steve seraya menepuk pelan kaki Lexi yang sedang merayunya.


"Isyarat."


Steve melipat bibirnya menahan tawa. Ia memindai sekeliling, khawatir jika ada yang mendengar perbincangan mereka yang nakal.


"Isyarat atau undangan?"


"Isyarat bahwa aku menginginkanmu dan aku juga mengundangmu agar segera memenuhi keinginanku."


"Katakan apa yang kau inginkan? Katakan dengan jelas," suara Steve berubah serak, pun dengan tatapannya yang mulai liar.


"Berikan aku kenangan yang begitu manis. Sentuh aku sepanjang hari, tunjukkan bahwa kau sangat mendambakanku. Dan aku ingin semuanya terjadi di kamarku, sebelum kita meninggalkan kota ini. Aku ingin meninggalkan kamarku dengan kenangan yang begitu indah. Menunjukkan kepada kota ini bahwa aku sangat dicintai olehmu. Aku ingin langit dan segala yang ada di kota ini tahu bahwa aku berhasil memilikimu."


Keinginan yang bukan tanpa alasan. Kota ini banyak memberikan kenangan pahit menyayat hati. Lexi ingin mereka juga memiliki kenangan yang manis agar kelak mereka kembali kemari, kenangan itulah yang akan mereka ingat.


"Lexiii..." Steve mendesis sambil membelai pipi istrinya itu dengan lembut. "Kau mendapatkannya. Kau mendapatkannya, Sayangku, gadisku, wanitaku. Kita akan melakukannya. Melakukan inginmu. Kota ini akan melihat dan menjadi saksi bahwa kau memilikiku dan aku memilikimu."


"Siapkan suaramu, siapkan dirimu, kau akan kubuat menjerit, meneriakkan kebahagiaan. Biarkan semuanya mendengarkan raungan kebahagiaan kita sore ini," Steve menunduk memberikan satu kecupan basah di pergelangan kaki istrinya tersebu. Pun ia berdiri untuk mengangkat Lexi ke dalam gendongannya.


Mereka menyelinap keluar dari resepsi. Begitu mereka sampai di dalam mobil, Steve menggenggam tangan Lexi, mengangkatnya ke dalam mulutnya. Lagi, ia menghadiahi Lexi dengan kecupan basah yang sangat manis. Lexi merasakan dirinya terbakar, sangat terbakar.


Perasaan meletup-letup berbaur menjadi satu. Bahagia, was was, gugup, berpacu menyebar ke seluruh sarafnya, tapi Lexi menikmati semuanya. Dan percayalah, ia sungguh tidak sabar untuk sampai ke mansion keluarganya. Bagaimana tidak, ia akan merasakan Steve di dalam dirinya. Mereka akan benar-benar menjadi satu. Ia akan dimanjakan dengan gelora panas yang brutal dan gila-gilaan. Ia tidak menginginkan kelembutan, ia ingin semuanya terasa nyata.


"Kau gugup?" Steve mulai melajukan mobil, meninggalkan hotel tempat resepsi mereka diadakan.


"Itu karena kau sangat luar biasa. Kau terlihat sangat hot dan menggoda. Apa aku sudah mengatakannya?"


"Kau menyebutku hot di hadapan ayahmu." Steve tersenyum geli, lagi, ia mencium pergelangan dalam tangan istrinya. "Denyut nadimu berpacu gila-gilaan, Sayang," suara Steve sangat mendukung untuk adegan yang akan mereka lakukan. Serak-serak becek yang membuat wanita rela meluccuti apa pun yang ada pada diri mereka.


"Konsentrasilah mengemudi, aku khawatir menerkammu di sini, di dalam mobil yang berujung petaka. Suaramu membuatku melambung dan kenapa jakunmu naik turun? Da-Dan matamu, sejak kapan jadi manik tajam itu bersinar seperti api yang membakar kayu bakar?"


"Sejak aku ingin membakar dirimu dengan semua hasrat yang kupendam selama ini. Kau siap, Lexi?"


"Oh, Steven... Kau selalu bisa kuandalkan."


Steve mendengus geli, "Aku hanya melakukan apa yang harus kulakukan. Mengagumimu, mencintaimu, merebutmu, melamarmu hingga akhirnya kau benar-benar kudapatkan. Dan semuanya akan sempurna beberapa menit lagi, kita akan merayakannya dengan cara yang begitu manis."


Seluruh tubuh Lexi menegang, setengah mendamba, setengah gugup, "Aku sungguh tidak sabar, Steven. Merayakan keberhasilanmu. Dasar bandit penculik!"


"Penculik?" Steve tertawa renyah mendengar sebutan yang disematkan istrinya kepadanya.


"Kau pernah mengancamku bahwa kau akan menculik semua yang ada pada diriku, aku tidak tahu jika yang ingin kau culik adalah hatiku."


Steve melengkungkan mulutnya, "Aku memang penjahat, penculik dan pembantai. Kau adalah targetku, targer pertama dan terakhir yang teramat kusanjung."


"Melajulah dengan kencang, Steven! Aku sudah tidak sabar!!!"