
"Astaga, kau belum mandi?"
Daphne langsung masuk ke dalam kamar begitu Lexi membuka pintu.
"Aku baru saja hendak mandi saat kau mengetuk pintu, Ibu." Buru-buru Lexi menarik kursi agar Daphne segera duduk. Bisa bahaya urusannya jika ibunya masuk ke dalam toilet dan melihat Steven yang sedang nongkrong di atas kloset. Oh Tuhan, membayangkannya saja ia sudah merinding.
Alih-alih duduk di kursi tersebut, Daphne justru menyingkirkannya. Lexi mengernyit bingung.
"Keran di kamar yang Ibu gunakan sepertinya sedang rusak. Ibu bisa menggunakan toiletmu sebentar? Sekalian Ibu akan menyiapkan air hangat untukmu."
Sambil mengatakan hal tersebut, Daphne berjalan menuju toilet. Lexi spontan melompat menghadang ibunya. Toiletnya adalah zona terlarang untuk ibunya saat ini.
"Ibu tidak boleh masuk ke dalam toilet!" Merentangkan kedua tangannya di depan pintu toilet, melindungi daerah kekuasaannya dengan sepenuh hati.
Daphne mengerutkan kening, tidak biasanya Lexi memberikan batasan diantara mereka.
"Ibu hanya menumpang mandi."
"Aku akan menggunakannya, Ibu. Tubuhku sudah sangat lengket sekali."
"Bagaimana jika kita sama-sama menggunakan toiletnya? Ibu akan membantumu untuk menggosok punggungmu. Kita juga akan menghemat waktu. Ayahmu dan Harry sedang menunggu di bawah untuk makan malam."
Ide yang buruk. Ibunya akan menjerit histeris bila melihat sosok pria asing di dalam toilet. Apa yang akan dipikirkan ibunya tentang dirinya nanti. Siang hari bermain selancar dengan Harry dan malamnya, dirinya sudah bersama pria asing yang tidak dikenali. Penilaian buruk dari ibunya bukanlah hal yang ia inginkan.
"Tidak. Tidak. Aku ingin berendam beberapa jam. Maafkan aku, Ibu. Bisakah kau menggunakan toilet yang di bawah."
"Kau terlihat aneh. Kau menyembunyikan sesuatu di dalam?" Daphne menatapnya penuh curiga. Ya, gelagatnya memang sangat mencurigakan dan Lexi bukanlah pembohong yang pintar. Gadis itu tidak berani menatap mata Daphne secara langsung dan tangannya tidak bisa diam. Gestur seorang pembohong yang buruk.
"Astaga, Ibu! Apa yang kau katakan? Lagi pula apa yang bisa kusembunyikan di dalam toilet?" Ia tertawa sumbang. Dalam hati, ia mengutuk dirinya yang semakin ahli berbohong. Dan semua ini gara-gara pria gila di dalam kamar mandi!
"Aku sungguh ingin berendam. Aku bahkan sudah mengisi bak dengan air juga aroma terapi. Aku masuk dulu. Tolong Ibu tutup pintunya saat keluar. Maafkan aku, Ibu." Lexi menggeser pintu toilet. Hanya sedikit yang bisa memberinya ruang untuk masuk. Bahkan ia harus memiringkan tubuh agar bisa masuk melalui celah tersebut. Lexi khawatir jika ia membuka pintunya dengan lebar, Ibunya akan mendengar napas pria asing di dalam ruangan ini. Steve seperti aib yang harus ia sembunyikan serapat-rapatnya.
Lexi menghembuskan napas panjang begitu ia mengunci dirinya di dalam toilet. Kini ia menempelkan telinga ke daun pintu, mencoba mendengar apakah ibunya langsung pergi dari dalam kamarnya atau tidak. Refleks ia kembali menghembuskan napas kelegaan saat mendengar pintu kamarnya di tutup.
Lexi menarik tirai pembatas yang ada di dalam toilet. Bersiap hendak mengusir Steve dengan segera. Yang ia temukan justru pemandangan yang justru membuat hatinya bergetar. Steve duduk di atas kloset dengan mata yang terpejam. Kedua tangannya bersedekap, kaki panjangnya bersilang di atas lutut lainnya. Pemandangan yang sangat estetik bukan? Pria menawan tertidur di atas kloset. Steve terlihat seperti seorang model. Model kloset. Sungguh marketing yang sangat menjual.
Perlahan Lexi berjalan mendekat, berusaha tidak menimbulkan suara sekecil apa pun. Ia membungkuk, memperhatikan wajah Steve lebih dekat dan lebih seksama. Steve memiliki bulu mata yang cukup panjang dan lebat. Hidungnya juga mancung dan kokoh. Rahangnya tegas meski mulai ditumbuhi bulu-bulu halus. Lexi tergoda untuk menyentuh wajah pria itu. Tangannya pun terulur dan saat jemarinya hendak menyentuh kulit wajah Steve tiba-tiba ia tersentak dan menarik tangannya kembali.
"Steven..."
"Ya." Steve membuka matanya.
Begitu manik mereka beradu, keduanya sama-sama terkejut.
"Ibu sudah pergi?"
Lexi hanya menganggukkan kepala. Jantungnya masih berdebar kencang. Ia terkejut dengan apa yang ia pikirkan tadi. Bagaimana bisa ia menganggap jika Ivarez terlihat sama dengan Steven-nya. Tapi, untuk sesaat keduanya memang terlihat mirip. Lexi baru menyadari hal tersebut.
"Ada apa dengan wajahmu? Kau terlihat gugup?" Steve berdiri, membelakangi cermin yang ada di sana.
"Sepertinya kau terlalu lama bermain air dengan pangeran itu. Tubuhmu hangat."
Lexi tidak sadar kapan Steve meletakkan tangan di dahinya dan kini kedua tangan kekar pria itu mencakup wajahnya.
"Kau sepertinya masuk angin. Sebaiknya kau mandi sekarang. Aku akan pergi sebentar."
"Tidak usah berendam. Cukup bersihkan tubuhmu. Aku pergi." Cup. Satu kecupan mendarat di kening Lexi dan Steve menghilang dalam sekejap.
Seperti raga yang kehilangan jiwanya, Lexi menyeret kakinya masuk ke dalam bak. Ia membenamkan dirinya ke dalam air. Pemikiran tadi sedikit mengusiknya.
"Apakah tanpa sadar, perasaan yang kurasakan terhadapnya hanya karena kemiripannya dengan Steven?" Ia bermonolog.
Lexi tidak tahu berapa lama ia berendam di dalam toilet. Setelah merasa tubuhnya lebih segar, ia pun segera beranjak. Membalut tubuhnya dengan jubah mandi.
"Astaga! Kau membuatku terkejut!"
Steve sudah ada di dalam kamarnya lagi. Duduk dengan santai di atas ranjangnya. "Kupikir kau sudah pergi."
Steven berdiri lalu berjalan mendekatinya.
"Hampir satu jam. Seingatku, aku mengatakan untuk tidak berendam lama."
"Kau tidak menjawab pertanyaanku. Kenapa kau masih ada di sini? Kau tidak jadi pergi?"
"Aku pergi untuk mengambil obat juga makan malam untukmu. Dan sekarang, mari kita keringkan rambutmu."
Lexi melihat jika nakas yang ada di kamarnya sudah penuh dengan berbagai buah dan makanan. Bagaimana Steve membawanya masuk tanpa ketahuan?
"Duduklah," ia menarik kursi, menjauh dari meja rias.
"Apa yang akan kau lakukan?"
"Mengeringkan rambutmu. Aku membawa handuk untukmu. Jadi, jangan pernah mengenakan handuk pria lain."
"Aku tidak kekurangan handuk sama sekali. Dan kau bisa menggunakan hair dryer."
"Aku lebih suka mengeringkannya dengan menggunakan handuk." Ini hanya alasannya saja. Karena jika ia harus menggunakan hair dryer, colokan hanya ada di dekat meja rias, otomatis hal itu harus membuatnya berdiri di depan cermin.
"Tapi omong-omong kenapa kau harus mengeringkan rambutku. Aku bisa melakukannya."
"Aku sedang memanjakanmu dengan perhatian juga tindakan. Rambutmu sangat halus dan wangi. Enak sekali."
"Aku menggunakan sampo mahal. Jika kau memakannya, tidak akan seenak yang kau duga."
Steve tergelak, rayuannya tidak masuk.
Tok. Tok.
Ketukan di pintu membuat mereka kompak menoleh.
"Lexi..."
Itu suara Harry. Lexi melupakan kehadiran pria itu.
Steve menutup mulut Lexi saat Lexi hendak menjawab panggilan pria itu. Steve juga menahan tubuh Lexi agar tetap di tempat.
"Lexi? Apa kau sudah tidur?"
"Biarkan dia menganggapmu sudah tidur. Jadi, diamlah."