H.U.R.T

H.U.R.T
Dua Minggu Lagi



"Terima kasih, Harry, berkat bantuanmu aku mendapatkan gaun yang sesuai dan yang kuinginkan. Aku menyukai pilihanmu. Besok temani aku untuk melihatnya langsung, aku ingin mencobanya."


Harry mengangguk setuju, pun pria itu mengambil makanan yang sudah disiapkan Alena sejak satu jam lalu dan Lexi belum menyentuhnya sama sekali. Ia kehilangan selera makannya.


"Karena masalah gaun sudah selesai, sekarang buka mulutmu dan makanlah. Kita akan berkencan setelah ini."


"Berkencan?" Lexi mengerling nakal, sengaja menggoda Harry. Ya, mereka belum pernah berkencan setelah keduanya sah menjadi sepasang kekasih.


"Kemana kita akan berkencan?" Lexi bertanya sembari mengunyah makanannya. "Aku sedang menjaga pola makanku, aku tidak ingin merusak keindahan gaun yang kukenakan di hari spesial kita karena tubuhku yang berlemak."


"Aku tidak menemukan lemak berlebih sama sekali."


"Itu karena aku berusaha menjaganya. Sudah cukup." Mendorong sendok saat Harry menyodorkan suapan ketiga.


"Astaga, jika makanmu hanya sedikit, aku tidak yakin kau akan mampu bertahan menjamu para tamu selama berjam-jam lamanya. Kau butuh tenaga, Lexi. Kau juga harus sehat."


"Hm, kau mulai menunjukkan kecerewetanmu. Baiklah, aku juga akan menunjukkan sikap yang baik yaitu menjadi istri yang penurut."


Harry tergelak, Lexi benar-benar sangat manis. Ia tidak sabar untuk menjalani hari-harinya bersama gadis itu sebagai sepasang suami istri.


"Aku tidak akan keberatan jika kau sedikit membangkang," goda pria beriiris hijau itu dengan kerlingan mata nakal.


"Oh ya? Hm, aku tidak akan sungkan membuatmu kewalahan kalau begitu," Lexi meladeni godaan yang dilayangkan Harry dengan sikap manjanya yang membuat pria rela melakukan apa pun.


Pax yang ada di lantai dua memperhatikan interaksi keduanya. Seperti yang dikatakan istrinya sebelumnya, mereka harus menerima keputusan Lexi. Harry pria yang baik. Ia mengenal pemuda itu sama dengan ia mengenal Steven yang sedang berdiri dia ambang pintu mereka menyaksikan dengan tatapan cemburu juga sedih ke objek yang sama dengan yang ia perhatikan. Pax menarik napas panjang. Tidak ada yang tahu sebesar apa rasa bersalah yang ia tanggung.


Niat hati melindungi Lexi dan Steven, justru yang terjadi sebaliknya. Kedua insan itu terluka terlalu dalam, memiliki trauma masing-masing, namun mencoba terlihat baik-baik saja.


Sekarang apa yang harus ia lakukan? Sungguh, ia pun tidak tahu. Semuanya sudah di luar kendalinya. Lexi sudah mengambil keputusan final, lalu bagaimana dengan Steve?


Pax segera beranjak, menuruni anak tangga untuk menyambut tamunya yang datang bersama Steve, Roxi Ivarez.


"Dad!" Lexi menyapa begitu menyadari kehadiran ayahnya.


Pax tersenyum dan terus melangkahkan kaki mendekati Roxi dan Steven. Barulah Lexi menyadari kehadiran Steve di sana. Mata keduanya bertaut, Lexi tersenyum yang langsung tertular kepada Steve. Pria itu spontan menarik kedua sudut bibirnya.


"Apa yang terjadi dengan wajahmu?" Walau sudah bisa menebak, Pax tetap bertanya kepada Roxi untuk memastikan.


"Sambutan selamat datang. Ya, beginilah caranya menyambutku. Manis sekali, bukan?" Roxi menunjuk Steve yang masih mengarahkan tatapannya kepada Lexi.


"Kudengar kau juga mendapatkan satu bogeman," Roxi menyunggingkan senyum meledek. Pax refleks mengusap wajahnya yang justru membuat Roxi semakin tergelak.


Steve menoleh kepada kedua pria itu, melayangkan tatapan datar tanpa ekspresi sebelum melangkah meninggalkan keduanya.


"Apa yang sedang kalian lakukan?" Pertanyaan bodoh! Steve memaki dirinya karena jelas-jelas ia sudah melihat majalah berserakan di atas meja.


"Memilih gaun pengantin?" ia sendiri yang menjawab pertanyaan. Lexi dan Harry kompak mengangguk.


"Duduklah," Harry menawarkan. Steve pun segera duduk. Matanya kembali melirik majalah yang penuh dengan gambar gaun pengantin.


Lexi pasti sangat terlihat cantik, ia bergumam di dalam hati di tengah rasa marah yang menyerangnya.


"Apa yang kau lakukan di sini? Menyicil utangmu? Aku tidak melihat kau membawa sampanye."


Steve memiringkan kepala, rasa marahnya berangsur mereda mendengar suara Lexi.


Lexi tertawa mendengar jawaban Steve yang terdengar seperti lelucon konyol.


"Harry bisa meminjamimu uang jika kau mau."


Steve hanya tersenyum. Jika ia boleh meminjam kepada Harry, bukan uang yang akan ia minta. Tapi ia akan meminjam Lexi untuk seumur hidup. Heh?! Bagaimana pula konsepnya itu?


"Kapan hari bahagia kalian digelar?" Meski hatinya teriris menanyakan hal tersebut, tapi ia penasaran. Mampukah ia hadir menyaksikan hari itu? Sanggupkah ia melihat Lexi bersanding dengan pria lain?


"Dua minggu lagi." Harry lah yang menjawab.


"Isabel hadir?"


"Isabel akan hadir. Dia akan menjadi pengiring pengantin. Kuharap kau tidak keberatan menemaninya."


Steve menganggukkan kepala, "Suatu kehormatan bisa mendampingi seorang princess. Kuharap aku mendapat undangan resmi," Steve kembali menatap Lexi.


Tahu jika pernyataan itu ditujukan kepadanya, Lexi pun menganggukkan kepala.


"Aku akan mengantarnya. Aku sudah lama tidak bertemu dengan Ibu, hm, maksudku Mr dan Mrs. Percy."


Steve tersenyum getir. Cara Lexi memanggil kedua orang tuanya sudah berubah. Ya, sudah seharusnya Lexi melakukannya demi menjaga perasaan calon suaminya. Lexi tidak ingin menimbulkan tanda tanya besar di hati Harry, bagaimana bisa Lexi sedekat itu dengan orang tuanya.


"Aku menunggu," Ucapnya mengandung makna tersirat.


"Aku dan Harry akan pergi. Dia mengajakku berkencan. Apa kau keberatan jika kami meninggalkanmu?"


Keberatan! Sangat keberatan! Kenapa kau harus pergi berkencan dan kemana kalian hendak berkencan?!


"Tidak." Justru jawaban santai itulah yang keluar dari mulutnya. "Aku tidak boleh menghalangi waktu sepasang kekasih yang sedang berusaha menciptakan momen. Silakan. Semoga kencannya menyenangkan."


"Baiklah, Steve, aku dan Lexi permisi. Aku akan menghubungi Isabel tentang kesediaanmu meluangkan waktu untuk menemaninya selama ia berada di sini."


"Ya." Steve menyadari suaranya hampir-hampir tersekat. Ia menelan kasar salivanya yang ternyata juga sudah kering.


Ia menertawakan dirinya dalam hati. Jika ia tahu akhirnya seperti ini, dari awal ia mungkin akan memilih tidak akan memulai permainan ini. Jika akhirnya harus menyaksikan Lexi bersanding dengan pria lain, lebih baik dulu ia mengikuti nafsu dan keegoisannya dengan meminta Lexi menunggunya.


Tetapi tidak ada gunanya menyesali yang sudah terjadi. Menerima, hanya itu satu-satunya pilihan yang diberikan padanya.


Steve menatap kepergian keduanya hingga menghilang di balik pintu. Ia menundukkan kepala untuk beberapa saat, menghitung sebanyak sepuluh sebelum ia mengangkat kepala. Dan begitu ia mengangkat kepala, yang ia lihat adalah dua sosok pria menyebalkan yang memiliki andil kuat atas derita yang ia hadapi sekarang. Dan sialnya, kedua pria keparat itu menatapnya dengan prihatin.


"Hasrat ingin membunuh Harry sungguh sangat menggebu. Kenapa ia tidak memiliki secuil keburukan. Ini membuatku semakin marah. Tapi meski demikian, hasratku menguap begitu saja setelah melihat wajahmu, Pax Willson. Sepertinya kemarahanku akan berangsur hilang jika aku meluapkannya dengan cara membunuhmu."


Kalimat itu disampaikan Steve dengan ringan dan juga mimik datar, seolah-olah mereka sedang membicarakan cuaca hari ini.


"Kau hanya akan menambah masalah dalam hidupmu, Buddy. Lexi akan membencimu. Kau ingin mengambil resikonya?" sahut Pax tidak kalah enteng.


Steve menggeram, ia kalah.


"Pecundang!" Ejeknya dengan sinis. Pun ia segera berdiri, menghempaskan majalah yang ada di atas meja.


"Tempramennya sangat buruk," ucap Roxi yang ditanggapi Pax dengan helaan napas panjang.