H.U.R.T

H.U.R.T
Sudah Siap Untuk Mati?



Mengandung adegan kekerasan yang tidak manusiawi. Yang tidak menyukainya, silakan di skip.


Ingat, ini hanya novel yang sengaja dibuat dramatis. Sesungguhnya saya pun mual membayangkannya saat menulis part ini.


.


.


.


"Di sini kami hanya ingin meminta maaf kepada keluarga Phyllida. Khususnya Olivia Phyllida juga Oleshia Phyllida."


Wajah Dean Jacob terlihat melepuh, sungguh mengerikan. Sedangkan Vincent Trey yang ada di sebelahnya tidak lebih baik darinya. Tiga dari sepuluh jari pria itu sudah tidak di sana. Kemana jarinya menghilang? Bukan itu pertanyaan, apa yang mereka lakukan sekarang dengan menunjukkan penampilan mereka yang mengerikan itu ke publik, mempertontonkan diri mereka secara langsung.


Apakah mereka sedang melakukan pengakuan dosa?


Ya, pengakuan dosa menurut versi Olivia. Wanita itu kembali melakukan siaran langsung. Duduk manis menyaksikan ketakutan yang ditunjukkan dua pria bedebah itu.


"Kemana keberanian kalian saat memperkosaku dan saudariku?" Cemoohnya dengan dengan tatapan sinis.


"Oliv, ma-" kalimat Vincent mengambang begitu Olivia menggoyangkan jari telunjuknya, menolak mendengar apa apun yang hendak mereka katakan selain pengakuan.


"Sssttt... Tugasmu bukan meminta maaf, tapi mengakui apa yang kau dan teman-teman keparatmu lakukan kepadaku. Mengatakan kepada dunia siapa saja orang-orangnya yang terlibat. Dengan begitu, aku akan memikirkan apakah kau dan dia layak dimaafkan," Olivia menatap jijik ke arah Dean yang sudah berulang kali kencing karena ketakutan.


Pria badak itu sepertinya mengalami trauma berat. Sebelum diberi perintah untuk melakukan pengakuan dosa secara Live, Olivia bersenang-senang dengan keempat tawanannya. Ia memberikan tontonan menarik yang gratis kepada ibunya dan Joanna.


Di hadapan Olivia, ada air mendidih di dalam gentong besar dengan api yang masih menyala. Wajah melepuh Dean diakibatkan karena Dean mencelupkan wajahnya sendiri ke sana, tentu saja ini di bawah perintah Olivia.


Bukan hanya Dean yang menjerit histeris, tetapi juga ibunya dan Joana. Saat penyiksaan Dean terjadi, Vincent merangkak ke kakinya, bersujud memohon ampunan. Pria itu bahkan menyentuh kaki Olivia. Penyebab tiga jarinya hilang. Vincent memotong sendiri ketiga jarinya tersebut.


"Ceritakan dari awal, semuanya. Atau kalian lebih suka bernasib sama dengan apa yang dialami Neal dan Isla? Aku sungguh tidak keberatan melakukannya."


Dean menggeleng kuat, penglihatannya sesungguhnya sudah mulai tak jelas. Meski tidak bisa melihat wajah Olivia, tetap saja ia merasa takut. Setiap kata yang keluar dari mulut Olivia terdengar seperti mantra yang sangat mengerikan.


"Ke-kejadian Yale High School, pada tahun 2009, dimana terjadi peristiwa menggegerkan dengan ditemukannya mayat seorang siswi. Yang menjadi tersangka saat itulah putra dari para penguasa. Kasus tersebut ditutup dengan mengkambinghitamkan orang lain. Aku, Dean Jacob bersama rekanku lah yang melakukakannya. Kami memperkosa Olivia Phyllida secara brutal dan bergilir. Ide iru berasal dari Brian Milles. Putra bungsu presiden. Selain kami bertiga, ada Neal dan juga Fread Brown, pengacara presiden. Bukan begitu Vincent?"


Dean, sosok yang sangat takut kepada Brian. Ucapan Brian adalah perintah baginya. Ia dan keluarganya bergantung kepada keluarga Presiden. Ternyata, setelah berhadapan langsung dengan Olivia, ketakutannya terhadap presiden tidak ada apa-apanya.


Vincent tidak langsung menjawab. Tindakan pria itu membuat Olivia geram. Ia mengambil gunting besar, sengaja memainkannya.


Akhirnya, Vincent pun menganggukkan kepala membenarkan apa yang dikatakan Dean. Ia pun membeberkan apa yang sudah mereka lakukan. Mulai dari saat mereka menyeret Olivia ke belakang Yale High School. Bagaimana melakukan ruda paksa dengan bejatnya. Lalu perbuatan mereka dibereskan oleh para orang tua mereka. Vincent menyebutkan nama-nama penyidik yang terlibat saat itu.


"Kami tidak tahu jika Olivia memiliki saudari kembar, di acara prom night. Gadis yang kemi kira adalah Olivia datang dengan penampilan berbeda dan sangat manis. Darren Willson selalu bertingkah sok hebat di hadapan kami semuan. Malam itu benar-benar kejutan, aku melihatnya bercumbu dengan gadis itu. Aku sengaja mengambil fotonya dan melaporkannya kepada Brian. Hal itu membuat Brian marah. Olivia bertingkah sok alim di hadapan kami tapi saat Darren Willson yang menyentuhnya, gadis itu diam. Tidak berapa lama, Vincent menghubungi kami, mengatakan jika Olivia Phyllida sedang bersamanya. Lantas, kami pun segera menyusul. Saat itu, kami juga sedang di bawah pengaruh alkohol. Kami kembali beraksi melakukan perbuatan bejat kami. Vincent lah orang pertama yang melakukannya. Dia sudah selesai saat kami datang. Brian pun mengambil giliran setelah Vincent menepi. Aku masih ingat apa yang dikatakan Vincent malam itu. Dia masih saja begitu sempit."


Olivi tersulut amarah. Ia bisa merasakan apa yang dirasakan Oleshia karena sebelum Oleshia mengalami hal tersebut, ia sudah mengalaminya terlebih dahulu. Raungannya yang memohon dan mengiba diabaikan para pria bejat tersebut.


"Jangan melempar kesalahan seolah-olah hanya aku yang mencicipinya, keparat!" Vincent melayangkan tatapan sengit kepada Dean. Ingin rasanya ia membenamkan wajah Dean kembali ke dalam air panas agar sekalian lidah pria itu melepuh.


"Harusnya kau sadar saat kau menembus dinding rahimnya. Harusnya kau tahu bahwa mereka orang berbeda!"


"Kurasa tidak akan merubah keadaan sekalipun kalian tahu." Olivia mendesis. "Manusia-manusia bedebah seperti kalian tidak akan peduli."


"Katakan, bagaimana caranya kalian membunuh adikku."


"Kami tidak melakukannya!" Jawab keduanya serempak.


Siaran tersebut ditayangkan di seluruh negeri. Brian dan Mr. President yang sedang sarapan pagi dibuat panik. Pertikaian pun terjadi. Segala makian dan ucapan kotor dilontarkan kepada Brian.


"Dasar bodoh! Tidak berguna!"


"Aku belajar darimu, Mr. Milles. Kenapa kau begitu terkejut dengan apa yang kulakukan?" Brian menyeringai. "Perbuatanmu yang bejat, suka bermain gila, aku mewarisinya."


"Anak tidak tahi diri! Bereskan masalah ini dengan segera!" Mr. Milles melempar semua yang ada di meja. Dengan berang ia meninggalkan meja makan.


Brian mengepalkan kedua tangannya. Sama seperti ayahnya, ia juga marah. Bagaimana bisa seperti ini. Kenapa Dean dan Vincent begitu bodoh?


"Tidak ada yang bersih. Pemerintahan sangatlah kotor. Presiden melakukan persekongkolan dengan terorismee untuk menguasai dunia. Senjata ilegal, prostitusi, perdagangan manusia, semuanya bisnis gelap itu dijalankan oleh presiden. Para polisi daerah juga terlibat. Brian, Fread, kalian tidak akan bisa selamat."


Dean masih saja meracau. Dengan membongkar semua kebusukan pemerintah, ia berharap nyawanya bisa diselamatkan.


Siaran selesai. Olivia beranjak dari kursinya, melangkah perlahan mendekati ibunya yang masih menjerit-jerit seperti orang gila.


"Kau dengar apa yang mereka katakan? Mereka memperkosa kedua putri yang lahir dari rahimmu. Bagaimana bisa kau menerima uang suap dari mereka, hah?" Ia menjambak rambut ibunya dengan kasar.


"Lepaskan aku, bunuh aku! Jangan menyentuhku!" Bentak ibunya.


"Harusnya kau merangkulku, memelukku dan menenangkanku. Kau justru sibuk menghabiskan uangmu. Jangan mengajariku tentang apa yang harus kulakukan kepadamu. Aku akan melakukan apa pun yang menurutku benar." Ia melepaskan tangannya dengan kasar lalu segera berbalik, beralih mendekati Dean dan Vincent.


"Maafkan kami, kumohon, Olivia. Aku rela menjadi budakmu selamanya. Tolong ampuni kami." Vincent dan Dean kembali berlutut.


Olivia menatap kedua pria itu dengan jijik. Berdirilah dan lihat aku. Dengan patuh keduanya berdiri.


"Setelah kupikirkan, ternyata kalian tidak layak mendapatkan maaf. Benar atau tidak?"


Vincent dan Dean mengangguk. "Ya, kami tidak pantas dimaafkan."


"Jadi, katakan apa yang harus kalian lakukan untuk menebus kesalahan kalian yang menjijikkan itu? Oh tidak, bukan itu pertanyaannya. Vincent Trey, katakan hukuman apa yang layak menurutmu didapatkan Dean Jacob?"


"Kenapa aku?! Vincentlah yang lebih layak dihukum, Olivia! Dialah yang membuat adikmu mati. *********** lah yang harus dipotong!!'


"Ouch! Idemu mengerikan sekali," Olivia bergumam malas. "Tapi aku suka." Ia memberikan gunting kepada Dean. "Tolong lakukan untukku, please."


"Tidak! Tidak! Jangan lakukan itu, kumohon, Oliv." Vincent berlari, menghindar. Tapi sekeras apa pun ia berlari, ia tidak akan selamat. Mereka hanya terkurung di dalam ruangan yang tidak memiliki celah untuk kabur.


Olivia memberi perintah kepada anak buahnya agar menahan Vincent dan melucutii pakaian pria itu.


"TIDAAAKKKKK!!!!!"


Dean berhasil melakukan tugasnya. Benda itu tergeletak tidak berdaya di lantai kotor tersebut. Para tikus menjijikkan segera menyerbu benda yang mungkin mereka kira adalah sebuah sosis. Olivia tertawa terbahak menyaksikan penderitaan Vincent.


"Dasaar pelacuur tidak tahu diri!!"


Olivia menghentikan tawanya, dengan langkah lebar ia menghampiri Vincent, kemudian mencengkram wajah pria itu. "Ambillah air mendidih itu dan minum sampai lidahmu melepuh dan tenggorokanmu terbakar."


Selesai. Vincent mati dengan cara mengerikan.


"Bagikan vidio menyenangkan itu kepada Brian dan Fread. Aku menunggu waktu yang pas untuk bersenang-senang dengan mereka."


"Hai, Dean? Sudah siap untuk mati?"