
"Kau hanya pergi berlibur untuk sementara, bukan untuk meninggalkan negara ini selamanya." Austin meminggirkan mobil. Menatap pemakaman yang membentang di hadapan mereka. Siapa lagi yang mereka kunjungi jika bukan kekasih hantu saudarinya. Terkadang, Austin berpikir jika Lexi begitu naif, tapi terkadang, ia begitu bangga kepada saudarinya tersebut yang memiliki cinta dan keteguhan yang begitu tulus terhadap seseorang. Bagaimana bisa perasaannya tidak berkurang sama sekali meski cinta pertamanya tersebut sudah dinyatakan meninggal. Adakah wanita lain di luar sana yang memiliki cinta yang hebat seperti saudarinya. Jika ada, ia menginginkan satu.
"Aku harus berpamitan," Lexi mendelik kesal. Jika Darren ada, ia lebih suka meminta Darren yang mengantarnya. Darren hanya akan diam tidak memberikan protes sama sekali.
"Kurasa ini perbuatan yang sia-sia."
"Tidak ada yang sia-sia, Aus! Aku akan pergi selama berhari-hari atau mungkin berminggu-minggu. Arwahnya akan bertanya-tanya kenapa aku tidak pernah datang mengunjunginya. Aku tidak ingin membuatnya bingung dan bimbang. Jadi kau tunggulah di sini. Aku hanya sebentar."
"Jika kau lama, aku akan meninggalkanmu."
"Kau tidak akan berani melakukannya." Lexi segera turun dari mobil. Berjalan melewati makam demi makam hingga akhirnya ia berhenti di makam Steven.
"Hai, aku datang." Seperti biasa ia menyunggingkan senyum cerah bahagia, seolah tidak ada beban dalam hidupnya. "Apa kabar?" Lexi sadar jika ada yang mendengarnya mungkin orang tersebut akan menganggapnya gila. Berbicara kepasa batu nisan, memangnya apa faedahnya? Lexi akan merasa lebih baik dan suasana hatinya akan tenang. "Aku punya cerita." Suaranya mulai lirih. Jemari lentiknya mengusap batu bertuliskan nama Steven.
"Apakah aku sudah pernah mengatakan jika aku bertemu dengan pria yang memiliki nama yang sama denganmu juga berhasil membuat hatiku terusik? Jangan marah, kau tetap pria yang mendominasi relung hatiku. Hanya saja tidak kupungkiri dia berhasil mendobrak pertahananku. Ya, dia memang sangat mengagumkan. Tapi favoritku masih pria berkaca mata minus." Biasanya Lexi akan tersenyum malu-malu seolah Steven memang sedang duduk di hadapannya, mendengarkan segala curahan hatinya sambil memandangi Lexi dengan tatapan teduh dari balik kaca mata. Tapi kali ini, wajah Lexi terlihat murung. Tawanya hanya tampil saat ia baru datang.
"Kau lihat benjol di jidatku. Ini sangat sakit. Aku hampir mengalami kecelakaan. Dan ini luka yang kuterima. Andai saja mobil itu menyeret tubuhku, mungkin kita sudah bisa bertemu. Kita akan berada di alam yang sama. Kau tahu siapa yang menyelamatkanku?"
Lexi menelan salivanya yang terasa alot. Matanya mulai perih. Linangan air mata terlihat menggenang. "Namanya Oleshia Phyllida. Pasti kau merasa tidak asing?" Senyum kecut terbit di bibirnya. 'Ya, Steven. Dia adalah saudari kembar Olivia. Apakah kau mengetahui jika Olivia memiliki saudari? Ah, apa yang tidak kau ketahui tentangnya. Hubungan kalian sangat baik satu sama lain." Hatinya perih mengatakan hal itu. Kapan kira-kira ada pria yang akan mengerti dirinya. Yang mencintainya dengan tulus. "Sepertinya aku sudah pernah mengatakannya atau mungkin belum? Ah, aku lupa. Pikiranku sedang tidak baik-baik saja. Aku kacau. Pria yang membuatku tertarik, aku memintanya menjadi kekasihku. Kuharap kau cemburu." Ia kembali tersenyum miris karena ia tahu Steve tidak akan cemburu. Dia bukan selera pria itu. "Tapi kisah kasih kami harus berakhir di menit ke sepuluh. Ia menorehkan luka yang cukup dalam di waktu yang sesingkat itu. Dia pria brengsek yang sangat suka bermain hati. Dia membuatku terlihat buruk." Lexi membiarkan kristal bening itu meluruh membasahi wajahnya. Ulu hatinya seperti disayat-sayat mengingat ucapan Oleshia yang menyebutnya murahan. Lexi sangat sensitif dengan kata itu. Karena apa? Karena ia terlahir dari rahim wanita yang memang berprilaku seperti itu. Murahan. Lexi khawatir jika tanpa sadar ia menerima warisan itu dari ibunya. Benarkah ia sangat murahan? "Sangat buruk." Lexi menundukkan kepala, bahunya berguncang hebat. Kenapa kisahnya cintanya seburuk ini? Apakah ini karma yang harus ia terima karena kejahatan yang dilakukan orang tua kandungnya? Terkadang ia berpikir seperti itu. Jika demikian, bukankah ia memang harus menerimanya dengan lapang dada?
"Aku merasa dipermainkan. Sepertinya aku harus menjauhi pria yang bernama Steven. Steven seperti kutukan yang membuat hatiku jungkir balik, kacau dan berantakan. Maaf, aku sedang marah, sedang sakit hati. Aku tidak tahu harus meluapkannya kepada siapa karena aku takut melihat pandangan mereka. Sementara kau, aku tidak bisa melihatmu, bahkan jika kau ingin mencekikku, kau tidak akan mampu menyentuhku." Entah Lexi sedang serius dengan ucapannya atau sedang bergurau dengan sengaja meledek Steven untuk mencairkan suasana hatinya. "Aku akan pergi berlibur selama beberapa hari, atau mungkin berminggu-minggu atau bahkan berbulan-bulan. Entahlah. Kuharap suasana hatiku sudah membaik saat aku pulang berlibur. Menjaga hatiku tetap stabil itu sangat penting agar otakku waras, Steve. Jadi, selama aku pergi, tolong rindukan aku. Rindukan aku sebanyak-banyaknya sampai kau benar-benar tersiksa." Lexi menyudahi acara curhatnya. Ia membuka tasnya, mengambil tisu juga bedak. Penting baginya untuk touch up menutupi mata sembabnya. "Aku semakin cantik, bukan?"
Di waktu yang sama di tempat yang berbeda terlihat Steve sedang mengawasi titik lokasi Lexi. "Pemakaman lagi. Sampai kapan ia terus berkabung dan mengunjungi makam palsu itu."
"Sampai kau mengikrarkan bahwa kau sesungguhnya masih hidup." Beth menimpali.
"Apa yang dia lakukan selama 70 menit di sana?"
"Tentu saja mengutukmu!"
Steve mengangkat kepala, menatap malas pada Beth yang selalu sengaja mengeluarkan kalimat-kalimat sumbang yang ia akui selalu berhasil membuat darah gulanya meningkat.
"Kau tidak ingin mengunjungi Willson? Menyetor sampanye, cicilan permintaan maaf?"
"Ck!" Steve berdecak kesal. Ia menyesali kekonyolannya itu. Harga dirinya tercoreng di depan musuhnya.
Pintu ruangan terbuka, Sam melewati ambang pintu. Melenggang santai. "Kudengar Darkness akan mengadakan pertemuan di salah satu hotel ternama. Ada yang berniat bergabung? Sepertinya kelompok itu benar-benar ada."