H.U.R.T

H.U.R.T
Aku Menolak



Untuk Tiwi, Semangat!


..


..


"Lexi.."


"Hmmm?"


"Jangan berikan hatimu pada siapa pun."


"Termasuk padamu?"


"Itu pengecualian," Steve mengangkat tangan Lexi dan membawanya ke mulutnya.


"Aku tahu banyak pria yang menyukai juga mencintaimu, tapi percayalah, hanya aku yang akan tetap mencintaimu sekalipun kau mencintai pria lain."


Steve menatap intens sorot iris tersipu milik Lexi. Pria itu tahu jika ucapannya baru saja menyentuh relung hati gadis itu. Sangat mudah bagi Steve membaca isi pikiran Lexi. Ia sudah terbiasa dikelilingi wanita-wanita yang menaruh harapan padanya. Gadis polos seperti Lexi tidak akan bisa menyembunyikan perasaannya dengan benar. Meski tahu jika di dalam hati gadis itu bukan hanya ada Steven Percy, tapi juga Steven Ivarez, tidak lantas membuatnya besar kepala. Banyak hal yang harus dilalui untuk mencapai ending dalam cerita mereka. Dan rintangan itu sungguh baru saja akan dimulai.


Pernyataan ini sebenarnya terlalu cepat. Tidak seharusnya ia membuat dirinya goyah dengan mengumumkan perasaannya berulang kali kepada Lexi yang nantinya akan berujung memberi harapan fana pada Lexi.


"Apakah ini juga suatu pernyataan cinta? Kupikir pernyataan di toilet hanya sekedar angin lalu yang biasa terlontar dari mulut seekor buaya."


Steve menipiskan bibirnya. Senyumnya benar-benar membuat candu.


"Aku hanya mengatakan apa yang kurasakan dan kuharap kau mengingatnya suatu saat nanti."


Ya, suatu saat nanti. Seperti yang dikatakan Beth, cerita mereka tidak akan mudah. Lexi akan tahu siapa dirinya sesungguhnya dan Olivia tidak akan tinggal diam. Masalah Austin juga akan mempengaruhi hubungan mereka. Dan yang pasti, Lexi akan merasa dibohongi oleh semuanya. Steve sudah mempersiapkan diri akan kekecewaan besar yang kelak akan dirasakan Lexi. Entah itu karena kebohongannya atau juga tindakan ayahnya yang mengantar Steve menjadi seperti sekarang.


Jika memungkinkan, Steve sangat tidak ingin Lexi terlibat dalam lingkaran masalah yang ada. Namun, sialnya Lexi merupakan target empuk bagi lawan untuk melumpuhkan mereka.


"Apakah kau mengatakan hal serupa pada kekasihmu?"


"Kau lah kekasihku."


"Aku bukan kekasihmu!"


"Jadi kau sungguh tidur dengan Harry?"


"Pembahasan macam apa ini?"


"Aku juga tidur dengan Oliv,- dengan Oleshia selama hitungan tahun. Kami partner yang baik dalam urusan ranjang."


Lexi menarik tangannya dari genggaman Steven, pria itu menahannya dan semakin memperat genggamannya.


"Aku pria normal yang tidak bermoral. Seperti yang kau katakan having sexx adalah hal yang biasa bagi kalangan orang-orang brengseek seperti kami. Tapi apa kau tahu perbedaan having sexx dengan making love?"


"Tidak ada. Sama saja. Sama-sama bergulat di atas ranjang," Jawab Lexi dengan nada ketus. Gadis itu mulai kesal karena terbakar api cemburu. Otak cantiknya mulai membayangkan Steve mencumbu Olivia.


"Having sexx, dilakukan hanya untuk menyalurkan hasrat, gairah, birahi atau entah apa lah namanya. Tidak ada perasaan di dalamnya. Friends with benefit, one night stand, semuanya merujuk pada hal itu. Aku pria normal, namun tidak ingin membuang-buang waktu dengan mengencani wanita hanya untuk mendapatkan cinta satu malam. Ini merepotkan menurutku dan aku tidak bisa menjamin kesehatan mereka," kelakarnya saat menemukan wajah Lexi yang bergidik jijik.


"Lalu bagaimana dengan making love?"


Lexi segera menggigit lidahnya begitu pertanyaan itu meluncur dari mulutnya. Steve menatapnya dengan kilatan mata geli.


"Hm, ini sudah malam. Sebaiknya kau pergi. Aku ingin tidur."


"Pertanyaanmu belum kujawab." Lagi, Steve mengecup punggung tangan gadis itu.


"Kurasa tidak perlu. Menurutku keduanya sama saja."


Steve menggelengkan kepala, "aktivitas bercinta melibatkan cinta. Bercinta adalah seni yang dibentuk dua orang dengan perasaan dan emosi mendalam satu sama lain. Ada perhatian juga komitmen. Rasanya juga akan berbeda. Kau ingin mencobanya?"


"No, thanks." Lexi memutar manik indahnya. "Tapi, omong-omong, kenapa kau menjelaskan ini semua kepadaku? Kau takut aku salah faham?"


Steve segera beranjak duduk. Kini keduanya berhadapan.


"Apa kau salah faham?"


Lexi menggeleng, "Kau bukan kekasihku. Untuk apa aku salah faham. Sepuluh tahun lalu aku juga bahkan belum mengenalmu. Aku tidak memiliki kapasitas untuk cemburu atau menghakimi."


Steve melebarkan senyumnya mendengar jawaban bijak yang keluar dari mulut Lexi. Kedua maniknya menatap teduh iris lembut yang mampu membuat pria mana pun bertekuk di hadapannya. Lexi adalah gadis langka di tengah era gempuran para wanita-wanita murahan yang rela melakukan apa pun hanya demi mendapatkan kesenangan, kepuasan semata. Andai Lexi seperti gadis kebanyakan, niscaya gadis itu akan membuka banyak lapak peternakan. Selain cantik dan kaya, Lexi selalu mampu membuat nyaman orang-orang di sekitarnya. Lexi memiliki hati lembut yang sangat rapuh.


Jika Lexi membuka hatinya sedikit saja, Steve yakin akan banyak pria yang patah hati karena gadis itu sudah memberi kesempatan pada satu pria beruntung. Namun, sampai detik ini Lexi tidak memberi ruang sedikit pun pada pria yang berharap dan bermimpi untuk mempersuntingnya. Bahkan seorang Pangeran Harry yang tidak memiliki cacat, enggan untuk Lexi beri kesempatan. Hanya Steve yang tahu alasan di balik sikap Lexi tersebut. Jawabannya adalah dirinya. Bolehkah ia berbesar kepala?


"Aku mengantuk."


"Tidurlah kalau begitu," Steve membantu Lexi untuk berbaring. Namun, gadis itu menolak, Lexi kembali duduk.


"Aku akan tidur jika kau sudah pergi."


"Masalahnya aku tidak akan pergi."


"Kenapa kau tidak pergi?"


"Karena aku akan menginap di sini untuk malam ini."


"Enak saja!" Lexi melompat dari tempat tidur. Ia menarik tangan Steven agar beranjak dari ranjang miliknya, menyeret pria itu ke arah balkon.


"Hanya karena aku membiarkan kau tidur di atas pangkuan, bukan berarti aku sudah memaafkanmu kerena sudah membuatku patah hati di menit ke sepuluh kita menjalin hubungan. Aku perlu menjaga hatiku karena harus kuakui padamu jika aku adalah gadis yang sangat bodoh jika sudah berurusan dengan cinta. Aku pernah patah hati hingga menjadi serpihan yang sulit untuk disatukan kembali. Dengan luka yang ia torehkan, aku belum sembuh seutuhnya hingga sekarang. Kukira kau adalah penawarnya, tapi ternyata kau hanya membuatku semakin terlihat buruk. Aku seperti mengalami dejavu. Gadis yang kau sebut sebagai partnermu di atas ranjang, adalah saudara yang juga berhasil mengalahkanku dalam merebut hati pria yang membuatku mengenal apa itu cinta. Kejadian ini mengajarkanku bahwa aku harus menyelesaikan masalah perasaanku terlebih dahulu dengan masa laluku sebelum aku membuka lembaran baru. Jika perasaanku yang tertaut kepadanya sudah bisa benar-benar kukendalikan, mungkin aku akan lebih siap menerima kehadiran orang lain juga segala konsekuensinya. Entah akan berakhir luka atau duka. Hatiku harus lebih kuat terlebih dahulu."


"Kau mendorongku?"


"Aku menolakmu," Lexi menyahut tegas. "Menjauhlah dariku karena wanita itu akan membuatku terlihat buruk. Aku tidak ingin dibenci oleh siapa pun."


"Aku sudah terikat padamu sejak lama. Tapi aku sadar, bukan hal yang mudah untuk memilikimu. Namun, jika kau meminta agar aku menjauh, itu adalah suatu hal yang tidak akan bisa kulakukan meski aku tahu bahwa aku adalah rindu yang paling menyakitkan bagimu. Aku sudah terlalu lama menunggu sama sepertimu. Sesungguhnya, ini sangat sulit bagiku."


Selalu, Steven meninggalkan banyak tanya di hati Lexi. Sebelum gadis itu mampu mencerna apa yang dikatakan Steven, pria itu sudah melompat pagar pembatas balkon.