
"Aku tidak ingin bertemu dokter lagi. Aku tidak mau. Itu melelahkan."
Steve tidak langsung menjawab. Ia tidak bisa mengambil keputusan untuk hal ini. Lexi masih memiliki keluarga, ia harus membicarakannya dengan mereka.
"Baiklah, untuk beberapa hari ke depan, dokter tidak akan menemui. Sebagai gantinya, aku yang akan menemanimu. Apa kau lapar?"
Steve tidak memberi celah bagi Lexi untuk melayangkan protes tentang keputusannya dengan mengalihkan pembicaraan kepada topik lain.
"Aku tidak lapar."
"Ya, tidak harus menunggu lapar baru makan. Kulihat, kau tidak menyentuh makananmu sama sekali dan kau justru membuangnya. Mom, hmm, Ibu Daphne memasaknya sambil mengkhawatirkanmu."
"Bukan berarti aku tidak menyukai masakan Ibu Daphne. Masakannya sangat enak, sungguh."
"Aku belum pernah mencicipinya,"
Tepatnya sejak 13 tahun yang lalu, imbuhnya dalam hati.
"Bagaimana jika aku keluar dan mengambil sesuatu yang bisa untuk kita makan. Atau kau lebih suka duduk bergabung bersama semuanya? Kurasa mereka akan sangat bahagia."
Tapi bagiku akan terasa canggung duduk semeja dengan Pax Willson. Lagi dan lagi ia berujar di dalam benaknya.
Steve memberi dua pilihan hingga Lexi hanya fokus pad pilihan tersebut. Cara ampuh untuk membuat Lexi lupa bahwa beberapa menit lalu gadis itu menolak untuk mengisi perutnya.
Lexi tampak berpikir sejenak, jemarinya saling meremaas, tanda bahwa ia merasa sangat cemas.
"Tapi aku lebih suka jika hanya makan berdua denganmu," Steve buru-buru manambahi dan ucapannya tersebut mendapat anggukan setuju dari Lexi.
Steve segera beranjak untuk mengambil makanan. Melihat kamar yang berantakan, ia hanya bisa menarik napas. Tugas selanjutnya adalah merapikan kamar.
"Bagaimana,- Oh, kau terluka."
Mrs. Willson lansung menyambut kehadirannya. Wanita itu masih menunggu di depan pintu. Kali ini bersama orang tuanya, Daphne.
"Ini hanya luka kecil. Lexi juga sudah mengobatinya. Dia meminta agar kau istirahat. Aku akan ke bawah untuk mengambil makanan."
"Dia sungguh memintaku untuk istirahat." Alene menyejajarkan langkahnya dengan Steve.
Steve yang menyadari hal itu langsung memperlambat langkah kakinya.
"Aku hanya menyampaikan apa yang dia katakan." Bohongnya dengan sangat natural juga meyakinkan. "Dia tidak ingin kau sakit."
"Lexi mengatakan seperti itu?"
"Hmm," Steve melintasi ruang utama. Saat Pax berdiri, terlihat ingin mengatakan sesuatu, Steve melongos pergi. Dendamnya pada pria itu masih utuh!
"Jika dia mengatakan seperti itu, baiklah, aku akan beristirahat setelah aku membuatkan makanan untuknya."
Steve hanya menganggukkan kepala sementara kakinya terus melangkah menuju dapur. Sampai di dapur, Alena langsung menyiapkan apa yang dibutuhkan Lexi. Steve juga melakukan hal serupa. Membuat juice kesukaan gadis itu. Juice buah persik.
"Kau sudah makan?" Steve bertanya kemudian.
"Aku akan makan setelah ini."
"Mom, apakah Lexi pernah menginap?" Kali ini Steve bertanya kepada ibunya yang juga mengukuti mereka ke dapur.
"Ya, sesekali dia menginap. Tidak sering, tapi pernah."
"Kamar mana yang ia tempati?"
Steve memang belum sempat menjelajahi rumah baru mereka. Ralat, rumah baru baginya. Lokasinya masih di tempat yang sama. Hanya saja dibangun lebih besar dan sekelilingnya juga jauh dari kata kumuh. Berubah 180 derajat dari yang ia ingat.
"Kamarmu."
Gerakan tangannya terhenti saat mendengar jawaban tersebut. Ia bahkan lupa dimana letak kamarnya.
"Aku membutuhkan pakaiannya juga beberapa perlengkapan mandi yang biasa ia gunakan, apakah aku akan menemukan barang-barang itu di kamar?"
"Ya. Lexi mengisi kamar itu seperti kamarnya sendiri."
"Sebaiknya aku membawanya pindah ke situ. Kamar yang ia tempati sekarang sungguh sangat berantakan."
"Ya, itu mungkin lebih baik. Dia akan lebih tenang jika berada di kamar Steven."
"Dia belum mengetahuinya."
"Dan sebaiknya tidak usah mengetahuinya," Alena menimpali. "Itu hanya akan menambah daftar luka di hatinya dan kemungkinan kenyataan ini justru menjadi pukulan terbesar baginya. Kita semua mengetahui kenyataan ini. Lexi akan merasa terasing dan menduga kita bersekongkolan menyembunyikan hal ini."
Yang dikatakan Alena benar adanya. Daphne dan Steve terdiam, tidak memberi bantahan.
"Lagi pula, dia menyukaimu. Menyukai sosokmu yang sekarang. Biarkan Steven yang dulu tetap hidup di hatinya. Biarkan ia mengenang Steven Percy sebanyak yang ia inginkan. Ingatannya tentang Steven bisa memberikan kesenangan juga kekuatan tersendiri baginya."
"Yang kulihat dia terbelenggu." Steve berkata.
"Kau benar. Kata itulah yang lebih tepat. Dibelenggu. Dan mengetahui fakta bahwa pria yang ia sebutkan namanya di setiap napasnya, ternyata masih hidup, bukankah hal itu akan membuatnya terlihat semakin buruk. Lexi akan merasa dirinya gadis paling bodoh. Saat ini, hanya kau yang ia percayai. Tolong jangan merusaknya. Bukankah pada akhirnya, Lexi tetap jatuh hati pada pria yang sama. Jadi, kumohon sembunyikan hal itu demi kebaikan Lexi. Genggam terus kepercayaannya. Aku tahu ini sangat egois karena identitasmu amatlah sangat penting untukmu, kau juga perlu membersihkan namamu. Hanya saja, aku tidak akan sanggup melihat Lexi hancur untuk kesekian kalinya."
Alena pun segera pergi setelah mengatakan hal tersebut.
___
"Apa yang kau lakukan?"
Steve melangkah lebar begitu melihat Lexi sedang membersihkan kamar, memunguti pecahan lampu meja yang dia lempar tadi. Steve meletakkan nampan di atas meja, lalu menarik Lexi agar berdiri.
"Kau lama sekali. Jadi, aku memutuskan untuk membersihkan kamar. Ini juga karena ulahku."
"Duduklah. Aku akan membereskannya nanti." Steve membersihkan telapak tangan gadis itu menggunakan bajunya.
"Berhubung tanganmu kotor, aku yang akan menyuapimu."
"Kau perhatian sekali. Bisa-bisa aku luluh juga tergila-gila padamu."
"Itulah tujuan dari semua perhatian yang keberikan," Steve tidak mengelak justru membenarkan. "Agar kita berdua sama-sama gila dan tidak bisa hidup tanpa satu sama lain."
"Ini jebakan!"
"Ya, perangkap. Sekarang buka mulutmu, kita akan melanjutkan pembahasan kita tentang jebakan setelah kau makan dan mandi. Aku akan menginap malam ini."
"Kau tidur di mana?"
"Tentu saja bersamamu."
"Kurasa ini juga termasuk dalam kategori perangkap."
"Ini namanya cerdas. Aku memanfaatkan semua kesempatan." Steve mengulurkan sendok, pun Lexi membuka mulutnya. Hening sejenak karena Lexi harus mengunyah makanannya dengan baik.
"I-ini bukan masakan Ibu Daphne. Tapi masakan Mom."
"Yeah, lidahmu peka sekali." Ia mengulurkan juice buah persik. Bertanya-tanya apakah Lexi juga ingat dengan juice hasil racikannya.
"Juice buah persik?" Lexi bertanya ragu.
Steve hanya menganggukkan kepala.
"Aku sudah lama berhenti meminum ini. Apakah Ibu Daphne yang membuatnya?"
"Aku yang membuatnya."
"Oh, benarkah? Aku akan mencicipinya." Lexi meraih gelas tersebut, membawanya ke dalam mulutnya.
"Bagaimana rasanya? Enak?"
"Hmm, lumayan." Lexi meletakkan kembali gelas tersebut ke atas meja.
"Lumayan?"
"Ya, rasanya lumayan."
"Tidak mengingatkanmu pada seseorang?"
Lexi mengembuskan napas berat. Wajahnya kembali terlihat murung.
"Aku sedang mencoba membangun hubungan denganmu dengan mengabaikan pria di masa laluku. Tapi kau justru mengingatkannya." Lexi mendengus kesal. "Juicenya sama seperti hasil buatannya. Aku mencoba untuk menyukaimu tanpa mengaitkannya dengan dia. Tapi kenapa setiap tingkah lakumu, tindakanmu justru membuatku mengingatnya. Jika begini terus, aku tidak yakin hubungan kita bisa dimulai. Rasaku terhadapnya terlalu menggunung. Aku tidak ingin minum juice buah persik lagi."