
"Kau belum menyentuh makananmu?"
Arthur melintasi ruang kamar, melihat Lexi duduk termenung di atas ranjang dengan tatapan kosong mengarah ke jendela. Ia seperti seorang putri yang dikurung di dalam sebuah castle. Tidak ada kehidupan yang terdengar. Sejauh mata memandang, ia hanya bisa melihat langit.
"Aku sedang bertanya kepadamu."
Lexi berjengit kaget saat Arthur menyentuh lengannya. Refleks ia menjauh, menatap pria itu dengan tatapan penuh kemarahan.
"Jangan menatapku seperti itu, Lexi," erangnya dengan nada terluka yang dibuat-buat.
"Lepaskan aku. Aku ingin pulang!" Lexi berkata sinis.
Arthur menggaruk hidungnya, tidak menyangka jika gadis yang ia kagumi ini memiliki sikap keras kepala.
"Kita akan pulang, nanti. Setelah semua urusanku di sini selesai. Makanlah, aku punya kabar baik untukmu."
Lexi tidak butuh kabar apa pun, ia hanya ingin pulang ke rumah mereka. Hanya itu yang ia butuhkan. Persetan dengan kabar baik.
"Dengarkan aku, Lexi."
Lexi bungkam seribu bahasa. Ia tidak akan makan. Tidak akan mau menyentuh apa pun yang diberikan oleh pria itu. Entah kapan lelucon dalam hidupnya berakhir. Ia mengira setelah menikah dengan Harry dan pindah ke Spain, semuanya akan berakhir. Ternyata takdir hidupnya tidak semulus itu. Lelucon menggelikan kembali muncul.
Arthur Cony, pria yang dulu ia hormati dan salah satu guru yang ia favoritkan karena parasnya yang rupawan ternyata memiliki obsesi kepada dirinya dan pria itu memiliki hubungan dengan ayah biologisnya. Arthur bahkan menunjukkan wajah Gerald kepadanya, wajah yang selama ini tidak pernah ia lihat.
Lexi baru menyadari jika dirinya mewarisi iris mata dari ayah biologisnya. Bukan hanya itu, hampir semuanya. Warna kulit juga rambut yang bergelombang. Darren ternyata tidak mewarisi apa pun dari ayah mereka. Darren mewarisi gen Alena.
Ada kebencian saat melihat foto ayahnya, pria yang sudah memperkosa ibunya, Alena. Tapi Lexi juga tidak menampik jika ia merasakan darahnya berdesir melihat sosok yang berperan menghadirkannya ke dunia ini.
Ia tahu sejarah orang tua biologisnya yang terobsesi kepada orang tua angkatnya, Pax dan Alena. Tapi bagaimana kematian keduanya, sungguh ia tidak mengetahuinya. Apakah yang dikatakan Arthur benar adanya atau ini merupakan trik yang dilakukan Arthur untuk menghasutnya agar membenci orang tua angkatnya.
"Makanlah dan aku akan memberitahumu kabar baiknya."
"Aku tidak lapar."
"Aku bisa memaksamu, tapi aku tidak ingin melakukannya," ucap Arthur dengan senyuman manis tercetak di wajahnya.
Lexi menoleh dengan sorot mata tajam, pria itu membalasnya dengan tatapan teduh dan memuja. Lexi buru-buru memalingkan wajah karena merasa muak. Rasa hormat dan kagumnya kepada pria itu sirna sudah.
Arthur beranjak dari atas ranjang, ia mengitari tempat tidur, membuka laci nakas dan mengambil beberapa album dari sana. Pun ia membawanya untuk ditunjukkan kepada Lexi.
"Mungkin kau mengira jika aku hanya mengarang cerita tentang ayahmu. Lihatlah, ini." Arthur menyodorkan album tersebut dan Lexi hanya bergeming. Melirik pun tidak.
Arthur tidak menyerah untuk menghasut gadis pujaannya itu. Ia mengambil beberapa lembar foto. "Ayahmu dan Alena adalah pasangan yang serasi. Lihatlah, betapa bahagianya mereka di foto ini. Mereka tumbuh bersama sejak kecil. Semuanya berjalan mulus sebelum akhirnya Pax muncul dan merebut Alena."
Lexi akhirnya goyah, ia melirik sekilas. Ia melihat ibunya Alena saling merangkul dengan pria yang bernama Gerald tersebut. Keduanya sama-sama tertawa menghadap kamera.
Lexi kembali memalingkan wajahnya. Ia tidak ingin memikirkan apa pun. Ia harus menjaga kewarasannya. Rasa bersalah atas kematian orang-orang di resepsi pernikahannya masih menghantuinya, membuatnya diserang rasa bersalah luar biasa.
"Kau tidak suka makanannya?"
"Aku tidak suka di sini! Aku tidak menyukai apa pun yang ada di sini!"
"Ck! Ini salah Sonya. Dia pantas dihukum. SONYA!!"
Seorang wanita masuk dengan tergopoh-gopoh. Lexi menebak jika wanita itu seusianya. Terlihat lemah, cemas dan takut. Wajah pucatnya tidak menutupi kecantikan wanita itu sama sekali.
"Ya, kau memanggilku?" Bibir wanita itu gemetar menyiratkan ketakutan yang luar biasa.
"Apa yang kau masak ini?! Lexi tidak menyukainya, jalaang!"
Prang!!!
Arthur melempar baki berisi makanan ke wajah wanita itu.
"Dasar bodoh! Tidak berguna!"
"A-aku akan memasaknya kembali," ucap wanita itu terbata-bata.
Arthur mengikis jarak antara dirinya dan Sonya. Ia mengangkat dagu wanita itu dengan kasar. Pegangannya berubah menjadi sebuah cengkraman kuat. Manik Arthur menyala marah.
"Aku akan mencekik lehermu jika Lexi menolak menyentuh makanannya."
Ancaman itu sebenarnya bukan hanya kepada Sonya, tetapi juga kepada Lexi yang keras kepala. Arthur tidak mungkin membentak atau pun menyakiti Lexi tapi Arthur bisa melakukan apa pun pada orang lain yang bisa membuat Lexi merasa bersalah dan pada akhirnya akan menurut padanya.
"Pergilah!" Arthur mendorong wanita itu hingga tersungkur ke lantai.
Arthur berbalik, wajah mengerikannya berubah dalam sekejap. Kini yang terlihat adalah wajah kalem seolah tidak ada dosa. Pria itu kembali menyunggingkan senyum ke arah Lexi yang bergeming, terlalu kaget dengan apa yang ia saksikan baru saja.
"A-apa yang kau lakukan?"
"Memberi hukuman kepada mereka. Maafkan aku, dia memang sangat payah. Dia pantas mendapat hukuman."
"Kau melukainya," Lexi benar-benar tidak menyangka jika seorang Arthur adalah pria berdarah dingin yang sangat kejam.
Arthur mengangguk, tidak menyangkal tudingan Lexi. "Aku akan melakukan hal yang lebih buruk jika kau tidak menurutiku, Lexi sayang." Arthur berdiri di hadapan Lexi, mengulurkan tangan untuk membelai rambut Lexi.
Lexi memundurkan kepalanya, menolak sentuhan pria itu.
Arthur menarik kembali tangannya meski sangat kesal dengan penolakan yang dilakukan gadis itu.
"Aku benci penolakanmu, Lexi. Aku sudah menunggu cukup lama untuk bersamamu," gumam pria itu dengan nada berat terkesan malas.
"Peduli setan dengan penantian konyolmu itu. Kau adalah manusia yang paling gila yang pernah kutemui. Sadarlah! Kau sudah menikah,"
Arthur tertawa, "Ya, aku tidak menyangkalnya. Sonya adalah wanita yang kunikahi, terpaksa kunikahi."
Lexi terperanjat, "Kau baru saja melukainya," ucapnya tidak percaya. Arthur benar-benar pria tidak waras. Pantas saja Sonya terlihat begitu tertekan. Suaminya adalah monster berwujud manusia.
"Apa menurutmu aku peduli, Lexi sayang?" Arthur menyeringai.
"Aku sudah menikah. Suamiku pasti akan menjemputku." Ya, Lexi berharap begitu.
Tawa Arthur lepas seketika. "Ini membuatku marah. Suami beberapa menitmu itu ternyata memiliki umur yang panjang. Peluruku tidak berhasil membuat nyawanya melayang. Tapi tidak masalah, kita tunggu kehadirannya dan aku benar-benar akan melenyapkannya di hadapanmu, Sayang."