H.U.R.T

H.U.R.T
Pohon dan Hujan



"Aku akan siap menunggumu, Lexi. Tidak perlu terburu-buru. Kita akan melakukannya begitu kau siap. Urusan anak bisa menunggu."


Tanpa sadar Lexi menghembuskan napas lega. Harry tidak membatalkan pernikahan dan Harry juga tidak bertanya kenapa karena pria itu pasti tahu alasannya. Lexi cukup berterima kasih kepada Harry atas sikap bijak pria itu. Lexi dan Harry sama-sama tidak ingin merusak suasana dengan mengingat apa yang terjadi antara dirinya dan Austin.


Lexi mengulurkan tangan, menyentuh pria itu. "Terima kasih," ucapnya dengan tulus.


Lexi semakin yakin dengan pilihannya. Ia dan Harry pasti bisa bahagia. Pasti. Ia mensugesti dirinya sendiri.


Beban di hatinya sedikit berkurang. Harry mengerti kecemasan dan bersedia menunggu. Ini langkah awal yang sangat baik.


"Habiskan makananmu, kita akan pulang setelah ini. Kau perlu istirahat. Atau kau ingin mengunjungi suatu tempat?"


Lexi menggelengkan kepala, senyum luas terpatri di wajahnya.


"Aku memang sedikit lelah. Besok kita juga harus pergi."


Ponsel Harry berdering saat pria itu hendak menyahut ucapan Lexi. Lexi memberi isyarat agar Harry mengangkatnya.


"Ini desainer perhiasan. Mungkin mereka ingin mengkonfirmasi bahwa cincin pernikahan kita sudah selesai."


"Sembari kau berbincang dengannya, aku ke toilet dulu."


Lexi segera beranjak setelah mendapat anggukan kepala dari Harry.


"Hai,"


Lexi menyembunyikan keterkejutannya melihat sosok yang baru keluar dari toilet. Olivia.


"Hai," Lexi menyapa dengan ramah. Pun ia melangkahkan kaki, masuk ke dalam toilet. Melalui lirikan matanya, ia melihat Olivia masih bergeming di pintu hingga akhirnya memutuskan bergabung dengannya.


"Habis berkencan?" Olivia menyalakan kran air, membasuh tangannya, pertanyaannya terdengar seperti basa basi.


Lexi mengangkat kepala, menatap Olivia dari pantulan cermin. Wanita itu juga melakukan hal serupa.


"Ya. Aku sedang berkencan. Menonton bioskop."


Lexi tidak bertanya kembali. Ia memang tidak ingin memperpanjang perbincangannya dengan Olivia. Ia masih tidak habis pikir apa yang ada di pikirannya saat memalsukan kematian. Bukankah itu bisa disebut sebagai tindak kriminal.


"Bersama pangeran itu?"


Sial! Olivia masih ingin berbincang dan Lexi tahu jika tidak ada alasan baginya untuk mengabaikan pertanyaan Olivia. Pertanyaan tidak akan menyakitinya dan memberi jawaban juga tidak akan melukainya. Lagipula ia tidak ingin bersikap kekanakan dengan menunjukkan ketidaksukaannya kepada wanita cantik itu.


"Ya. Namanya Harry."


Olivia tertawa, tawa yang dipaksakan tepatnya. Lexi hanya menatapnya tenang, tidak tertular dengan tawa wanita itu sama sekali.


"Akan kuingat namanya. Kudengar kau dan pangeran itu akan melangsungkan pernikahan?"


"Ternyata kau sudah sangat pikun sekali," sarkas Lexi dengan mimik datar. "Harry, namanya Harry. Aku baru mengatakannya beberapa detik lalu. Ya, kami akan menikah."


"Oh, astaga, maafkan aku. Ya, Harry. Hm, aku turut bahagia untukmu. Untukmu dan Harry." Olivia meletakkan kedua tangan di dadaanya menunjukkan ketulusannya.


"Terima kasih. Tapi undangannya terbatas, maaf, aku tidak bisa mengundangmu."


Wajah Olivia berubah bengis sebelum akhirnya wanita itu meledakkan tawanya.


"Aku tidak menemukan alasan kenapa aku harus marah untuk hal itu. Dari dulu hingga sekarang, aku dan Steven tidak memiliki hubungan apa pun."


"Dari dulu hingga sekarang kau masih memiliki rasa yang sama terhadapnya, bukan?"


Lexi tersenyum untuk pertama kalinya. Bukan senyum sinis atau penuh kepura-puraan.


"Aku tidak tahu jika kau sangat mengerti tentang perasaanku terhadap Steven. Tapi, aku berani bertaruh, cintaku tidak bertepuk sebelah tangan."


Sikap Lexi yang tenang dan ucapan yang disampaikannya secara menohok membuat Olivia terpancing amarah, hidungnya kembang kempis dengan mata menatap nyalang.


Lexi tahu jika ucapannya telah membuat Olivia marah. Memang itulah tujuannya untuk melampiaskan kekesalannya kepada wanita itu. Sebenarnya dia tidak yakin jika cintanya berbalas. Andai benar Steve merasakan hal yang sama, itu adalah salah satu yang tidak bisa ia percayai. Ia tidak akan pernah percaya Steve mencintainya bahkan sebelum semua kebohongan ini terungkap. Di benaknya sudah tertanam bagaimana penolakan yang dulu dilakukan Steve terhadapnya.


Apa yang dia katakan pada Olivia hanya semata-mata melindungi dirinya agar tidak terlalu terlihat menyedihkan di hadapan wanita itu. Ternyata ia cukup beruntung karena Olivia terpancing.


"Jika kau sangat begitu yakin, lantas kenapa kau melarikan diri dengan cara menikahi pria lain? Apa karena aku sedang mengandung anaknya?"


"Karena kau terlihat begitu menyedihkan, Oliv dan pria seperti Steve sudah bukan orang kesukaanku lagi saat ini. Perhatikan kesehatanmu dan nutrisi bayimu, karena yang kulihat ayah dari benihmu sepertinya kurang memberi perhatian terhadap kalian berdua. Aku permisi, Olive." Dengan jantung berdegup kencang, Lexi angkat kaki. Langkahnya lebar dan entah kenapa pintu begitu terasa sangat jauh


"Tunggu...."


Lexi merasakan tangannya gemetar, ia merutuki dirinya yang penakut dan sok berani. Kata-kata murahan dan jalaang adalah dua kata yang tidak ingin ia dengar.


Olivia melewatinya, berdiri di hadapannya. Manik mereka beradu dan Lexi mendadak merasa kaku.


"Oh, maaf..." Seru seseorang kepada Olivia yang menghalangi pintu masuk.


Seseorang yang baru masuk tersebut membuat Lexi menemukan kembali kekuatannya untuk kembali melangkah.


Lexi melarikan kakinya sebelum Olivia berhasil mengejarnya. Entah apa yang membuatnya takut. Apakah karena ucapannya yang terlalu kejam atau karena wajah Olivia yang terlalu bengis? Entahlah, yang ia tahu, ia harus menjauh dari wanita itu. Harus dan segera.


Bruk!


Lexi menabrak dadaa yang begitu bidang, ia mengenal aroma ini dan mulai terbiasa. Pun ia mendongak dan merasakan kelegaan seketika.


"Kau sangat lama, jadi aku datang untuk memastikan," Ucap Harry seraya mencermati wajah Lexi yang sedikit pucat.


"Kau baik-baik saja?" Harry merangkum kedua pipinya dan secepat tangannya mendarat di sana, secepat itu pula Harry menurunkan tangannya.


Lexi menggeleng, "Aku hanya sedikit lelah. Bisakah kita pulang sekarang?" ia menoleh ke belakang untuk memastikan. Ternyata Olivia tidak mengejarnya.


Entah apa yang dia pikirkan tadi saat meladeni Olivia. Cinta? Sekarang ia ingin tertawa. Cinta antara dia dan Steven sudah selesai. Lexi sudah menutup ceritanya dengan pria itu. Tidak ada lagi cinta diantara mereka. Mereka laksana pohon yang sudah mati dan air hujan. Bukankah hujan sudah tidak berguna lagi bagi pohon yang sudah mati?


Dulu, Steve sudah dianggap tiada, tapi tetap terasa hidup. Kini, Steven nyata, tapi seolah tidak nyata baginya. Meski pria itu merupakan pemeran utama dalam ceritanya, bukan berarti ia harus berakhir dengan pemeran utama tersebut. Happy ending bukan selalu tentang pemeran utama yang bersatu dan bahagia, bukan?


"Tentu saja. Mari kita pulang." Harry merangkulnya dengan ragu, khawatir Lexi merasa cemas. Namun, ketakutannya sia-sia saat melihat Lexi mencengkram kemejanya seolah gadis itu takut jatuh.


"Kau yakin baik-baik saja? Kita bisa ke dokter jika kau merasa ada yang salah."


"Aku hanya butuh tidur. Semua akan membaik setelah aku bangun. Percayalah."


Olivia menatap kepergian mereka dengan senyuman miring tercetak di wajahnya.


"Jika aku tidak bisa mendapatkan kebahagiaanku, kau pun tidak akan mendapatkan apa-apa, Lexi."