H.U.R.T

H.U.R.T
Layak Mati



Siapa yang ulang tahun hari ini? Atau kemarin ya? Maaf, saya lupa. Yuni apa Julia? Happy millad buat yang kalian yang berulang tahun hari ini atau kemarin. Doa terbaik buat kalian semuan. Khususnya untuk yang berulang tahun.


🌼


"Merdekakan aku."


Dua kalimat itu mampu membuat jantung Steve seakan berhenti berdetak. Apakah Lexi begitu tersiksa selama ini? Jika sudah terbebas dari jerat cinta Steven Percy, lantas apa yang akan ia lakukan? Membuka hati pada pria lain lalu menikah dan hidup bahagia dengan memiliki anak-anak yang lucu dan menggemaskan? Pemikiran itu membuat Steve tidak nyaman. Dipeluknya gadis itu semakin erat. Bukan untuk menenangkan Lexi, melainkan untuk dirinya sendiri. Ia merasa ingin meledak. Meledak akan rasa yang begitu tidak nyaman.


"Penjajah itu layak mati kalau begitu."


Lexi mengurai pelukan mereka, mata sayunya yang penuh dengan kristal bening memicing tidak suka mendengar pernyataan Steven. "Dia bukan penjajah dan dia memang sudah mati!"


"Kau diperbudak, itu namanya penjajah!" Steve tahu yang mereka bicarakan adalah dirinya sendiri. Tapi saat Lexi masih memberikan pembelaan kepada versinya yang merupakan Steven Percy, ia merasa kesal. Aneh bukan? Steve bahkan merasa dirinya sangat konyol.


"Bukan dia yang menjajah, tapi aku lah yang memilihnya."


"Kalau begitu kau yang bodoh!"


"Aku tidak bodoh! Tidak ada yang bodoh, tidak ada yang salah dalam cinta! Kenapa kalian tidak mengerti perasaaanku!"


Steve tercengang melihat amukan gadis itu. Mata itu kini semakin banjir oleh air mata. Hei, dia tidak serius mengatakan Lexi bodoh.


"Aku..."


"Diam! Jangan bicara padaku! Aku sedang marah. Aku sedang marah padamu. Aku sedang marah pada semuanya. Darren, dia juga sering meledekku, gadis yang merelakan bekal makan siangnya hanya demi agar pemuda itu bisa makan siang. Darren akan memberikan bekalnya untukku. Darren mengatakan aku tidak pantas buat si culun itu..."


Steve tersedak. Sudah lama ia tidak mendengar kata culun. Ya, dulu ia selalu dikatakan culun dan miskin.


"Aku tidak tahu kenapa aku tidak pantas? Apakah karena aku adalah Willson yang hidup dengan penuh kemewahan sementara dia adalah rakyat jelata. Atau karena aku adalah gadis bodoh sedangkan dia adalah pemuda yang sangat pintar. Sungguh aku tidak tahu dimana dari kedua alasan itu yang paling tepat." Lexi menyeka air hidungnya dengan kasar. Steve yang melihat hal itu, menarik dagu Lexi agar menghadap ke arahnya. Ia ambil tissue kemudian ia bersihkan jejak air mata juga air hidung gadis itu.


"Jika kasta adalah alasannya. Kenapa Jasmine dan Aladin bisa hidup bahagia? Jika yang kaya harus dengan yang kaya, kenapa Romeo dan Juliet memiliki akhir yang begitu tragis. Setiap malam aku memikirkan hal itu. Kurasa aku tidak terlalu jelek, aku sangat cantik, setidaknya itulah yang dikatakan keluargaku. Tapi kenapa dia enggan menoleh kepadaku? Apakah dia juga memandang cinta itu harus setara. Untuk itukah dia lebih memilih Olive. Astaga, kenapa aku harus membicarakan ini denganmu. Kau bahkan tidak tahu Olive siapa."


"Lanjutkan. Aku akan mendengarkan."


Lexi menggeleng, "Ini menyakitkan."


"Jangan ditahan."


"Aku merasa malu."


"Kenapa?" Steve mengernyit bingung.


"Aku ditolak beberapa kali."


"Kau tidak mencari tahu alasannya?"


"Kau tidak mendengar apa yang kukatakan barusan?" Lexi merebut tissue dari tangan Steve dan membersitkan hidung dengan kuat. Tidak ada manis-manisnya sama sekali. "Dia memilih Olive. Mereka menjalin hubungan."


"Karena mereka sama-sama pintar?"


Lexi menggeleng, "Awalnya aku mengira demikian. Nyatanya tidak. Ternyata karena aku memang tidak layak." Lexi tersenyum getir. "Aku terlahir dari rahim seorang wanita yang begitu tersobsesi dengan ayahku, Pax Willson. Segala cara ia lakukan untuk mendapatkan ayahku. Obsesi yang ia kira cinta, nyatanya menciptakan petaka untuknya. Ia hidup sangat menderita. Obsesi jelas berbeda dengan cinta. Cinta tidak bisa dipaksakan. Hingga sampai akhir hayatnya, dia tidak pernah mendapatkan hati ayahku. Ayahku kasihan dengannya. Memilih untuk tinggal di sisi ibuku karena ada aku. Nyatanya, aku pun tidak bisa menjadi alasan untuk ayahku memberi kesempatan kepada ibuku. Kembali lagi, cinta tidak bisa dipaksakan. Kupikir aku hanya terlahir dari obsesi seorang wanita kepada pria, nyatanya aku juga lahir dari obsesi seorang pria kepada wanita. Ayah biologisku begitu mencintai ibu Alena hingga melakukan hal gila demi mendapatkan ibuku seutuhnya. Nyatanya, kegilaannya itu membuat ibu Alena semakin menjauh dan bahkan membencinya. Cinta itu indah tapi mengerikan. Aku tidak ingin seperti mereka. Mommy dan Daddy tidak ingin aku berakhir dengan sangat menyedihkan. Akhh...." Suaranya tercekat di tenggorokan. Kedua tangannya meremaass dadaanya dengan kuat. Lexi terlihat begitu tersiksa. "Mereka mencintaiku, sangat mencintaiku. Me-mereka ingin aku hidup dengan bahagia. Mereka adalah korban dari orang tuaku. Tapi mereka mencintaiku dengan tulus. Ha-hanya saja, cinta mereka terlalu berlebihan. Hanya karena tidak ingin sesuatu yang buruk terjadi denganku yang begitu mencintai pemuda itu, ayahku mengirimnya ke tempat mengerikan. Tempat yang justru merenggut nyawanya. Aku lah penyebabnya. Aku lah penyebabnya. Aku memang tidak layak mendapatkan cinta siapa pun. Ini petaka. Ini kutukan. Semua mengutukku dan aku memang layak mendapatkan kutukan terburuk sekali pun."


"Lexi..." Tangan Steve terulur, berniat untuk menarik wanita itu ke dalam pelukannya. Namun, reaksi Lexi di luar dugaan. Gadis itu melompat berdiri dan menjauh. Matanya menatap nyalang, penuh emosi dan penderitaan.


"Jangan menyentuhku! Manjauh dariku!" Lexi mendadak histeris. "Darren tidak menyukaimu, artinya kau pria yang berbahaya. Kau menodongkan pistol kepada ayahku, kau bukan pria yang baik. Kau memintaku sebagai kekasihmu, tapi kau berani membuat masalah di rumahku. Kau pasti memiliki tujuan, bukan? Kau pasti ingin memanfaatkanku? Semua yang dekat denganku pasti memiliki maksud terselubung. Lily mengatakan aku bukan teman yang baik. Apakah ada teman yang tidak baik? Isla menghantui bahkan setelah ia meninggal. Gadis itu selalu menggunakan kartuku untuk bersenang-senang semasa hidupnya, aku tidak keberatan asal dia senang. Aku tidak suka dibenci. Lalu Olivia, dia mengatakan aku jalaang disaat aku mendukung hubungannya dengan si culun itu. Aku tidak berniat merebutnya! Aku hanya mengatakan perasaanku tidak meminta si culun membalasnya. Lalu kenapa pria itu melayangkan tatapan muak kepadaku seolah aku ini sangat menjijikkan. Dia bahkan membuang hadiah pemberianku saat aku mengunjunginya ke tempat mengerikan itu. Tidak menghargai usahaku. Aku mendapatkan beberapa luka di tubuhku. Hatinya begitu keras, tidak terenyuh sama sekali. Dia memang layak mati, semuanya memang layak mati, semua harus mati! Aku membenci semuanya. Kalian semua harus mati! Arggghhhh....."


Steve terhenyak, membatu di tempat. Ingin rasanya ia berlari, merengkuh gadis itu, tapi di hadapannya seperti ada tembok besar yang begitu tebal dan tinggi, sulit untuk menjangkau Lexi.


"Tapi, aku juga layak mati. Aku lah penyebab semuanya." Lirih Lexi dengan suara yang terdengar sangat memilukan. Lexi menyeret tubuhnya ke sudut ruangan. Menekuk lututnya, memeluknya dengan erat lalu membenamkan wajahnya di atas lutut. "Aku layak mati."