
Steve menghentikan mobil di depan sebuah salon ternama. Lexi menoleh sekilas ke arah bangunan tersebut lalu mengembalikan tatapannya kepada Steve.
"Apa yang kita lakukan di sini?"
"Merawat kukumu," turun dari mobil dan segera mengitari mobil tersebut, membuka pintu untuk Lexi.
Gadis itu mengerjap, tindakan Steve selalu berhasil membuatnya terkejut. Ia menunduk, memeriksa kukunya yang bentuknya memang sudah tidak teratur. Kemudian ia kembali menatap wajah Steve yang tiba-tiba sudah mencondongkan tubuh, membantunya melepaskan sabuk pengaman.
"Bagaimana kau tahu kuku..."
"Radarku selalu menyala jika menyangkut dirimu. Turunlah."
"Apakah ini merupakan bagian dari rencanamu untuk mencuri semuanya dariku?"
"Ini bagian untuk memanjakanmu. Kuku-mu harus dirawat."
Ya, Lexi sebenarnya sudah membuat janji dengan salon langganannya. Tapi berhubung mereka sudah ada di depan sebuah salon kecantikan yang cukup terkenal, pun Lexi mengikuti permintaan Steve.
Tanpa disadari keduanya bahwa sejak tadi mereka sedang diawasi. Brian dan konco-konconya.
"Jadi, dia memang si anak petani itu? Si culun Percy?" masih sulit bagi Dean untuk mempercayai hal tersebut. Otaknya tidak sampai ke sana. Tidak ada jejak keculunan yang tersisa, membuatnya pangling. "Bagaimana bisa?"
Pertanyaan yang sama bersarang di benak Brian dan Fred, hanya saja mereka lebih memilih diam. Hasil test DNA yang berada di genggaman Fred sudah cukup menjadi jawaban.
"Bisnisnya cukup banyak." Dean menarikan jemarinya di ponsel, ia sedang membaca profil Steve dengan segudang keberhasilannya. "Dia cukup berpengaruh di Spain. Oh, Royal Klub yang ada di Spain juga miliknya. Kenapa bisa? Ia berkuasa? Memiliki kuasa. La-lalu, ke-kenapa dia kembali? A-apakah dia datang untuk membalaskan dendamnya? Brian, bukankah kau mengatakan bahwa keluargamu sudah menanganinya? Bagaimana orang yang sudah mati bisa hidup kembali?" pria itu mendadak gugup teringat dosa masa lalunya. "Pasti ada alasan di balik kepulangannya."
"Bisakah kau diam, sialan!" Brian mendesis tajam. Kepalanya hampir pecah memikirkan hal itu. Jelas-jelas keluarga Percy mengadakan upacara pemakaman. Menyadari jika ternyata mereka dikelabui membuatnya menggeram marah. Kebakaran itu begitu nyata. Tidak terpikir jika kebakaran tersebut sebuah skenario, bagian dari rencana untuk meloloskan si culun itu. Tapi yang menjadi pertanyaan, siapa yang melakukannya? Melakukan perencanaan atas kebakaran di lapas tersebut.
"Jadi, pengakuan Vincent tersebut di bawah pengaruh dan tekanannya?" sama seperti Dean, Fred juga mencari-cari titik kesamaan antara Steven Percy dengan Steven Ivarez. Di tangannya ada dua lembar foto. Pria yang sama dengan identitas berbeda. "Uang memang bisa merubah segalanya," gumamnya. Mengakui jika Steve memang terlihat sangat luar biasa dengan versinya sekarang.
"Maksudmu dia melakukan operasi pada wajahnya?" Dean bertanya dengan konyolnya. "Dan dia kembali menarik perhatian Lexi."
"Keluarlah sebelum aku benar-benar membunuhmu," Brian menoleh ke arahnya dengan tatapan yang seolah benar-benar ingin membunuhnya.
"Apakah menurutmu jika Willson memiliki campur tangan di sini?"
"Aku tidak tahu. Mereka diawasi dengan ketat selama ini. Dan Pax Willson lah yang meminta secara langsung kepada kepala kepolisian agar mengirim pria itu ke penjara isolasi demi melindungi reputasi mereka. Vidio Darren yang mencium Olivia bisa menyulitkan mereka. Pria itu bisa jadi tersangka."
"Kupikir kita sudah aman," lagi dan lagi kalimat yang terlontar dari mulut Dean membuat Brian dan Fred kompak mendesis. Kebodohan Dean selalu mampu memancing emosi mereka. Entah bagaimana bisa si bodoh itu bertahan jadi teman mereka.
"Sebaiknya kita pergi dan minta beberapa orang mengawasi pergerakan pria itu."
___
"Jadi kau membeli lahan anggur dan dihadiahkan kepada Mr. dan Mrs. Percy?"
"Hadiah pernikahan mereka."
Steve mengangguk, ia sudah menemukan jawaban atas pertanyaannya. Lahan anggur itu hadiah dari Lexi secara pribadi. Pantas saja Willson tidak ada sangkut pautnya. Lahan anggur tersebut dibeli dari salah satu Aunty-nya. Bonnie Rodriquez.
"Kenapa semua kacanya ditutup?" Lexi bertanya pada wanita yang sedang merawat kukunya. "Aku tidak bisa bercermin." Cermin besar biasanya identik dalam ruang kecantikan. Tapi ruangan yang mereka masuki sedikit berbeda. Cermin tersebut ditutupi kain hitam.
"Mr. Ivarez yang memintanya demikian."
Lexi mengernyit bingung, pun ia memiringkan kepala, menatap pria itu dengan tatapan penuh tanya. "Apakah kau bermusuhan dengan cermin?"
"Ya," sahut Steve ringkas. "Bagaimana, kau suka perawatan di sini?"
"Ya, lumayan. Kau tidak bosan? Hampir tiga jam kau menungguiku di sini."
"Aku senang."
"Ya, kurasa kau sudah terbiasa menemani banyak wanita sebelumnya."
Tuduhan Lexi dibalas dengan senyuman seadanya. Bahkan untuk mengantar Oleshia ke salon kecantikan, tidak pernah ia lakukan sama sekali. Ya, kedua wanita itu memang tidak bisa dibandingkan.
___
"Mereka masih mencoba membujuk agar kau bersedia bergabung dan menjadi pemimpin." Arthur menyesap wine tanpa melepaskan tatapannya dari sosok di hadapannya.
"Aku tidak tertarik. Aku bisa melenyapkan semuanya jika aku ingin. Pada akhirnya, aku yang akan menjadi penguasa. Akal bulus mereka tidak akan berhasil mengelabuiku. Berhentilah berhubungan dengan Mr. President. Mau sampai kapan kau menjadi kacung mereka?"
"Aku tidak menjadi kacung, aku hanya mengawasi," Arthur menatap sosok tersebut penuh arti. "Aku khawatir kau akan membuangku setelah tujuanmu tercapai."
"Kau mengkhawatirkan sesuatu yang tidak penting. Bagaimana keadaan istrimu dan putrimu? Jessi tumbuh menjadi gadis yang sangat cantik."
"Kau merusak suasana hatiku. Jessi mulai membangkang."
"Dia tidak suka kita berhubungan. Dia sangat membenciku. Mengira jika aku membawa pengaruh buruk padamu."
"Itu tidak benar," Arthur menyangkal pernyataan tersebut. "Apa yang harus dilakukan dengan Vincent Trey?"
"Lenyapkan dia terlebih dahulu."