H.U.R.T

H.U.R.T
Bagaimana Jika Kau Membantuku?



"Batalkan kencanmu dengan Austin."


Isabel semakin mengernyitkan dahinya, bingung dengan sikap Darren yang menurutnya mendadak posesif. Hati dan logikanya jelas berperang tentang hal ini.


Tapi tingkahnya seperti seorang kekasih yang suka mengatur-atur. Hati Isabell berbisik lirih.


"Kenapa aku harus membatalkannya?" di tengah gempuran hati yang berperang dengan logika, Isabell mencoba bersikap tenang. Menghadapi kanebo memang harus dengan santai. Isabell tidak akan membiarkan Darren mengintimidasinya lagi. Untuk apa ia berubah jika masih bisa ditindas si kaku Darren.


Jika dipikir-pikir, dia tidak pernah menindasku.


"Aku tidak mau tahu, kau harus membatalkannya!" Darren bersikeras namun pria itu tidak berani menatap Isabell. Memangnya apa alasan yang harus ia berikan? Tidak mungkin ia mengatakan karena cemburu secara terang-terangan yang artinya mengakui perasaannya sendiri dan lebih tidak mungkin lagi jika dia melayangkan fitnah tentang adiknya. Menyebut Austin pria yang suka bermain perempuan. Selain bertindak kejam kepada Austin, Darren juga tidak siap melihat raut kecewa di wajah Isabel.


Astaga! Apa sebenarnya yang kuinginkan!


Darren memutar tubuhnya, memunggungi Isabell. Tidak ingin jika Isabell menyadari kegalauannya.


"Aku tidak mau membatalkannya jika tidak tahu alasannya. Kecuali jika Austin memang tidak menginginkan diriku."


"Dia pasti menginginkanmu dan banyak pria di luar sana yang juga merasakan hal serupa."


Wajah Isabell merona merah, untung saja Darren memunggunginya, jadi pria itu tidak akan menyadari perubahan wajahnya.


"Maksudku,.." Darren tiba-tiba berbalik, menangkap basah Isabell mengibaskan tangan di depan wajahnya.


"Kau kepanasan?" spontan Darren mendongak memastikan suhu pendingin ruangan berfungsi dengan benar.


"Ti-tidak, tadi ada seekor capung lewat di hadapanku. Ca-capung dengan sayap rapuh. Sangat indah. Tapi a-aku takut capungnya mencomot hidungku."


"Capung? Men-mencomot?" Darren memendarkan pandangannya ke seluruh ruangan untuk menemukan capung yang dimaksud oleh Isabell.


"Ya. Ya, capungnya sudah terbang. Percuma mencarinya." Isabell mengibaskan tangan bersikap sok santai. "Tadi kau meminta air, bukan? Kau sudah meminumnya?"


"Kau belum memberikan gelasnya."


"Ah, astaga, apa yang sedang kita lakukan?"


"Berbincang," sahut Darren sementara Isabell berjalan ke arah nakas untuk mengambil gelas miliknya kemudian memberikannya kepada Darren.


Darren tidak lantas menerima gelas tersebut, pria itu bergeming, memandangi gelas tersebut dengan seksama.


"Aku tidak memiliki riwayat penyakit yang menular. Jika kau ragu, kau bisa ke toilet dan meminum air langsung dari kerannya. Aku bertanya-tanya, kenapa kau tidak melakukan hal itu di kamarnya. Apa kamarmu juga kehabisan air?"


"Selain sudah menguasai seni berdandan, kau juga ternyata menguasai seni menyindir. Well, perubahan yang mengejutkan." Darren menyeringai dengan sinis. Seringaian tersebut membuat wajah tampan pria itu terlihat semakin dingin. Terang saja Isabell merasa ciut, takut jika mulut pria itu kembali melontarkan kalimat dingin yang mampu membekukan setiap sarafnya hingga tidak mampu merespon.


"Bukankah seseorang harus berubah? Berubah menjadi lebih normal."


"Aku merasa normal. Aku masih tertarik dengan lawan jenisku. Aku tidak memiliki kelainan."


"Sebentar..." Darren mengangkat sebelah tangannya memberi isyarat agar Isabell berhenti berbicara. Telinganya menangkap sesuatu yang janggal tentang kenormalan. "Apakah kau sungguh menganggapku gay?''


Isabell tersedak sampai wajahnya merah padam, "Mungkin kau dan komunitasmu menganggap kelainan tersebut sebagai sesuatu yang wajar, tapi tidakkah kau tahu bahwa semuanya diciptakan berpasang-pasangan agar kau tidak menyalahi kodrat dengan menyukai sejenismu. Ini sangat menggelikan dan tidakkah kau kasihan pada para wanita yang menyukaimu. Mereka membayangkanmu setiap malam, berdoa agar kau menoleh kepada mereka. Tidak bosan melakukan hal yang serupa setiap malam tanpa menyadari bahwa pria yang mereka inginkan ternyata pecinta pisang. Apakah Mrs. dan Mr. Willson tahu kau memiliki kelainan?"


"Tidak," sahut Darren dengan nada malas. Tidak mungkin orang tuanya mengetahui sesuatu yang tidak benar dan tidak terjadi.


"Kau tidak memikirkan perasaan mereka? Mereka akan terluka, pasti terluka."


"Mereka tidak akan terluka," suaranya mendayu dengan nada ditarik-tarik.


"Mereka tidak akan terluka jika kau berubah. Astaga, jadi hanya aku dan Steve yang tahu tentang hal ini?"


Hanya kau yang menganggapku demikian. Darren berseru di dalam hatinya.


"Bagaimana aku harus berubah?" entah darimana Darren mendapat ide konyol ini, ia memilih untuk membiarkan Isabell menganggap benar apa yang sudah dipikirkan gadis itu.


"Kau harus mulai membuka hatimu," dengan semangat Isabell menanggapi. "Membuka hatimu pada wanita, memberi kesempatan kepada mereka, bukan pada pria."


"Hmm," Darren berpura-pura memasang wajah murung. "Sulit untukku menemukan wanita yang bisa atau bersedia menyembuhkanku."


"Ya, setidaknya kau harus menyukai mereka dan mereka tahu kondisimu."


Kena kau!


Darren membatin dan hampir-hampir tertawa. Umpan yang ia layangkan tepat sasaran. Menyadari kecurangan yang ia lakukan di belakang Austin, ia merasa sangat buruk. Tapi, hubungan keduanya juga belum jelas, bukan?


"Hanya kau dan Steve yang mengetahui kondisiku. Apa menurutmu Steve bisa membantuku?"


Isabell menggeleng dengan cepat, "Steve pria yang sangat tampan, bersamanya hanya akan semakin menyiksamu. Sulit untuk tidak jatuh cinta pada Steve. Jika itu terjadi padamu, kau hanya akan melukai dirimu dan menyakiti Lexi."


"Ya, kau benar. Jadi, apa yang harus kulakukan, Isabell. Apakah aku harus membuka biro jodoh, semacam ajang pencarian cinta dengan kontrak tertentu."


Isabell mencoba menyimak kalimat yang diucapkan Darren. Entah sejak kapan keduanya kini duduk saling berhadapan. Isabell duduk di tepi ranjang sedangkan Darren duduk di kursi.


"Idenya boleh juga."


"Ya, tapi aku harus menanggung resiko jika wanita itu kelak tahu aibku dan justru membeberkannya ke media."


"Nah, itu dia. Setidaknya kau harus percaya dan mengenal wanita yang akan membantumu."


"Hanya kau satu-satunya wanita yang tahu, bagaimana jika kau membantuku, Isabell?