
"Alasan kenapa aku ingin pendamping Lexi lebih kuat dari Willson, Son. Sayang, kau sudah menyerah."
"Persetan dengan semua penjelasanmu. Faktanya, hidupku semakin rumit dan sulit. Rencanamu gagal berantakan." Steve menyunggingkan senyum sinis, sebelum ia menarik leher Pax dan menekan leher pria itu agar menunduk menghindari serangan.
"Apakah kau baru saja memegang kepalaku?"
"Aku tidak akan repot-repot melakukannya jika kutahu kau lebih suka peluru itu bersarang di kepalamu. Menyerah? Menyerah tidak ada di dalam daftar hidupku jika kau sangat penasaran."
Pertanyaan Pax terjawab sudah. Steve ternyata tidak akan pernah melepaskan Lexi begitu saja. Hanya saja apa rencana pria itu belum terjawab.
"Masalah keluarga kalian yang rumit sedikit mengacaukan rencanaku. Aku tidak akan memaafkanmu jika Lexi kembali diambil dariku atas kecerobohanmu, Pax Willson! Kau pikir enak menyaksikan wanitamu berjanji sehidup semati dengan pria lain, heh? Oh Tuhan, haruskah aku meletuskan peluruku ke kepalamu?!"
Steve benar-benar merasa kesal pada calon ayah mertua tidak jadinya itu. Dari orang yang sedang diutusnya untuk memata-matai Olivia, gadis itu tidak memiliki rencana untuk menggagalkan pernikahan ini. Olivia justru akan merasa diuntungkan jika Lexi memilih berpaling dari Steve. Wanita itu justru memastikan bahwa pernikahan itu harus terjadi dan Steve mengikuti rencana wanita itu agar Olivia lalai. Dan apa ini? Teroriss, heh? Ia harus berhadapan dengan teroriss di dalam acara ini.
Mengingat si teroriss mengetahui seluk beluk mansion ini, artinya sudah sangat mengenal Lexi dan rumah ini. Siapa?
Wait, Steve tiba-tiba menemukan jawaban. Semuanya mulai terhubung.
"Di mana Harry?"
"Aku tidak tahu. Semua komunikasi terputus. Mereka menyabotase semuanya?"
"Mereka sudah merencanakannya dengan matang. Bisakah kau menarik perhatian mereka. Aku akan ke atas untuk memastikan keselamatan Lexi."
Pax mengangguk bertepatan dengan para pengawal yang datang untuk melindungi.
Sementara itu, di kamarnya, Lexi baru saja selesai mengganti pakaian dengan sebuah dress putih panjang yang sangat mempertegas kecantikan dan keanggunan Lexi. Alena, Isabel dan beberapa orang yang membantu mereka serentak berdecak kagum.
Ledakan yang terdengar membuat semuanya kompak menjerit.
"Apa itu?" Alena mendekati jendela kamar untuk melihat apa yang terjadi. Maniknya membeliak saat melihat keributan.
"Ya, Rodriquez dan Willson sepertinya memang mendapat kutukan. Pernikahan yang tidak pernah berjalan mulus," ia bergumam sebelum menarik tirai untuk menutup jendela.
"Ada apa, Mom? Apa yang terjadi di luar? Aku tidak tahu jika akan ada letusan kembang api?"
Alena bergeming, apa yang harus ia katakan sekarang. Ponsel suaminya tidak bisa dihubungi. Kekhawatirannya beberapa saat lalu seolah terjawab. Sekarang bagaimana ia akan mengatasi ini. Pax dan yang lain pasti sangat sibuk melayani tamu tidak diundang.
"Mom, apa yang terjadi?" Lexi mendekati ibunya.
"Isabel dan yang lain, bersembunyilah."
Alena benar-benar tidak tahu apa yang harus ia lakukan sekarang. Bersembunyi bukanlah solusi yang sebenarnya karena memang tidak ada tempat persembunyian di dalam kamar ini.
Jika musuh yang ada di luar sana hanya satu, mungkin Alena tidak akan sepanik ini. Tapi, ia yakin rumah ini sudah dikepung dan kabar buruknya, ia sudah lama tidak melatih otot dan bidikannya. Ayolah, mereka sudah mulai tua. Kemampuan itu akan termakan usia, dan setelah menikah, ia tidak pernah mengasah kekuatannya.
"Apa yang terjadi, Aunty?"
Duuarr!!
Ledakan kembali terdengar bertepatan dengan pintu yang didobrak dari luar.
Alena segera menyeret Lexi untuk bersembunyi, mengabaikan keterkejutan putrinya itu.
"A-apa yang terjadi, Mom?"'
Doorr!!
Doorr!!
Peluru diletuskan secara sembarang.
Pria yang melayangkan ancaman itu memberi perintah agar menyandra para wanita yang ada di sana, sementara sisanya mencari keberadaan Lexi yang sudah dibawa Alena ke dalam toilet untuk kabur dari sana. Sayang, rencana itu tidak berjalan mulus.
Pintu toilet kembali didobrak. Alena dengan sigap menyiram pria itu lalu menendang selangkangaannya. Segala makian keluar dari mulut pria yang mengenakan penutup wajah itu. Suaranya tidak asing, Lexi mengenal suara itu.
Bugh!
Pria itu berdiri dan melayangkan bogeman di wajah Alena. Alena terhuyung hingga terjatuh.
"Mom," Lexi segera menolong ibunya, membantunya berdiri.
"Siapa kau? Apa yang kau lakukan kepada Ibuku? Jangan menyakitinya, kumohon."
"Kemarilah, Lexi." Pria itu menarik Lexi dengan kasar. Terjadi aksi tarik menarik antara Alena dan pria bertopeng itu. Lexi meronta, menjerit meminta tolong.
"Lepaskan dia, Bajiingan!" Alena menggapai apa saja yang bisa ia gapai dengan tangannya yang bebas untuk dijadikan senjata. Sayangnya tidak ada yang bisa digunakan di dalam toilet selain ember yang tidak membantu sama sekali.
"Lepaskan aku! Siapa kau?!" ketakutan menyelubunginya. Sungguh ia tidak menyangka jika pernikahannya akan mengalami kejadian seperti ini. Suara tembakan terdengar dimana-mana. Lexi membayangkan jika korban banyak yang sudah berjatuhan. Serangan panik mulai menggerogotinya. Lexi menyalahkan dirinya atas kejadian ini.
Lexi menjerit histeris. Ia meronta, membuat cekalan tangan Alena terlepas darinya. Dengan sigap pria itu menarik Lexi ke dalam pelukannya.
"Ssstt... Tenanglah, Sayang. Aku akan membawamu pergi dari sini."
"Lepaskan dia. Kau tidak bisa membawanya begitu saja. Oh Tuhan, dimana Pax?"
Pria itu terbahak. "Pax sedang sibuk meladeni anak buahku. Dia sudah tidak sehebat dulu, Mrs. Willson. Mungkin saja suamimu sudah mati. Kami bukan hanya mengepung di darat. Kau dengar helikopter itu? Willson kalah. Selesai dan tamat."
"Lepaskan aku. Lepaskan aku. Lepaskan aku. Arggghh!!!"
"Aku tidak suka melukaimu, tapi aku harus melakukannya." Pria itu mengeluarkan sebuah jarum suntik dan langsung menancapkannya di leher Lexi. Seketika Lexi terkulai lemah dan tidak sadarkan diri.
"A-apa yang kau lakukan kepada putriku?" Alena maju dan meraup leher pria itu. Pria itu mendorong Alena dengan kuat hingga tersungkur dan kepalanya membentur closet. Alena merasakan pusing yang luar biasa.
"Mrs. Willson, aku tidak ingin menyakitimu. Tapi jika kau bersikeras untuk melawan, jangan salahkan aku jika peluru ini akan mendarat di jantungmu," ancam pria itu.
"LEPASKAN PUTRIKU!!" Teriaknya yang justru semakin membuat kepalanya menghentak-hentak sakit.
"Lexi bukan putrimu. Dia akan akan bersamaku. Selamanya. Aku sudah sangat menantikan hari ini." Pria itu menggendong Lexi membawanya keluar dari toilet. Alena berusah mengejar meski dengan cara merangkak.
"Lakukan sesuai rencana," perintahnya kepada anak buahnya yang sudah menyandra para wanita yang ada di sana.
Saat menggapai pintu, Darren muncul seraya mengacungkan pistol di kepala pria itu.
"Kau tidak bisa membawa adikku tanpa berhadapan denganku."
Tawa rendah pria itu terdengar mengejek. Tidak ada ketakutan sama sekali meski moncong pistol ada di dahinya.
"Sepertinya kalian sangat kewalahan menghadapi orangku," pria itu mencemooh penampilan Darren yang berantakan. Lengan kirinya terkena tembakan. Darah segar menetes dengan deras.
"Kau tidak penasaran dengan apa yang terjadi dengan ibumu?"
Anak buahnya lalu memperlihatkan apa yang terjadi pada Alena dan beberapa wanita lainnya. Mereka diikat dengan kabel yang terhubung dengan boom.
Slup!
Sebuah peluru yang tidak tahu berasal dari mana mendarat di kaki Darren, membuat pria itu bertekuk lutut.
"Aku melangkahimu, Kawan!" Ucap pria itu, melenggang santai membawa Lexi bersamanya.