
Halo semua. Apa kabar? Terima kasih untuk komentar pada bab sebelumnya. GILA! Itu komentar terbanyak di karya ini. Saya terharu!!
Betewe, Grup Chat Author kembali saya buka. Bagi yang ingin bergabung, silakan ketuk pintu.😂🙏
.
.
"Aku ingin berbicara denganmu."
Lexi mengangkat kepala, menatap Steven dengan tatapan kosong seolah pria itu sangat asing. Dan sepertinya Lexi harus ingat bahwa Steve memang pria asing yang tidak ia ketahui asal usulnya.
"Berbicaralah. Tidak ada yang melarangmu." Lexi menyahut ketus dan dengan segera memalingkan wajah, tidak baik baginya menatap wajah pria itu berlama-lama setelah adegan di kloset.
"Hanya berdua."
Kening Lexi mengernyit mendengar dua kata penuh penekanan tersebut.
"Ehm," Harry berdehem. Di matanya, Lexi adalah gadis ramah yang baik hati. Ia belum pernah melihat Lexi mengabaikan seseorang atau memalingkan wajah saat orang tersebut sedang berbicara dengannya.
"Aku akan ke dalam," Harry berkata setelah melihat wajah serius Steven yang menatap Lexi penuh harap.
"Tidak! Kau tetap di tempatmu, Harry!" Gadis itu melotot tajam ke arah Harry. Pria itu dibuat tidak berkutik dengan mengurungkan niat untuk beranjak pergi. Yang bisa ia lakukan hanya melayangkan tatapan penuh penyesalan kepada Steve.
"Antara aku dan Harry tidak ada rahasia. Jadi, jika ada yang ingin kau katakan, Mr. Ivarez, katakan di sini. Di hadapannya." Lexi bersedekap, dagunya sedikit terangkat, terlihat sedikit congkak. Dan percayalah, sikap seperti itu sangat tidak cocok jika gadis itu yang melakoninya, justru terlihat aneh dan terkesan lucu dan menggemaskan.
"Baiklah, jika itu maumu." Steve akhirnya duduk. "Kurasa kau tidak akan lupa dengan apa yang kukatakan tadi malam tentang hukuman." Steve melirik Harry yang semakin terlihat bingung. Kasihan sekali pria itu, sungguh ia tidak mengerti dengan apa yang terjadi diantara Lexi dan Steven.
"Tadi malam? Apa yang terjadi tadi malam?" Lexi masih enggan menoleh kepadanya. Ia tidak akan membiarkan Steve mengendalikan atau pun mengintimidasinya. Ada Harry di sini. Pria itu tidak mungkin macam-macam. Begitulah pikirannya.
"Banyak yang terjadi. Aku tidak keberatan untuk mengingatkanmu tentang hal itu."
Lexi menoleh, melayangkan tatapan lasernya kepada pria yang juga sedang menatapnya dengan mimik tenang, tidak terusik sama sekali dengan tatapan membunuhnya. Menyebalkan!
"Apakah mengancam adalah keahlianmu?"
"Jika itu diperlukan," sahut pria itu dengan santai.
"Kau pikir aku takut?"
"Kupikir, tidak. Dan itu berita bagus untukku. Aku akan diuntungkan di sini."
"Kau...!"
"Aku hanya ingin berbicara denganmu." Suara Steve berubah lembut diiringi dengan tatapan teduh penuh permohonan. "Hanya sebentar."
"Katakan saja_"
"Aku pria tidak bermoral, Lexi. Tidak peduli di mana dan di depan siapa pun, aku akan melakukan apa pun yang menurutku menguntungkan bagiku. Ancamanku sudah cukup jelas. Tidak ada ruginya jika aku membuktikan ancamanku tersebut. Tapi, apa yang akan kulakukan akan membuatmu malu di hadapan Pangeran Harry, jadi putuskan saja apa yang akan kau lakukan. Menantangku atau memberiku waktu untuk berbicara."
Lexi meradang, ia benar-benar kesal melihat sikap arogan pria itu. Dan kejengkelannya semakin meningkat melihat wajah minim ekspresi yang ditampilkan Steve. Sulit untuk menebak apakah ucapan pria itu hanya angin lalu saja atau tidak. Namun, Lexi sadar satu hal, menebak-nebak jalan pikiran pria itu hanya akan menimbulkan kerugian padanya. Semuanya serba sia-sia. Pada akhirnya, Lexi tahu bahwa ia berada pada posisi yang kalah.
"Sepertinya aku harus memberi ruang untuk kalian berdua. Kebetulan, Isabel menghubungiku." Harry menunjukkan ponselnya yang menyala kepada Lexi. Benar, Isabel menghubungi pria itu.
"Terima kasih, Pangeran. Sampaikan salamku pada Princess Isabel."
Harry mengangguk dan segera beranjak dari tempatnya, meninggalkan Lexi dan Steve.
Steve terdiam untuk beberapa saat, yang pria itu lakukan adalah memandangi wajah Lexi dengan khusyuk.
"Ja-jadi, pergilah."
Melihat cara Steve memandangnya, membuatnya gugup sendiri. Lexi merasa seperti tertuduh. Ia salah tingkah. Situasi yang membagongkan. Di sini, harusnya Steve lah yang merasa bersalah juga malu. Tapi justru sebaliknya, Lexi menemukan dirinya duduk dengan tidak nyaman. Siapa sebenarnya yang menjadi terduga.
"Pria hot?" Suaranya berat dan serak. Lexi merasakan jiwanya bergetar. Kedua manik setajam silet itu masih mengawasinya. "Apa yang kau tahu tentang pria hot?"
Lexi tertawa sumbang, tawa yang tidak mengandung humor sama sekali. Terdengar garing karena dipaksakan.
"Astaga! Pertanyaan macam apa ini? Apa kau tahu berapa usiaku?"
"29, menuju angka 30."
Jawaban Steve jelas membuat Lexi terkejut. Bagaimana pria itu tahu tentang hal itu?
Apakah wajahku sudah terlihat tua sehingga dia bisa menebak dengan benar.
"Nah, kau pikir di usia itu aku tidak tahu apa-apa? Seperti yang kukatakan tadi, hal yang kau lakukan di dalam vidio itu bukan hal yang tabu bagiku. Harry bahkan lebih hebat darimu."
Astaga! Lexi salah berbicara. Wajah pria itu merah seketika. Rahang Steve mengetat keras. Jakunnya naik turun dengan kedua tangan yang terkepal kuat.
"Kau tidur dengannya?" Suaranya dingin sekelam malam.
"Bu-bukan urusanmu."
"Aku bertanya, kau tidur dengannya?"
"Dan aku su-sudah menjawab! I-itu bukan urusanmu! A-apa yang akan kau lakukan?!" Lexi segera berdiri begitu melihat Steve beranjak dari kursi. Ia hendak melarikan diri tapi tangan Steve langsung menangkap pergelangan tangannya.
Kini keduanya saling berhadapan, Steve memegang kedua bahu Lexi, menahan gadis itu tetap di sana, di hadapannya.
"Kau- Tidur- Dengannya? Ya atau tidak?" Setiap kata, Steve ucapkan dengan penuh penekanan. Maniknya menyala, menyorotkan kemarahan. Lexi sempatnya-sempatnya memperhatikan pantulan dirinya di manik tajam pria itu.
"Jawab aku!"
Ia tersentak setelah Steve memperkuat cengkraman di bahunya.
"Sa-sakit."
"Maaf,"
Steve berkata lirih seraya menurunkan tangannya dari bahu gadis itu. Ia mengusap wajahnya dengan kasar, menyugar rambutnya yang rapi hingga berantakan. Suasana hatinya masih panas, pun ia melepas jasnya, menarik dasinya juga membuka beberapa kancing kemejanya. Ia kacau! Terbakar!
"Peluk aku!" Steve menggerakkan kedua tangannya, memberi isyarat kepada Lexi agar gadis itu mendekat dan memeluknya.
Lexi menggeleng takut. Ia bahkan menundukkan kepala, tidak berani menatap wajah Steve berlama-lama. Untuk beberapa saat lalu, Steve terlihat seperti Layla yang sedang kelaparan.
"Angkat kepalamu. Lihat aku dan kemarilah peluk aku sebelum aku benar-benar masuk ke dalam dan menghajar Harry Geonandes, Lexi Stevani Willson!"
Tidak sabar menunggu Lexi mendekat ke arahnya. Steve menarik tangan gadis itu dan mendekapnya dalam pelukannya.
"Jangan bergerak. Aku sedang cemburu juga marah."