
Buat yang sedang lagi galau, baik karena putus cinta atau gaji yang sudah habis begitu saja. Mohon tenanglah. Ini hanya ujian. Bab ini khusus untuk Ajiu Jiu, salah satu pembaca yang tidak kapok membaca tulisan saya. Ajiu Jiu sayang, putus cinta hal biasa. Tiba waktunya akan kau temukan yang sosok yang benar-benar bisa kau sebut sebagai sandaran. Jangan semangat, tetaplah menyerah!! Eehhh🏃🏃
.
..
.
"Jordan harus lebih memperhatikan kebersihan. Ada apa dengannya? Kenapa dia semakin tidak becus. Aku harus memberi peringatan kepadanya. Lihatlah, akibat kelalaiannya ini, kau jadi menderita." Oleshia membantu Steve berbaring di atas ranjang rumah sakit. Dokter menyarankan agar Steve menginap untuk mendapat perawatan lebih lanjut.
"Biarkan saja. Mungkin ini bukan salah Jordan."
"Maksudmu, kau keracunan di tempat lain? Kau jajan di luar?"
"Jajan di luar?" Kata itu terlalu ambigu di telinga Steve. Dasar nakal!
"Ya, makan di luar maksudku."
"Hmm, ya. Ada pertemuan penting." Jika Beth ada di sana, ia yakin pria itu akan kembali menyeletuk. Pertemuan penting apa? Sejak kapan Steve bersedia melakukan pertemuan? Jawabannya tidak pernah! Pertemuan yang ia maksud adalah kencannya di tepi danau bersama Lexi. Awal musibah yang menimpanya terjadi. Ck! Mules itu kembali menyerang. Sialan! Ia terpaksa dirawat. Selama pemeriksaan tadi, Steve bolak balik ke kamar mandi sebanyak lima kali. Mau tidak mau, ia terpaksa mengikuti saran dokter.
"Sekarang, bagaimana perasaanmu?"
Steve menatap infus yang terpasang di tangannya tanpa minat. "Tidak nyaman."
"Malang sekali," Oleshia menarik selimut menutupi tubuh Steve. Lalu ia menarik kursi, duduk di tepi ranjang sembari menggenggam tangan Steve.
"Sebaiknya kau pulang dan istirahat."
"Dan meninggalkanmu sendirian di sini?"
"Aku akan meminta Beth, Sam, atau Jordan datang menemaniku. Rumah sakit tidak akan membuatmu nyaman."
"Tapi kau akan merasa bosan." Enggan untuk meninggalkan Steve di sana, Oleshia bersikeras akan tetap tinggal di sana di rumah sakit.
"Itu tidak seberapa dibanding rasa nyamanmu. Pulanglah dan tidur di ranjangmu yang empuk."
Oleshia menggeleng, "Kita bisa tidur di atas ranjang yang sama. Bersamamu akan selalu nyaman."
"Apa gunanya tidur di atas ranjang yang sama jika aku tidak bisa berbuat apa-apa." Ucapan nakal Steve sontak mendapat pukulan dari Oleshia. "Itu akan semakin membuatku tersiksa, Shia. Infus sialan ini mengekang pergerakan tanganku."
"Kau mesum sekali. Kita hanya perlu tidur, tidak harus bercinta!"
"Aku sedang tidak berbicara tentang kegiatan penuh keringat. Aku tidak akan bisa memeluk dan menepuk punggungmu." Kalimat pengelakan yang sangat rancau.
"Seingatku kau tidak pernah meninabobokanku," Oleshia mencibik kesal.
"Kita sama-sama lelah dan akhirnya tertidur," sahut pria itu dengan lempeng. Tidak merasa bersalah dengan alasan yang terkesan dibuat-buat.
"Kau sepertinya memang tidak ingin ada aku di sini." Oleshia melayangkan tatapan menuduh. Ia merasa jika Steve sengaja mendorongnya pergi.
"Ya, itu memang benar. Aku tidak ingin tidur berkualitasmu terganggu. Aku akan bolak balik ke kamar mandi. Tidurmu akan terusik dan mungkin aku perlu mengganti pakaian berulang kali. Kau atau pun aku tidak akan tahan melihat tubuhku yang polos tanpa melakukan sesuatu yang menarik. Aku sedang tidak fit, tidak ingin menunjukkan penampilan terburukku kepadamu." Oh Tuhan, Steve bersyukur hanya ada dia dan Oleshia di sana. Ia tidak bisa membanyangkan jika Beth ada di sana. Steve pastikan, pria itu pasti akan muntah mendengar kalimat murahan yang keluar dari mulutnya.
"Ya. Tapi percayalah, ini untuk kenyamanmu. Aku tidak ingin lehermu sakit esok pagi. Aku akan baik-baik saja. Beth yang akan menjagaku." Steve membawa tangan Oleshia ke mulutnya, memberikan kecupan singkat di punggung tangan gadis itu.
"Baiklah. Aku pergi jika kau memaksa. Sesungguhnya aku tidak keberatan untuk menjagamu sepanjang malam."
"Aku tahu. Terima kasih. Akan kuhubungi Beth agar dia segera datang dan mengantarmu."
"Tidak, aku akan pulang sendiri."
"Baiklah kalau begitu. Aku akan menghubungimu esok pagi."
____
"Urus kepulanganku." Steve segera turun dari ranjang begitu Beth muncul di ambang pintu. Ia lepaskan infus yang terpasang di tangan. Seragam rumah sakit ia tanggalkan, diganti dengan pakaian yang ia kenakan tadi.
"What?"
"Kutahu telingamu tidak bermasalah, Beth. Aku pergi." Ia merampas kunci mobil pria itu kemudian mengeluarkan ponsel untuk memastikan sesuatu. Ia tersenyum saat melihat titik merah di layar masih berada di lokasi rumahnya. Artinya, Lexi masih tertidur.
"Kau tidak bisa pergi begitu saja, Steve."
"Tentu saja bisa." Menepuk pundak Beth sebelum ia melangkah pergi. Wajah masam nan kesal pria itu ia abaikan.
Kurang lebih setengah jam, Steve sampai di rumahnya. Ia berlari menuju kamarnya, memastikan Lexi masih ada di sana meski titik merah di ponselnya sudah menjelaskan dengan sangat jelas.
Steve berjalan perlahan, tidak ingin suara sekecil apa pun mengusik tidur gadis itu. Berdiri menjulang di tepi ranjang, Steve tersenyum memperhatikan wajah Lexi yang masih terlelap. Tidak ada sisa-sisa kehisterisan yang terlihat. Dibelainya kepala gadis itu dengan lembut sebelum ia naik ke atas ranjang, masuk ke dalam selimut dan memeluk Lexi dalam dekapannya.
"Tidak ada yang berubah," ia bergumam, dipandanginya wajah Lexi dengan intens dalam jarak yang begitu dekat. Hidung mereka bahkan nyaris bersentuhan. "Tetap cantik," jemarinya menyentil hidung Lexi dengan lembut. Tidak puas menyentil hidunng gadis itu, pun ia mencondongkan tubuh, berniat memberikan kecupan di sana.
"Apa yang kau lakukan?" suara serak Lexi membuatnya terkejut. Refleks, Steve melompat dan terjatuh.
"Kau hendak mencuri ciumanku?!" Lexi pun ikut melompat, ia mengitari ranjang dan berdiri di hadapan Steven yang masih terduduk di lantai.
Pria itu mendongak, "Dari bawah kau juga masih terlihat cantik. Aku penasaran, kapan kau tidak terlihat cantik."
"Tidak pernah! Karena aku selalu menjaganya! Luar dan dalam. Apa yang kau lakukan tadi, kau ingin menciumku?"
"Jangan fitnah. Ada nyamuk yang hinggap di hidungmu, aku ingin meniupnya. Tidak mungkin aku memukulnya."
Lexi memicingkan mata, memiringkan kepala, tidak yakin dengan alasan yang dilontarkan Steve. "Ruangan ini wangi, bersih, kau hanya beralasan. Dasar mesum! Kau keterlaluan. Kau ingin mengambil kesempatan dalam kesempitan. Oh Tuhan, aku ngeri membayangkan apa yang kau lakukan selanjutnya jika aku tidak bangun." Lexi bergidik ngeri, kedua tangannya ia silangkan di depan dadaanya.
"Apa lagi?!" hardiknya saat Steve mengulurkan tangan.
"Bantu aku berdiri."
"Aku tidak sudi menyentuhmu!" Lexi menepis tangan Steve dengan kasar. "Kau sudah sembuh, aku ingin pulang."
"Ouh, perutku sakit sekali." Steve mulai berdrama.