
"Dia sepertinya mengalami..."
"Aku tahu," Steve menyela ucapan Beth tanpa mengalihkan tatapannya dari wajah Lexi yang terlelap tidur. Setelah lelah menangis, gadis itu jatuh pingsan di dalam pelukannya. "Dia akan baik-baik saja. Apakah kau belum menemukan celah untuk masuk ke dalam lingkaran Darkness?"
Beth menghela napas, bagaimana ia akan masuk ke dalam lingkaran tersebut, disaat nama kelompok itu senter terdengar namun tudak seorang pun yang pernah melihat atau pun bertemu dengan salah satu anggotanya. Beth sendiri meragu jika kelompok itu ada. Namun, kelompok tersebut digadang-gadang sebagai kelompok yang kelak akan menguasai seluruh Amerika Serikat.
"Ini perkara sulit."
Steve duduk di tepi ranjang, kening Lexi terlihat mengernyit. Jemarinya terulur mengusap dahi gadis itu. Lexi tiba-tiba menggenggam tangannya dengan erat. Sepertinya gadis itu kembali bermimpi. Bukan mimpi indah. Steve menggenggam tangan Lexi, mengusap punggung tangan gadis itu dengan lembut.
"Bagaimana dengan Willson? Apakah mereka tahu tentang kelompok itu."
"Anggota mereka sulit didekati. Semuanya sangat setia terhadap Willson."
Steve terdiam. Ia tahu apa yang dikatakan Beth benar adanya. Sam pernah menawarkan kerja sama kepada beberapa anak buah Willson, bukan penolakan yang mereka terima, tapi orang-orang tersebut mendadak tuli, menolak mendengar apa yang ditawarkan Sam.
"Bagaimana kondisi perutmu?"
"Mendadak sembuh," sahutnya dengan nada tidak acuh.
Beth terkekeh, "Gadis ini sangat mujarab kalau begitu. Dia terlihat sangat tertekan. Dia akan semakin terluka jika tahu kenyataan yang sedang menunggunya di depan sana. Kau berniat menghabisi nyawa ayahnya."
Steve terdiam, tidak berselera menanggapi ucapan temannya itu.
"Sebenarnya berapa daftar orang yang hendak kau habisi nyawanya."
"Berbicara tentang nyawa, Juliet butuh daging dan Rudolf sudah membangkai di ruang bawah tanah. Minta seseorang memindahkannya ke kandang Juliet. Kosongkan kandang tersebut. Buat semuanya bersih, jangan ada yang tersisa, termasuk bau amis."
"Wow, apakah kau memiliki ruang eksekusi yang baru?"
"Tidak. Ruangan itu sudah diketahui. Aku tidak ingin terjebak."
"Bagaimana bisa?"
Steve mengidikkan bahu, "Pergilah. Aku lelah."
"Ck!" Beth memutar bola matanya dengan jengah. Beberapa saat lalu, pria itu menghubunginya dengan cara mengancam agar sampai dalam waktu sepuluh menit dan sekarang, Steve mengusirnya tanpa perasaan.
"Oleshia mungkin menunggumu malam ini." Beth tidak ingin kesal sendiri. Menyebut nama Oleshia mungkin bisa merubah mood pria itu. Beth lupa jika Steve adalah pria yang sangat sulit untuk ditebak. Mimiknya datar dan tenang.
"Aku akan menemuinya." Jawaban Steve membuat Beth menganga. Bagaimana bisa si bajiingan ini menemui wanita lain disaat ada gadis di atas ranjangnya.
"Dasar bajiingan!" Beth dibuat kesal sendiri. "Hati-hati dengan permainanmu, Dude."
Ketukan di pintu menghentikan Beth mengeluarkan ceramahnya lebih panjang lagi. Pria itu melangkah lebar untuk membukakan pintu.
"Ada apa?"
Jordan melirik ke dalam, melihat Steve yang duduk di tepi ranjang, masih dengan menggenggam tangan Lexi.
"Oleshia Phyllida memasuki pekarangan dan mungkin sekarang sudah ada di lantai bawah, menuju kemari."
Beth tergelak, inilah yang ia harapkan. Pemain wanita ada di dalam satu frame. Ia penasaran bagaimana Steve akan mengatasi masalah ini. Beth menatap penuh semangat ke arah Steve, si playboy bajiingan. Masih saja wajah rupawan itu terlihat santai. Hais, Beth tidak suka ini. Ia menginginkan kehebohan dan kekacauan. Kapan lagi bisa melihat wajah Steven panik, Beth rasa ini lah saatnya. Sayang, sikap yang diperlihatkan Steve tidak sesuai dengan yang ia harapkan.
Steve melepaskan genggamannya dari tangan Lexi. Ia beranjak menuju walk in closet untuk mengenakan pakaian, sejak tadi ia masih mengenakan jubah mandi. Hei, masih sempat-sempatnya sementara Oleshia sedang menuju kemari.
Tidak berapa lama, Steve keluar dengan pakaian semi formal. Beth masih ada di sana, begitu pun dengan Jordan.
"Apa lagi yang kalian lakukan di sini?" Steve mendorong Beth keluar, sementara Jordan langsung berbalik untuk angkat kaki.
"Steve..." panggilan Oleshia membuat ketiga pria itu serempak menoleh. Wanita itu tersenyum sembari melebarkan langkah.
"Kena kau!" Beth tersenyum puas. Pintu kamar belum dikunci, Lexi terlihat dengan jelas dari posisi mereka berdiri.
"Pengaturan waktu yang sempurna," sarkas pria itu.
"Kau mau kemana?" tanya Oleshia.
"Rumah sakit."
Lagi dan lagi Beth hanya bisa berdecak. Steve selalu mampu berkelit dengan mulus.
"Rumah sakit?"
"Hmm, aku sepertinya keracunan makanan. Beth menyarankan agar aku ke rumah sakit. Kau mau menemaniku. Akan membosankan jika harus pergi bersama Beth."
Oleshia menoleh ke arah Beth yang memasang wajah masam.
"Bagaimana bisa kau keracunan makanan?" mengalihkan kembali tatapannya kepada Steve, wajah pria itu memang sangat meyakinkan. Sedikit pucat. "Oh, wajahmu terlihat lesu," jemarinya membelai wajah Steve. "Kenapa bisa keracunan?"
Steve menrunkan tangan Oleshia dari wajahnya, menggenggamnya dan menuntun wanita itu berjalan. "Untuk pertanyaan itu sebaiknya kau tanyakan kepada Jordan."
"Jordan pun difitnah," celetukan Beth tidak Steve hiraukan. Ia terus melangkah, menjauh dari kamar.
"Sebaiknya aku menunggu di kamarmu. Kau pergi bersama Oleshia, bukan? Denganku sangat membosankan, jadi aku tidak ingin merusak suasana hatimu. Aku akan memikirkan apa yang bisa kulakukan di kamarmu."
Langkah Steve berhenti, ia berbalik menatap teman laknatnya itu. Steve tahu jika Beth sangat menantikan kekacauan dan Steve tidak akan membiarkan dirinya hilang kendali yang nantinya menjadi bahan tontonan.
"Tidak ada yang bisa kau lakukan di kamarku. Jadilah sopir untukku dan Oleshia," ucap pria itu dengan enteng. "Bergegaslah sebelum aku benar-benar mengalami dehidrasi."
"Hallah..." Beth mengibaskan tangannya dengan malas. "Sepandai-pandainya tupai melompat pada akhirnya akan jatuh juga."
"Aku Steven Dixton Ivarez, bukan seekor tupai, Beth. Tupai yang kau maksud mungkin tidak mengenal jalan yang ia lalui, tidak fokus dan hilang kendali. Dan Beth, apa kau sedang menyumpahiku?"
"Ada apa dengan tupai? Kau menyembunyikan sesuatu, Steve?" Oleshia menatapnya dengan penuh curiga.
Yes! Beth bersorak dalam hati.
"Kau merasa aku menyembunyikan sesuatu?" Steve balik bertanya.
"Ya..." Oleshia menjawab ragu. Matanya masih mengawasi Steve dengan intens.
"Kau ingin tahu?"
"Ya." Oleshia menganggukkan kepala dengan cepat.
Steve merengkuh pinggang Oleshia hingga tubuh mereka menempel. Didekatkannya wajah mereka, menyisakan jarak bibir yang begitu tipis.
"Aku menyembunyikan seorang wanita di kamarku," bisiknya dengan nada sensual di atas bibir wanita itu. "Ingin bermain gila di belakangmu."
"Steve!" manik Oleshia membeliak kesal.
"Ya, Shia. Kau ingin melihatnya?"
"Steve...."
"Lihatlah dan pastikan sendiri. Aku tidak suka dicurigai, Shia." Steve mendorong tubuh Oleshia. "Silakan." Ia mempersilakan Oleshia menuju kamarnya.
"Kau harus ke rumah sakit. Maafkan aku," Oleshia kembali merapatkan tubuh mereka. Dikecupnya bibir pria itu dengan kilat. "Kita harus ke rumah sakit."
"Ya. Menurutmu, apa Beth perlu ikut?"
"Tidak perlu. Aku yang akan merawatmu."
"Itu akan lebih menyenangkan." Steve memeringkan kepala, mengerling jenaka saat Beth memberikan jari tengah. Steve menang!