H.U.R.T

H.U.R.T
Kau Puas?



Lexi masuk ke dalam kamarnya, mengunci dirinya di sana. Melepaskan sepatunya dan berjalan lunglai ke atas ranjang. Yang ia butuhkan saat ini adalah tidur. Dengan tidur, setidaknya ia bisa melupakan yang sedang ia alami. Biarkan ia memulihkan tenaganya dengan mengistirahatkan hatinya sejenak. Pertanyaannya, apakah dia bisa memejamkan mata?


Yang dilakukan Lexi justru menyembuyikan wajah di atas bantal. Meraung dengan meredam suaranya di sana. Meluapkan rasa sesak di dadaanya. Adakah orang yang masih bisa terlihat baik-baik saja setelah dibohongi selama belasan tahun. Lexi menangisi makam yang ia yakini adalah makam Steven. Ia bertanya-tanya apa yang dipikirkan orang-orang saat menyaksikan hal tersebut. Lexi merasa ini menggelikan.


Ketukan di pintu Lexi abaikan. Ia ingin sendiri meresapi luka yang ditorekan kepadanya. Ia ingin luka itu menyatu di dalam dirinya meski sesungguhnya ia sudah tidak kuat menampung hal itu lagi. Luka yang satu belum sembuh, ia kembali dihantam dengan luka yang lebih mengerikan. Hancur, hatinya benar-benar hancur saat ini.


Trauma, tidak bisa disalahkan jika pada akhirnya Lexi mengalami trauma kepercayaan. Akan merasa tidak pantas untuk siapa pun. Lexi akan sampai pada titik tersebut. Sekalipun orang-orang di luar sana sudaj jujur kepadanya. Bagi Lexi tetap tidak ada orang yang tulus lagi di dunia ini. Baginya kepercayaan lebih mahal dari apa pun dan orang-orang yang ia percayai berbondong-bondong menyembunyikan kebenaran darinya. Jadi ke depannya, akan sulit baginya mempercayai orang lain. Dia sadar bahwa dirinya sedang trauma, oleh sebab itu ia memilih untuk tidak membuka hati lagi. Menutup akses bagi mereka untuk menyakitinya kembali. Ia bertekad untuk berhenti peduli dengan orang lain, karena sesungguhnya ia sudah lelah dengan semuanya, bahkan lelah dengan dirinya sendiri.


Begitulah memang sejatinya orang yang menderita trauma. Akan merasa dirinya tidak pantas untuk siapa pun. Lexi sedang berada di fase ini.


"Lexi, buka pintunya. Mom ingin berbicara padamu."


Lexi menulikan telinganya. Yang ia butuhkan saat ini adalah menyendiri, menikmati luka yang diberikan kepadanya.


Ia sudah mengambil keputusan untuk mengakhiri semuanya. Jadi, biarkan untuk satu malam ini ia meresapi semuanya, semua rasa yang ditawarkan padanya. Esok hari, ia berjanji kepada dirinya jika begitu matahari menunjukkan wujudnya, semua akan berubah.


Lexi tidak tahu sudah berapa jam ia menangis, rasa sesak itu tetap di sana, menghantam daddanya. Nyatanya, sebanyak apa pun air mata yang ia keluarkan tidak lantas membuatnya berasa lebih lega. Hitungan jam yang ia berikan kepada dirinya untuk berdama dengan luka tersebut juga tidak memberi pengaruh apa-apa. Luka itu masih sama. Menganga dan sakit. Tapi matahari sudah terbit saat ia belum memejamkan mata walau hanya beberapa menit. Ia sudah berjanji bahwa semuanya akan berubah. Pun ia segera bangkit dari atas ranjang.


Pusing menyerang, ia abaikan begitu saja. Lexi melangkahkan kaki menuju toilet. Air dingin adalah satu-satunya yang ia butuhkan saat ini untuk menyadarkannya bahwa hidup harus tetap berjalan.


Lexi menyiram tubuhnya, berharap air tersebut mampu membasuh lukanya dan membersihkannya layaknya menghilangkan noda. Keinginan yang konyol memang. Karena setelah ia membersihkan tubuhnya dengan sabun secara berulang kali, luka itu masih nyata. Melekat dalam di di hati dan setiap sel-sel tubuhnya. Tindakannya justru menimbulkan luka baru di tubunya karena ia menyikat tubuhnya dengan begitu kuat hingga meninggalkan memar kemerahan. Persetan dengan memar di tubuh, itu akan sembuh dalam hitungan hari.


Lexi keluar dari dalam toilet. Ia mengeluarkan pakaian terbaiknya, lalu ia berdandan secantik mungkin.


"Baiklah, Lexi, saatnya menyapa keluargamu." Ia menarik kedua sudut bibirnya. Senyum indah menawan terpatri di sana. Tidak ada lagi jejak kesedihan di sana.


Lexi menarik napas panjang sesaat sebelum ia membuka pintu kamarnya. Bersamaan dengan Ayah ibunya yang juga keluar dari kamar.


"Mom, Dad!" Lexi menghampiri keduanya. "Selamat pagi," sapanya seraya menghadiahi keduanya dengan kecupan manis.


"Selamat pagi, Sayang." Alena mengusap kepala Lexi dengan penuh kasih sayang. "Bagaimana keadaanmu?"


"Baik. Aku senang bisa kembali ke rumah. Apakah Austin sudah kembali."


Pax dan Alena saling menatap. Lexi berusaha terlihat baik-baik saja, tapi gadis itu tidak cukup baik melakukannya. Saat menyebut nama Austin, suaranya bergetar ketakutan. Raut wajahnya menyiratkan kecemasan. Lexi bukan pembohong yang pintar.


"Dad, apa kau sudah menghubungi Harry dan keluarganya untuk membicarakan hari baik."


"Lexi, kenapa tiba-tiba sekali?" Pax bertanya penuh hati-hati.


"Ini bukan tiba-tiba, Dad. Aku dan Harry sudah berhubungan baik sejak lama. Dia pria yang baik, pria terhormat. Aku sudah berusia hampir 30 tahun. Apakah Mom dan Dad tidak ingin menimang cucu?"


"Keputusan yang diambil secara mendadak justru akan memperkeruh suasana," ucap Pax dengan muram. Harry dan Lexi akan terluka. Sama seperti Luna dan dirinya dulu.


"Lexi..."


"Aku lapar sekali. Mom, ada sarapan apa pagi ini. Setelah sarapan aku akan menghubungi Harry untuk menyampaikan kabar baik ini. Dia pasti tidak sabar sama sepertiku."


Lexi menuruni tangga, meninggalkan kedua orangnya yang kompak menarik napas panjang. Semuanya benar-benar semakin sulit.


Di pertengahan tangga, langkah Lexi terhenti saat melihat sosok yang baru masuk melewati pintu utama. Waktu seakan berhenti berputar saat manik keduanya beradu. Penampilan Steve sangat kacau. Pria itu bahkan masih mengenakan pakaian yang sama dengan yang dikenakan tadi malam. Rambutnya berantakan tapi tidak mengurangi kadar ketampanan sama sekali.


"STEVEENNN!!!"


Lexi melengkingkan suara sembari berlari ke arah pria itu dan menjatuhkan dirinya ke dalam pelukan Steve. Terang saja tindakan Lexi tersebut membuat Steve terkejut.


Lexi ada di dalam pelukannya. Memeluknya dengan sangat erat. Ini nyata! Astaga, sulit bagi Steve untuk mempercayai hal tersebut. Steve baru saja hendak mengulurkan tangan membalas pelukan gadis itu, Lexi sudah mengurai pelukan mereka.


Manik gadis itu berbinar-binar cerah, senyum indah mengambang di wajah cantiknya. Ada apa ini? Ini bukan reaksi yang diinginkan oleh Steve. Ia mengharapkan makian dan amukan.


"Le-Lexi...."


"Ya? Apa yang kau lakukan di sini pagi-pagi? Oh astaga! Aku masih tidak percaya jika kau adalah si culun Percy. Apa yang kau bawa?" Lexi melirik seseorang yang masuk membawa box yang cukup besar.


"Sampanye tua untuk ayahmu."


Lexi tertawa renyah, "Daddy tidak meminum alkohol. Astaga, ada berapa banyak yang kau bawa?"


"500 botol."


"Jangan katakan kau bersungguh-sungguh menyicil 1000 botol sampanye?"


"Itulah yang kulakukan. 501 botol. Sisa 499 botol."


Ya ampun, ini sangat konyol. Entah apa yang sedang mereka bahas di tengah kegentingan hubungan mereka. Steve benar-benar merasa bodoh. Dia hampir gila memikirkan cara untuk menjelaskan semuanya kepada Lexi dan pagi ini, saat ini, reaksi Lexi justru membuatnya semakin gila. Sial! Kenapa ia harus membawa sampanye konyol ini.


"Dad," Lexi berbalik dan menarik tangan ayahnya mendekat. "Steven membawa sampanye mahal dengan jumlah yang lumayan banyak. Kurasa kali ini kau harus menerimanya demi mengirit modal jamuan saat pernikahanku dengan Harry."


"Per-pernikahan?" Steve mendadak pucat.


"Oh ya. Aku dan Harry akan menikah."


Steve merasakan rahangnya jatuh ke lantai. Entah mendapat bisikan setan dari mana, ia melangkah lebar dan meraup kerah baju Pax Willson dan melayangkan bogemannya di sana.


"KAU PUAS?!"