H.U.R.T

H.U.R.T
Selamat Datang Neraka



"Kau yakin akan pergi?"


Steve tergelak mendengar pertanyaan Beth yang dilontarkan dengan nada prihatin bercampur khawatir.


"Entah kenapa aku lebih menyukai saat kau memprovokasi atau pun mengejekku, Beth."


"Kau terlihat sangat menawan, Dude." Beth mengabaikan sindiran Steve. Pria bertubuh jakung itu melintasi ruangan, berdiri tepat di hadapan Steve. "Aku akan merapikan dasimu sedikit."


"Silakan," Steve mempersilakan.


Keheningan terjadi. Beth memandangi wajah Steve dengan lekat, seksama dan intim. Mencari-cari sesuatu di sana. Apa yang sedang dipikirkan Steve dan apa pria itu memiliki suatu rencana yang tidak diketahui oleh mereka karena selama ini Steve selalu merencanakan segala sesuatunya secara sendiri dan tidak pernah membaginya sampai akhir.


"Tatapanmu membuatku risih." Steve mendorong Beth dengan sedikit kuat. "Kau masih normal?"


"Aku tidak keberatan menjadi pria tak normal asal kau yang menjadi pasanganku," sahutnya asal. "Kau terlalu menyedihkan."


"Aku baik-baik saja. Berhenti mengkhawatirkanku dan mengatakan hal konyol. Bagaimana kabar ayah dan ibuku?"


"Mereka sudah sampai di tujuan dengan selamat dan mereka menyukai tempat yang mereka tinggali sekarang. Ck! Kau bahkan membohongi mereka, mengatakan jika ini hanya sebatas liburan."


Steve mendesaah, memangnya apa yang bisa ia lakukan? Orang tuanya pasti akan bersedih untuknya. Lagi pula, ia melakukan ini untuk berjaga-jaga dari serangan yang mungkin terjadi secara tiba-tiba.


"Roxi sudah pergi?"


"Ya, dia ada di rumah Willson. Setelah memberi selamat, ia akan langsung terbang. Sepertinya istrinya mengandung anak kedua."


"Dasar pria jahannam."


"Kita sungguh akan pergi?" Beth kembali ke topik utama.


"Aku yang akan pergi, Beth. Kau tidak memiliki undangan," seloroh pria itu seraya melangkahkan kaki meninggalkan ruangannya. "Lexi mengundangku dan aku harus datang untuk melihat secantik apa dirinya dalam balutan gaun pengantin."


"Kau hanya menabur garam ke dalam lukamu yang menganga."


Steve tidak menanggapi lagi. Ia terus menuruni tangga, melangkah lebar menuju mobilnya yang sudah siap sedia di halaman rumah.


"Aku pergi." Ia melompat masuk ke dalam mobil yang disusul oleh Beth. Pria itu duduk di bangku penumpang.


"Aku harus ada di sana untuk memastikan bahwa kau tidak akan meraung dan jatuh pingsan."


"Kau terdengar seperti sedang mengutukku." Steve segera melajukan mobil menuju mansion keluarga Willson.


Tidak ada yang berbicara sepanjang perjalanan. Beth memberi ruang kepada Steve untuk berpikir jernih, tapi nyatanya pikiran pria itu tetap saja sudah tidak bisa diselamatkan lagi saat mobil mereka berhenti di depan gerbang yang terbuka luas.


"Pintu menuju neraka," Beth bergumam lirih. Steve hanya bisa tersenyum miring mendengar Beth meledeknya untuk kesekian kalinya.


"Aku sungguh tidak mengerti jalan pikiranmu, Kawan." Beth terus saja berceloteh. Ada perdebatan kecil antara Steve dan para pengawal Willson saat Beth memaksa ikut masuk tanpa undangan.


"Oh Tuhan," Beth memekik begitu matanya menangkap sosok Harry yang berdiri begitu gagah di altar, menunggu sang mempelai wanita.


"Pernikahan ini nyata. Jika kau ingin menarik pelatuknya, sekaranglah waktu yang tepat, Dude." Steve yang patah hati, Beth yang panik dan kacau seperti cacing kesurupan.


"Tidak ada senjata, Beth."


"Kau yakin?" Beth meraba tubuh pria itu dan memang tidak menemukan apa-apa.


"Ck! Mereka sudah melakukan pemeriksaan. Jauhkan tanganmu dari tubuhku!" Maniknya memindai ke seluruh penjuru. Mengawasi dengan tajam setiap pergerakan para tamu undangan.


"Racun. Kau membawa racun racikanmu? Berikan padaku, aku akan membubuhkannya di minuman atau pun makanan Harry."


Steve hanya melirikkan matanya sekilas kepada Beth seraya menggelengkan kepala. Salut dengan pemikiran jahat yang bertebaran di otak rekannya itu.


"Steve..."


"Jika kau terus bersuara, jangan salahkan aku jika nanti gigimu sudah tidak ada di sana lagi, Beth. Telingaku berdengung mendengar celotehanmu."


"Aku peduli padamu, sialan!"


Beth mendengus, pun ia segera duduk di bangku yang disediakan untuk para tamu yang akan menjadi saksi dalam acara sakral ini.


"Kau yakin Harry mampu membuat Lexi bahagia?"


"Aku yakin dia mampu." Steve memandangi Harry yang memang terlihat sangat gagah dan memukau. Tersirat kegugupan di wajahnya yang rupawan. Mulutnya komat kamit melafalkan janji yang akan ia ucapkan nanti. Beberapa saat lagi.


"Sialan kau, keparat! Kenapa kau begitu terlihat tenang, brengsek!" Beth benar-benar emosi.


Apakah ia sebaiknya keluar dan merebut satu senapan para pengawal Willson dan menembak kepala otak Steve untuk mencari tahu apa yang sedang dipikirkan pria itu. Oh, sungguh Beth sangat tergoda untuk melakukannya.


Tapi sepertinya ia harus mengurungkan niatnya tersebut saat suara seseorang yang mengumumkan bahwa mempelai wanita akan segera datang.


"Jantungku berdebar," Steve bergumam yang langsung mendapat decakan malas dari Beth.


"Dan sebentar lagi, jantungmu akan berhenti berdetak untuk selama-lamanya."


"Ya, Tuhan, dia cantik sekali."


Beth menoleh mengikuti kemana arah tatapan Steve berlabuh. Lexi memasuki ruangan bersama ayahnya. Keduanya bergandengan dengan begitu erat. Veil yang menutupi wajah Lexi tidak menyembunyikan kecantikan gadis itu sama sekali. Lexi memang terlihat sangat luar biasa. Beth mengakui hal itu.


Saat melewati dirinya, Lexi menggumamkan kata terima kasih sambil tersenyum.


"Aku turut berduka untukmu, Kawan." Beth menepuk pundak Steve memberi dukungan. Steve hanya menundukkan kepala untuk sesaat sebelum kembali mengangkat kepalanya untuk menatap ke depan di mana Lexi akan bersanding dengan pria pilihannya.


"Masih belum terlambat, Steve."


"Dia sangat cantik, bukan?"


"Ya, tapi jika kau bergerak lambat, beberapa menit lagi kau sudah tidak bisa memuji wanita yang berstatus istri orang lain. Begitu lah tatakramanya. Bagaimana, kau berubah pikiran?"


"Diamlah!" Suara Steve terdengar lemah, tidak bertenaga.


"Kurasa kita sebaiknya pergi. Kau membunuh dirimu secara perlahan, Kawan. Apa yang ada di otakmu sekarang?!"


Beberapa tamu undangan menoleh kepada mereka karena sejak kedatangan mereka, Beth terus saja berkicau layaknya ibu-ibu yang sedang menawar di pasar.


"Kau di sini?" Darren berhenti di samping mereka. Ia meminta ibunya agar duduk terlebih dahulu.


"Ya. Aku memiliki undangan, bukan penyusup."


"Lexi sudah menentukan pilihannya," Darren bergumam.


"Ya, aku bisa melihatnya."


"Lalu apa yang kau lakukan?"


"Menyaksikan pilihannya."


Darren tersenyum hambar, "Lexi sudah menetapkan pilihannya, lantas kenapa kau masih di sini? Menatapnya dengan penuh cinta. Kau yang terlalu setia atau kau yang ingin berteman dengan luka?" ucapan Darren begitu menohok, tapi benar adanya.


Steve meneguk saliva dengan kuat, rasanya sangat pahit luar biasa. Ia mendongak, menatap Darren yang juga sedang menatapnya dengan prihatin.


Sementara mereka berbincang, Harry sedang mengikrarkan janji suci dengan lantang dan lugas tanpa disadari mereka.


"Kau hanya tidak tahu segemetar apa jiwaku saat aku harus terpaksa mengubah alur doaku. Bukan lagi tentang agar Lexi dikembalikan kepadaku, melainkan agar rasaku terhadapnya segera dicabut dari hatiku. Nyatanya, hingga detik ini rasa itu masih ada. Tidak satupun dari doaku itu dikabulkan. Bolehkah kau memberi saran kepadaku, Darren. Apa yang harus kulakukan?"


"Mempelai pria dipersilakan mencium mempelai wanita," terdengar suara yang menikahkan Lexi dan Harry, memberi perintah sebagai isyarat bahwa keduanya sudah sah menjadi suami istri.


Steve, Darren dan Beth sama-sama terkejut. Mereka melewatkan janji suci yang diucapkan.


Harry membuka veil yang menutupi wajah Lexi, pria itu tersenyum lebar, menandakan betapa bahagia dan leganya dirinya bahwa kini Lexi sudah menjadi miliknya. Kedua tangan kekar Harry merangkum wajah Lexi yang juga dihiasi senyuman manis. Pun Harry mengikis jarak wajah mereka. Pria itu mendaratkan bibirnya di kening Lexi begitu lama dan dalam.


Steve tersenyum kecut sembari memalingkan wajah, "Kita melewatkan acara klimaksnya dan ini karena ulahmu, Darren." Steve menundukkan kepala untuk kesekian kalinya, sebulir air mata menetes di punggung tangannya yang saling bertaut. "Selamat datang neraka, Steven Percy."