H.U.R.T

H.U.R.T
Apa Yang Terjadi Denganmu?



"Bagaimana kondisimu?"


Setelah makan malam, Austin dan Steve mengunjungi Darren di kamar. Pria itu menolak untuk bergabung makan bersama dan meminta pelayan mengantarnya ke kamarnya.


"Kau bertanya karena peduli atau penasaran," Darren menanggapi pertanyaan Steve dengan malas. Jujurly, ia juga tidak mengharapkan kehadiran kedua pria itu. Ia baru saja hendak istirahat saat wajah Austin dan Steve muncul di ambang pintu. Percuma mengusir secara terang-terangan, Darren tahu keduanya tidak akan mengindahkannya.


"Aku peduli juga penasaran," sahut Steve dengan nada geli. Steve langsung bisa menebak jika Darren masih menahan kekesalan kepadanya, tapi ia tidak berniat sama sekali untuk meminta maaf. Menurutnya, kesalahpahaman Isabell bukan merupakan salahnya sepenuhnya. Ia hanya berbicara sambil lalu, Darren menanggapi celetukannya secara berlebihan.


"Kau perhatian sekali," Darren melayangkan tatapan sinis.


"Itu karena kau adalah saudara yang begitu disayangi istriku."


"Jika tidak memiliki urusan yang begitu mendesak, sebaiknya kalian berdua keluar dari kamarku," pengusiran itu dilakukan dengan suara tenang dan minim ekspresi.


"Kami bertemu Jossie," Austin mengabaikan pengusiran itu dan justru memulai topik ghibah mereka. Pria itu duduk di tepi ranjang sementara Steve menarik kursi untuk ia duduki. Darren hanya bisa pasrah saat kedua pria itu tidak mengindahkan pengusiran yang ia lakukan, justru keduanya mengambil posisi masing-masing.


"Kau masih mengingatnya, bukan? Jossie, ibu dari Jorell dan Jely," Austin menjelaskan karena tidak tanggapan dari Darren. Meski Austin yakin Darren mengingat wanita itu tapi kemungkinan Darren melupakan Jossie juga ada meski kemungkinan tersebut sangat kecil.


"Hmm," Darren bergumam, tidak menunjukkan keantusiasannya sama sekali.


"Kau tahu jika Jossie adalah putri dari Julio Moore?" pertanyaan Austin sedikit mendesak. Darren melepaskan sikap tidak acuhnya, menatap adiknya juga Steve silih berganti. Wajah Austin lebih tegang dibanding dengan wajah Steve. Ya, tidak mengherankan sama sekali. Darren yakin tidak akan ada yang bisa membuat seorang Steve panik, takut, selain bahaya yang mengintai Lexi.


"Ya. Kami sempat berbicara tentang hal itu."


"Kenapa kau tidak mengatakannya kepadaku."


"Kenapa aku harus mengatakannya kepadamu? Seingatku kita bukan saudara yang menghabiskan waktu untuk membahas satu wanita."


Steve tertawa nyaring mendengar penuturan Darren. Tendangan Austin di tulang keringnya tidak membuat pria itu berhenti tertawa sama sekali.


"Kuharap kalian tidak menyukai wanita yang sama," Kali ini Darren yang melayangkan tatapan sinis kepadanya. Jelas Darren tahu apa maksud pernyataan iparnya tersebut. Tapi apa daya, ingin menghajar Steve, luka di balik punggungnya belum sembuh sepenuhnya. Dalam beberapa hari, ia bersumpah akan menunaikan hasratnya. Memberikan peringatan manis pada ipar tersayangnya dengan bogemannya.


"Kami menyukai wanita yang sama?" Austin menggaruk keningnya. Selanjutnya keningnya mengernyit mengartikan pernyataan ringan Steve yang mendadak terasa berat. "Belum pernah dalam sejarah," Austin yakin dan sangat yakin. Selera wanitanya berbeda dengan saudaranya dan seperti yang dikatakan Darren, mereka jarang terlibat dengan satu wanita dan setelah dipikir-pikir, gaya pertemanan mereka juga berbeda. Austin memiliki segudang wanita, entah itu sekedar kenalan atau mungkin partner untuk bersenang. Austin tidak pemilih, selama dia menikmatinya, ia tidak kira-kira mengenai tipe atau bibit, bebet, dan bobotnya. Senang dan puas. Cukup dua kata itu untuk bisa menjadi temannya.


Sementara Darren cenderung menutupi kehidupan pribadinya. Apakah Darren tidak pernah berkencan setelah Oleshia meninggal. Jelas pernah.


"Dan semoga kau dan dia tidak menciptakan sejarah. Aku tidak bisa membayangkan kau dan dia sama-sama menodongkan senjata hanya karena satu wanita," Steve berusaha menahan tawanya. Tatapan Darren yang menghunus tajam pura-pura ia abaikan. Ia tidak tahu sejak kapan menggoda Darren begitu menyenangkan.


"Itu tidak akan pernah terjadi," Austin mengibaskan tangannya dengan malas.


"Bagaimana jika hal itu terjadi, apa yang akan kau lakukan?"


Darren sudah tidak tahan lagi, ia segera duduk dan melayangkan tendangan ke kaki Steve yang berhasil dihindari ipar kurang ajarnya itu.


"Apa sebenarnya yang ingin kau katakan? Kau terdengar seperti sedang mengutuk kami."


Tawa Steve kembali lepas, "Tuduhan macam apa ini? Aku hanya bertanya, tidak sedang mendoakan. Austin menanggapinya dengan santai kenapa kau justru langsung menggunakan ototmu."


Darren memaki dengan umpatan kasar, tindakannya itu lagi dan lagi menjadi hiburan bagi Steve.


"Hal itu tidak akan pernah terjadi. Aku dan Austin tidak akan pernah terjebak dengan satu wanita. Andai hal itu terjadi, aku yang akan menghentikannya. Untuk itu, berhentilah membahas sesuatu yang tidak akan pernah terjadi. Sebaiknya kau keluar dari kamarku. Gula darahku naik hanya karena melihat wajahmu."


"Aku tahu wajahku memang sangat rupawan." Steve mengatupkan kedua tangannya di dadaa. Tindakan sok paten itu praktis mendapat decakan kesal dari Darren dan Austin.


"Jossie sudah bercerai dengan suaminya," Austin mengembalikan topik perbincangan ke awal.


"Oh ya?" Tanggapan Darren santai dan ringan. Tidak terkejut dan tidak antusias seakan-akan ia sudah mengetahuinya.


"Kau sudah mengetahuinya?" tebak Austin.


"Tidak," sahutnya singkat. Saat Jossie mengunjunginya di rumah sakit, ia sudah bisa menebak.


"Suaminya baru saja dinyatakan meninggal." Kali ini Darren menunjukkan reaksi. Alisnya menukik dan keningnya mengerut.


"Heh?"


"Beth menjadi tersangka. Tapi kami berhasil membebaskannya dengan uang jaminan. Jadi, katakan padaku apa yang kau ketahui tentang Jossie selain dia adalah putri dari Julio Moore."


"Dia ibu Jorell dan Jely."


"Selain itu?"


"Tidak ada."


"Alamatnya?"


"Tidak tahu."


"Sekolah Jorell dan Jely?"


"Tidak tahu. Untuk apa semua ini?"


"Untuk membebaskan Beth dari segala tuduhan."


"Apa hubungannya dengan Jossie. Dia dan suaminya sudah bercerai. Jangan melibatkan..."


"Mantan suaminya diduga merupakan putra dari Bartoli." Kali ini Steve lah yang membuka suara.


"Bartoli yang menyerang kita di pantai? Maksudnya bukan Isabell yang mereka incar?"


Steve dan Austin serempak mengangguk. Ini baru dugaan mereka tapi baik Steve atau pun Austin yakin dengan dugaan tersebut. Semenjak bercerai dari Jossie, Santos ternyata sudah meninggalkan pekerjaannya. Informasi bahwa kemungkinan Santos ada hubungannya dengan Bartoli mereka dapatkan dari Roxi. Roxi tidak akan memberikan informasi jika dia masih ragu dengan dugaan tersebut. Hanya saja, pernyataan Beth yang mengatakan bahwa Santos dibesarkan oleh pasangan suami istri da Costa menimbulkan sedikit keraguan. Suami istri da Costa merupakan penduduk yang sangat taat. Mr. Da Costa bahkan merupakan seorang pendeta yang sangat taat. Kenyataan tersebut dibenarkan oleh warga setempat. Sayang, Mr dan Mrs. Da Costa sudah meninggal sepuluh tahun silam dalam sebuah insiden kecelakaan sehingga Austin dan Steve tidak bisa menguji tes DNA Santos dengan pasangan tersebut.


"Bagaimana kalian yakin dengan dugaan tersebut."


"Hasilnya akan keluar beberapa hari lagi. Steve mengambil sampel darah yang tercecer dan meminta Roxi untuk mengujinya. Apakah sampel tersebut cocok dengan sampel darah Bartoli yang masih disimpan pihak FBI."


"Ini semakin membingungkan. Kita diserang hanya karena dua anak kecil yang secara kebetulan bermain dengan kita. Seandainya, DNA keduanya cocok, lantas apa masalahnya? Kita tidak ada hubungannya dengan Jossie dan anak-anaknya. Kurasa tindakan penembakan itu terlalu berlebihan, kecuali kita memang sudah diawasi sejak awal. Aku tidak yakin ini hanya tentang Jossie dan anak-anaknya."


Ketukan di pintu menghentikan perbincangan tersebut.


"Masuk," Darren memberi perintah tanpa menoleh. Waktunya minum obat, ia yakin salah satu pelayan yang datang mengantar obatnya.


"Aku merasa tidak asing dengan Jely, dia mengingatkanku pada seseorang. Hanya saja aku lupa siapa orang tersebut."


"Kalimatmu amburadul sekali, Kawan." Steve berdiri dari tempatnya, berniat untuk kembali ke kamarnya.


Saat ia berbalik, siulan jenaka keluar dari mulutnya, membuat Darren dan Austin menoleh. Detik pertama, keduanya menganga kagum. Detik selanjutnya, Darren dan Austin terbatuk-batuk.


"Aku datang untuk mengambil piring kotor dan mengantar obatmu." Isabell melenggang santai, menolak menatap wajah Darren maupun Austin. Ia meletakkan obat di atas nakas. Kemudian mengangkat nampan berisi piring kotor.


"Apa yang terjadi denganmu?" Pertanyaan itu terlontar dari mulut Austin. Tidak ada dress yang menyerupai karung beras yang menutupi tubuhnya. Isabell mengenakan jeans yang dipadukan dengan rajut hitam berlengan panjang.


"Tanyakan kepadanya dimana pagar gigi juga kaca mata tebalnya?" Dan pertanyaan ini berasal dari Darren.


.


.


.