
"Ehmm," Steve sengaja berdehem begitu ia memasuki kamar. Terlihat Lexi sedang duduk manis di sofa sambil memainkan ponsel.
"Aku tidak tahu kau datang," berusaha bersikap biasa, tapi nyatanya tidak bisa. Tetap saja ia salah tingkah saat Lexi mengangkat kepala dan mata mereka beradu. "Aku tidak tahu kau ada di sini," Steve menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Ia bersumpah akan menghajar Beth hingga babak belur.
"Aku tidak melihat apa pun, sungguh!" Lexi sampai mengacungkan dua jarinya hingga berbentuk 'V'.
"Tidak melihat apa pun?" Tatapan Steve jahil dan sudut bibirnya tampak berkedut menahan geli.
"Ya. Tidak melihat apa pun!"
"Aku melihat hidungmu memanjang."
Spontan Lexi memegang hidungnya. "Aku bukan pinokio!"
"Tentu saja kau lebih menggemaskan daripada boneka kayu itu." Jawaban ringan pria itu membuat wajah Lexi bersemu merah. Gadis itu menganggap jika Steve sedang memujinya.
"Aku datang untuk memberimu obat."
"Ehmm," Steve kembali berdehem, matanya melirik sekilas obat yang dibawa oleh gadis itu. "Ucapanku tentang masakanmu,- hmmm, aku tidak bermaksud..."
Lexi berdiri sembari menggelengkan kepala, "Masakanku memang seburuk itu."
"Tidak terlalu buruk."
"Kau berbohong. Kau bahkan bersumpah beberapa saat lalu."
"Ya. Sebaiknya kau tidak memasuki dapur." Steve tidak mungkin mengelak lagi disaat Lexi sudah mendengarnya dengan jelas. "Itu sangat buruk," akunya berterus terang.
"Tidak ada yang memintamu memakannya!" Wajah Lexi menggerutu kesal. "Kau mencurinya dariku dan menikmatinya seperti orang kelaparan. Bukan salahku jika kau menderita diare, meski demikian, aku tetap datang berbaik hati mengantarkan obat untukmu. Setelah semua kebaikan itu, aku harus mendengar kau menghina masakanku. Kau bersumpah seolah itu makanan terburuk! Itu cukup membuatku tersinggung, dari semua hal menyebalkan itu, kau justru membuat mata suciku terkontaminasi karena kau memamerkan tubuhmu yang kekar dan mengagumkan itu. Apa kau tidak berpikir bahwa mentalku bisa saja terganggu. Meski indah, tapi itu pemandangan yang tidak sopan!"
Steve tidak tahan lagi. Pria itu melangkah lebar, mengikis jarak mereka. Direngkuhnya pinggang gadis itu hingga tubuh mereka merapat.
"Kau benar-benar menggemaskan, Tuan putri."
Manik Lexi membola, tubuhnya membatu saat Steve memiringkan kepala dan dalam hitungan detik, bibir mereka sudah menempel satu sama lain. Perlahan dan pasti, Steve menggerakkan mulutnya, melluumat lembut bibir Lexi yang ranum dan wangi. Semakin ia merasakan manisnya, semakin Steve menggila.
Lexi mencengkram jubah mandi yang dikenakan pria itu. Seluruh saraf-sarafnya seolah berhenti berfungsi. Satu-satunya yang Lexi rasakan saat ini adalah melambung tinggi. Saat Steve melepaskan tautan bibir mereka, Lexi merasa akan tumbang jika Steve tidak memegang kedua lengannya.
"Masakanmu membuat masalah juga menyelamatkanmu," Steve tersenyum nakal. Dan sumpah demi apa pun, seringaian nakal pria itu menambah kadar ketampanannya di mata Lexi. Jemari pria itu mengusap lembut bibir Lexi yang basah. "Aku harus ke toilet. Kau selamat. Tetap di tempatmu, jangan kemana-mana." Steve segera berbalik, melangkah lebar melintasi ruangan. Sebelum ke toilet, ia memastikan kamarnya dikunci dengan rapat. Lexi tidak boleh pergi.
Kurang dari sepuluh menit, Steve keluar dari dalam toilet. Lexi masih di tempat semula. Berdiri layaknya patung.
"Apa kakimu tidak letih?" Steve duduk di sofa, menarik Lexi agar duduk di sisinya.
"Ka-kau memintaku tetap di tempat. Itulah yang kulakukan."
"Anak baik," Steve mengulurkan tangan mengusap rambut panjang Lexi dengan penuh hati-hati. Pria itu juga mendekatkan wajah ke rambut gadis itu. Menghirup aromanya.
"A-apa yang kau lakukan?" Lexi memegang dadaanya, khawatir jika jantungnya bisa saja melompat keluar. Degupannya tidak normal. Ia bisa mendengarnya.
"Mencium wangimu."
"A-aku harus pergi. Sebaiknya aku pergi." Mulutnya berkata demikian, tapi ia tidak beranjak sama sekali.
"Aku sedang sakit. Kau tidak akan kemana-mana. Kau harus bertanggung jawab."
"Apa maksudmu?"
"Kau harus merawatku. Beth mengatakan aku harus diawasi selama 24 jam. Aku hanya sendiri di sini. Harusnya dia yang mengawasiku. Tapi, karena kau datang, dia jadi pergi. Jadi katakan, siapa yang harus mengawasiku?"
Lexi menggeleng, menolak untuk menjadi perawat pria itu. Bisa mati cepat dia jika begini. Jantungnya tidak sehat setiap berdekatan dengan pria itu.
"Kau bisa menghubunginya kembali."
"Dia tidak akan menjawab."
"Kau memiliki pelayan di sini."
"Dan kau juga terlalu tua untuk diawasi."
"Apakah kau pernah mendengar jika dehidrasi bisa menyebabkan kematian?"
"Aku akan memanggil perawat untuk menjagamu."
Steve menggeleng, "Aku tidak membutuhkan orang lain."
"Aku tidak bisa."
"Tentu saja bisa," Steve mengambil ponsel Lexi, menekan nomor ibu gadis itu. Deringan pertama, panggilan langsung tersambung. Steve menyalakan speaker lalu menyodorkan ponsel tersebut ke hadapan Lexi. Terdengar suara Alena Willson dari seberang telepon.
"Lexi..."
"Oh, ya Mom,"
"Kau dimana?"
"Ouh... Ini... " matanya melirik Steve yang memandanginya sambil memainkan rambut panjangnya. Pria itu melilitkan helaian rambut ke jarinya dan sesekali menghirup aromanya. Tingkah dan tindakan pria itu membuat darah Lexi berdesir hebat.
"Aku..." Lexi langsung melompat begitu Steve bersuara. Ia menutup mulut pria itu hingga tubuh Steve telentang, sementara Lexi ada di atasnya.
"Lexi? Kau bersama seseorang?"
"Oh, ya, Mom. Maksudku, aku sedang berada di rumah Ibu Daphne. Aku merindukannya dan dia merindukanku, sepertinya aku akan menginap malam ini, Mom." Lexi merutuki dirinya yang berbohong dengan begitu lugas. Dan untuk pertama kalinya ia melakukan tindakan tercela seperti ini.
"Oh, baiklah, Sayang. Sampaikan salamku pada Mrs.Percy."
"Ya, Mom. Aku tutup panggilannya. Ibu sedang ada di dalam toilet, aku akan menyampaikan pesanmu. Bye, Mom. Aku mencintaimu." Lexi menghela napas begitu panggilan terputus.
"Aku berbohong!" Lirihnya sembari membenamkan wajah di atas tubuh Steve tanpa ia sadari.
Tangan Steve bergerak mengusap punggungnya. Lexi tersentak kaget begitu menyadari posisi mereka. Saat hendak beranjak, Steve justru mempererat pelukannya hingga Lexi tidak bisa bergerak sama sekali.
"Aku sangat suka wangimu, Lexi." Steve mengangkat dagu Lexi hingga manik mereka bertemu. "Jika harus begini, aku bersumpah, tidak akan keberatan sama sekali menderita diare sepanjang hidupku. Apakah harus menderita dulu agar bisa bersamamu?"
"Kau terdengar seperti sedang merayuku."
"Ya."
"Kau menyukaiku?"
"Hmm."
"Kau sungguh menyukaiku? Aku bisa salah faham."
"Salah faham? Apakah artinya kau juga menyukaiku?"
"Sepertinya begitu."
"Sepertinya begitu?" Steve sengaja menggoda gadis itu.
"Jantungku menggila setiap kali berdekatan denganmu."
Steve tergelak mendengar pengakuan polos Lexi, "Artinya kau memang menyukaiku. Bagaimana jika kau menjadi kekasihku?"
"Hah?"
"Hari ini, kau resmi menjadi kekasihku."
Lexi mengerjap tidak percaya. Semudah itukah menjalin hubungan?
"Se-seingatku, aku bukan tipemu."
"Mulai hari ini, kau tipeku. Kau milikku."