
Darren mondar mandir di kamarnya. Kekesalan jelas masih bercokol di benaknya. Harusnya tadi ia tidak usah menahan diri. Ia tidak butuh tangannya untuk memberi pelajaran pada Steve. Ia masih memiliki kepala yang bisa ia hantamkan ke wajah Steve agar hidung pria itu patah.
Ampun! Dia lebih menyukai Steve saat menjadi beruang kutub yang sinis. Di mana kesinisan yang dulu cukup membuatnya kagum. Sekarang ia bingung, apakah Steve yang memberi pengaruh buruk kepada adiknya atau justru Lexi lah yang memberi pengaruh menggelikan kepada Steve. Ia hanya berharap sepasang suami istri itu menggagalkan niat mereka untuk pindah kemari. Menghadapi perasaannya terhadap Isabell sudah cukup menguji nyalinya. Ia tidak ingin menambah daftar keruwetan hidupnya dengan meladeni kekonyolan Steve dan Lexi.
Darren mengembuskan napasnya dengan panjang. Lelah sendiri dengan pikirannya.
"Abaikan Lexi dan suaminya. Apa harus kulakukan sekarang? Tidak ada yang lebih mengerikan dibanding tuduhan gay yang dipercayai oleh wanita idamanmu. Otaknya kini dipenuhi cara untuk mengembalikan nama baiknya di hadapan Isabell.
"Astaga! Untuk apa aku melakukannya! Persetan dia mau berpikir seperti apa? Apa pedulinya. Austin adalah prianya. Ayolah, Darren, berhenti memikirkan kekasih adikmu."
Ketukan di pintu menghentikan aksinya yang mondar mandir layaknya setrika.
"Masuk," suaranya masih terdengar kesal. Darren benar-benar kehilangan dirinya. Di mana ketenangannya selama ini. Bukankah ia sudah belajar selama bertahun-tahun cara mengendalikan diri. Hanya karena Isabell, kekasih saudaranya, kendali dirinya mulai kacau.
"Bukan Steve yang membawa masalah, tapi gadis itu," ia bergumam. Ternyata bukan hanya kendali dirinya yang berantakan tetapi pemikirannya juga sering berubah-ubah. Sesaat ia menyalahkan Steve, menit berikutnya ia menyalahkan Isabell.
"Aku datang mengantarkan air minum juga obatmu."
Deg!
Suara Isabell. Praktis ia langsung berbalik. Melihat wajah gadis itu, kekesalannya mencair.
"Kenapa harus kau yang mengantarnya? Apa tidak ada pelayan yang bisa mengantarnya kemari?" Sial, kenapa lidahku tajam sekali.
"Oh, mereka sedang sibuk." Isabell melintasi ruangan. Aroma tubuhnya berhembus saat melewati Darren. Darren menggertakan giginya hingga menimbulkan bunyi. Hanya karena aroma yang samar-samar tercium, gairahnya merespon dengan cepat.
"Aku meletakkan di sini," Isabell menaruh nampan tersebut di atas nakas.
"Hmm, tutup pintunya dengan rapat." Oh Tuhan, lidah ini sangat tidak tahu diri. Kenapa aku harus mengusirnya dengan cara kasar seperti ini.
Darren memaki dirinya. Pun ia mempersiapkan diri untuk melihat genangan kesedihan di manik gadis itu. Jantungnya menderu saat secara perlahan Isabell memutar tubuhnya.
Wow! Tidak ada genangan air mata, tidak ada kebencian, kemarahan atau ketakutan. Mata Isabell menatapnya dengan datar. Gadis itu bahkan mengangkat dagu dengan kedua tangan bersedekap angkuh dan Darren bersumpah, ia mendengar ledakan bergemuruh dari jantungnya. Isabell sudah cukup mengagumkan di matanya saat gadis itu terlihat kalem, lugu, dan polos. Tidak pernah terpikir olehnya bahwa seorang Isabell bisa bersikap angkuh yang sialnya jauh terlihat lebih mengagumkan.
"Kurasa harus ada yang mengajarimu untuk mengeja kata terima kasih, Darren."
Deg! Deg! Deg!
Hanya Tuhan yang tahu bagaimana upaya Darren untuk tetap bisa berdiri dengan kokoh. Selama ini, ia hanya menganggap nama itu sebuah simbol pengenal. Hari ini, ia baru mengetahui bahwa nama juga sebuah anugerah. Suara tenang Isabell saat menyebutkan namanya membuat Darren terbuai. Sejak kapan namanya begitu indah didengar?
Sejak hari ini, siang ini, saat lidah Isabell menyuarakan namaku!
"Seingatku, aku tidak meminta bantuanmu untuk membawa air minum juga obatku."
"Hanya karena kau tidak meminta bantuanku, bukan berarti aku tidak layak mendapatkan kata terima kasih."
"Yeah," Isabell memutar bola matanya. Hampir-hampir Darren tersedak. Ia tidak tahu jika Isabell bisa melakukan hal seperti itu. Wah, Isabell benar-benar berubah dalam sekedip mata.
"Sepertinya kau tidak menyukai bantuanku. Aku akan membawa kembali obat dan air minummu. Mintalah seseorang mengantarnya atau mungkin kau bisa mengambilnya sendiri. Kakimu masih berfungsi dengan baik, bukan?"
Dan Isabell benar-benar mengambil kembali nampan tersebut dan membawanya keluar. Darren tercengang dan begitu pintu tertutup ia hanya bisa menertawakan tindakan Isabell yang tidak terduga.
Sementara di luar kamar, Isabell menghirup udara sebanyak-banyaknya guna menetralisir degupan jantungnya yang tidak karuan. Sikap sinis yang ditunjukkan Darren hampir membuatnya goyah. Tapi ia bersumpah, tidak akan membiarkan pria itu membuatnya gupup dan rapuh. Ia tidak ingin mendengar umpatan dan teriakan pria itu lagi yang ditujukan kepadanya. Di mata Darren, mungkin ia hanyalah seorang gadis lemah yang kebetulan tumbuh di Istana. Mulai hari ini, ia akan membuat pria itu mematahkan anggapan tersebut.
"Isabell,"
Isabell menoleh ke sumber suara. Lexi datang menghampirinya.
"Apa yang kau lakukan di depan pintu? Mengantar obat Darren?"
"Dia menolaknya."
"Ha?" Lexi mengerutkan keningnya.
"Sepertinya sakitnya bertambah setiap kali melihatku."
"Astaga, kenapa kau berpikiran seperti itu? Darren memang sangat dingin dan kaku. Kau tidak usah mengambil hati setiap sikap dan tindakannya. Dia memang sangat menyebalkan."
"Ya, sangat menyebalkan. Hm, Lexi, boleh aku bertanya sesuatu?"
"Silakan, tidak usah sungkan."
"Bagaimana jika kita mencari tempat yang nyaman untuk berbincang. Aku akan mengantar obat ini ke bawah dan meminta seseorang mengantarnya."
"Baiklah, aku akan ke kemar sebentar. Kau bisa menemuiku di sana."
Lexi memasuki kamarnya, langsung disambut pemandangan luar biasa sang suami yang baru keluar dari dalam toilet hanya dengan mengenakan handuk yang menggantung rendah di pinggulnya. Rambut hitam sekelam malam milik Steve terlihat basah.
Lexi bersiul, ia melangkah riang melintasi ruangan. "Suamiku sedang berusaha menggodaku tapi aku sedang tidak berminat, apa yang harus kulakukan?" ucapannya hanya isapan jempol semata. Karena faktanya, kata-kata yang meluncur dari mulut Lexi terdengar seperti rengekan manja dan ekspresi wajahnya menyiratkan dengan jelas bahwa dirinya ingin segera diterkam oleh sang suami.
Steve tergelak, ia mencakup wajah istrinya dan mendaratkan satu kecupan mesra di bibir. "Yang harus dilakukan istriku adalah telentang dengan manis di atas ranjang. Tidak usah bergerak, biarkan suamimu yang jago ini yang beraksi, haisss... Gigitanmu bisa membawa masalah padaku, Lexi sayang."
Ya, Lexi sudah beraksi, mengendus, dan menggigiti lehernya. Lexi memang paling tidak tahan dengan godaan saat Steve baru selesai mandi seperti ini. Bau maskulin yang bercampur dengan sabun adalah favorit istrinya.
"Jangan protes! Kau yang merayuku. Aku hanya menyenangkanmu. Kau senang?"
"Tentu saja. Sangat senang. Kau adalah canduku. Kau pengertian sekali."