
Halo semua. Bagaimana sampai bab ini? Melelahkan ya? Beberapa pembaca mungkin tidak suka dengan alur yang saya buat saat ini. Namun, saya tegaskan kembali, cerita ini saya buat dengan alur yang sudah saya siapkan sebelumnya. Tidak akan pernah saya ubah meski beberapa pembaca tidak menyukainya. Menulis cerita bukan hanya sekedar untuk menyenangkan pembaca. Saya pun butuh kepuasaan. Benar apa betul? Bagi pembaca yang merasa alurnya berat, ayo melipir ke sebelah. Sebatas Istri Figuran menanti kunjungan teman-teman sekalian😛😜 ( Ujungujungnyapromo). Sekian dan terima gajih! Satu bab lagi untuk para pembaca setia yang selalu menikmati alur yang saya buat.
🥀
Lexi memasuki kamar tamu. Berniat untuk mengganti seprei yang ternoda oleh darah Steve. Setelah kejadian menegangkan di rumahnya, Ayahnya memilih untuk tidak membahas hal itu lebih lanjut. Lexi sangat mendukung apa pun keputusan yang sudah dibuat oleh sang ayah. Bagi Lexi, segala sesuatu yang buruk tidak untuk diperpanjang.
Yang ia tangkap dari pembicaraan Steve dan ayahnya, keduanya sudah saling memaafkan. Kekacauan yang terjadi juga karena kesalahfahaman. Steve meminta maaf kepada ayahnya, dan ayahnya berterima kasih atas aksinya menyelamatkan Lexi juga menangkap beberapa penyusup, walau tidak semuanya.
Lexi melihat peluru yang ia ambil dari tubuh Steve tergeletak di atas meja. Saat ia hendak mengambil benda tersebut, matanya menangkap benda asing lainnya. Sebuah jam tangan mahal. Lexi langsung tahu jika jam itu adalah milik Steve. Sebuah ukiran dengan inisial nama Steven memperjelas hal tersebut.
"Kenapa benda ini ada di sini? Apa dia sengaja meninggalkannya?" Lexi mengantongi arloji tersebut. Acara membersihkan kamar ia tunda. Ia perlu mengembalikan jam tersebut. Darren sepertinya sangat tidak menyukai Steve, dan Lexi tidak akan membiarkan Steve mempunyai alasan untuk mendatangi rumah mereka yang nantinya justru akan berakhir dengan aksi perkelahian lagi.
Sampai di kamarnya, Lexi membuka laci, mengambil sebuah kartu nama yang sempat diberikan Steven saat Lexi menyambangi perusahaan milik pria itu. Tanpa menunggu lama, Lexi segera menekan nomor yang tertera ke layar ponselnya.
"Steven Ivarez di sini."
Terdengar sahutan dari seberang telepon.
"Jangan bermain dengan Oleshia, tubuhmu butuh istirahat. Adegan ranjang tidak dibenarkan untuk waktu yang tidak ditentukan."
Suara berbeda kembali terdengar dengan jelas. Lexi hanya diam, menunggu Steve selesai berbicara dengan temannya. Keinginan untuk memutuskan sambungan telepon sebenarnya sudah terlintas. Tapi entah kenapa, ia tidak melakukannya.
"Steven Ivarez di sini." Terdengar seruan yang sama untuk kedua kalinya.
"Kau sedang sibuk?" Lexi memperhatikan ukiran nama di arloji tersebut. Sangat rumit tapi terlihat indah.
"Aku bukan seorang pengangguran."
"Kau meninggalkan jam tanganmu. Ingin mengambilnya kembali atau kubuang?"
"Harganya cukup mahal."
"Kau membicarakan harga pada gadis yang memiliki segalanya." Lexi menggigit lidahnya atas kesombongan yang tercetus dari mulutnya. Jika Darren tidak menyukai Steve, yang harus dilakukan Lexi adalah menjauh dari sosok itu. Lexi juga sedikit marah pada Steve karena sudah menodongkan senjata kepada orang tuanya. Selama ini, tidak ada yang berani berbuat lancang kepada keluarganya.
Kekehan renyah terdengar dari seberang telepon. "Ya, tapi tidak dengan pria."
"Aku memiliki kekasih."
"Oh ya? Apa kekasih yang kau maksud adalah Harry Geonandez? Pangeran Spanyol?"
"Brian Milles. Kirimkan alamatmu, aku akan meminta seseorang mengantar jam ini." Lexi segera memutuskan sambungan telepon. Tidak berapa lama, sebuah pesan masuk. Alamat dari Steven.
___
Entah setan apa yang merasuki Lexi. Kini ia berdiri di depan rumah Steve. Kenapa ia harus repot-repot datang kemari? Bukankah ia harus menghindari Steve guna menjaga kewarasan Darren? Pertanyaan-pertanyaan itu berulang kali Lexi pertanyakan kepada dirinya. Namun, tetap saja ia menyetir mobilnya kemari dan berbohong kepada Darren.
"Tidak. Harusnya aku tidak kemari. Astaga! Ada apa dengan diriku?" Lexi meletakkan paper bag berisi jam tangan juga obat penghilang rasa sakit di depan pintu utama kemudian ia berbalik, memutuskan untuk meninggalkan tempat tersebut dengan segera. Baru satu langkah, pintu di balik punggungnya sudah terbuka.
"Ms. Willson?"
Panggilan tersebut sontak menghentikan langkahnya. Lexi kembali memutar tubuhnya. Seorang pria setengah baya berdiri di sana.
Hah? Bagaimana dia bisa tahu aku ada di sini? Lexi membatin seraya memindai sekeliling hingga matanya menangkap sebuah CCTV yang menggantung di atas pintu. Mau tidak mau, Lexi akhirnya melangkah masuk. Paper bag yang ia letakkan tadi kembali dipungut.
Lexi dibawa melintasi ruangan, melewati ruang utama lalu menaiki anak tangga.
"Sebaiknya aku menunggu di ruang tamu." Lexi menyadari begitu mereka sudah sampai di pertengahan anak tangga.
"Mr. Ivarez meminta agar kau diantar ke kamarnya, Nona."
Apa-apaan ini? Kenapa dia suka sekali bermain kamar-kamaran?! Tersesat di kamarku, mengunci diri di kamar tamu dan sekarang mengundangku ke kamarnya. Apa lagi tingkahnya kali ini? Lalu kenapa aku mau ikut?!
Tok. Tok.
"Ms. Willson sudah ada di sini, Tuan." Selesai mengatakan hal tersebut, pria setengah baya itu langsung undur diri. Lexi pun dibuat bingung. Apa yang harus ia lakukan? Belum ada sahutan dari dalam, jelas ia juga tidak akan mengetuk kamar pria. Terlebih pria itu masih asing baginya.
Pintu terbuka, sebuah kamar dengan ukuran luas terpampang di hadapannya. Lexi masih bergeming, tidak berani untuk masuk.
"Apakah aku harus menggendongmu untuk masuk." Steve sudah berdiri di hadapannya.
"Aku datang mengantar barangmu, bukan untuk bertamu ke dalam ranjangmu, hm, maksudku ke kamarmu." Lexi menyerahkan paper bag yang diterima Steve dengan santai. Pria itu juga tidak memaksanya untuk masuk. "Ada obat penghilang nyeri di dalamnya. Minumlah jika lukamu membuatmu tidak bisa tidur."
"Aku tidak butuh obat untuk bisa membuatku tidur."
"Adegan ranjang masih dilarang."
Steve hampir saja tersedak mendengar pernyataan gadis di hadapannya itu.
"A-aku mendengar temanmu memberi peringatan. Aku hanya mengutipnya."
"Jadi kau menguping?" Steve menyandarkan tubuhnya di dinding, bersedekap seraya menyorot Lexi dengan intens.
"Tidak bisa dikatakan menguping saat panggilan kita terhubung dan temanmu mengatakannya dengan suara yang cukup jelas."
Steve menganggukkan kepala, membenarkan ucapan Lexi. "Jadi?"
"Jadi?" Lexi membeo, wajahnya terlihat bingung.
"Jadi, apa lagi?"
"Hhmm?" Lexi semakin bingung.
"Kau sudah mengembalikan barangku dengan selamat. Obatmu juga sudah kuterima. Apa lagi yang kau tunggu? Kenapa masih berdiri di sana? Tidak berharap aku mengantarmu, bukan?"
"Oh, ya, tentu saja tidak. A-aku pergi." Lexi segera berbalik, melangkah lebar meninggalkan kamar Steve tanpa menoleh ke belakang lagi.
Steve mengeluarkan ponsel, menulis pesan singkat kepada seseorang.
Lexi baru saja keluar dari rumahku. Ikuti dia.