
Yang bingung dengan alurnya, seingat saya, di awal-awal bab saya sudah menjelaskan bahwa gambaran konflik ada di sana. Bagi yang pusing, silakan pusing, karena sesungguhnya saya pun pusing memikirkan alurnya, Kawan.
🐘
"Jadi apa yang kau temukan di sana?" Darren bersandar di mobil Steven sembari menghisaap rokoknya. "Aku menjaga mayatmu," ujarnya sebelum Steve menanyakan hal yang sama padanya.
"Presiden dan beberapa orang berpengaruh melakukan pemujaan. Astaga, aku tidak percaya para penguasa terlibat sekte tersebut."
"Ya, itulah yang mereka lakukan untuk menguasai dunia." Darren menanggapi.
"Kau sudah mengetahuinya?"
"Tidak secara rinci dan tidak pernah melihatnya secara langsung. Apa yang mereka lakukan di sana?"
"Mengadakan ritual. Apa pentingnya menguasai dunia jika pada akhirnya semua akan bertemu pada kematian. Dan apa yang dilakukan saudaramu di sana? Apakah dia sungguh tertarik dengan Oleshia?"
Darren mengerutkan dahi, apa yang dikatakan Steve? Austin ada di sana? Tidak mungkin ia mengikuti aliran tersebut. Aliran sesat yang digadang-gadang menjanjikan kenikmatan hidup, juga kekuasaan. Mereka beranggapan jika mereka lah sang penguasa, pengendali kehidupan. Dunia ada di dalam genggaman mereka.
"Melihat raut wajahmu sepertinya ini bukan bagian dari rencana kalian. Katakan pada adikmu untuk berhati-hati pada wanita itu."
Darren berdecak, "Kau bahkan hidup bertahun-tahun dengannya, Dude."
"Hormonku perlu disalurkan." Steve masuk ke dalam mobil
"Biadab!" Darren ikut melompat naik.
"Sekarang aku mengerti mengapa Mr. Arthur Cony sangat semangat menyampaikan pelajaran tentang sekte tersebut." Steve mulai menjalankan mobil, meninggalkan gedung tersebut.
"Dia ingin mencemari otak para siswa yang mungkin akan tertarik. Apakah mungkin wanita itu terpengaruh olehnya?"
"Kurasa tidak. Dia menolak untuk bergabung."
Keduanya terdiam. Sibuk dengan pemikiran masing-masing. Tiba-tiba, Steve meminggirkan mobilnya. Darren menoleh dan mengerutkan dahi.
"Kau ingin membuang mayatnya di sini?" Dia bertanya saat menyadari jika mereka sedang ada di sebuah jembatan.
"Turunlah."
"What?!"
"Aku tidak semurah hati itu untuk memberikanmu tumpangan."
"Bajiingan!"
"Itu nama tengahku, Willson. Silakan!"
"Kau sungguh ingin menurunkan di sini, Percy?!"
"Ya, itulah yang sedang kulakukan sekarang, Kawan." Steve turun lalu mengelilingi mobil, membuka pintu untuk Darren. "Silakan turun, saudara ipar. Ck! Berkatmu, aku harus mengganti jok mobilku."
Tanpa sepatah kata, Steven masuk ke mobil dan melaju dengan cepat.
"Dasar sialan!!" Darren menendang udara. Steven memang ahli memancing emosi.
____
"Selamat siang, Ayah, Ibu." Lexi berlari kecil menghampiri tuan dan nyonya Percy. Wajahnya terlihat bersinar. Tidak ada sisa-sisa kesedihan di sana. "Aku melewatkan makan malam karena tertidur dan aku melewatkan sarapan karena kesiangan. Maafkan aku," ia menghadiahi keduanya kecupan manis. "Dan sekarang aku sangat lapar."
"Duduklah dan nikmati makananmu!" Daphne berdiri lalu menarik kursi untuk Lexi. Lexi segera duduk dengan manis, menunggu Daphne mengambil makanan untuknya. "Terima kasih, Ibu." Ucapnya begitu makanan enak tersaji di hadapannya. "Ayah, kau jadi pergi memancing?" Lexi menatap Giovani dengan senyuman manis di wajahnya.
"Begitulah rencananya. Apa yang akan kau lakukan hari ini?"
"Harry ada di sini. Mungkin kami akan pergi berselancar. Ibu, kau akan menemaniku atau ayah?"
"Ibu akan ikut bersamamu, akan membosankan menunggu ikan-ikan itu memakan umpan ayahmu."
"Pilihan yang bagus, Ibu. Aku harap ayah membawa pulang ikan yang banyak, Harry akan menginap di sini. Apa kalian keberatan Ayah, Ibu?"
"Tentu saja tidak!" Mr. Percy menjawab dengan semangat. Bahkan terlalu bersemangat. Istrinya sampai melayangkan cubitan dan tatapan penuh peringatan. "Maksud, Ayah, kau boleh mengundang Pangeran Harry dan Ayah akan menangkap ikan yang banyak. Astaga, kita akan bertemu dengan seorang pangeran secara langsung." Diam-diam Mr.Percy berharap Lexi berjodoh dengan pria itu. Di matanya, Harry jodoh yang layak untuk putri mereka. Lexi dan Harry terlihat sangat cocok satu sama lain. Ia juga yakin jika Harry akan mampu membuat Lexi mereka bahagia.
"Baiklah, aku pergi dulu." Giovani berdiri dari kursinya. Sementara Lexi dan Ibunya masih menunggu kedatangan Harry menjemput mereka.
Jembatan dan dermaga dekat Teluk Chesapeake adalah tempat liburan terbaik bagi penggemar memancing. Dari sana Giovani melakukan perjalanan menggunakan perahu. Saat ia mengambil posisi, menyiapkan peralatan pancingnya. Seseorang datang mendekatinya. Giovani yang terlalu sibuk mempersiapkan peralatannya tidak menghiraukan sosok yang kini duduk di hadapannya.
"Dad,"
Gerakan tangan Giovani berhenti. Ia refleks mendongak dan matanya bersitatap langsung dengan manik yang sangat ia kenali. Steve mengenakan kaca mata, berpakaian santai.
"Dad."
Giovani tersentak kaget. Wajahnya terlihat pucat dan bingung. Apakah dia sedang bermimpi.
"Dad. Ini aku. Putramu."
Sungguh Giovani tidak bisa berkata-kata. Maniknya berlinang dan tidak butuh waktu lama, kristal bening itu meluruh membasahi wajahnya yang sudah mulai menua.
"S- Steven?"
"Ya. Ini aku, Dad."
Kedua tangan Giovani terulur hendak menyentuh wajah Steve. Tangan Mr. Percy bergetar hebat, ia terguncang melihat sosok putranya yang sudah dinyatakan mati bahkan ia sendiri yang melakukan pemakamannya, kini putranya tersebut duduk di hadapannya dalam keadaan sehat. Apa yang sebenarnya terjadi? Sungguh ia tidak tahu dan tidak peduli. Hatinya membuncah menerima kejutan yang begitu indah ini. Putranya ternyata masih hidup. Giovani tidak membutuhkan penjelasan apa pun, Steve hidup, itu sudah merupakan sebuah anugerah.
Steve menangkap kedua tangan ayahnya dan mengecupnya berulang kali. "Aku kembali, Dad."
"Oh, putraku!" Keduanya pun lantas berpelukan.