H.U.R.T

H.U.R.T
Aku Mulai Serakah



Dengan semangat Zenia berjalan ke arah jendela. Tangan gadis itu sudah ada di tirai, bersiap menyingkapnya. Sementara Steve membatu sejauh dua meter dari sana. Pria itu bahkan merasakan kakinya kebas. Sekedar untuk menelan ludah ia sudah tidak memiliki tenaga. Gugup, tegang, takut, penasaran, semua bercampur jadi satu.


Saat Zenia menoleh ke arahnya dengan senyum lebar, Steve masih saja bergeming. Dahi gadis itu mengernyit melihat ketegangan yang terpancar jelas di wajah Steve.


"Kau baik-baik saja, Steve?"


Steve tidak kuasa menjawab. Ini memalukan. Sangat memalukan. Adakah manusia di dunia ini yang tidak sanggup melihat wajahnya sendiri?


"Steve?"


Sekarang apa yang harus ia jawab? Mengungkapkan ketakutannya artinya harus menjelaskan penyebabnya. Jika Steve saja merasa jijik, bagaimana dengan orang yang akan mendengarkannya? Tatapan hina bercampur jijik dari wanitanya adalah hal terakhir yang Steve inginkan dalam hidupnya atau mungkin tidak pernah ia inginkan.


Namun, ia tahu jika sekarang bukan waktunya untuk mundur. Ia sudah memberi izin.


"Hei," Zenia menyentuh lengannya dan berhasil membuatnya kembali ke masa kini.


"Kau melamun? Wajahmu sangat pucat. Apa yang salah?" Jemari Zenia merangkum kedua pipinya. "Katakan padaku, berbagilah denganku, Steve."


Steve menggelengkan kepala, kecemasan di wajah gadis itu berangsur membuat kegugupannya hilang. Zenia seakan menyedot habis ketakutannya.


"Aku baik-baik saja."


Steve membimbing Zenia kembali ke jendela. "Bukalah," memberi perintah kepada Zenia. Zenia tampak ragu karena ketegangan di wajah Steve belum hilang sepenuhnya.


"Kau yakin?"


"Tidak."


"Lalu?"


"Aku juga penasaran. Mungkin aku akan mual dan muntah. Apa kau akan merasa jijik?"


Zenia terlihat bingung. Kenapa Steve mual dan muntah hanya karena tirai dibuka. Ada cerita apa di balik permusuhan Steve dan cermin? Zenia bertanya-tanya dalam kalbunya.


"Kenapa harus memandang jijik kepada orang yang sedang menderita."


Steve tersenyum mendengar jawaban gadisnya itu. Ia mengambil posisi tepat di belakang Zenia, melingkarkan kedua tangannya di perut gadis itu, lalu menopangkan dagu di atas pucuk kepala Zenia.


"Bukalah dan nikmati senjamu." Steve menuntun tangan Zenia agar menyingkap gorden. Dalam satu kali tarikan, gorden terbuka lebar.


Steve tercekat, fokusnya langsung ke jendela kaca, refleksi dirinya dan Zenia terlihat di sana. Tidak jelas, hanya pantulan berupa bayangan.


"Kau gemetar?"


Steve menggeleng, tapi tangannya semakin memeluk perut Zenia dengan kuat.


"A-aku baik-baik saja. Langitnya berwarna jingga."


"Ya. Kau merasa mual?"


"Sedikit. Tapi aku suka melihat posisi kita seperti ini."


"Tidak usah ditahan. Muntahkan saja biar kau merasa lebih nyaman." Zenia meletakkan tangannya di atas tangan Steve yang melingkar di perutnya. Diusapnya lengan pria itu perlahan.


"Aku nyaman, sangat nyaman. Apa aku sudah pernah mengatakan bahwa aku sangat menyukai rambut bergelombangmu yang panjang."


"Kau baru mengatakannya. Tubuhmu sudah lebih tenang. Tidak gemetar lagi, tapi aku masih bisa merasakan debaran jantungmu di punggungku. Kau takut?"


"Hmm."


"Kau bisa bercerita kepadaku. Aku mendengarkan."


"Nikmati senjamu."


"Aku lebih tertarik dengan ceritamu."


"Bukan cerita yang menarik."


"Aku akan mendengarkan."


Steve menarik napas perlahan, ia lakukan berulang kali demi mengulur-ulur waktu. Mengumpulkan kekuatan dan keberanian, mengungkapkan aib yang merupakan ketakutan terbesarnya.


"Aku adalah seorang mantan napi," Steve memulai ceritanya dan semuanya mengalir begitu saja. Bagaimana bisa dia menjadi seorang napi di usianya yang masih 17 tahun. Dijadikan kambing hitam oleh para penguasa. Tidak ada yang ia sembunyikan. Semua ia katakan, untuk pertama kalinya penderitaannya selama di dalam penjara ia ceritakan langsung dari mulutnya kepada seseorang. Bagaimana ia melayani Riston dan teman-temannya.


"A-aku..." suaranya tercekat oleh rasa mual yang tiba-tiba menyerang.


Steve melepaskan pelukannya, ia berbalik dan berlari ke dalam toilet, memuntahkan isi perutnya ke dalam closed.


Zenia mengikuti, ikut berjongkok di sisi pria itu sambil mengusap punggungnya.


"Jangan kemari, pergilah, ini menjijikkan."


"Tidak, aku tidak akan meninggalkanmu."


Steve tidak menjawab lagi, pria itu kembali memuntahkan isi perutnya. Telinga dan seluruh wajah pria itu merah dan bahkan matanya mengeluarkan air mata.


"Kau sudah menderita, kau sudah menderita. Mereka jahat, mereka keterlaluan. Kau pria baik yang malang. Tolong jangan memandang dirimu rendah, Steve. Kau tidak bersalah, kau korban, jangan maafkan mereka, tapi kumohon lupakan hal mengerikan itu. Kau hebat, kau luar biasa, kau bisa melalui semuanya dan tumbuh menjadi pria yang mengagumkan. Jangan maafkan mereka. Mereka tidak layak mendapat maafmu. Tetaplah marah, tetaplah membenci mereka dan jadilah pria yang lebih hebat."


Steve bergeming, memandangi wajah Zenia yang menangis sesegukan, kemarahan terlihat di wajah gadis itu. Ucapan Zenia juga memberi penghiburan baginya. Alih-alih meminta Steve berbesar hati menerima semuanya, Zenia justru memintanya tetap marah, tetap membenci dan tidak memaafkan.


"Mu-mulutku... Mulutku menjijikkan..."


Zenia menggeleng, ia merangkum wajah pria itu. Kemudian menempelkan bibirnya di sana, singkat, tapi berhasil membuat Steve terpaku.


"Sssttt... Jangan mengatakan apa-apa lagi." Zenia memandangi bibir Steve, mengusapnya perlahan dengan ibu jarinya.


"Kini aku tahu alasanmu memusuhi cermin. Kau merasa jijik. Ayo, Steve, lihat pantulan dirimu. Kau sangat tampan, rupawan dan mengagumkan. Jakunmu, aku sangat menyukainya. Ayo, Steve, beranikan dirimu untuk melihat rupamu yang benar-benar membuat para gadis tergila-gila. Tuhan, menganugerahi kau rupa yang begitu sempurna. Hanya akan ada rasa syukur begitu kau melihatnya. Percaya padaku, setelah ini tidak akan ada lagi mimpi buruk." Zenia berdiri, menuntun Steve agar segera berdiri. Ia mengambil air dan memberikannya pada Steve agar pria itu minum.


"Di sini tidak ada cermin, sebaiknya kita ke rumahku."


Steve tidak mengatakan apa-apa, ia menuruti apa yang dikatakan Zenia. Gadis itu terus menggenggam tangannya seperti seorang ibu menuntun anaknya.


Mereka melewati Malvyn dan teman-temannya yang sedang bermain voli. Mereka memanggil Zenia agar ikut bergabung dan Zenia hanya melambaikan tangan sebagai respon.


Mereka sudah sampai di teras rumah, Steve masih dalam diamnya dan Zenia tidak mengulur-ulur waktu sama sekali untuk menunjukkan kepada Steve bahwa Steve adalah pria yang sangat rupawan. Gadis itu membawanya ke dalam kamar yang ia tempati bersama kedua adiknya. Beberapa pakaian dallam milik Zetta ada di ranjang. Gadis itu memang memiliki kebiasaan buruk membongkar semua koleksinya setiap habis mandi.


Barulah Zenia melepaskan genggaman tangannya dari Steven dan berlari ke ranjang.


"Jangan katakan sesuatu,"


"Aku yakin itu bukan milikmu."


Zenia berbalik cepat, menatap Steve penuh selidik. "Bagaimana kau tahu ini bukan milikku?"


"Ukuranmu lebih kecil, satu atau dua nomor."


"Kau tidak terlihat seperti pria yang baru memuntahkan isi perutnya."


"Ehmm," Steve salah tingkah. "Maafkan aku."


Zenia menarik selimut untuk menutupi dalaman tersebut.


"Kemarilah, Zetta memiliki cermin besar yang bisa menampilkan refleksi dirimu secara keseluruhan."


Zenia menarik tangan Steve untuk berdiri di depan cermin. Pria itu tidak bergerak, justru menahan tangan Zenia.


"Peluk aku seperti tadi. Kau suka melihatnya, bukan?" Zenia mengambil posisi di depan Steve, menarik kedua tangan pria itu agar melingkar di perutnya. "Aku suka tanganmu yang kekar. Aku merasa aman saat kau mendekapku seperti ini," gadis itu tengadah, menarik kedua sudut bibirnya membentuk sebuah senyuman manis menenangkan.


"Anggap saja kita sedang bermain ular naga panjang. Peluk yang erat. Aku sudah membuka pintu toilet jika tiba-tiba kau mengalami mual."


Zenia melangkah perlahan, Steve mengikuti.


"Berapa usiamu, Steve?"


"Tiga puluh tahun."


"Wah, sudah cukup matang ternyata. Usiaku 29 tahun menuju 30."


"Hmm."


"Selain bermusuhan dengan kaca, apa kau tidak menyukai komitmen, maksudku pernikahan."


"Tidak. Aku memiliki mimpi tentang pernikahan. Hanya saja, wanita yang ingin kunikahi memilih menikah dengan pria lain."


Zenia berhenti, kembali menengadah. "Lexi?"


"Lexi."


Zenia terdiam, rautnya berubah sedih. Steve menunduk, mengecup hidung gadis itu.


"Apakah mimpi burukmu yang lain adalah tentang pernikahannya?"


Steve menggeleng, "Lebih mengerikan dari itu. Dia mengalami kecelakaan di depan mata kepalaku sendiri. Itu hal paling mengerikan, paling menakutkan. Aku belum bisa meyakinkan dirinya bahwa aku sangat mencintainya. Dia tidak mempercayaiku."


"Apa yang harus kukatakan, Steve, aku sedang cemburu. Aku tidak bisa menghiburmu."


"Katakan kau mempercayaiku."


"Apa hatimu akan merasa lebih tenang?"


"Ya."


"Aku percaya padamu. Kita, sudah sampai di tujuan. Lihatlah ke depan."


Steve mengangkat kepala, setelah 13 tahun, ia bisa melihat wajahnya dengan jelas. Steve merasakan lututnya gemetar, jantungnya bertalu-talu tidak karuan. Telqpak tangannya berkeringat. Jika Zenia tidak menahan tangannya dengan erat, mungkin ia akan meluruh ke lantai.


"Kau sangat tampan, 'kan? Aku iri dengan bulu matamu yang lentik dan panjang."


"Sepertinya aku juga menyukai pose ini. Apakah kau akan memberikan hatimu sepenuhnya kepadaku jika aku meminta, Steve? Aku mulai serakah. Bisakah aku menggantikan posisi Lexi di hatimu?"