
Coney Island, salah satu pantai paling populer di New York City. Selain karena pantainya yang relatif bersih dan berpasir lembut, meskipun bukan pasir putih, Coney Islands yang terletak di Brooklyn, sudah sejak lama terkenal karena aneka theme parks atau taman permainan dengan berbagai wahana seru.
Austin memilih tempat tersebut agar Isabell tidak bosan. Austin terlihat benar-benar berusaha mendekatkan diri dengan Isabell. Bukan tanpa alasan ia meminta Isabell untuk menjadi kekasihnya meski ia sendiri belum memiliki rasa yang berarti pada Isabell. Ia menyukai gadis itu karena kehangatan dan keluguannya. Tapi ia juga menyukai Laila karena keganasan harimau peliharaan milik mereka. Ah, Isabell belum bertemu dengan binatang itu. Well, kesimpulannya, ia menyukai Isabell sama seperti ia menyukai Laila karena mereka memiliki sesuatu yang menarik. Hanya itu. Tidak ada yang spesial, sejauh ini.
Austin tidak akan menahan diri jika pada akhirnya ia jatuh cinta kepada Isabell. Baginya dan juga keluarganya mungkin hal tersebut akan menjadi berita bagus. Ia dan Isabell memulai penjajakan agar mereka tahu apakah sebaiknya mereka melanjutkan pertunangan yang diinginkan keluarga atau tidak.
Austin tidak akan meminta Isabell berubah meski Isabell bukan tipe gadis yang akan ia kencani. Ia juga tidak akan merubah kebiasaannya, gaya hidupnya hanya karena Isabell adalah gadis polos yang lugu. Jika pada akhirnya timbul cinta diantara keduanya, biarkan itu terjadi karena mengalir apa adanya.
Austin belum pernah menjalin hubungan dengan serius. Ia tidak pernah berkencan dalam arti sesungguhnya. Berkencan baginya artinya melakukan hal menyenangkan di atas ranjang. Austin masih ingin hidup, tidak mungkin ia mengajak Isabell berkencan di atas ranjang. Jika bukan ayah dan ibunya yang menghajarnya, sudah pasti Lexi dan suaminya yang menyerangnya. Lagi pula, berciuman dengan gadis berpagar gigi masi merupakan teka teki baginya. Ia belum pernah merasakannya dan hingga pagi ini belum terpikir olehnya untuk melakukan hal itu dengan Isabell.
Austin bukan pria suci yang lugu. Dari cara Isabell menatapnya, ia tahu jika gadis itu menyukainya. Hal itu sudah terjadi sejak lama. Austin melakukan kesepakatan dengan Isabell karena tidak ingin menolak perjodohan ini mentah-mentah yang nantinya akan melukai perasaan Isabell. Ia memberikan kesempatan bagi dirinya untuk mengenal Isabell lebih jauh.
Selama ini yang ia tahu tentang gadis itu, Isabell seorang putri dari kerajaan Spanyol. Gadis terhormat yang sudah pasti masih perawan. Penampilannya kurang menarik karena selalu mengenakan pakaian longgar juga mengenakan kaca mata tebal dan gigi yang dipagari. Tapi Austin berani bersumpah bahwa bukan penampilan fisik Isabell yang membuatnya enggan membalas perasaan wanita itu.
Terkadang kau tidak membutuhkan alasan untuk menyukai seseorang, tetapi kau harus mempunyai alasan untuk membenci seseorang. Tapi Austin sedang tidak berada di kedua opsi tersebut jika menyangkut Isabell.
Austin tidak menyukai perjodohan ini, tapi ia tidak membenci Isabell. Austin menyukai Isabell tapi bukan dalam arti tanda kutip yang sampai membuatnya melayang-layang seperti mabuk kepayang. Karena ia jelas tahu alasan kenapa ia menyukai Isabell.
Menurut Austin, selama memiliki alasan atau jawaban kenapa menyukai seseorang, artinya posisi masih aman. Belum masuk dalam kategori cinta gila. Sejauh ini, ia belum pernah bertemu wanita yang membuatnya gila dan candu. Ia sendiri sedang bertaruh dengan waktu, apakah Isabell mampu mengubahnya dan menancapkan kegilaan di hatinya. Ia tidak tahh jawabannya dan ia tidak ingin menerka-nerka. Semua punya tenggat, ia akan menjalaninya hinga tenggat tersebut.
Bukan hanya dirinya yang berusaha mengenal Isabell lebih dekat. Agar terlihat adil, Austin juga mempersilakan Isabell masuk ke dalam dunianya. Biarkan Isabell melihatnya dengan jelas tanpa tirai pembatas. Untuk pertama kalinya ia mengundang seorang wanita masuk ke dalam dunianya. Jika benar Isabell menyukainya, maka Isabell akan menerima semua yang ada pada diri Austin. Dan jika pada akhirnya Isabell tidak menyukai dunianya, artinya ia dan Isabell tidak bisa melanjutkan hubungan ini ke jenjang lebih serius.
Sungguh Austin tidak tahu apa yang terjadi ke depannya. Kesepakatan ini baginya sebenarnya sangat mengerikan. Ibarat dua mata pisau yang mungkin melukai salah satunya atau justru keduanya. Semoga saja semesta tidak bergurau seperti saat terlibat dalam kisah Steve dan Lexi.
Kini wanita yang menjadi kekasihnya itu sedang menuruni tangga. Sebuah senyum manis terpatri di wajah Isabell yang juga tidak kalah manisnya.
Apakah pagar giginya berganti lagi pagi ini? Austin bertanya dalam benaknya.
"Selamat pagi," Austin menyapa seraya memamerkan senyumnya yang juga tidak kalah manis.
"Pagi."
"Kau sudah siap berpetualang denganku?"
Isabell mengangguk dengan semangat. Sepanjang malam ia bahkan melakukan pencarian di ponselnya tentang hal-hal apa yang dilakukan sepasang kekasih saat berkencan di pantai. Menikmati sunset adalah hal yang paling ia nanti. Topik perbincangan apa yang akan mereka lakukan agar suasana lebih hidup juga sudah ia persiapkan.
"Apa ada yang kurang? Bikini, sun block, topi pantai?"
"Aku meminjam milik saudarimu. Semuanya sudah ada di dalam tas."
"Bagaimana dengan bikini?"
Bisa-bisanya Austin mempertanyakan hal itu dengan lempeng. Bukan bermaksud mesum, bukan juga karena ia ingin melihat lekukan tubuh Isabell, ia hanya tidak ingin Isabell menjadi objek perhatian karena mengenakan kostum yang salah saat di pantai.
"Aku menunggumu. Pelayan sudah menyiapkan sarapan dan juga mengemas beberapa makanan ke dalam box."
"Darren sudah bangun?"
"Aku di sini," Darren menyahut dari belakang. Pria itu menuruni tangga. Baru kali ini Isabell melihat pria itu mengenakan pakaian santai. Kemeja bercorak dengan ukuran besar. Membiarkan dua anak kancingnya terbuka, dipadukan dengan celana pendek selutut.
"Kau jadi ikut?" Austin bertanya.
"Kau mengajakku dan kebetulan aku tidak memiliki jadwal apa-apa hari ini."
"Kita akan pergi bertiga?" Isabell memang tidak tahu jika Austin mengajak saudaranya.
"Kau keberatan?" Austin dan Darren kompak bertanya dengan intonasi nada yang berbeda. Austin bertanya dengan nada geli sementara Darren bertanya dengan nada kesal.
Menyadari bahwa Darren sedang kesal, Isabell menjadi salah tingkah. "Tidak, tentu saja tidak. Semakin banyak yang ikut, berlibur akan terasa lebih menyenangkan." Isabell tertawa kaku.
"Sebaiknya kita sarapan sebelum berangkat." Austin mempersilakan Isabell untuk berjalan terlebih dahulu.
"Apa kau sudah mendengar bahwa Lexi sedang mengandung?"
"Ini perbincangan yang sangat menggelikan, tapi dari mana kau mengetahuinya?" tanya Austin. Darren bukam tipikal pria yang suka berbasa basi, bergosip atau membicarakan hal tidak penting, tapi jika membahas tentang Lexi, ia selalu berada pada barisan paling depan. Orang yang ingin mengetahui apa yang terjadi dengan Lexi.
"Mom dan Dad ada di Savannah."
"Savannah? Bukannya mereka sedang di Spanyol?"
"Sekarang mereka ada di Savannah. Begitu mendengar kabar kehamilan Lexi, mereka langsung terbang."
"Siapa yang ada di Savannah? Bukankah Steve dan Lexi ada di St. Nelda's Island."
"Karena Lexi sedang hamil, Steve membawanya pindah. Ia ingin Lexi mendapatkan perawatan, pelayanan terbaik."
"Menurutmu siapa yang paling beruntung diantara mereka berdua. Apakah Steve atau Lexi?"
"Tidak usah mempertanyakan hal yang tidak menambah kepintaranmu!" Darren berlalu meninggalkannya.
"Lah, memangnya apa yang salah dengan pertanyaanku?" Austin berhasil menyusul Darren. Mereka mengambil posisi masing-masing di meja makan.
"Kurasa Lexi lah yang paling beruntung. Gadis itu berhasil membuat Steve bertekuk lutut di hadapannya. Saudariku itu memang yang terbaik!"
"Mereka sama-sama beruntung karena saling melengkapi," timpal Darren. Dan pernyataannya tersebut memang benar.