H.U.R.T

H.U.R.T
Aku Akan Kembali



"Kau kemanakan mawar-mawar pemberianku?"


Steve memperhatikan Oleshia yang sedang mengenakan pakaian di hadapannya. Wanita itu sudah mandi dan wangi. Menemukan Oleshia yang terlebih dahulu turun dari ranjang artinya ada pekerjaan yang harus dilakukan wanita itu. Jadwal Oleshia memang bisa dikatakan sangat padat. Oleshia sedang berada di dalam puncak kejayaannya.


"Apa yang bisa kulakukan dengan mawar sebanyak itu, Steve? Aku hanya membiarkannya di tempat kau meletakkannya."


Steve mengambil sebatang rokok, membakarnya dengan pemantik yang ia desain sendiri. Menghisap dalam rokok tersebut, membiarkan nikotinnya meracuni paru-parunya. Berkat Roxi, ia bisa lepas dari narkoba. Sebagai gantinya, ia menjadi seorang perokok.


"Hadiah apa yang kau inginkan?" Steve membuang asap rokoknya ke udara, matanya memperhatikan Oleshia dengan intens.


"Selama aku bersamamu, tidak ada yang kuinginkan." Oleshia menghampirinya. Wangi parfum wanita itu memenuhi ruangan kamar tersebut. Sangat menggoda. Ya, saat ini mereka sedang berada di rumah Oleshia, di kamar pribadi wanita itu dan Steve masih dalam keadaan polos di balik selimut yang menutupi pinggangnya hingga ke bawah.


Oleshia duduk di tepi ranjang, tersenyum manis begitu manik mereka saling bertaut. Tangan wanita itu terulur, mengusap lembut cambang halus yang mulai tumbuh di wajah Steve. "Lima hari lagi peringatan kematian Olivia, kuharap kau mau ikut denganku mengunjunginya."


Wajah Steve mendadak tegang untuk seperdekian detik. Bagi orang yang tidak peka, mungkin tidak akan menyadari hal itu. Steve meraih tangan Oleshia lalu menunduk memberikan satu kecupan manis di punggung tangan wanita itu.


"Aku tidak bisa." Jawaban yang selalu ia berikan setiap Oleshia mengajaknya untuk mengunjungi makam Olivia. Belum saatnya. Steve sudah merencanakan kapan ia harus kembali. Sekarang, bukan saatnya walau ia sudah memiliki kekuasaan. Ia tidak ingin terburu-buru. Ia harus menyusun semua rencananya dengan apik untuk hasil yang sempurna.


Oleshia yang sudah menduga jawaban dari prianya itu hanya bisa menghela napas panjang. Ia cukup mengerti alasan di balik sikap pria itu. Oleshia tahu seberat apa masalah dan penderitaan yang dilalui Steve selama ini. Menginjakkan kaki kembali ke New York, sama saja membuka luka yang selama ini berusaha ia sembuhkan. Steve selalu mengatakan akan tiba waktunya, mereka kembali ke sana. Dan ternyata tahun ini juga bukan waktu yang tepat bagi Steve. Oleshia tidak bisa memaksa pria itu karena ia tahu Steve bukan pria yang mudah dibujuk dan didesak. Steve akan bertindak sesuai keinginan pria itu. Ajakan Oleshia kali ini hanya menguji keberuntungannya.


"Aku sudah memasak sarapan untukmu. Mau kutemani?"


"Kau bisa terlambat jika menemaniku. Bisa-bisa aku menarikmu lagi kembali ke tempat tidur."


Ucapan nakal nan menggoda itu disampaikan dengan wajah tanpa ekspresi. Sulit membedakan apakah Steve sedang bergurau, menggoda atau justru sedang serius mengucapkannya. Sungguh Oleshia pun tidak tahu. Enam tahun bersama tidak lantas membuatnya mampu mengenali sosok pria itu.


"Baiklah, aku pergi." Dikecupnya bibir Steve sebelum ia beranjak. "Aku mungkin akan pulang malam."


"Hubungi aku jika kau butuh sesuatu."


Oleshia mengangguk, kembali ia membungkuk untuk memberikan kecupan di pipi pria itu. "Aku mencintaimu."


Begitu Oleshia keluar dari kamar, Steve mengambil ponselnya, menghubungi seseorang. "Apakah hadiahnya sudah dikirim?"


🐇


Di belahan negara lain, tepatnya di sebuah mansion mewah yang penuh dengan cinta dan kehangatan. Terlihat wanita cantik sedang memandangi pantulan dirinya di depan cermin besar. Hari ini, usia wanita itu genap 25 tahun. Wanita itu adalah Lexi Stevani Willson, kesayangan semua orang.


"Bagaimana penampilanku? Apakah terlihat cantik?" Lexi berbalik, membelakangi cermin dan berbicara pada selembar foto yang mulai usang, ia pegang dengan ekstra hati-hati. Foto siapa lagi jika bukan foto Steven dengan kaca mata berbingkai andalan pria itu.


"Ya, aku tahu, aku selalu cantik di matamu." Senyum lebar menghiasi wajah cantik wanita bermanik abu itu. "Selain pertambahan usiaku, hari ini aku juga merupakan hari yang sangat penting untukku. Aku berhasil meraih mimpiku menjadi seorang desainer, Steve! Willson Armour resmi dibuka hari ini. Ya, ya, aku tahu kau bangga padaku." Dibawanya selembar foto itu ke bibirnya. Diciumnya kertas usang itu dengan penuh perasaan. Rasa sesak itu kembali menyerang tatkala rindu yang ia rasakan semakin mendesak dan menjadi. "Kapan kau membebaskanku, Steve?" Tubuhnya lunglai ke lantai. "Aku sudah menjadi wanita yang mandiri dan sukses. Tidak bisakah kau melepaskanku? Aku ingin seperti ayah dan ibuku atau ayah dan ibumu. Hidup bersama dalam bahtera rumah tangga. Saling mengasihi dan saling mencintai. Jika kau terus mengusikku, bagaimana aku bisa membuka hati untuk pria lain. Hati dan pikiranku dikuasai olehmu. Tidak membiarkanku melupakanmu walau hanya sedetik. Hukuman macam apa yang kau berikan ini?" Sebulir air mata luruh tanpa permisi. Lexi dengan segera membersihkannya sebelum keluarganya melihat hal tersebut. "Karena kau sudah merusak hari bahagiaku, kau harus mendapat hukuman!" Lexi berdiri, berjalan menuju meja kerjanya. Bolpoin merah kini ada dalam genggemannya. Waktunya memberi hukuman. Bolpoin tersebut mulai ia goreskan di atas foto wajah Steve. Dua tanduk digambar di atas kepala pria itu dan juga dua taring panjang. "Sekarang kau terlihat seperti iblis pintar yang konyol!" Ia bergumam lirih. Wajahnya terlihat muram. Perlahan dibukanya laci meja kerjanya. Foto Steve hampir memenuhi ruang tersebut. Foto yang sudah habis dilukisnya dengan berbagai coretan. "Entah kapan aku bisa merelakanmu? Entah kapan aku bisa mengatakan selamat tinggal?"


"Dua lamaran menunggumu di bawah."


Lexi berjengkit kaget. Dengan gerakan cepat ia menoleh ke belakang, ke arah sumber suara.


Pria yang sangat memukau berdiri di ambang pintu. Rambut setengah gondrong yang biasanya dibiarkan tergerai atau diikat secara asal-asalan kini terikat dengan rapi. Saudara kesayangan juga kebanggaannya, Darren Willson. Bagi Lexi, belum ada yang bisa mengalahkan kharisma yang dimiliki oleh saudaranya itu, termasuk ayah dan adiknya. Jika pria didesain untuk merusak akal sehat wanita, maka Darren adalah sosok tersebut.


"Mungkin ini adalah saatnya kau melepaskan semuanya. Kau bisa memilih salah satu dari mereka." Darren melangkah maju. Santai, tegas dan berkelas. Kini ia berdiri, menjulang tinggi di hadapan Lexi. Tangannya terulur, mengusap kepala gadis itu. Lexi memamerkan barisan giginya yang rapi. Detik selanjutnya, gadis itu sudah ada di dalam dekapan Darren. Darren mendaratkan satu kecupan hangat di kepala adik kesayangannya itu.


"Kenangan-kenangan masa kecilku dipenuhi dengan canda dan tawa karena dirimu, adikku tersayang! Aku tak percaya kalau kita semakin menua dan waktu-waktu itu hanyalah masa lalu. Inilah masa depanmu yang cerah, semoga dihiasi dengan kebahagiaan dan kenikmatan! You’re kind, strong, beautiful, and loving, basically, you are perfect. Sebagai saudaramu, aku ingin kau tahu kalau aku begitu sayang padamu. Selamat ulang tahun pada adik terbaik di dunia."


"Oh Darren, kau sangat banyak bicara!" Lexi memukul dadaa pria menawan itu. Cinta keluarganya harusnya cukup baginya. Lantas kenapa ia begitu serakah? Menginginkan hal yang tidak mungkin, mengharapkan kehadiran Steve yang sudah tiada.


____


"Agrhhhh....." Lexi menjerit histeris begitu membuka sebuah bingkisan kado. 10 mayat tikus dengan kepala terputus terpampang nyata.


Aku akan kembali.