H.U.R.T

H.U.R.T
Zenia



Zenia membaluri tubuh Amor dengan tabir surya hasil curiannya di rumah Steve. Topi jerami besar bertengger di kepalanya, guna melindungi wajahnya dari paparan sinar matahari yang sangat menyengat.


Di sebelahnya ada Zetta yang membaluri tubuhnya sendiri.


"Kau benar-benar terlihat menggelikan. Pantas saja Steve menyebutmu gadis Arabia. Tidak ada yang mengenakan gaun panjang saat berjemur di pantai, dan topi jerami ini, astaga! Ukurannya terlalu besar, Zenia!"


Zenia tertawa, tidak merasa tersinggung sama sekali. Ia menyoroti penampilannya sendiri lalu membandingkannya dengan Zetta yang hanya mengenakan dua potong bikini yang berhasil memamerkan bagian tubuhnya yang aduhai di tempat-tempat tertentu. Meski Zetta adalah adiknya, Zenia akui jika tubuh adiknya itu lebih mengagumkan dibanding dirinya. Bentuk tubuh yang merupakan impian para wanita dan juga fantasi para pria.


Zenia memiringkan kepala, menoleh pada rumah besar yang tidak jauh di hadapan mereka. Matanya bertemu dengan manik datar si pemilik rumah yang juga sedang menatap ke arah mereka. Tangan pria itu memegang string mop.


"Pasti dia memperhatikan tubuhmu."


"Kau mengatakan sesuatu?" Zette tidak mendengar ucapan Zenia yang memang hanya gumaman yang tedengar seperti bisikan halus.


"Aku membuat lantainya basah dan mengatakan akan membersihkannya setelah kita selesai bermain. Tapi sepertinya dia tidak sabar menunggu."


Zetta menoleh, mengikuti arah pandang saudarinya itu. Gadis itu langsung melambaikan tangan yang dibalas Steve dengan anggukan kecil.


"Dia tidak suka jika lantainya basah. Dia takut ada yang terpeleset. Sini, aku akan membaluri tubuhmu dengan tabir surya. Lepaskan gaunmu."


Zenia menggeleng, "Aku tidak ingin berjemur. Tidak ingin mengubah warna kulitku. Amor, ayo membuat istana pasir."


Zetta yang tidak tertarik untuk membuat istana pasir memilih untuk membaca buku. Ia berbaring di atas selimut yang sudah mereka gelar di bawah payung besar.


Amor dan Zenia terlihat bahagia begitu istana mereka selesai dibangun lengkap dengan menara-menara dan parit yang mengelilingi. Parit-parit itu diisi dengan air laut.


"Zetta, bagaimana menurutmu istana buatan kami?" Amor berseru meminta pendapat.


"Untuk apa istana jika tidak ada putri dan pangeran di dalamnya."


"Aku dan Zenia adalah putri kerajaan ini. Kau bukan putri karena kau tidak ikut membangun istana ini."


"Aku juga tidak tertarik dengan cerita dongeng, Amor. Aku akan menikah dengan bajak laut. Jika kau dan Zenia adalah putri, siapa yang akan menjadi pangerannya?"


"Tentu saja Steve!" Sahut gadis belasan tahun itu dengan semangat.


"Kau dan Zenia akan berbagi satu pangeran? Hm, kurasa Steve lebih cocok jadi bajak laut." Zetta mengerling nakal.


"Kau menyukai Steve?" Tuding Amor dengan tatapan mengintimdasi.


Zetta tertawa renyah, tawa yang terdengar sangat menggoda. "Kau juga menyukainya, gadis cilik! Omong-omong, Zenia, apa pendapatmu tentang Steve yang mengubah penampilannya? Dia terlihat lebih hot, bukan?"


"Dia terlihat menggelikan," sahut Zenia singkat.


"Menggelikan? Ck! Seleramu buruk sekali."


"Zenia, Zetta, Amor, kemarilah. Sudahi permainan kalian," dari teras rumah mereka berdiri seorang wanita setengah baya. Rose Nolan, ibu dari ketiga gadis tersebut.


Ketiga gadis itu segera berlari menuju rumah mereka.


"Bersihkan tubuh kalian dan Zetta, bantu Ibu membersihkan rumah Steve. Mom belum mengganti alas tidurnya sejak dia pergi ke kota dan kulihat dia sudah kembali."


"Baik, Mom." Zetta berseru riang. "Aku akan membersihkan tubuhku dengan segera dan akan langsung ke rumahnya. Uwu, aku bersemangat sekali." Zetta menyenggol bahu Zenia sebelum berlari ke dalam toilet.


Karena rumah mereka hanya memiliki dua kamar mandi. Di dapur juga di kamar orang tua mereka. Terpaksa Zenia menunggu. Zetta menggunakan toilet yang ada di dapur dan Amor sudah berlari masuk ke kamar orang tua mereka.


"Sembari kau menunggu kedua saudarimu, keringkan rambutmu dan minum ini," Rose memberikan handuk dan sebutir pil kepada Zenia.


"Vitamin lagi?" Ia menerima pil pemberian ibunya dan langsung menelannya tanpa disuruh dua kali.


"Ya. Sebaiknya kau ganti pakaianmu terlebih dalulu dan bantu Mom menyiapkan makan malam."


"Aku akan membantumu, Mom. Pakaianku tidak terlalu basah, hanya saja tubuhku sedikit lengket."


Rose menyentuh pakaian putrinya dan langsung menggeleng, "Pakaianmu sangat lembab, kau harus menanggalkannya. Kau sudah mengeringkan rambutmu? Aku tidak ingin kau masuk angin. Hmm, aku akan menghangatkan air panas untukmu. Ck! Sepertinya kita harus membujuk Ayahmu untuk menyediakan electric water heater agar kita tidak repot-repot merebus air jika ingin mandi air hangat."


Rose menggeleng, "Zetta akan sangat lama di sana. Ambil seprei yang sudah Mom siapkan di ruang tamu. Bawa ke rumah Steve dan katakan padanya untuk meminjam toiletnya sebentar. Mandi lah di sana. Gunakan air hangat."


Zenia menggeleng cepat, "Dia membentakku hanya karena aku membuat lantainya basah. Aku tidak ingin dia membentakku lagi hanya karena lantainya berpasir. Dia pemarah sekali dan terlihat tidak menyukaiku."


Rose tersenyum, "Dia warga baru di sini. Tentu dia masih merasa asing. Kau harus memakluminya."


"Dia bisa berbicara normal pada Zetta dan Amor, Mom."


"Itu karena Amor masih kecil dan Zetta perayu yang licik. Ck! Anak itu memang terkadang kelewat batas. Ambil sepreinya dan pergilah ke sana. Zetta akan datang menyusulmu. Mom tidak ingin melihatmu sakit dan lihat, kau sudah menggigil kedinginan dan bibirmu mulai pucat." Rose tampak sangat cemas, Zenia memang sangat mudah diserang sakit dibanding anak-anaknya yang lain.


Zenia yang tidak suka melihat kecemasan di wajah ibunya segera menurut. Ia pun berlau dari dapur, berjalan menuju ruang utama dan mengambil seprei untuk dibawa ke rumah Steve.


"Aku pergi."


"Ya, undang dia untuk makan malam."


"Aku akan menyampaikannya, Mom."


Hanya butuh beberapa ratus langkah untuk sampai di rumah Steve. Zenia berdiri di ambang pintu, meragu untuk mengetuk pintu tersebut.


Ia melihat pria itu tiga bulan yang lalu. Sebelumnya rumah itu kosong dan keluarganya lah yang memang bertugas membersihkannya setiap hari, merawat dan menjaga keamanannya.


Rose sedang sakit hari itu sementara Zetta dan Amor ke kota. Amor harus sekolah. Tidak ada yang menggantikan Rose selain dirinya.


Hari menjelang sore saat ia sampai di rumah Steve. Ia membersihkan rumah seadanya. Bukan pekerjaan yang sulit karena tidak terlalu kotor. Rumah itu memiliki dua lantai. Saat hendak membersihkan kamar, Zenia mendengar pergerakan dari dalam kamar. Zenia berhenti di ambang pintu, menempelkan telinga ke daun pintu. Suara itu semakin nyata.


Zenia panik, mengira itu adalah pencuri, ia segera menuruni tangga tanpa menimbulkan suara dan mencari sesuatu yang bisa digunakan untuk menyerang. Zenia tidak menemukan apa-apa selain pisau. Ia takut menggunakan benda tersebut dan akhirnya ia memutuskan untuk mengambil bubuk cabe.


Zenia kembali naik ke lantai dua. Ia kembali menempelkan telinga. Suara itu sudah tidak terdengar lagi. Perlahan ia mendorong pintu kamar. Tidak ada siapa-siapa di sana. Zenia mendekati toilet. Benar saja, terdengar suara keran yang menyala. Ia menunggu di depan pintu, ralat, dua meter dari pintu dengan semprotan bubuk cabe yang siap disemprotkan.


Begitu pintu terbuka, muncul seorang pria berantakan dengan mata yang dihantui lingkaran hitam mengerikan.


"Katakan siapa kau? Karena jika bubuk cabe ini disemprotkan ke wajahmu, akan butuh waktu lama untuk kau bisa berbicara."


"Sumpah, aku bukan ancaman," itulah yang dikatakan Steve saat itu dengan mengangkat kedua tangan.


"Apa karena aku menuduhnya pencuri di rumahnya sendiri dia jadi membenciku? Aku bahkan tidak jadi menyemprotnya." Zenia menarik napas panjang mengingat kejadian itu. Zenia kembali menarik napas sebelum akhirnya memberanikan mengetuk pintu di hadapannya.


Tok. Tok.


"Mr. Percy, aku Zenia. Ibuku memintaku mengantar seprei baru untukmu. Apakah aku boleh masuk?"


Tidak menunggu lama, pintu dibuka. Steve menyorotnya dengan mimik tidak suka, pun pria itu menoleh ke kiri ke kanan.


"Kau datang sendiri?"


"Ya. Aku tidak akan menyerangmu. Aku hanya membawa seprei. Tidak ada bubuk cabe atau merica."


"Kau belum mandi?"


"Zetta dan Amor masih menggunakan toilet."


Steve mengambil alih seprei dari tangan Zenia. "Masuklah."


Zenia segera melangkah, melewati Steve saat melewati ambang pintu. Samar-samar ia mencium aroma Steve yang membuat darahnya berdesir. Buru-buru ia melintasi ruangan, menjaga jarak dari pria itu.


"Lan-lantaimu berpasir. Aku akan membersihkannya."


"Pergilah ke toilet, bersihkan dirimu."


Zenia mengangguk, "Aku akan membersihkan lantaimu setelah aku mandi."


Steve tidak menyahut, pria itu sudah kembali duduk di sofa dan fokus pada laptopnya. Zenia pun berbalik menuju toilet.