
Keluarga Percy yang akhirnya bersatu setelah 13 tahun berpisah menikmati acara makan siang mereka dengan suka cita. Senyum di wajah Daphne tidak memudar sama sekali sepanjang mereka bersama. Bahkan Daphne tidak sedikit pun berpaling dari wajah putranya. Kenyataan yang terlalu manis membuatnya takut jika semuanya hanya mimpi.
Steven yang tahu dan mengerti apa yang dirasakannya ibunya, menggenggam tangan ibunya, mengusap jemarinya di atas punggung tangan tersebut. Menyatakan dengan tindakan bahwa ini nyata. Mereka memang berkumpul kembali dan tidak akan ia biarkan siapa dan apa pun yang memisahkan mereka.
Sama seperti yang dirasakan ibunya, sesungguhnya Steve juga sedang berusaha mengendalikan perasaannya yang membuncah. Menahan diri untuk tidak terlalu nenggebu-gebu meluapkan kerinduan yang ia pendam selama ini. Sapuan lembut tangan ibunya di kepalanya, suapan ibunya dikala ia sedang sibuk belajar dengan makanan yang seadanya tapi terasa nikmat saat seorang ibu yang memasak dan menyuapinya, dan ia juga merindukan saat-saat mereka berbagi cerita sembari ia berbaring di atas pangkuan ibunya. Momen seperti itu yang ia rindukan, telah dirampas darinya. Sekarang, ingin mengulangi hal tersebut, ia sudah terlalu tua dan ia juga tidak tahu caranya.
"Kau akan pulang bersama kami?"
"Mom dan Daddy akan bersamaku."
Terdengar sama, tapi memiliki arti yang berbeda. Sayang, Daphne tidak mengerti arti di balik ucapan putranya tersebut. Ya, Steve akan membawa kedua orang tuanya pergi dari negara ini, menempatkan mereka di tempat yang aman menurutnya.
Di tempat yang berbeda, keluarga Willson sedang bersitegang. Wajah Pax terlihat muram juga murka.
Bugh!
Pax menendang perut Austin begitu mereka sampai di kamar hotel. Meski sudah berusia 55 tahun, tendangan pria itu masih saja luar biasa. Austin terpental beberapa meter. Pria setengah baya itu benar-benar murka. Pasalnya, ia harus terbang ke Virginia karena mendengar putra kesayangannya tersandung kasus narkoba dan polisi mengetahui hal tersebut.
Andai saja Darren tidak cepat bergerak, mungkin Austin sudah meringkus di penjara. Namun, dalam misi penyelamatan Austin, banyak anggota mereka yang harus dikorbankan. Austin dikejar layaknya kriminal kelas kakap. Puluhan anjing pelacak ikut serta dalam pencariannya. Posisinya digantikan oleh orang lain yang kini berada di penjara.
Dari dulu, Willson sangat bermusuhan dengan pemerintah. Pemerintah selalu mencari-cari kesalahan mereka untuk menghancurkan generasi Willson. Dan sekarang, Austin mengacaukan segalanya. Pemerintah menemukan kelemahan mereka. Bagaimana bisa Austin sebodoh itu. Membawa pil terlarang juga ganja di mobilnya untuk diselundupkan. Kapan bocah itu akan berhenti bersenang-senang?
"Dad."
Darren mencoba melerai, meredam kemarahan ayahnya. Namun, tatapan menghunus yang dilayangkan Pax membuat Darren berhenti di tempat. Tidak akan ada yang bisa menghentikan kemarahan ayahnya jika bukan ibunya. Namun, hal seperti ini harus disembunyikan dari ibunya. Tidak ada yang menyangka jika Austin benar-benar bertindak di luar dugaan mereka. Menurut Darren, ini memang sedikit keterlaluan. Tapi, ia percaya jika Austin tidak seceroboh itu. Mungkin saja adiknya itu hanya dijebak.
"Berdiri!"
Pax melangkah lebar mengikis jarak antara dirinya dan Austin. Kemudian ia menarik tangan Austin dengan kasar hingga pemuda itu berdiri.
Bugh!
Satu bogeman menyusul di wajah Austin hingga kepalanya menoleh ke samping. Darah segar mengucur dari sudut bibirnya. Austin meludah, membuang darah yang masuk ke dalam mulutnya.
"Kau memukulku?" Austin terkekeh sinis. Tatapan yang ia layangkan kepada Pax juga penuh dengan permusuhan.
Darren mempunyai firasat buruk tentang hal ini. Kemarahan ayahnya juga kesinisan yang ditunjukkan Austin.
"Memangnya, kapan aku bagus di matamu?" Austin tertawa hambar. Pertanyaan yang bernada protes itu membuat Darren juga ayah mereka terkejut.
"Aku selamat dari kejaran polisi. Tidak ada yang akan tahu jika narkotika itu milikku. Lalu apa yang membuatmu marah?"
Kedua tangan Pax terkepal kuat. Tidakkah Austin sadar apa yang sudah dilakukannya? Untuk menyelamatkan dirinya, beberapa anggota mereka terpaksa bentrok dengan beberapa aparat dan harus ada yang dikorbankan di penjara sana dan terancam hukuman berat.
"Apakah nyawa anak buahmu itu lebih penting daripada diriku?" Lagi dan lagi Austin melayangkan tawa hambar.
"Ah, aku lupa jika diriku memang tidak terlalu berarti untukmu, Pax Willson."
"Austin, kendalikan dirimu dan perhatikan ucapanmu." Darren menasehati sebelum pertengkaran ini semakin melebar.
Austin menoleh ke arah Darren. Tatapan sinis itu masih memancar dari matanya.
"Si anak kebanggaan ada di sini."
Ada apa dengan Austin? Sorot matanya secara terang-terangan menebar kebencian yang begitu mendalam. "Tidakkah kau melihat perbedaan di sini, Dude? Dia menghajar juga memukul saat tanpa sengaja aku melakukan kesalahan. Dia melindungimu saat kau melakukan hal yang sama. Hingga detik ini. Jika syarat untuk bisa menjadi kebanggaanmu adalah terlahir dari benih pria lain, harus kuakui aku kalah karena di darahku, mengalir darahmu, darah Willson dan entah kenapa aku mendadak muak mengakui hal tersebut..."
Bugh!
Bogeman itu kini berasal dari Darren. Pax sendiri hanya bergeming di tempat. Tidak menyangka jika selama ini Austin merasa dirinya dibedakan. Tatapan pria setengah baya itu nanar dan penuh luka. Ia bertanya-tanya, apakah ia memang telah membuat kesalahan dalam mendidik anak-anaknya?
Tawa Austin meledak seketika. Tawa yang entah kenapa terdengar menyedihkan.
"Kau juga memukulku," Austin kembali meludah. "Ingin menunjukkan jika dirimulah yang berkuasa. Penerus Willson selanjutnya?!"
"Aku tidak tahu dianggap apa aku selama ini? Anak badung? Anak keparat? Tidakkah kau sadar jika kau lah yang selama ini membentukku seperti ini, Pax Willson? Kau hanya membicarakan bisnismu dengan anak tirimu tanpa melibatkanku sama sekali. Dan saat aku mengalihkan semua kecemburuanku dengan bersenang-senang, kau dengan seenaknya mengatakan bahwa diriku belum dewasa dan hanya tahu bersenang-senang. Kapan kau mengatakan kepadaku bahwa kau bangga padaku? Kapan kau mengatakan kepada dunia bahwa aku adalah putramu?"
Apa ini? Apakah Austin sedang memberontak karena kecemburuan yang ia pendam selama ini? Pax dan Darren benar-benar dibuat tercengang. Tanpa harus mengumumkan , Dunia juga tahu bahwa Austin adalah darah dagingnya. Keduanya bak pinang dibelah dua. Terlihat sangat mirip. Melihat Austin, Pax seolah melihat dirinya dalam versi muda. Sikap, tindakan juga karakternya hampir mirip.
Yang ia lakukan adalah membiarkan Austin bersenang-senang hingga lelah dan menemukan tujuannya sendiri. Itulah yang dilakukan ayahnya dulu pada dirinya. Memberikan kepercayaan sepenuhnya. Pax mungkin terlalu besar kepala menganggap jika putranya tidak mungkin bertindak ceroboh dan tersesat. Tidak ada yang menyangka jika di balik sikap Austin yang santai, pemuda itu memendam kemarahan juga kecemburuan. Austin menyembunyikan emosinya selama ini.
"Semua ini benar-benar membuatku muak." Austin tersenyum miring, menatap sarkastik pada kedua pria tersebut.