After Married

After Married
TEMAN SEKELAS YANG MENYEBALKAN



Dan ia pun menoleh pada mamanya, "Moms ulang tahun ya? maafkan Zi sampai kelupaan." Ucapnya kemudian.


Lalu ia pun menghadiahi bertubi-tubi ciuman pada mamanya.


"Kenapa Moms ga bilang kalau hari ini ultah?" tanya Zi pada mamanya sesaat kemudian.


Nisa memang tak pernah merayakan hari kelahirannya. Ia lebih memilih melewatkan hari tersebut ketimbang merayakannya.


Dulu sebelum Zein meninggal ia memang merayakan dengan suaminya tersebut, bahkan kejutan-kejutan manis selalu diberikan untuknya.


"Moms? melamunkah? maafkan Zi ... hiks ... hiks .. hiks ..."


"Engga sayang, mama hanya ingat ayah." Ucaonya sembari mengusap air matanya.


Fadhil tak bermaksud membuat Nisa mengingat kenangan bersama suaminya, ia hanya ingin membuat kenangan baru bersama Nisa. Ia pun mengalihkan suasana tersebut agar tidak ada haru biru kembali.


"Nah karena semuanya sudah berkumpul ayo kita rayakan ulang tahunnya sekarang." Ajak Fadhil pada semua orang.


Yo pun mematikan lampu ruangan dan Fadhil sudah menyalakan api pada lilinnya. Mereka semua menyanyikan lagu ulang tahun untuk Nisa. Sebelum meniup lilin, Nisa pun mengucap doanya.


Dan sesudahnya ia pun meniup lilinnya, lalu terdengarlah suara tepuk tangan dari semuanya.


"Happy birthday Moms," ucap Zi.


"Selamat ulang tahun Nisa."


"Selamat ulang tahun kak Nisa," ucap Yo.


"Terimakasih semuanya."


Lalu mereka pun makan malam bersama-sama. Saat itu Nisa memang tak berdandan sesuai permintaan Fadhil tapi yang namanya Fadhil tidak pernah bisa mengendalikan matanya saat berada di dekat Nisa.



Penampilan Nisa malam itu.



Penampilan Fadhil.



Dan ini si kecil Zi.


Jadi memang malam itu sebenernya Zi sudah mau berangkat tidur, tetapi karena ada kejutan dari om-nya yang datang tiba-tiba. Maka ia pun ikut serta merayakan ulang tahun mamanya.


Tetapi karena mereka datang terlalu malam, Zi lun ketiduran di sofa. Dan dengan segala penuh kasih sayangnya, Fadhil memindahkan Zi ke dalam kamarnya. Ia pun menggendong Zi kecil dengan sangat hati-hati.


Awalnya Nisa menolak, tetapi ia juga tidak kuat mengangkat anaknya, maka ia pun menyetujui usul Fadhil. Sementara Fadhil memindahkan Zi ke kamarnya, Yo pun mengajak Nisa mengobrol.


"Kak ..."


"Iya Yo, ada apa?"


"Apa kakak tidak ada niatan untuk memberikan Zi seorang ayah," tanyanya hati-hati.


Nisa pun menoleh, ia sangat tau maksud pertanyaan dari Yo. Ia pun harus hati-hati dalam berbicara.


"Iya yo, aku pun menginginkan hal itu, tapi sampai saat ini aku tidak dekat dengan siapapun kecuali kakakmu."


"Nah itu tau ... kenapa kakak tidak bersama Kak Fadhil saja?"


"Aku belum tau seperti apa hatiku untuknya, aku tidak mau salah melangkah lagi Yo."


"Kak, semua sudah terlewat, sudah saatnya kakak membuka lembaran baru."


Nisa tampak memikirkan usulan Yo, tapi ia masih membutuhkan beberapa hal lagi untuk meminta restu pada keluarganya. Apalagi restu dari mertuanya. Ia tak mau melukai hati mertuanya dengan menikah lagi.


"Kak, apa yang membuat kakak menolak kak Fadhil, apa yang kurang darinya?"


"Tidak ada kekurangan darinya, hanya satu hal yang aku takutkan Yo ..."


"Apa itu kak?"


"Restu ..."


"Maksud kakak?" tanya Yo kebingungan.


"Kamu tau aku sudah menikah Yo, dan aku mempunyai mertua, saat aku menikah nanti aku pun harus meminta restu dari mereka, karena bagaimanapun cucu mereka akan memiliki ayah sambung."


Yo tampak paham akan maksud Nisa. Ia pun sekarang baru baham apa yang menjadi titik pemisah antara Fadhil dengan Nisa. Ia harus mencari cara agar mertua Nisa juga memberikan restu pada Fadhil dan Nisa.


Padahal Zi juga menerima kehadirannya dengan baik, begitu pula dengan Nisa. Ia tak pernah memikirkan hal sejauh ini sebelumnya. Tapi kini ia pun tau penyebabnya.


"Yo aku harap kamu tak memberi tau kakakmu, biarkan aku menyelesaikan hal ini barulah aku menerima kakakmu."


"Baik kak."


Lalu mereka pun melanjukan makan kue malam itu. Sesudahnya Fadhil pun turut bergabung kembali dengan Nisa dan Yo. Karena hari semakin malam, Yo dan Fadhil meminta ijin untuk pulang.


...***...


Keesokan harinya, sesuai keinginan Nisa, ia sudah membawa serta baju dan hadiah yang akan mereka bawa ke pesta ulang tahun Sharen.


Zi pun sudah siap dengan seragam sekolahnya. Ia tampak ceria dan sangat bersemangat hari ini. Nisa pun mengantarkannya ke sekolah Zi seperti biasa.



Sesampainya di sekolah Zi.


"Pagi Zi ..." sapa Sharen pada Zi yang baru saja masuk kelas.


"Astaghfirullah, sial amat pagi-pagi dah ketemu


makhluk satu ini," batinnya.


Tapi namanya Sharen selalu punya sejuta cara untuk mendekati Zi.


"Zi tunggu, kenapa kamu jalannya cepat sekali sih?"


Tapi Zi tetap melenggang menuju tempat duduknya.


"Zi, kamu datang ke acara ulang tahunku kan?"


"Hmm ..."


"Dih irit banget si bicaranya? kamu sakit?" tanya Sharen sembari menempelkan tangannya ke dahi Zi.


Sontak saja Zi menghindari hal itu.


"Jauhkan tanganmu dariku atau aku tak akan datang ke acara ulang tahunmu nanti," gertak Zi.


"Iya ... iya ... terimakasih Zi." Ucapnya dengan senyuman mengembang penuh.


Ia pun kembali menuju tempat duduknya sembari menatap Zi dari kejauhan. Entah kenapa sosok Zi sangat memikat di mata Sharen



Itulah beberapa hal yang membuat Zi sedikit ilfil dengan sikap Sharen. Sebenarnya Sharen anak yang baik, hanya beberapa sifatnya tadi saja yang membuat kurang di mata Zi.


Sesudah gurunya datang, pelajaran pun dimulai. Semua siswa mengikuti pelajaran hari ini dengan hikmat. Sampai jam istirahat pun datang. Seperti biasanya Sharen selalu menawarkan makanan untuk Zi. Dan setiap itulah Zi selalu menolak apa yang ditawarkan Sharen padanya.


Meskipun ditolak Sharen tak patah semangat. Ia tetap setia mengejar Zi.


...***...


Sementara itu di Perusahaan D'Corp. Di ruangannya Fadhil sedang memikirkan bagaimana caranya agar ia bisa mengambil hati mertua Nisa. Ia pun mencari tau semua informasi tentang mertua Nisa. Ia pun menyuruh beberapa orang untuk mengawasi mertua Nisa dan melaporkan ke sehariannya pada Fadhil.


Ia tak mau salah langkah, karena ini menyangkut kehidupan Nisa, Zi dan dirinya. Ia tak mau ada hal-hal yang merusak kebahagiaannya nanti dengan Nisa. Jadi semua masa lalu Nisa harus diselesaikan saat ini juga.


Ia tak mau berburuk sangka, tetapi kebahagiaan Nisa adalah tujuan utamanya saat ini, oleh karena itu semua hal yang berkaitan dengan Nisa dan Zi harus sepengetahuan dirinya.


...~Bersambung~...


.


.


.


...DUKUNG SELALU AUTHOR DENGAN CARA...


...LIKE...


...KOMEN...


...FAVORIT...


...GIFT/VOTE...


...TERIMAKASIH BANYAK🙏😊...