
Mentari pagi telah menampakkan sinarnya di ujung timur. Menghiasi cakrawala dengan semburat emasnya.
Kicauan burung-burung pagi semakin menambah semaraknya suasana pagi itu. Sisa-sisa kebahagian semalam masih terlihat dengan jelas ketika angin pagi menyapa lewat tirai jendela kamar yang masih terlihat berantakan.
Setelah menjamu para tamu sampai hampir tengah malam, dan para tamu undangan sudah mulai pergi. Rumah itu kembali sepi, karena para anggota keluarga yang lainnya telah kembali ke rumah masing-masing.
Beruntung hari itu adalah weekend, jadi ia bisa bermalas-malasan sedikit. Belum lagi sisa olahraga semalam membuat Nisa dan Fadhil masih terlelap dalam balutan selimut tebal.
Beberapa hari ini memang Nisa selalu digempur habis-habisan oleh Fadhil, alasannya selalu smaa karena ia takut kembali dengan Zein. Padahal ia sama sekali sudah meng-ikhlaskan Zein untuk pergi.
Lagi pula, dirinya kini hanya fokus pada anak-anak dan keluarganya saja. Mungkin saat mendengar suaminya kembali di temukan, ada sebuah rasa rindu ingin kembali merajut kisah cinta bersamanya.
Tetapi setelah melihat perjuangan suaminya jauh sebelum Zein kembali, ia pun mengubur dalam perasaannya itu. Baginya masa lalu sudah memberinya banyak pelajaran hingga ia bisa menjadi seperti saat ini.
Mungkin Nisa yang dulu hanyalah gadis desa yang mempunyai impian sederhana, tetapi ketika kini ia mulai menjalani kehidupan rumah tangganya sendiri banyak hal yang ia dapatkan.
Keluarga adalah tempat kembali dikala kita merasa lelah dengan segala kebisingan yang terjadi di luar sana. Tak ada bahu yang paling nyaman untuk bersandar kecuali pada bahu pasangan kita.
Hiburan paling indah dan paling gampang kita dapatkan adalah sebuah kehangatan keluarga. Di saat kita bisa mendengarkan anak-anak bercerita, mendengarkan keluh kesah suami dan suami mendengarkan segala kegundahan hati kita, hal itu sudah lebih dari cukup.
Setelah beberapa saat bermonolog pada hati dan pikirannya, kini Nisa mulai memberanikan diri untuk mulai beranjak dari ranjangnya. Tak mau mengusik tidur lelap sang suami, dengan perlahan Nisa menuruni ranjang dengan sangat hati-hati.
Setelah mengendap-endap dan sampai di bibir kamar mandi, Nisa menoleh dan ...
"Aaarrghh ...."
Nisa pun berteriak, karena tiba-tiba suaminya sudah berdiri di belakangnya.
"Mas ngapain sih? ngagetin tau!"
"Gak, gak akan ... pokoknya makin lama, mas makin nyebelin, aku benci ... titik!"
"Yakin nih benci? gak takut aku tinggalin nih."
"Berani ninggalin kita, aku geprek milik mas!" ancam Nisa sambil mendelik.
CUP ...
Tak mau menggoda istrinya lebih lama, Fadhil kembali menuju ranjang dan mulai menyelimuti hampir seluruh wajah dan tubuhnya. Nisa pun hanya geleng-geleng akan ke-usuilan suaminya tersebut. Lalu ia pun kembali melanjutkan keinginannya untuk mandi.
Sementara itu, Fadhil membuka sedikit selimutnya untuk mengintip, apakah Nisa sudah masuk ke dalam kamar mandi atau belum. Setelah yakin, ia pun segera bangun dari kamar tidur menuju lantai bawah untuk menyiapkan sarapan untuk dirinya dan Nisa.
Sudah lama sekali ia tidak mempersiapkan menu makanan buat sarapan berdua. Hingga di kesempatan kali ini, ia pun sudah tidak sabar untuk mencoba resep favorit sang istri sekali lagi.
Sementara itu di dapur.
"Bik, bibik ke depan sebentar ya, aku mau bikin sarapan buat Nisa. Oh ya makanan untuk Zi dan Yo sudah siap kan?"
"Sudah tuan."
"Oke kalau begitu, tolong tinggalkan saya, terimakasih sebelumnya."
Hingga pagi itu, Fadhil sengaja memasak menu kesukaan Nisa yang sudah bisa ia pelajari. Fadhil tidak berani mencoba resep lain karena takut istrinya tidak suka pada ahirnya. Jadi ia pun memasak makanan yang simple namun sehat untuk ibu menyusui.
Makanan apakah itu?
Wkwkwkk, simak di update selanjutnya kakak. Terimakasih sudah membaca sampai part ini.