After Married

After Married
ZI DAN FADHIL



Darah Zi memang berbeda, ia perpaduan yang lumayan dari Nisa dan Zein saat itu. Terlebih Zi lahir disaat kondisi Nisa masih berusia muda. Saat Zi di dalam kandungan, Nisa masih dalam kondisi manja, belum sedewasa sekarang. Jadi sedikit banyak sifat Nisa saat itu menurun pada Zi.


Sedangkan saat itu Zein memang sudah sedikit lebih dewasa ketimbang Nisa. Sikap perfeksionis dan kedewasaannya sudah stabil. Jadi mungkin saat membuat adonan Zi, dua gen yang bercampur itu mempunyai porsi yang seimbang. Buktinya cetakannya benar-benar sempurna.


Jadilah Zi tumbuh menjadi anak yang manis, comel, tampan, ceria dan sudah mewarisi sikap mandiri sejak kecil. Nisa memang beruntung masih memiliki Zi, setidaknya rasa kangen pada mendiang suaminya sedikit terobati jika ia melihat kehadiran Zi disisinya.


...***...



Ada bagian-bagian dari Zi yang menyerupai wajah Zein. Entahlah jika saat itu Nisa kehilangan keduanya ia tak tau seperti apa kehidupannya sekarang.


Beruntung saat itu ada Fadhil yang datang disisinya. Membantu dan menguatkan kembali hidup Nisa yang hampir saja hilang. Meskipun tidak bisa sembuh secara instan tapi ia bersyukur saat itu Tuhan mengirim Fadhil padanya.


Rencana Tuhan memang selalu sempurna, hanya prasangka hambanya saja yang kadang suka seenaknya sehingga tanpa sadar kita menyinggungNya.


...***...


Hidup adalah sebuah perjalanan. Perjalan panjang yang kita lalui baik itu mulus ataupun kusut. Kita tidak dapat menghindarinya karna hidup sudah menjadi takdir manusia. Tinggal kembali pada diri kita, apakah kita bersyukur atas apa yang diberikan Tuhan atau khufur.


Hidup layaknya perjalanan panjang yang kita lalui, mulai dari kita lahir ke dunia sampai sekarang demi tercapainya tujuan. Dari perjalanan itulah kita bisa melihat apakah kita akan bersungguh-sungguh berusaha atau malah menghilang.


Sungguh bertakwalah kepada Allah SWT, dan bersabarlah. Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya kesabaran yang sempurna adalah saat manusia tertimpa musibah.” (HR Al-Bukhari dan Muslim).


Jika hidup yang kau jalani saat ini begitu penat, bahkan hampir putus asa, Sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang sabar. Dan pahala orang yang sabar itu adalah tanpa batas.


...***...


Tidak usah berpikir terlalu rumit tentang kejadian yang tiba-tiba Allah datangkan kepada kita, ikhlaslah dengan apa yang terjadi, sungguh rencana Allah selalu lebih indah dari yang kita sangka.


Pasrah dan yakin saja kepada Allah, tidak usah terlalu keras memikirkan kenapa semua itu harus terjadi, percayalah bahwa apapun itu sudah Allah tetapkan dengan kebaikan yang kamu butuhkan


...***...


Maka untukmu yang saat ini sedang Allah uji dengan kejadian luar biasa tidak menyenangkannya, jangan lagi banyak bertanya kenapa semua Allah takdirkan nyata dalam hidupmu.


...***...


Sejak saat itu, Nisa juga mulai membuka hatinya untuk Fadhil, ia percaya bahwa jika memang Fadhil adalah jodoh terahirnya, ia yakin berapapun waktu yang mereka butuhkan untuk bersatu, jika Allah menghendaki maka suatu saat pasti terjadi.


Benar saja, ahirnya setelah sekian lama berjuang, Allah menyatukan cinta mereka berdua dalam ikatan suci pernikahan. Atas restu dari kedua orangtua mereka, mantan mertua dan tentunya restu dari anak pertama Nisa yaitu Zi mereka bisa bersama sampai saat ini.


Nisa bersyukur meski Zi bukan darah daging Fadhil tetapi Fadhil mampu memberikan kasih sayang tanpa batas pada putranya tersebut. Begitu pula sikap Zi pada Fadhil tidak pernah berubah sejak awal mengenal.


Orang di luar sana tidak ada yang tau, jika mereka tidak mempunyai hubungan sedarah. Karena keakraban mereka murni, seperti anak dan ayah pada umumnya.


Bahkan sampai saat ini, tidak ada yang merasa jika Zi adalah anak sambung Fadhil. Justru di mata orang-orang mereka selalu terlihat kompak dan seperti sosok ayah dan anak yang sesungguhnya.


Fadhil mengayomi dan selalu ada di sisi Zi, dan Zi juga selalu ada dibalik layar untuk mendukung dan mendoakan kesuksesan untuk kedua orangtua mereka. Meski Zi masih kecil, tetapi ia juga tidak pernah dibohongi.


Zi tau kalau Fadhil bukan ayah kandungnya, dan Fadhil ayah sambungnya. Tapi ia menyayangi keduanya, setiap malam jumat, Zi selalu diajari untuk mengirimkan doa pada mendiang ayahnya.


Foto-foto kenangan saat Zein menggendong dan merawat Zi sejak kecil juga tidak pernah disembunyikan ataupun dihapus oleh Nisa dan Fadhil.


Nisa membiarkan mereka hidup berdampingan dengan masa lalu dan masa depan mereka. Tetapi sejak Zi tau bahwa dia akan memiliki adik, tanpa disuruh pun, Zi sudah menyimpan semua foto dirinya dan Zein dalam kotak kenangan.


Ia menyimpannya dalam sebuah kotak yang ia taruh di dalam almarinya.


Sebuah kenangan dari masa lalu tidak bisa terhapus begitu saja. Tetapi kita juga tidak bisa terlalu lama tenggelam di masa lalu. Jika ada masa lalu, pasti akan ada masa depan.


Jika ada sebab maka akan ada akibat. Tetapi Zi, Fadhil dan Nisa tidak akan pernah mencoba untuk menghapus masa lalu yang indah bersama mendiang Zein.


...***...


Setelah berkeliling Keraton Yogyakarta, rombongan anak-anak beristirahat untuk makan siang dan beribadah. Meski bukan sekolah yang mayoritas siswanya muslim, tetapi rasa toleransi beragamanya patut diacungi jempol.


Zi yang beragama muslim pun melakukan ibadah sholat dhuhur terlebih dahulu baru sesudahnya ikut makan siang bersama rombongan lainnya. Karena Sharen bukan muslim, ia makan siang terlebih dahulu ketimbang Zi.


Anak-anak lainnya sangat interest pada study fiur kali ini. Serangkaian acara apa saja yang mereka ikuti saat itu, selalu di catat dan dipersiapkan untuk laporan saat mereka sudah kembali ke sekolahnya nanti.


Karena memang inti study tour kali ini lebih berfokus pada sejarah dan beberapa obyek tempat wisata yang ada di Yogyakarta.


Selesai makan.


"Zi ..." panggil Sharen setelah melihat Zi keluar dari ruang makan.


Zi menoleh malas, ia tau betul suara siapa yang memanggilnya, tetapi untuk menghormatinya ia pun menoleh, " Iya ada apa?"


Sharen yang mendapatkan respon positif dari Zi pun segera berlari kecil dan menghampiri Zi.


"Hai Zi, ini aku belikan minuman botol dan snack buat kamu."


Sharen pun menyerahkan sebuah bungkusan kantong belanja plastik pada Zi. Karena menjadi pusat perhatian dari siswa lain, Zi pun menerima bingkisan itu dan tak lupa mengucapkan terimakasih.


"Terimakasih Sharen..."


"Sama-sama..." Ucap Sharen dengan wajah tersipu karena pandangan mata Zi yang selalu saja mengunci kedua pandangannya.


"Ada hal lain lagi?"


"Eh, ti-tidak Zi ..." Ucap Sharen dengan terbata karena kaget dari lamunannya.


"Ya sudah kalau tidak ada, aku permisi," pamit Zi pada Sharen.


"I-iya..."


...~Bersambung~...


.


.


.


.


.


...DUKUNG SELALU AUTHOR DENGAN CARA...


...LIKE...


...KOMEN...


...FAVORIT...


...GIFT/VOTE...


...TERIMAKASIH BANYAK🙏😊...