After Married

After Married
LIBURAN RASA KELUARGA



"Stop Nisa, hanya kamu yang aku cintai dulu, sekarang dan di masa depan."


"Tapi kenapa harus aku kak?"


"Karena kamulah satu-satunya calon pendamping hidupku dan Zi sudah aku anggap sebagai putraku sendiri sejak ia lahir."


"Apa kamu lupa, bahwa akulah yang mengadzani Zi saat ia lahir?" tanya Fadhil pada Nisa yang selalu meragukan isi hatinya.


Nisa pun menoleh pada Fadhil dan melihat Zi yang masih terlelap di sebelah tempat duduk Fadhil.


"Apa kamu sungguh menganggap Zi sebagai anakmu mas?"


Fadhil pun mengangguk.


"Aku bisa membuka hati untukmu tapi dengan satu syarat ...."


"A-apa itu? katakan saja padaku, aku akan berusaha mewujudkannya untukmu." Ucap Fadhil sungguh-sungguh.


Meskipun banyak sekali keraguan yang beterbangan dalam fikiran Nisa, tapi ia akan melakukan apapun yang terbaik untuk Zi.


"Aku mau mencoba hubungan baru denganmu mas, tapi jika nanti ahirnya kita tak bisa bersama, kamu harus ikhlas dan mencoba memilih wanita lain untuk menjadi pendamping hidupmu."


"Sungguh? tapi aku juga punya syarat untukmu."


"Apa itu mas?"


"Kamu tidak boleh melakukan sesuatu hal atau apapun itu untuk membuatku tidak suka padamu. Semua harus berjalan apa adanya."


"Sepertinya mas Fadhil tau akan maksudku, makanya ia mengajukan hal yang membuatku tidak akan melakukan hal yang membuatnya marah ataupun membenciku," batin Nisa.


"Bagaimana Nisa? kamu setuju?"


"A-aku ..."


Belum sempat Nisa membalas ucapan Fadhil, Zi sudah bangun.


"Mommy ... Daddy ..." sapa Zi seusai bangun tidur.


"Daddy?" tanya Nisa kaget.


"Yes mom, sejak saat ini aku akan memanggil Om Fadhil dengan sebutan Daddy." Ucap Zi mantap.


"Tapi sayang, Om Fadhil bukan ayah kamu?"


"Kata siapa? sebentar lagi pasti Om akan menjadi Daddy aku, ya kan Om?"


Fadhil tersenyum penuh kemenangan sambil mengedipkan salah satu matanya ke arah Nisa.


"Mommy, Zi sangat menyukai Om Fadhil, apa salahnya jika Om menjadi Daddy Zi?" tanyanya polos.


"Mm, tidak ada yang salah sayang, tapi jika Om punya calon lain bagaimana?"


Zi pun menoleh pada Fahdil dan mau menanyakan apa benar yang dikatakan mommynya barusan.


"Sayang, jangan percaya mommy, Om tidak pernah memiliki calon pendamping hidup selama ini, apa Zi pernah melihat Om bersama wanita lain selain mommy kamu?"


"Ga pernah si Om? tapi mommy juga tidak pernah bohong sama Zi."


"Zi, selama ini Om ada untuk Zi dan mommy, jadi tidak mungkin Om memilih wanita lain."


"Really?"


"Yes."


Dan Nisa pun hanya memilih diam. Sedang Zi masih asyik mengobrol dengan Fadhil. Kedekatan mereka memang seperti kedekatan ayah dan anak, bahkan kalau orang luar akan menganggap mereka ayah dan anak sesungguhnya.


"Sebentar lagi kita sampai sayang ..." ucap Fadhil pada Zi.


"Yeayy, asyik ... thanks daddy."


"Sama-sama sayang."


Dan lima menit kemudian pesawat yang mereka tumpangi sudah mendarat dengan sempurna. Mobil yang mereka tumpangi pun sudah siap mengantarkan mereka ke tempat penginapan setempat.


Sesudah sampai tempat penginapan, mereka ahirnya beristirahat sebentar di kamar yang sudah disiapkan oleh pihak pengelola.


Zi satu kamar dengan Nisa, sedangkan kamar Fadhil ada didepan kamar Nisa. Jadi mereka akan lebih mudah mengawasi satu sama lain. Dan mereka pun juga sudah terbiasa dengan kedekatan mereka.


Para pengawal Fadhil juga berada tak jauh dari kamar mereka.


...***...


🍃Keesokan harinya.


Ia pun menikmati segarnya udara pagi hari dari balkon kamarnya. Ia sengaja bangun pagi-pagi agar ia bebas melepaskan sejenak beban hidupnya selama ini.


Selama beberapa tahun belakangan ini, semua tanggung jawab keluarga ia pikul sendiri. Hujatan, makian, omongan miring tentang statusnya telah berhasil ia lewati dengan baik. Meskipun terkadang ia merasa hidup ini tak adil, tetapi ia tetap bertahan untuk putra semata wayangnya.


Mungkin keputusan menikah muda membuatnya sedikit lebih dewasa sebelum waktunya. Dulu ia hanya ingin memiliki sebuah keluarga kecil yang bahagia. Meskipun hidup sederhana, setidaknya mungkin saat ini suaminya masih ada disisinya.


Zein selalu memanjakannya, sejak awal pacaran, sampai saat ia menjadi istrinya. Karena terlalu berambisi pada pekerjaan ahirnya kecelakaan itu terjadi. Andai waktu itu ia tak memutuskan untuk menangani proyek itu sendiri, mungkin bukan dialah yang menjadi korbannya.


Janji kepergian yang tak lama, malah membuat mereka terpisah jarak dan waktu. Kehadiran Zein tak bisa tergantikan dalam hati Nisa. Selain karena Zein adalah satu-satunya orang yang mengerti bagaimana Nisa sesungguhnya, sebenarnya masih ada lelaki lain yang memahami dirinya. Tapi ia menepis perasaan itu.


Rasa takut kehilangannya melebihi segalanya. Bahkan perhatian yang tak kunjung habis telah Fadhil berikan selama beberapa tahun terahir ini.


Sosok Fadhil sebenarnya sangat sempurna, sebagai teman, ia juga tak banyak menuntut. Baru ahir-ahir ini Nisa mengetahui bahwa selama ini Fadhil sebenarnya telah mencintai dirinya.


Sampai kemarin pun ia telah mengungkapkan perasaannya. Iya, mungkin sekarang waktunya ia untuk membuka hatinya. Jika takdir kejam merenggut cintanya, kali ini ia lah yang akan mengejar kebahagiaannya.


Mungkin Zein sudah ikhlas dan tenang disana. Karena selama ini Fadhil telah menjalankan kewajibannya sebagai teman yang baik untuknya.


Pagi itu Nisa menerawang jauh semua kejadian beberapa tahun belakangan ini. Sedikitnya ada perasaan lega yang menderanya pagi itu.


Sedikit beban hidupnya mungkin akan segera berkurang sebentar lagi. Dan yang terpenting sekarang adalah Zi, putra semata wayangnya yang harus ia pahami keinginannya. Ia tak boleh bertindak gegabah atau egois.


Dalam hati kecilnya mungkin Zi memang membutuhkan dan menginginkan sosok ayah. Dan mungkin semua itu ada pada diri Fadhil.


Tok


Tok


Tok


Suara ketukan pintu dari luar kamar Nisa membuyarkan lamunannya.


"Masuk." Ucap Nisa.


Dan pelayan hotel pun membuka pintu dan menyampaikan maksud kedatangannya.


"Permisi nyonya, sarapan pagi sudah siap, tuan Fadhil sudah menunggu nyonya dan tuan muda dibawah." Ucap pelayan hotel tersebut.


"Baik, terimakasih, sebentar lagi aku akan turun."


"Baik nyonya, saya permisi." Ucapnya berpamitan.


Dan pelayan itu meminta ijin untuk kembali bekerja.


Setelah pelayan itu pergi, Zi sudah keluar dari kamar mandi.


"Mommy ..." teriaknya.


"Hai sayang ..."


Lalu Nisa pun mulai memakaikan setelan baju untuk hari ini, tak lupa ia pun menyisir rambut putranya tersebut.


"Nah sudah ganteng dan rapi, yuk kita turun."


"Daddysudah menunggu kita ya mommy." Ucap Zi kecil dengan sangat antusias.


"Iya sayang, ayuk kita sarapan dulu."


Dan mereka pun segera turun ke lantai satu untuk bergabung dengan Fadhil untuk sarapan pagi.


~Bersambung~


.


.


.


...DUKUNG SELALU AUTHOR DENGAN CARA...


...LIKE...


...KOMEN...


...FAVORIT...


...GIFT/VOTE...


...TERIMAKASIH BANYAK🙏😊...